
Senyum Tiara berkembang sedari tadi, dia sampai melupakan rasa takutnya akan pesawat. Kini mereka sudah dalam perjalanan menuju pulang ke rumah.
"Senang sekali hari ini?" tanya Gio dengan senyum di bibirnya. Tiara menoleh ke arah suaminya itu dan menyandarkan kepalanya di pundak Gio.
"Tentu aku senang lah, G. Aku tidak sabar ingin segera bertemu dengan ibu." Tiara tak henti mengembangkan senyum di bibinya. Gio pun ikut bahagia melihat istrinya itu. Dia mengelus kepala Tiara dan mengecup kening Tiara dengan lembut.
"Terima kasih, G."
"Untuk?"
"Untuk semuanya," jawab Tiara, dia mendekatkan dirinya semakin rapat dengan tubuh Gio.
"Aku yang harus berterima kasih kepadamu, kau adalah sumber kebahagiaanku, sudah seharusnya aku juga membuatmu bahagia."
Heru yang mendengar ucapan atasannya itu tersenyum dengan tipis. Dia sangat senang sekali melihat kebersamaan Gio dan juga Tiara seperti ini. Heru melajukan kendaraannya dengan kecepatan konstan ke arah rumah Tiara.
Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya Tiara sampai di rumah. Dia tak sabar ingin segera bertemu dengan ibu, hingga saat mobil berhenti di garasi dia membuka pintu mobil sebelum Heru sempat berlari untuk membukakannya.
"Dia sangat bersemangat sekali," ucap Gio kepada Heru, Heru hanya mengangguk sebagai jawaban. Tidak aneh untuk Gio dengan jawaban Heru yang semacam itu. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah dengan bawaan mereka masing-masing.
"Ibu, aku pulang!" Tiara berteriak setelah membuka pintu rumah. Dia terdiam saat melihat seseoang yang ada disana, duduk tenang dengan satu kaki menyilang di atas kaki yang lain. Seorang wanita muda duduk di sebelahnya. Terlihat asing karena Tiara tidak pernah betemu dengan wanita muda itu.
Pria itu bangkit berdiri dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
"Selamat datang Adikku. Selamat kembali ke rumah."
Tiara sempat tertegun, dia kira dia hanya salah melihat, tapi ternyata tidak. Ini nyata. Kakaknya telah kembali? Bagaimana bisa?
"Kau tidak mau pergi dan memeluk Kakakmu?" tanya suara dari sebelahnya. Tiara menoleh dan mendapati Gio tersenyum ke arahnya, sedangkan Heru hanya berdiam diri di belakang Gio.
"Ara, apa kau akan hanya diam saja disana?" tanya Ridwan kini. Tiara mengalihkan pandangannya dengan rasa tak percaya. Ridwan tersenyum padanya dan melebarkan kedua tangan.
Dengan cepat Tiara berlari ke arah Ridwan dan menubruk tubuh kurus pria itu dengan keras. Hampir saja terjengkang jika saja Ridwan tidak kuat menahan hentakan tubuh adiknya itu. Tiara menangis dengan tersedu di dalam pelukan kakaknya. Ridwan pun kini merasa terharu dengan perlakuan hangat adiknya itu. Dia mengelus kepala Tiara dengan sayang dan penuh kerinduan. Rasa bersalah yang ia ingat saat dia melakukan kesalahan di masa lalu.
"Aku sangat rindu sekali padamu, Kak. Kenapa kau lama sekali tidak pulang?" tanya Tiara.
"Hei aku memang lama tidak pulang, tapi kan kita bertemu juga masih terhitung belum lama? Kau ingat kan saat kau menikah, aku datang waktu itu." Ridwan berkata dengan kekehan. Ternyata Tiara memang sudah tidak marah lagi dengannya. Mungkin, dan semoga saja.
"Itu sudah lama. Kenapa kau pulang? Jika kau pulang hanya untuk pergi lagi, lebih baik jangan pulang sekalian!" teriak Tiara marah, tapi dia tidak mau melepaskan pelukannya dari tubuh kakaknya itu. Rasa rindunya kepada Ridwan sangat besar. Dia tidak lagi marah setelah mendengar alasan Ridwan tidak ingin pulang. Memang pria itu bersalah dan dia harus bertanggung jawab dengan wanita itu.
