DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 237 Masih spesial Heru



"Lalu apa yang kau dapatkan sekarang? Aku hanya ingin kau hidup dengan baik, dan Tuan Gio lebih pantas untuk kamu dibanding aku. Justru aku sangat suka dan sangat sayang padamu. Aku sadar diri dengan siapa aku ini, sedangkan kau ... kau ini bagai awan yang sulit aku raih. Oleh karena itu, aku memilih mundur. Aku tahu dia orang yang tepat untuk memanjakanmu. Bukan aku!"


"Lalu kau puas dengan akhir yang seperti itu?" tanya Naura dengan nada dinginnya. Pria ini berbicara seperti tidak punya rasa sama sekali terhadapnya.


"Kita semua tidak ada yang bahagia, dan itu semua karena kau, Her!"


Heru memasukkan hpnya ke dalam saku bajunya. "Setidaknya aku sudah melakukan hal yang terbaik untuk kita semua."


"Yang terbaik? Kau egois. Mana yang terbaik? Itu hanya untukmu. Kau hanya melakukan ini untuk majikan sialanmu itu!" cerca Naura dengan keras hingga beberapa orang menoleh kepadanya.


"Aku hanya tidak ingin menjadi orang yang egois."


"Tapi justru itu yang membuat kita semua sengsara. Apa kau tidak merasa kalau kita semua terluka pada akhirnya?" tanya Naura lagi.


"Aku tidak memikirkan itu. Aku hanya berpikir untuk memberikan yang terbaik untuk dua orang yang paling aku sayangi dan aku segani."


"Persetan dengan orang lain. Kenapa kau tidak egois saja. Mungkin kita sudah hdup bahagia kalau kau memutuskan untuk bersama dengan ku."


Heru mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. "Belum pasti. Kita tidak tahu bagaimana masa depan. Aku bukan peramal yang bisa melihat masa depan dan tahu bagaimana masa depan kita."


"Heru hentikan omonganmu itu. Jadilah oorrang yang optimis!" Naura tidak tahan. Pria ini sungguh menyebalkan.


"Aku selalu optimis. Kau saja yang tidak bisa menjalani semua itu dengan baik. Kalau saja kau bisa menerima cintanya dengan baik, tentu kau akan hidup dengan baik."


"Kubilang aku tidak peduli!" jerit Naura, semua percakapan ini tidak dia sangka akan begini. Heru sungguh sudah menjadi pria yang menyebalkan.


Semua orang yang ada disana menatap Naura dengan heran kini. Wanita itu tidak peduli dengan tatapan banyak orang padanya. Dia tidak peduli jika semua orng telah melihatnya yang sangat menyedihkan di hadapan seorang pria. Memang dari dulu dia sudah sangat menyedihkan karena pria ini.


Heru bangkit dari duduknya. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahannya.


"Pembicaraan ini tidak ada manfaatnya sama sekali. Selamat menikmati sarpanmu, Nyonya." ucap Heru lalu kemudian berjalan meninggalkan Naura yang kini terdiam menatap kepergian pria itu.


Heru berjalan ke luar dari area restoran. Jujur saja hatinya merasa sakit dengan kejadian barusan. Wanita yang dulu dia lepaskan agar dia bisa berbahagia kini mengaku jika dia tidak peduli dengan semua itu.


Bukan tanpa sebab Heru menjauh dari wanita itu. Semua karena kasta. Kedudukannya di masyarakat tidak dikehendaki oleh kedua orangtua Naura. Lalu dia bisa apa? Memaksakan kehendak?


Heru dan Gio berasal dari asal yang sama, tapi Gio lebih beruntung karena diangkat anak oleh kelurga Aditama. Setidaknya kedudukan Gio di mata masyarakat setara dengan keluarga terpandang itu. Apalah daya, Heru bukan lah Gio. Heru hanya orang biasa dengan status pegawal untuk pria itu.


Bruk.


Seseorang menubruk punggung Heru. Kedua tangannya melingkar sempurna dengan erat di depan perut kotak yang terbalut jas mahal.


"Aku mohon, Her. Sampai saat ini aku masih suka dengan mu. Samai saat ini aku masih suka memikirkanmu. Cinta yang aku punya untuk kau sangat tulus. Tidak bisakah kau memikirkan aku lagi seperti dulu?" tanya Naura dengan isak tangisnya.


"Selama ini aku tersiksa karena kita tidak bisa bersama. Maafkan aku, Her. Aku sudah mencoba melupakan mu, tapi aku tidak bisa." tangis Naura pecah saat itu juga.


