
Devan sudah terbangun lebih dahulu, dan entah kemana bahkan aku cari di kamar mandi pun dia tidak ada.
Jam sudah menunjukkan pukul 5.45 pagi. Matahari belum terlalu terik di luar tapi hangatnya sudah terasa di kulit ku.
Mengambil handuk dan berlalu ke kamar mandi. Mandi dengan cepat karena aku harus berangkat lebih pagi agar tidak terlambat ke sekolah.
*
Selesai mandi dan mengganti baju dengan seragam, Devan masuk ke dalam kamar dengan nampan berisi dua lembar roti, sebotol selai stroberi, dan telur mata sapi setengah matang. Tak lupa susu khusus untukku kali ini rasa stroberi.
"Sudah bangun?" meletakkan nampan di atas nakas.
"Dev, kenapa tidak bangunkan aku?"
"Kamu tidur sangat pulas sayang." mendekat dan mencium pucuk kepalaku. Mengeratkan pelukan di pinggang, dan menatapku dengan lamat. Devan tersenyum manis sekali. Rasanya dia tambah tampan saja sekarang.
"Kenapa? Apa aku tampan?"
"Tidak! Biasa saja!" Menggesekkan pipiku di dadanya. Rasanya menyenangkan!
Devan terkekeh geli.
"Stop, Hon. Kamu buat aku geli. Aku takut tidak akan antar kamu ke sekolah nanti!" Aku merenggangkan pelukanku, kembali menatapnya.
"Dev, bisakah kita selamanya seperti ini?"
"Tentu. Memangnya kenapa? Kamu bicara seperti akan pergi saja." Nadanya seakan tidak suka.
"Bukan begitu. Umm kamu... maksudku... kamu itu kan ganteng, sukses, dari keluarga terpandang, pasti di luar banyak yang kejar kamu kan? banyak yang incar kamu! Aku sedikit takut." berbohong untuk ke sekian kalinya.
Devan memelukku dengan erat. "Dengar, walaupun banyak yang menggodaku, aku gak akan berpaling dari kamu. Bukannya aku sudah bilang dari dulu, kalau aku gak bisa sama orang lain selain kamu? Kenapa kamu sekarang seperti ini? Kamu ragu sama aku, hem?" ada kesungguhan didalam setiap perkataannya.
"Bukannya gitu. Aku cuma takut. Aku cuma wanita biasa, tidak sederajat sama kamu. Bagaimana kalau nanti ada pemberitaan miring sama kamu, dan mempengaruhi bisnis kamu, apalagi kita menikah karena..."
"Ssshhtt. Aku gak suka kamu bicara seperti itu. Apapun pemberitaan yang akan terjadi biarkan saja. Aku gak akan peduli." Devan menjepit daguku hingga wajah kami saling bersinggungan.
Cup.
"Kiss morning!" senyumnya sambil mengelap bibirku dengan ibu jarinya.
"Ayo sarapan, dari sini ke sekolah kamu jauh, nanti kamu telat." titah Devan.
"Sarapan di bawah saja. Aku gak enak kalau duluan sarapan apalagi di kamar. Seperti tidak menghormati pemilik rumah."
Devan tertawa hingga matanya menyipit. "Kamu itu!" menepuk keningku dengan telapak tangannya.
"Oma tidak apa-apa. Justru beliau yang suruh aku bawakan sarapan kesini. Kalau sarapan bersama yang lainnya nanti kamu bisa telat. Ayo cepat makan." menarikku ke tepi tempat tidur, mengajakku duduk disana dan mulai menyuapiku.
"Apa masih sering mual?" tanya Devan.
"Sudah mulai berkurang kurasa." jawabku sambil mengunyah makanan.
"Syukurlah." kembali menyuapiku.
"Kamu gak makan Dev?" tanyaku.
"Nanti saja di kantor."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku cuma mau urus kamu dulu sebelum aku kerja nanti. Kamu kalau tidak aku suapi pasti tidak benar makannya!" aku hanya menyengir ria.
"Semenjak hamil aku gak suka nasi. Geli lihatnya, kalau di paksakan bisa keluar lagi!" Devan tersenyum menyuapi ku lagi dan lagi.
"Harusnya aku yang urus kamu, aku kan sudah jadi istri kamu." ucapku.
"Tidak masalah. Aku senang masak buat kamu. Aku senang lakuin ini, apalagi ada calon anak kita disini." mengelus perutku. Jadi cuma karena ada janin ini saja dia baik?
"Berarti kalau gak ada anak kita kamu gak akan sayang lagi sama aku gitu?" mengerucutkan bibirku dan mengunyah dengan kasar, memalingkan wajahku ke samping.
"Bukan begitu! Kamu ini, kenapa jadi sensitif? Aku senang lakuin ini buat kamu, ada atau tidaknya baby di perut kamu." Aku menghambur memeluk Devan, Devan menyimpan piring di atas kasur.
Aku menyerukan kepalaku di lehernya, mencium wangi tubuhnya. Devan mengelus rambutku.
"Semenjak hamil kamu jadi seneng peluk aku ya!" tertawa senang penuh kemenangan.
Dasar Devan! Suasana haru ini buyar seketika!
Menjauhkan wajahku dari dadanya dan menatap kesal pada suamiku ini.
"Kamu ini, merusak suasana!" lagi Devan tertawa dan mengacak rambutku yang sudah rapi. Aku melepaskan pelukanku dan merapikan rambutku. Susah payah aku menyisirnya dan dia dengan seenaknya membuat berantakan lagi.
"Dev! Jadi berantakan, kan!" protesku. Devan berdiri dan meraih sisir dari atas meja.
