
Malam ini akhirnya aku dan mama yang pergi naik kapal pesiar, sayang juga kalau tiketnya tidak terpakai mama sudah mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk tiket itu.
Sebelum Devan berangkat tadi pagi ke bandara, Devan bilang biar aku dan mama saja yang pergi menggantikan Devan. Tidak buruk sih, tapi jadinya buka honeymoon lagi, judulnya berganti menjadi 'Berlibur Bersama Mama Mertua'. Ya sudah lah. Aku pun senang karena bisa liburan.
Kami berangkat dengan menggunakan helikopter langsung dari rumah mama menuju ke dermaga. Ssttt... Satu informasi yang akan aku bocorkan, ternyata keluarga Devan punya helikopter pribadi. 🤫
Jika dengan menggunakan mobil pasti akan membutuhkan waktu yang lama, dan mama tidak ingin aku lelah sebelum masuk ke dalam kapal pesiar katanya. Maka dari itu mama putuskan untuk memakai helikopter. Entah jenis apa ini tapi aku suka warnanya yang hitam. Kami hanya berempat di dalam sini. Pilot dan co-pilot di depan sedangkan aku dan mama di kursi penumpang.
Aku yang katrok, dan baru pertama kalinya terbang merasa gugup. Mama hanya terkekeh melihat ekspresi wajahku. Sama sekali belum pernah naik pesawat apalagi helikopter pribadi. Mama hanya bisa mengelus tanganku dan menenangkanku dengan kata-katanya.
"Tidak apa-apa. Nanti lama-lama juga akan terbiasa!" ucap mama menahan tawa. Mudah-mudahan saja turun dari benda ini aku tidak muntah!
Entah berapa lama perjalanan ini, aku sama sekali tidak menikmatinya karena terlalu takut, tapi Syukurlah sejauh ini aku selamat, lega karena sudah turun dari capung besi ini walau sedikit pusing.
"Ma, nanti kalau pulang Anye lebih baik naik mobil saja. Kepala Anye pusing!" cicitku sambil memijit pangkal hidungku. Lagi mama terkekeh.
"Iya-iya, maafkan mama, mama tidak tahu kalau kamu sedikit mabuk udara. Bagaimana dengan laut? Apa kamu mabuk laut juga?" kenapa mama baru tanya ini tidak dari tadi sebelum berangkat?
"Tidak ma, Anye pernah naik kapal laut kok!" terangku.
"Tapi kamu sekarang sedang hamil bisa saja berbeda." tutur mama.
"Sepertinya tidak akan, buktinya aku sangat bersemangat naik kapal pesiar ma!" Aku dan mama terkekeh mengingat memang aku bersemangat sekali tadi pagi apalagi saat mama ternyata bersedia menemaniku sebagai pengganti Devan.
"Ya sudah, ayo sekalian kita lihat-lihat di dalam seperti apa." mama menggamit lenganku. Di samping kami kanan kiri masing-masing ada satu orang, bodyguard dengan tubuh besar dan tegap, di belakangnya tiga orang yang mengikuti kami, termasuk Samuel. Ya sudah lah abaikan saja mereka.
Kapal pesiar yang ada di sana dan satu-satunya, tak henti aku berdecak kagum melihatnya tanpa berkedip hingga mataku perih. Tinggi, besar, megah terlihat Wow! Tak ada kata lain yang bisa aku gambarkan sekarang ini. Aku gugup, aku senang, aku bahagia. Aku juga takut kalau terlihat udik. Hehe...
"Bagaimana Anye, besar kan?" tanya mama saat melihat aku tak henti terkagum-kagum. Aku hanya mengangguk tanpa berkata. Mama terkekeh melihat aku yang udik ini. Aku sendiri malu tapi tak bisa menyembunyikan rasa kagumku sekarang ini.
Kami mulai berjalan masuk dalam. Ruangan besar nan luas dengan tangga spiral melingkar ke atas, pilar-pilar besar dan tinggi kokoh menopang langit-langit kapal ini. Hiasan dinding, kursi indah, dan lampu hias besar menempel di atas, seperti puluhan berlian di atas sana.
Wow!!! Menakjubkan.
"Ma, apa ini surga?" upss... mulutku tiba-tiba bertanya seperti itu, membuat mama terkekeh geli. Aku menutup mulutku ini.
"Ini bukan surga sayang. Kalau kamu ingin merasakan surga, kamu harus telfon Devan!" lagi mama terkikik, aku bingung, lalu setelah sekian lama barulah otakku ini mengerti.
Mama tertawa sambil menutup mulutnya.
"Ih mama, apaan sih!" Aku malu. Jangan sampai mama melihat muka ku yang memerah.
"Ayo, kamu mau lihat-lihat atau mau istirahat dulu?" tanya mama.
"Terserah mama saja."
"Kok terserah mama. Kamu capek enggak?" tanya mama lagi. Aku menggelengkan kepala.
"Enggak ma, aku terlalu banyak duduk dari tadi."
"Ya sudah, kita lihat-lihat dulu saja." mama menuntunku berjalan pelan di antara beberapa orang yang ada. Mereka berpakaian begitu bagus, aku yakin mereka orang kaya semua.
Hampir tiga puluh menit kami berjalan dan melihat, tak henti-hentinya aku mengagumi ciptaan manusia yang begitu indah ini. Entahlah, aku masih tidak percaya kalau manusia biasa bisa membuat kapal seindah dan semegah ini.
Tiga puluh menit bukan waktu yang cukup untuk bisa berkeliling, tapi mama menyuruhku beristirahat dengan alasan kalau aku terlalu lelah pasti Devan akan memarahi mama. Oke aku menurut saja. Lagipula aku harus bersiap untuk acara nanti malam. Memangnya nanti malam ada apa ya?
