
Untung saja semalam aku bilang sama mama akan langsung pulang ke rumah Sofia dan menginap disana , jadi mama tidak khawatir saat aku gak pulang semalam.
"Kamu gak di antar Edgar?" tanya mama saat aku baru saja masuk gerbang dan taksi sudah kembali melaju. Mama sedang mengurus tanamannya dengan tangan belepotan tanah.
"Enggak ma, Ed lagi ada perlu. Anye masuk dulu ya!" mama mengangguk, aku masuk ke dalam rumah. Kak Mel sedang berkutat di dapur, wangi kue.
"Kak Mel lagi buat kue?" tanyaku urung naik ke atas, berharap bisa icip kue maksudnya.
"Iya, kakak bikin kue buat Devan." ucapnya dengan wajah berseri.
Ya ampun segitu cintanya kak Mel sama dia sampai bikin kue segala, Kak Mel bilang Devan pria yang baik, sayang dan setia, tapi sayang dia gak sebaik itu dan aku penyebabnya.
Maaf kak Mel! Maaf!
"Kok Ngelamun?" tanya kek Mel sambil menyimpan kue coklat hangat di depanku.
"Ah enggak! Aku cuma seneng aja lihat kak Mel seneng. Bahagia ya kak?"
"Iya lah. Kakak bahagia banget? Sejak ada Devan hari-hari kakak jadi berbeda." ucapnya sambil menempelkan tangannya di dada. seperti merasakan detak jantungnya sendiri.
"Aku jadi iri." ucapku ikut senang dan sakit yang bersamaan.
"Kamu masih kecil. Gak boleh pacar-pacaran! Tunggu lulus kuliah!"
"Ih kecil apaan? Anye kan sebentar lagi punya ktp!"
"Sebentar lagi kan? Berarti belum!" Kak Mel mengingatkan sambil menepuk jidatku agak keras. Aku hanya mencebik. Kak Mel tertawa melihatku.
"Anye ke kamar dulu ya kak. Makasih kue nya." ucapku lalu meninggalkan kak Mel.
Kue buatan kak Mel memang selalu enak. Tapi apa kak Mel gak tahu kesukaan Devan? Dia lebih suka kue pisang daripada kue coklat! Eh, atau mungkin Devan sudah mengganti kesukaannya? Ini juga sudah tiga tahun berlalu kan. Mungkin saja dia mulai suka coklat!
Jam sudah menunjuk ke angka sebelas, dan aku belum mandi! Gara-gara Devan!
Selesai mandi aku melihat begitu banyak notif di hpku. Salah satunya grup riweuh!
'Hangout yuks!
'Kuy, kemana?'
'Gue gak bisaaa 😭😭😭'
'@Naya Noey'
'Napa woyyy?!!'
'Iya, napa say?'
'Anter nyokap arisan!'
'Idihh awas loh kalo di ajak ikut arisan biasanya mau di jodohin 🤣🤣🤣'
'Bisa jadi 🤭'
'Kabar-kabari ya ntar cowoknya ganteng apa enggak 🤔✌?'
'Waaah jangan-jangan dia pendek lagi, hehe peace ✌'
'Ih kalian bercandanya gak lucu! 😠, Tolongin gue, bawa gue kabuuurr!!!'
'Gak ah takut di kutuk sama mami elo.'
'Nikmati aja say..hehe!!
'Ih kalian TEGA!!!'
'Ya udah deh anak mami, cepet siap-siap, dandan yang cantik yaaa...'
'Ya udah kalian yang gak ikut arisan, cepet siap-siap gue jemput pake mobil'
'Sipp 👍'
'OKE!!'
'Gue GIMANAAAA???'
'DL wkwkwk.'
'Nikmati aja.'
'Gue dukung!'
'GAK ADA AKHLAQ!!!'
Aku segera bersiap tidak peduli lagi dengan notif yang terus masuk ke dalam hp ku. Refreshing sedikit boleh lah, bagus juga biar otakku ini gak penat!
*
Satu jam kemudian Sofia menjemputku, dengan Edgar tentunya yang akan menjadi sopir kami.
Enaknya kalau punya kakak laki-laki seperti Edgar yang sayang adiknya dan mau mengantar kemana-mana, mau jadi bodyguard, dan tidak lupa sering menambah uang jajan Sofia. Kenapa aku gak punya kakak cowok kayak dia ya?
"Anye!!" Sofia melambaikan tangannya dari dalam mobil. Aku segera berlari keluar gerbang dan langsung masuk ke dalam mobil. Hanya berpamitan pada kak Mel tadi karena aku gak tahu mama dimana.
"LET'S GOOO!!!" seru kami berteriak serempak. Lagi Edgar hanya memggelengkan kepalanya.