DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. Part 51



"Pak Gio jangan lebay deh!" seru Tiara saat Gio tak berhenti juga dari bicaranya. Tak ia sangka kalau pria itu cerewet juga.


Sadar dengan ucapan Tiara Gio terdiam, Kenapa aku jadi bawel begini?


Tak ingin terus merasa aneh, pria yang tak sadar diri itu berjalan menuju ke kursinya. Ya, tak sadar diri karena dia sedang merasa aneh pada dirinya. Dia pria yang irit bicara, tapi kenapa dengan Tiara dia bisa bicara panjang lebar seperti itu?


(Itu cinta Gio. Sadar dong!)


Tiara mengambil buku-buku yang ia jatuhkan tadi dan mengembalikan ke rak. Lalu ia beralih membersihkan meja dan sofa dengan kemoceng.


"Pak!"


"Hemm?" sepertinya Tiara mulai bosan jika Gio sudah menjawab seperti itu. Bisa tidak sih kalau jawab yang normal gitu? Apa, ada apa, kenapa!


"Tadi ada cowok ganteng datang kesini tapi nyebelin baget sih!" Tiara melirik ke arah Gio yang kini fokus dengan pekerjaannya. Hehh dia gak respon!


"Siapa?" tanya Gio. Dadanya panas mendengar Tiara menyebutkan 'cowok ganteng'. Siapa lagi yang bisa mengalahkan kegantengan dia selain Axel?!


"Gak tahu, gak nanya. Dia kemarin lihatin saya terus kan sebel, Pak!" curhatnya. "Tadi juga begitu. Senyumnya itu loh Pak, ihhhh." Tiara bergidik tubuhnya.


"Memangnya kenapa senyumnya?" makin panas lah tuh dadanya.


"Manis!" jawab Tiara sambil tertawa. Gio mengepalkan jari-jari tangannya. Dia mendelik sebal pada Tiara.


Gio berdiri dan mendekat pada gadis itu.


"Manisan senyum siapa? Saya atau dia?" tanya Gio semakin mendekat pada Tiara, bahkan jarak mereka hanya terpaut satu langkah. Gio menarik senyum di bibirnya. Tapi yang Tiara lihat senyuman yang di paksakan itu terlihat menyeramkan.


"Jawab! Lebih manis senyum siapa?" tanya Gio tak menurunkan lengkungan di bibirnya.


Tiara mundur satu langkah, tapi Gio juga terus maju satu langkah. Hingga akhirnya punggung Tiara membentur rak buku di belakangnya.


"Pak?!"


"Kenapa tidak jawab? Senyum siapa yang lebih baik?" Terus saja mendekatkan dirinya hingga jarak mereka hanya satu jengkal. Tubuh Tiara yang hanya sebatas dadanya membuat Gio menundukkan tubuhnya.


Tiara tidak bisa kabur. Tangan Gio mengungkungnya. Bahkan kini wajah itu semakin mendekat, masih ingin di akui senyumannya. Sesak dada Tiara. Dia ingin kabur sekarang juga, lututnya lemas, kepalanya tidak bisa berfikir dengan cepat.


"Pak. Tolong mundur!" Tiara akhirnya bisa membuka suaranya.


"Jawab dulu!"


"Tapi jangan seperti ini."


"Kenapa tidak menjawab saja?"


Dug. Dug. Dug.


Dada Tiara berdendang ria dengan irama disko. Wajahnya terasa panas, ini pertama kalinya dia sangat dekat jaraknya dengan seorang pria selain dengan ayahnya dulu.


Gio tersenyum semakin lebar. Dia senang melihat Tiara yang salah tingkah, wajahnya terlihat lebih manis menurutnya dengan warna merah alami, bukan karena perona pipi. Gio sangat senang menjahili Tiara seperti itu!


Tiara mengulurkan tangannya menahan dada Gio saat pria itu semakin dekat dan semakin dekat. Kemoceng yang ia pegang terjatuh begitu saja di lantai.


