
"Lepaskan?" Renata mengangguk.
Noah, mengelengkan kepalanya.
"Tidak!"
"Apalagi yang kamu inginkan?!" tanya Renata dingin. Dia kira dengan menyerahkan kalung gioknya pria itu akan melepaskannya pergi.
Noah mendekat dan mencengkeram tangan Renata dengan keras. Sorot matanya memancarkan aura dingin penuh keposesifan. "Sudah aku bilang sedari dulu. Menikah dengan ku. Kamu tidak perlu kehilangan semua peninggalan orangtua kamu."
"Kamu kira aku akan mau menikah dengan orang licik sepertimu?" Renata menatap tajam Noah. Dia mencoba melepaskan tangan Noah, tapi pria itu semakin erat mencengkeram pergelangan tangannya.
"Licik? Apa yang kamu maksud licik? Aku begini karena aku suka dengan kamu. Tidak bisakah kamu lihat itu dari mataku?" tanya Noah. Renata menatap Noah dengan pandangan tak suka.
"Kamu gak pernah suka aku! Kamu cuma terobsesi karena kamu gak mau kalah dari Restu!"
Mendengar nama saingannya di sebut Noah jadi tersulut emosinya.
"Restu itu sudah tidak ada! Re, jangan sebut nama itu lagi di depanku!" bentak Noah, namun Renata menatap Noah dengan tatapan nyalang.
"Itu yang aku gak bisa suka dari kamu, Noah. Semua yang terjadi dalam hidup aku kamu dan keluarga kamu yang ambil! Semua sudah kamu ambil dari aku. Puas kamu!" Teriak Renata, matanya mulai meluncurkan air bening melewati pipinya.
"Sekarang, tolong lepaskan aku! Biarkan aku bebas. Biarkan aku bahagia dengan kehidupan ku sendiri. Aku yakin kamu juga akan menemukan gadis yang bisa mengerti kamu. Aku tidak bisa memberikan semua yang kamu harapkan, Noah. Maafkan aku!" ucap Renata lalu keluar dari dalam mobil itu. Noah tertegun menatap punggung Renata yang semakin menjauh. Noah mengepalkan jari-jari tangannya.
Renata berjalan ke arah pagar yang menjulang tinggi. Terlalu jauh sampai dia harus berjalan beberapa lama. Dia mengusap pipinya. Baginya sekarang tak ada lagi hubungan diantara dia dan keluarga Alexander. Dia sudah menyerahkan apa yang mereka mau. Harusnya itu yang ia lakukan sedari dulu. Dan dia menyesali itu. Sangat.
Mungkin saja kalau Renata menyerahkan apa yang mereka mau, Restu tidak akan pergi dari hidupnya. Dan mungkin saja dia kini sudah bebas dan bahagia menikmati hidupnya sendiri.
"Akhhh...!!! Noah, lepaskan aku apa yang kamu lakukan!" teriak Renata saat Noah menariknya dan memaggulnya seperti karung beras. Dia sangat terkejut.
"Noah, turunkan aku. Lepaskan, b*jngan!" tapi pria itu seakan sudah tuli. Dia terus membawa Renata dengan langkah lebarnya ke dalam rumah. Tak peduli dengan punggung dan perutnya yang sakit akibat pukulan dan juga tendangan kaki dan tangan Renata. Pria itu sudah di butakan oleh cinta dan amarah.
Beberapa maid yang melihat hal itu hanya bertukar pandang, tak berani menegur atau menolong Renata. Mereka hanya menatap iba pada gadis yang tengah meminta pertolongan itu sampai kemudian tak terlihat lagi di balik pintu kamar sang majikan.
Brukk...
Di hempaskannya Renata di atas ranjang kingsize miliknya. Dia tak peduli bagaimana Renata berteriak dan menangis meminta di lepaskan. Bahkan dia lagi-lagi menghempaskan gadis itu ketika dia ingin melarikan diri.
"Diam kamu disana!" teriak Noah geram sambil menunjuk tepat di depan muka Renata.
"Mau apa kamu, Noah?!" Renata beringsut mundur saat Noah perlahan merangkak ke atas ranjang.
Noah melepaskan jasnya lalu melemparnya dengan sembarang ke lantai.
Renata ketakutan. Dia terus mundur hingga punggungnya terbentur kepala ranjang.
Dia menngeleng keras, memberi peringatan pada Noah. Tapi pria itu memang sudah buta mata dan hatinya diliputi oleh amarah.
Renata hendak berlari, tapi kakinya ditahan oleh Noah.
"Noah, tidak. Jangan!" teriak Renata saat kakinya ditarik ke arahnya.