"Mama juga ingin istirahat, kalau kamu ada apa-apa mama di kamar sebelah ya." ucap mama saat mengantarku sampai di pintu kamarku.
"Ma, aku kira mama akan tidur sama Anye?!"
"Tidak Anye, mama tidak mau ganggu kamu istirahat lagipula mama sedikit capek juga. Ya sudah kita istirahat sebentar, nanti mama panggil jam tujuh malam." Lalu mama mengulurkan tangannya mengelus perutku yang buncit.
"Cucu grandma baik-baik saja kan? Gak bikin mamanya repot kan?" tanya mama. Ah mama, aku sangat suka mama mengelusku seperti ini. Rasanya aku ingin berbaring dengan kepalaku diatas pahanya, sambil mama mengelus perutku hingga aku tidur.
"Ya sudah. Kamu istirahat. Emm... atau mau mama temani sampai kamu tidur?" tanya mama.
"Tidak perlu ma." ucapku sambil menggelengkan kepala, meskipun ingin tapi mama juga terlihat lelah. "Mama istirahat saja." mama mengangguk lalu meninggalkan aku dan berjalan ke pintu kamarnya tepat di samping kamarku.
"Kalau kamu ingin apa-apa panggil mama ya."
"Iya." lalu kami masuk bersama-sama ke kamar kami masing-masing.
Woww....!!!
Aku membaringkan diriku. Sayang sekali Devan tidak ada. Hiks...menyedihkan. Ini seharusnya menjadi bulan madu terindah untuk kami. Dev, kamu sedang apa?
Seakan Devan tahu apa yang aku fikirkan, suara hpku berbunyi.
"Devan!" aku terpekik sendiri melihat nama yang tertera disana. My Lovely Husband, setelah hari pernikahan itu Devan mengubah nama di ponsel ku ini.
"Dev."
"Sedang apa?" tanya Devan.
"Sedang merindukanmu." Devan terkekeh disana.
"Aku juga. Bagaimana liburannya? Kamu suka?" Aku mengangguk, tapi lupa Devan tidak akan bisa melihat aku sedang mengangguk.
"Iya aku suka. Indah Dev, sayang sekali kamu tidak ada." Aku berdiri dan berjalan ke arah jendela kaca.
"Maaf-maaf. Aku menyesal. Lain kali aku akan luangkan waktu untuk kita liburan."
"Benar?!" tanya ku berbinar.
"Tentu. Kamu mau pergi kemana? Aku akan turuti."
"Kemana saja asal sama kamu." aku memainkan jariku di kaca itu, membayangkan sedang membelai pipi Devan. Aku kangen.
"Kalau aku terjun ke jurang, kamu mau ikut?"
"Yang benar saja. Kalau kamu terjun ke jurang sendiri saja jangan bawa-bawa aku. Aku ingin melahirkan anak kita dengan selamat!" geramku sedikit marah. "Enak saja susah payah aku mengandung anak kamu, dan kamu mau bawa aku terjun ke jurang?!" kesal, meninju kaca di depanku, tanganku sakit. Dan apa dia, hanya terkekeh di sana. Dasar!
"Hehe, tadi bilangnya asal sama aku." Masih tertawa.
"Tapi tidak ke jurang juga!" cercaku.
"Aku kangen kamu, sayang."
"Aku juga." cicitku. "Menyebalkan! Disini sangat indah dan romantis tapi aku hanya sendiri." seruku kesal. Lagi-lagi dia tertawa.
"Kamu tidak sendiri, kan ada anak kita!"
"Anak kita bisa aku peluk, tapi aku siapa yang peluk?" tanyaku.
"Jangan bilang begitu. Nanti aku pulang bagaimana?" tanya Devan.
"Ya bagus dong, kita jadi bulan madu kalau begitu. Eh tapi tidak, jangan! Kamu kan sudah janji mau belikan aku kapal pesiar pribadi." Devan tertawa keras.
"Kamu sudah mulai pintar meminta ya!"
"Iya lah, aku juga mau seperti istri yang lain yang menghabiskan uang suaminya." aku tertawa dan Devan tertawa semakin keras disana.
"Oke, coba saja fikirkan apa yang bisa kamu beli dengan uangku. Habiskan saja kalau kamu sanggup!"
"Oke, siapa takut!" Kami tertawa bersama. beberapa saat lamanya kami bertelfon ria sampai aku lupa waktu saat seseorang mengetuk pintu. Masih menempelkan hpku di telinga. Aku membuka pintu. Mama.
"Ada apa, ma?" tanyaku, mama sudah rapi dengan pakaian yang indah.
"Ya ampun, kamu belum siap-siap?" tanya mama.
"Kita mau kemana?"
"Tentu acara malam ini, sayang. Kamu lupa tadi mama bilang apa?"
Aku benar-benar lupa. Ini karena Devan yang mengajakku bicara panjang lebar.
"Ah iya, maaf ma. Maaf." Mama memasang wajah marahnya dengan kedua tangan di pinggang.
"Kamu telfon Devan?" mama menatap hp yang menempel di telingaku.
"Iya, ma. Ini Devan." aku menunjuk pada hp ku.
"Mana sini. Mama mau bicara sama dia, kamu segera mandi dan ganti baju. Mama tunggu!" mama mengulurkan tangannya meminta hpku. Aku menyerahkan hp milikku pada mama. Mama berjalan ke arah kasur dan duduk sambil menyilangkan kakinya.
"Halo Dev. Anye akan mama bawa turun ke bawah..." dan entah apa lagi yang mereka bicarakan, mama menggerakkan tangannya menyuruhku untuk segera bersiap.
Aku segera masuk ke dalam kamar mandi, sebentar saja mandi karena tidak ingin membuat mama menunggu terlalu lama.