"Berbalik! Aku akan rapikan!" aku menurut, membalikan badan. Devan mulai menyisir rambutku.
"Sudah selesai." Ucapnya lalu mengembalikan sisir ke atas meja rias.
Devan memelukku dari belakang, mencuri ciuman di pipiku.
"Selesaikan sarapannya dan kita berangkat!" lalu berdiri dan mengambil jaket dari dalam lemari.
Aku mengambil telur mata sapi dengan satu suapan besar. Mungkin jika orang lain akan merasa aneh dengan sarapanku ini. Roti dengan selai stroberi, dan telur mata sapi. Tapi anehnya saat ini aku suka!
*
*
Sampai di sekolah. Devan menepikan mobilnya dengan perlahan.
"Sudah sampai."
"Oke, trimakasih!" membuka pintu mobil, tapi tidak bisa.
"Devan, buka kuncinya. Aku gak bisa keluar!"
Devan malah menopang kepalanya pada tangan kanan yang bertumpu di atas setir.
"Tentu tidak bisa keluar!"
"Password nya dulu!"
"Haa? Pasword? Sejak kapan mobil kamu ada passwordnya?" tanyaku heran.
"Sejak hari ini!"
"Memang mobil bisa pake pasword?" tanyaku bingung. Devan hanya mengangguk saja. "Baru tahu ada pasword buat mobil!" menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Masih bingung.
"Ini!" tunjuknya pada bibir tebalnya.
"Ish dasar mesum!" memukul dada Devan hingga dia mengaduh, apa sesakit itu. Aku pukul pelan kok!
"Sakit ya?" tanyaku khawatir.
"Enggak! Cepat cium. Itu password kamu supaya bisa turun dari mobil ini!"
"Ish enggak!"
"Ya sudah!" tetap diam di tempatnya.
"Devan, aku bisa kesiangan!" merengek sedikit. Devan menggelengkan kepalanya.
"Biarkan saja! Tidak ada password tidak boleh turun!"
"Ya sudah!" Aku melipatkan kedua tanganku di depan perutku, tidak peduli lagi dengan dia.
"Ya sudah, apa?"
"Kalau tidak mau buka, aku tidak turun!"
"Ya sudah, terserah! Tiga tahun sekolah gak dapet ijazah buat apa? sia-sia belajar tidak ada bukti!" Aishh ini orang dasar kepala batu!! Berdebat dengannya kenapa aku yang jadi kalah?!
Ku tarik kepalanya dengan kesal, hingga mata Devan melotot karena terkejut mendapat serangan dariku. Sekilas mencium bibir Devan. 😘
"Sudah. Aku mau turun!" mendorong bahunya.
"Aaah, tidak sah! Ulangi!" ucapnya kesal.
Apa-apaan dia!
"Ih gak mau. Yang penting password kan. Dan aku sudah kasih, jadi buka kuncinya!"
"Pokoknya tidak sah! Yang barusan tidak bisa di benarkan! Apa-apaan seperti itu?!" meradang dengan wajah kesal.
"Yang penting sudah, kan! Cepat buka!"
"Gak mau! Lakukan yang benar, baru aku buka!" kenapa sifat pemaksanya keluar lagi?
Dengan malas aku menutup mata. "Cepat lah, aku sudah telat! Aku tidak mau kesiangan dan tidak di perbolehkan masuk kelas gara-gar hembbbb..."
Rasa hangat nan lembut terasa di bibirku. Hembusan nafasnya, dan perlakuannya membuat jantungku berdebar, dan berdentum tidak karuan.
Semakin lama ciumannya semakin menyenangkan. Rasanya beda dari ciuman kami selama ini. Entah kenapa!
Tok. Tok.
Suara ketukan di kaca jendela membuyarkan kesenangan kami. Kami saling melepas pagutan dan merapikan baju kami masing-masing. Devan juga merapikan rambutku yang berantakan.
"Maaf." ucapnya dengan cengiran khas.
Tok. Tok.
Lagi suara ketukan di kaca jendela terdengar.
"Sofia." tunjuk Devan lalu menurunkan kaca jendela mobil hingga setengah.
"Sof?" Wajah Sofia terlihat sedikit kesal dengan tangan di pinggangnya.
"Sorry ya, bukan maksud gue ganggu kesenangan kalian, tapi lihat jam dong kalau mau bersenang-senang. Gue udah tunggu lebih dari lima menit tapi elo gak keluar juga!" kali ini melipat kedua tangannya di depan dada.
"Hehe. Iya. Gue turun!" lalu beralih pada Devan. "Kamu sih! Jadi terciduk kan! Buka kuncinya!" ucapku ketus.
Devan menaikkan kembali kaca mobilnya sebelum membuka kunci. Menarikku kembali ke dalam pelukannya.
"Udah, Sofia bisa marah!" geramku.
"Sebentar!" lalu setelah beberapa kecupan di wajahku Devan melepaskan. "Semoga berhasil ujiannya!" ucap Devan lalu kemudian membuka kunci mobilnya.
Aku keluar dari mobil, melihat wajah Sofia yang semakin kesal.
"Nanti aku jemput, oke. Sebelum aku datang jangan kemana-mana."
"Iya." jawabku.
"Sof, titip Anye jangan sampai dia kenapa- napa!" teriak Devan pada Sofia.
"Hemmm." Jawab Sofia malas.
Lalu mobil segera melaju kembali ke jalanan.
"Dasar pengantin baru!" desis Sofia, lalu menggamit lenganku dan berjalan ke dalam gerbang sekolah
.
.
.
.
Mana dong dukungannya, butuh suntikan semangat nih!!!
like
komennya ya...😁