"Aku sudah punya seseorang. Dan aku yakin suami mu pun akan marah jika kau sembarangan memeluk pria lain." Nada suara Heru masih tetap dingin.


"Dia sudah tidak peduli lagi denganku. Au tidak mau dengan pria yang seperti itu."


Heru menarik nafasnya dan menghembuskannya dengan kasar.


"Jadi secara tidak lagsung kau mengatakan kau suka dan sayang dengan ku, karna kau dicampakkan oleh suamimu" tanya Heru.


"Tidak!"


"Atau karena kau masih memikirkanku makanya suamimu dingin dan tidak peduli padamu?" tanya Heru lagi. Naura kini hanya diam. Heru tetawa mendecih. Kedua tangannya melepas tangan Naura dengan sedikit memaksa meskipun wanita itu terlihat enggan. Heru membalikkan dirinya. Kini keduanya saling berhadapan.


"Sejak awal aku menghindarimu aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku hanya punya diriku, aku tidak memikirkan orang lain. Mengerti!" Heru menekankan kalimat terakhirnya. Naura menatap Heru tidak percaya. Dia sedang ditolak lagi untuk ke sekian kalinya oleh pria ini.


"Kembali lah pada kehidupanmu yang sekarang. Kau menyusahkan dirimu sendiri dengan terus memikirkanku, apa kau yakin dengan kau terus memikirkanku, aku juga akan memikirkanmu?" tanya Heru. Kejam. Sangat kejam sekali ucapannya itu hingga menusuk ke relung hati Naura.


"Kenapa kau sedingin ini padaku? Gio sudah bahagia dengan wanita lain, tidak bisakah kita bersama?" tanya Naura dengan penuh harap. Naura menatap ke kedalaman mata Heru, tapi tatapan pria itu masih sama dengan udara musim dingin di belahan bumi utara.


"Maaf, Na. Sudah ada yang menunggu ku di tempat lain. Bagiku setelah kau menghianati Gio kau bukan orang yang sama lagi yang dulu aku sayang."


Bagai mendengar suara petir di pagi yang cerah ini, Naura merasa hatinya tersambar lalu tumbang mendengar ucapan kejam pria ini. Bertahun-tahun sulit melupakan dan kini berhasil ia ungkapkan, tidak ia sangka jika ternyata akan ditolak lagi dan lagi.


"Maaf, Na. Dunia kita terlalu jauh berbeda. Jikapun kita bersama belum tentu kita bahagia. Asalkan ku tahu saja. Aku menghormati kedua orangtua yang telah melahirkan dan mengurusmu sejak kecil. Jika mereka tidak menghendakiku, apa mungkin kita akan bisa bahagia?" tanya Heru akhirnya.


"Jadi ini semua karena orangtuaku?" tanya Naura tidak percaya.


"Aku ini pria yag selalu memperjuangkan keinginanku, tapi jika itu berhubungan dengan kebahagiaan orang tua dan penolakan dari mereka, aku bisa apa? Aku tidak mau kau jadi anak yang durhaka terhadap mereka."


Naura semakin tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Kenapa Heru tidak pernah mengatakan apa-apa soal itu?


"Kau tidak pernah bilang. Apa yang mereka lakukan? Apa kau diancam?" tanya Naura.


Heru menggelengan kepalanya. "Tidak. Mereka tidak mengancamku sama sekali, justru mereka memohon dengan sangat agar aku menjauh darimu, meski sebenarnya tidak ada hubungan diantara kita sama sekali."


"Maaf, Na. tadinya aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi semua harus jelas, kan? Dan sekarang aku mohon. Kita hidup dengan cara kita masing-masing. Anggap saja kita hanya orang lain yang tidak saling kenal. Aku harap kau tidak lagi memikirkanku. Jalani saja hidupmu dengan ikhlas, maka kau akan mendapatan kebahagiaanmu dan tidak akan menjadikan aku sebagai bayanganmu selalu. Jadilah ibu yang baik untuk anakmu. Aku suka kau memberi nama itu untuk dia." Heru tersenyum. Baru kali ini Naura melihat senyum itu lagi. Senyum yang sudah sangat lama sekali tidak pernah ia lihat lagi semenjak dahulu.


Heru membalikkan dirinya dan meninggalkan Naura yang kini terisak di tempatnya berdiri.


Naura hanya melihat Heru membelakanginya dan menjauh dari pandangan matanya.