
Keterlaluan! Ini hari terakhir kami disini dan Devan sama sekali tidak menunjukan sisi romantisnya sama sekali! Kecuali di atas ranjang!
Aaakkhhh. Aku juga ingin di bucinin!!!
"Kenapa sih yang?" tanya Devan, dia mencolek daguku.
"Gak ada!" ucapku sambil memasukkan beberapa baju ke dalam koper. Kami akan pulang ke ibu kota dengan menggunakan penerbangan di jam lima sore.
Benar-benar keterlaluan! Kami melakukan bulan madu hanya mengurung diri di kamar, dan juga menikmati sunset di pantai Kuta. Tidak ada jalan-jalan, atau makan malam romantis! Sepertinya Devan memang ingin menunaikan janjinya pada Daniel dan Axel untuk pulang membawa oleh-oleh. Adik! Dia kira segampang itu!!!!
"Gak ada kok manyun terus?!" dia masih menggangguku.
"Awas ah! Jangan ganggu!" aku menepis tangannya yang mencubit pipiku. Memasukkan baju kami tanpa melipatnya. Aku kesal! Aku kesal!!!
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, kami beranjak pergi dari hotel dengan di antar manajer hotel menuju bandara. Aku menyandarkan diriku di kursi, memejamkan mataku. Berharap rasa kesal ini pergi. Kesal karena semua yang aku bayangkan kemarin tentang honeymoon yang perfect tidak terealisasi sama sekali! Dasar tidak romantis!
Devan sibuk dengan laptopnya. Dia ini biasanya selalu membujuk aku saat aku marah, tapi hari ini kenapa dia begitu menyebalkan?! Dia mengabaikan aku dan lebih memilih bekerja dari laptopnya.
Suara telfon berdering. Devan mengangkatnya. Aku melirik sebentar lalu kembali menutup mataku. Hah.... pembahasan soal proyek! Menyebalkan!
Kesal!
Kesal!
Kesal!
Rasanya aku ingin berteriak. Jauh-jauh kemari hanya untuk mengurungku dan membuat baby di kamar? Hei, disana juga bisa! Tidak perlu jauh-jauh kemari hanya untuk berduaan di kamar! Tidak perlu meninggalkan Daniel dan Axel hanya untuk melakukan olahraga bersama!! Apalagi kalau Devan sudah berkutat dengan pekerjaannya. Bukanya disana sudah ada Seno yang menghandle semuanya?!
Tapi aku malas berteriak sekarang! Aku hanya ingin segera sampai ke bandara dan segera sampai ke rumah!
"Beni, putar balik!"
"Ada yang ketinggalan, pak?" tanya Beni, manajer hotel tempat kami menginap dua malam ini.
"Aku ada meeting mendadak!"
"Baik, Pak!"
Aaarggghhh... aku kesal dan semakin kesal sekarang! Meeting?!
"Kamu saja yang meeting. Aku mau pulang!" aku merajuk.
"Cuma sebentar saja! Kita gak akan terlambat penerbangan!"
Dasar pemaksa!
"Terserah! Tapi kalau kamu lama, aku lebih baik pulang sendiri aja!" ucapku.
"Iya!" Devan mengacak rambutku hingga berantakan.
Beni membawa kami putar balik, kembali ke hotel. Disana sudah ada tiga orang pria yang tidak aku tahu siapa mereka. Mereka saling bersalaman, pun sama denganku. Lalu Devan membawa mereka ke ruangannya, sedangkan aku, Aku malas menunggu di kamar, aku hanya duduk di lobi sambil membuka hpku.
Sepuluh menit.
Dua puluh menit.
Tiga puluh menit!
Mau sampai kapan mereka meeting? Devan bilang hanya sebentar! Aku sudah beberapa kali melihat ke arah jam, setengah jam lagi pesawat akan berangkat!
Menatap ke arah lift, beberapa kali terbuka tapi bukan Devan yang terlihat disana. Haruskah aku menyusul mereka?
Oke! Akan aku susul Devan ke ruangannya!
Pintu lift terbuka, ruangan Devan ada di lantai empat. Di ujung lorong dengan pintu kayu jati berukiran indah nan menawan!
Ku ketuk pintunya, tak ada jawaban!
"Dev." panggilku.
Masih tidak ada jawaban. Malah terdengar bunyi benda pecah dari dalam, lalu di susul bunyi rintihan orang kesakitan. Dua detik kemudian terdengar seperti seseorang atau sesuatu yang menabrak pintu sampai pintu itu bergetar.
"Devan?" aku panik, takut! Ku buka pintu itu, terlihat kejadian yang tidak aku duga. Ruangan Devan berantakan. Vas bunga, lukisan, kursi yang terbalik, begitu juga dengan komputer yang teronggok di lantai, rusak. Dua orang tergeletak di lantai sedangkan satu orang berdiri di belakang Devan. Devan mengangkat kedua tangannya, Dia terlihat kacau. Bajunya betantakan, pelipisnya berdarah! Apa dia sedang di ancam?
"Kalau kau ingin suamimu selamat. Ikut kami!"
Apa yang terjadi?