Pintu terbuka, seorang pria dengan senyum manis terlihat disana. Dia melongo melihat pemandangan yang tersuguh didepan matanya. Sungguh dia tak menyangka, si pria kaku itu sudah mengambil langkah yang lumayan jauh rupanya!


Terlalu lama menunggu, tapi dua insan itu hanya diam saling menatap tanpa ada kejadian selanjutnya, membuat Axel kesal.


"Ekhem! Maaf saya mengganggu acara kalian!"


Gio dan Tiara sama-sama menoleh ke arah asal suara di ambang pintu. Mereka terdiam sebelum keduanya saling menjauh.


"Apa yang kalian lakukan? Ini masih pagi!" tanya Axel membuat wajah keduanya semakin memerah.


"Saya .... Saya sedang membersihkan debu." Tiara dengan cepat berjongkok untuk mengambil kemoceng yang tadi ia jatuhkan. Lalu dengan cepat membersihkan buku-buku yang sebenarnya sudah ia bersihkan tadi.


"Aku sedang membantunya membereskan buku!" Kini Gio merapikan buku yang juga tak perlu di rapikan lagi.


Axel menggelengkan kepalanya. Sudah ketahuan masih mengeles saja!


"Aku minta berkas yang semalam kamu selesaikan. Segera antarkan!" ucap Axel lalu tanpa mendengar jawaban Gio dia keluar dari ruangan itu.


Gio mengusap wajahnya kasar. Dia tak pernah semalu ini di hadapan Axel. Gio kembali ke meja kerjanya. Di mengambil pekerjaan yang Axel minta.


"Antarkan ini ke ruang CEO." titah Gio pada Tiara. Tiara yang sudah bisa mengatur detak jantungnya hanya mengangguk tanpa banyak bicara. Dia segera mengambilnya dan segera pergi ke tuang CEO.


Tak selang berapa lama, Tiara kembali lagi membuka pintu, dia melongokkan kepalanya dari sana.


"Pak!" panggil Tiara.


"Anu .... Kantor CEO dimana?" Tanya Tiara.


"Tepat di lantai atas, hanya ada satu ruangan." ucap Gio.


Tiara menganggukan kepalanya dan kemudian pergi dari sana.


Tiara masuk ke dalam lift, dia menekan tombol angka delapan belas, dimana kantor CEO nya berada. Akhirnya rasa penasaran dia akan terjawab sebentar lagi. Setampan apa sih CEO nya hingga membuat heboh para karyawan? Apakah pria itu setampan Brad Pitt? Dan lagi dia masih muda.


Ting.


Tiara sudah sampai di lantai atas. Dia keluar dari ruangan itu dan menuju ruangan CEO. Benar hanya ada satu ruangan disana dengan pintu kayu betukiran indah, di atasnya tertulis tulisan CEO.


Tok. Tok. Tok.


Dia mengetuk pintu satu kali.


Tok. Tok. Tok.


Sekali lagi sampai ada suara yang mempersilahkannya masuk.


"Permisi, Pak!" ucap Tiara setelah gadis itu membuka pintu. Pelan-pelan dia berjalan ke dalam ruangan dan mendapati seseorang sedang menelfon mendekat jendela.


Suara baritonnya terdengar indah di telinga. Dari postur tubuhnya dia terlihat gagah mempesona. Punggung tegak dan lebar, tinggi yang proporsional dengan tubuhnya. Ah, sepertinya pas jika di peluk dari belakang.


Tiara menggelengkan kepalanya, saat tiba-tiba membayangkan tubuh itu berbalik dan mendapati wajah bosnya yang menyebalkan!


Kenapa aku malah mengingat dia?


Tiara menepuk kepalanya sedikit keras. Dia menunggu hingga bos besarnya selesai menelfon. Menunggu dengan sabar, meski kakinya rasanya mulai pegal.