Tiara melirik ke arah sofa, seorang gadis kurus dengan wajah sedikit cacat di pipi sedang tersenyum ke arahnya. Di samping gadis itu terdapat sebah tongkat.
"Kak, siapa dia" tanya Tiara sambil menatap kakaknya. "Apa dia gadis yang kau maksud?" tanya Tiara lagi. Ridwan menganguk dengan pelan.
"Iya. Dia yang harus aku urus mulai sekarang dan seterusnya. Apa kau keberatan jika punya kakak ipar yang lebih muda darimu?" tanya Ridwan dengan kekehan.
Tiara menatap kakaknya dengan tajam. "Kau mau menikah dengan dia?" tanya Tiara tak percaya. Ridwan kembali mengangguk.
"Dia tidak secantik wanita ular itu. Aku tidak yakin jika yang kupeluk ini memang benar kakakku," ucap Tiara yang membuat Ridwan merenggangkan pelukannya dan menepuk kening Tiara dengan keras.
"Kau pikir aku ini apa? Dulu aku buta karena cinta, dan sekarang aku juga buta karena itu, tapi sekarang aku malah bahagia. Sangat bahagia bisa mengenal dia."
"Kau yakin menerima dia karena cinta? Jangan karena kau kasihan dan juga rasa tangung jawab kepadanya kau ingin menikahinya? Itu akan membuat dia terluka," bisik Tiara kepada Ridwan.
"Tidak. Jika memang kau pikir suka dengan dia, maka bahagiakanlah. Tapi kau juga harus ingat denganku dan juga ibu. Jangan lakukan hal yang sama lagi seperti dulu," ucap Tiara. Ridwan tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak akan. Aku punya adik ipar yang baik dan aku juga sekarang punya pekerjaan tetap dengan gaji yang lumayan," ucap Ridwan membuat Tiara mengerutkan keningnya.
"Maksudnya?" tanya Tiara bingung, Dia mengalihkan pandangannya pada Gio.
"Aku akan bertemu dengan ibu. Aku kangen masakan ibu." Gio yang ditatap sedemikian rupa memilih menghindar. Dia tidak mau ikut campur dengan pembicaraan kakak adik ini. Dengan langkah lebar Gio sudah hampir mendekati pintu dapur.
"Kau mau duduk atau terus berdiri? Aku capek jika kau mau berdiri terus." Ridwan berkata dengan tersenyum geli.
"Maksudnya apa ini? Apa Kakak menodong pekerjaan dengan gaji besar pada suamiku?" tanya Tiara setelah mendudukkan dirinya di kursi di depan kakaknya.
"Kau tidak mau kenalan dulu dengan calon kakak iparmu?" Ridwan mengalihkan topik pembicaraan. Dia tersenyum dan meraih tubuh kurus calon istrinya itu.
"Eh iya. Aku Tiara, siapa namamu?" tanya Tiara seraya menyodorkan tangan kanannya kepada gadis kurus itu.
"Aku Nita." jawabnya sambil menyambut uluran tangan Tiara. Tiara terpana dengan senyum gadis itu. Sangat manis sekali dengan gigi gingsul yang terlihat menyembul saat dia tersenyum. Manis sekali.
"Aku senang jika benar kakakku akan menikah denganmu. Jika dia macam-macam beri saja dia racun!"" ucapan Tiara membuat Nita tertawa kecil, dia menutupi mulutnya dengan satu tangan. Terlihat bekas luka yang ada disana. Jelas terlihat oleh Tiara.
Nita sadar ke arah mana tatapan Tiara itu, dia segera menurunkan tangannya dan menarik lengan bajunya yang panjang untuk menutupi bekas luka yang sangat kentara itu.
Ridwan menatap wajah Nita yang kini sendu, gadis ini pasti merasa malu dengan bekas luka yang dia torehkan padanya. Ridwan mengeratkan lengannya di pinggang Nita.
