
Aku selesai mandi, Sam tertidur di atas sofa. Dia pasti lelah, aku pun sama. Aku masuk ke dalam selimutku. Dia keterlaluan, kenapa tidak pergi ke kamarnya saja, malah tidur disini!
Aku membuka hpku, ada beberapa pesan disana. Tersenyum puas, cepat atau lambat aku yakin DIA akan datang padaku.
"Oke, waktunya tidur Anye." ucapku pada diriku sendiri.
...*...
Hari ini aku datang ke perusahaan Alex tepat sebelum jam makan siang.
"Kamu sudah puas?" tanyanya sambil menyenderkan dirinya ke kursi kebesarannya.
"Lumayan!" ucapku sambil menatap lembar demi lembar kertas yang aku pegang.
"Kapan kamu akan mulai? Aku ingin menjadi penonton hancurnya perusahaan itu."
"Sepertinya anda punya dendam yang lebih besar dari saya!" aku menyimpan map yang ku pegang ke atas meja.
"Ya, mungkin!"
"Kenapa? Semalam tidak memberitahuku, dendam pada siapa?" dia hanya diam mengalihkan pandangannya dariku.
"Ya sudah, tidak mau cerita tidak apa-apa. Toh aku juga tahu, kalau kamu sangat dendam karena peristiwa pembakaran vila 18 tahun yang lalu." dia menatapku kaget.
"Bagaimana kamu tahu?" aku hanya tertawa kecil sambil mengangkat kedua bahuku. "Laura! Bagaimana kamu tahu?"
"Mudah bagi aku mengorek informasi." ucapku santai. Dia kembali tertegun, lalu tertawa kecil.
"Tidak aku sangka. Aku sudah menganggap remeh kamu. Bahkan berita itu saja hanya bertahan dua hari lalu menghilang tanpa jejak. Polisi juga menyebutkan kalau itu hanyalah kecelakaan. Padahal aku jelas melihat seseorang membakar vila kami."
"Lalu bagaimana denganmu, nona?"
"Aku? Rahasia!" ucapku membuat dia tertawa.
"Memang misterius! Makan siang?" tawarnya.
Apa yang aku mau sudah aku dapatkan. Hanya menunggu permainan selanjutnya. Bersiap saja.
...***...
Rencanaku susah aku jalankan, hanya tinggal menunggu seseorang datang untuk memohon. Ah tidak aku terlalu jahat sepertinya. Aku tunggu kata maaf saja deh. Lagipula papa sudah berjasa untuk membesarkanku. Aku juga masih memandang mama yang memberikan kasih sayangnya padaku, dan kak Mel yang sudah memberikan kasih sayang sebagai kakak terbaik sampai waktu itu.
Pintu di ketuk dari luar sekretarisku masuk sambil membawakan teh hangat di atas nampan.
"Nona, jadwal hari ini ada pertemuan dengan perusahaan XX di jam dua siang. Hanya itu. Yang lainnya pak Chandra akan mengambil alih seperti yang nona mau."
"Oke, trimakasih!" dia mengangguk lalu pamit kembali ke ruangannya.
Samuel yang sedari tadi duduk di sofa mendecih tidak suka.
"Tidak menarik! Aku kira kamu akan segera mengeksekusi mereka, seperti biasanya saat di Prancis." ujar Samuel.
"Belum saatnya Sam. Aku hanya ingin menampakkan diriku di saat yang tepat!"
"Kapan?"
"Dua minggu lagi, pada saat acara penghargaan untuk para pengusaha terbaik. Aku kira akan cocok jika aku muncul disana. Aku ingin tahu reaksi dua orang itu kalau aku muncul dengan elegan, hehe."
"Ya sudah. Aku pergi. Mau ikut?"
"Kemana?"
"Main!" Sam berdiri.
"Gak ah. Ingat Sam. Jangan keterlaluan. Negara ini tidak sama dengan di sana. Kamu bisa di hukum mati kalau terlalu senang bermain!" Sam tertawa lalu pergi menghilang di balik pintu.
Aku tahu kemana arah tujuannya. Ya sudah lah biarkan saja. Toh jika dilarang juga jiwa devil nya sudah mendarah daging. Entah apa lagi cerita masa lalu yang membuat dia menjadi seperti singa lapar. Kalau cuma main cari perempuan sih akan lebih baik daripada main senjata dan menguliti orang lain.