Kenapa dia sama-sama menyebalkan? Apa dia tidak tahu aku ada disini?


Lima menit yang terasa lama baginya. Dia ingin sekali melepaskan heelsnya dan lalu melemparkannya pada pria itu. Meski iya dia adalah CEO, tapi tidak benar juga kalau dia membuat seseorang menunggu seperti ini.


Axel mematikan telfonnya dan menyimpannya ke dalam saku celananya. Dia membalikkan badannya dan membuat Tiara terkejut.


OMG! Benar-benar matilah aku kali ini! gumamnya dalam hati saat melihat wajah CEO nya.


Tiara langsung menundukkan kepalanya. Tak berani melihat.


Ah .... Gawat. Gawat!! Kenapa bisa dia? Aduh!


Ingin rasanya Tiara berbalik dan lari dari sana. Tapi ia harus menyerahkan tugas kepada CEO nya ini.


Axel tersenyum melihat tangan Tiara yang gemetar. Pastilah dia merasa bersalah setelah kemarin dia membentaknya dan juga kejadian tadi pagi bersama dengan Gio.


"Ini ... Berkas yang Anda minta, Pak!" lirih Tiara takut seraya menyerahkan berkas-berkas itu pada Axel. Dia tak berani menatap Axel. Meski iya pria itu tampannya sebelas dua belas dengan Gio, tapi ia terlalu takut untuk menatapnya.


Aduuh pasti dia akan marah!


Tiara semakin menundukkan kepalanya, berharap jika pria itu lupa dengan kejadian kemarin.


"Terimakasih." ucap Axel. "Apa kemarin Gio mengerjai kamu?"


Mati aku! Dia ingat!


"Dia tidak suka kopi!" ucap Axel lagi yang membuat Tiara mendongakan kepalanya.


Mulutnya terbuka lebar. Tidak suka kopi? Tidak suka kopi? Lalu apa kemarin? Dia menjahili aku? Suruh aku buat kopi sampai empat kali? keterlaluan!


Axel menatap wajah Tiara yang lucu menurutnya, pantas saja jika Gio menjadikan gadis ini spesial, ada semacam yang Axel pun tak tahu, gadis ini seperti punya magnet tersendiri untuk menarik seorang pria supaya jatuh cinta padanya. Ia pun sama, suka dengan gadis ini, tapi hanya sekedar suka, dia sudah punya Renata!


"Pak Gio tidak suka kopi?" tanya Tiara. Axel mengangguk.


"Perutnya bermasalah karena kopi, dia punya sakit lambung." tutur Axel.


Tiara mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Dia kesal, geram! Jadi dia menjahili dirinya dan membuat dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya?! Membuatmu dia menuliskan namanya sebanyak seribu kali? Apa alasannya coba!


"Apa ada yang lain lagi, Pak? Kalau tidak saya mau balik ke kantor!" ucap Tiara dengan geram. Axel menahan tawanya melihat wajah Tiara yang merah.


"Tidak ada. Silahkan kalau kamu kembali!" ucap Axel. Tiara membalikkan dirinya, tapi baru dua langkah, dia kembalikan diri lagi menghadap Axel.


"Pak. Yang kemarin, dan yang tadi itu saya minta maaf! Saya tidak tahu kalau bapak adalah pemilik R.A group ini!" Tiara menundukkan setengah badannya. Ia merasa sangat menyesal karena sudah tidak sopan pada sang utama di ranah R.A group ini.


"Tidak apa-apa. Jika seseorang sedang marah, tentu dia akan sibuk dengan dunianya sendiri!" Axel berkata dengan bijaknya.


Tiara tersenyum malu karenanya. Dia segera berjalan meninggalkan ruangan Axel dengan langkah lebarnya, suara sepatunya terdengar keras. Axel hanya menggelengkan kepala melihat gadis itu yang tengah marah. Ia yakin sebentar lagi pasti lah Gio akan kena semprot gadis itu.