"Kalian ini, mau mencoba membunuhku?" tanya Ridwan yang membuat Tiara tertawa.
"Ya, kau memang pria yang harus diwaspdai."
"Keterlaluan! Aku ini kakakmu, kau menjatuhkan harga diriku di depan calon kakak iparmu sendiri!" sungut Ridwan dengan sedikit merajuk.
"Oh ya. Kakak tidak mengancam suamiku untuk memberikan pekerjaan dengan gaji besar kan?" tanya Tiara menyelidik, dia mencoba mencairkan suasana yang canggung ini dengan bertanya kepada kakaknya. Ridwan terkekeh mendengar tuduhan adiknya itu.
"Kau dengar itu, Sayang? Aku di mata adikku hanyalah seorang pria jahat. Kau tahu bagaimana rasa di hatiku ini? Sakit!" Ridwan mengadu dengan wajah dibuat memelas, tak lupa dengan tangannya yang mengelus dadanya dan sedikit menepuknya. Ridwan melabuhkan keningnya pada pundak Nita. Nita hanya tertawa kecil hingga matanya menyipit.
"Dia memang orang yang pernah jahat kepada kami, aku hanya mengantisipasi saja. Aku tidak mau dia melakukan kecurangan lagi." Tiara melipat kedua tangannya di depan dada. Semakin membuat Nita terkekeh karena ulah adik kakak yang lucu ini.
"Tidak, aku tidak melakukan kecurangan apa-apa lagi sekarang. Justru suamimu itu yang mengadu kepadaku. Kau setiap hari terlihat sedih, dan dia tidak tahan dengan sikapmu. Kau tidak mau bercerita dengan apa yang sedang ku rasakan, tapi dia tahu apa yang kau pikirkan. Jadi dia datang padaku dan memintaku untuk bekerja di salah satu tempatnya dan mengelolanya disini. Dia juga memintaku untuk menjaga ibu kembali. Sebagai gantinya dia juga akan ikut membantu mengobati Nita. Dan dia tidak mengingkari janjinya. Dia membuat Nitaku ini bangun dari tidur panjangnya." Ridwan menatap Nita dengan penuh cinta. Dia menarik tangan Nita untuk diciumnya di punggung tangan gadis itu, membuat Nita tersenyum malu hingga memerah di kedua pipinya.
"Benarkah? Tapi Gio tidak mengatakan apa-apa padaku. Aku tidak tahu sama sekali." Tiara menatap tak percaya pada kakaknya lalu menatap ke arah dapur dimana terlihat tubuh Gio mengekori ibu dan juga Cantik, sepertinya sedang meminta makanan.
"Itulah samimu. Dia sangat baik. Aku minta jika ada sesuatu hal, kau katakanlah pada suamimu. Dia sangat kasihan sekali saat bercerita padaku. Terlihat sangat bersedih."
Tiara terdiam mendengar ucapan kakaknya itu. Dia sempat tak percaya dengan apa yang dikatakan kakaknya itu dan juga tidak percaya dengan apa yang dilakukan Gio untuknya.
Benarkah Gio merasa demikian?
Tiara merasa bersalah kepada suaminya itu. Dia mencoba untuk tidak membuat Gio merasa kesulitan dengan memendam semua sendirian. Dia kira itu akan membuat keadaan lebih baik, tapi justru ternyata itu salah. Dia malah membuat Gio merasa sedih dan juga bersalah karena telah menjauhkannya dari ibu.
Mata Tiara kini mulai berair. Dia sangat senang juga terharu dengan suaminya. Ditatapnya Gio yang sedang menikmati makanan di tangannya di dapur, terihat jelas karena dapur berada lurus dengan tempat duduk Tiara kini.
"Hei, sekarang kau bisa tenang kan tinggal dengan suamimu disana? Jangan khawatir lagi dengan ibu, selain Cantik, ada aku, juga Nita disini." Ridwan menegakkan dirinya, dan mngambil tangan Tiara untuk dielusnya. Tiara mengangguk dan mengusap stau bulir air mata di pipinya.