"Noah, sadar! Jangan lakukan itu. Aku akan benci kamu seumur hidupku!" teriak Renata. Dia mencoba menendang Noah, tapi tak berhasil. Noah malah menjatuhkan dirinya di atas tubuh Renata.
"Noah, aku janji aku tidak akan melepaskanmu setelah ini."
"Haha... Kalau kamu bisa lari dari aku. Pada kenyataannya kamu tidak akan bisa! Suka tidak suka, kamu akan menjadi milik aku Renata! Teriak saja. Tidak akan ada yang datang untuk menolong kamu!"
"Axel pasti akan datang untuk menolong aku! Lihat saja apa yang akan dia lakukan sama kam..."
Plak!
Plak!
Noah menampar Renata dua kali di pipi kanan dan kiri. Dia sudah emosi mendengar nama Restu tadi, dan sekarang dia mendengar satu nama laki-laki lain lagi dari mulut Renata.
Selama masa hidupnya yang hampir tiga puluh tahun dia tidak pernah ditolak mentah-mentah seperti ini. Semua apapun yang dia minta pasti akan di berikan oleh orangtuanya. Termasuk tidak pernah melarang dengan gaya pergaulannya yang bebas.
Renata merasa berdenyut di kedua pipinya. Sudut bibirnya berdarah akibat tamparan keras Noah.
"Tidak, Noah. Jangan!" teriak Renata saat Noah menarik paksa bajunya hingga robek hingga dadanya terlihat dengan jelas, membuat Noah semakin gelap mata.
"Kamu yang memaksaku, Renata. Jika ini yang akan membuat kamu ada di sisiku selamanya. Kenapa tidak!!" teriak Noah. Dia mencengkeram kedua tangan Renata erat. Dan tak peduli saat Renata berteriak kesakitan dengan penuh uraian air mata.
Suara pilu itu membuat beberapa maid yang tak sengaja mendengarnya memilih menulikan telinga. Ada yang langsung kembali ke rumah belakang, sementara ada juga yang meneruskan pekerjaannya sambil menatap pintu itu dengan nanar. Bisa mereka bayangkan apa yang dilakukan tuan mudanya pada gadis itu.
"Pergi! Jangan ada yang disini. Anggap kalian tidak mendengar apapun!" usir dua bodyguard yang berjaga di depan pintu.
Maid itu langsung pergi setelah mendapatkan tatapan tajam nan mematikan dari pria tembok berhati dingin itu.
"Kalau kamu baik. Aku juga akan perlakuan kamu dengan baik!" Noah mengelus bibir Renata yang berdarah karena ulahnya. Dia kembali mendekat, tapi Renata memalingkan wajahnya ke samping hingga pria itu hanya bisa mencium pipi Renata.
"Jangan jual mahal. Karena kamu sudah aku beli! Hutang yang di buat oleh paman mu bahkan tidak akan pernah lunas meski dia membayarnya dengan nyawa! Kamu tahu kenapa? Karena selain dia membawa uang kami, dia juga yang membunuh ibuku!"
Perkataan Noah membuat dirinya merasa terluka. Pamannya yang berbuat kenapa dirinya juga ikut terlibat?
"Aku akan buat perhitungan dengan kamu, Noah! Kamu iblis! Tidak pantas kamu hidup di dunia ini!"
Noah tersenyum puas lalu bangkit dari atas tubuh kesakitan Renata.
Renata hanya meringkuk di atas tempat tidur. Tubuhnya terasa sakit luar bisa. Apalagi di bagian sensitifnya yang sudah dikoyak dengan brutalnya.
Noah tertegun pada bercak darah di atas permukaan kasur.
Amarah yang melingkupinya tadi membuat dia tidak bisa berfikir apapun selain dia ingin membalaskan rasa sakit hatinya pada Renata. Sampai dia tidak memperhatikan bahwa dia sudah merenggut apa yang menjadi kebanggan dan kehormatan seorang wanita.
Noah berjalan ke arah kamar mandi. Dia membersihkan dirinya. Mengguyur tubuhnya dengan air dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Ada sedikit rasa penyesalan di dalam hatinya. Bagiamana dia bisa melakukan hal yang buruk pada wanita yang di cintainya?
Tidak! Itu bukan obsesi. Aku memang mencintainya!
Noah menengadahkan kepalanya hingga air membasuh seluruh wajahnya.
Aku mencintainya. Sangat! Tapi setelah ini dia pasti akan sangat membenciku! Tapi jika ini yang bisa membuat Renata ada di sisiku, akan aku lakukan!