DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 193



Semenjak kehadiran Gio di rumah ini Axel menjadi lebih bersemangat. Dia lebih ceria dan juga lebih bahagia. Dia pasti kesepian selama ini karena di tinggal oleh Daniel.


Mengenai ayah dari Gio, setelah di obati, dia di tangkap dan di jebloskan ke penjara. Dengan beberapa bukti yang di sampaikan oleh para tetangga dan juga bukti nyata penganiayaan pada tubuh Gio.


Tak ada kerabat lain yang di miliki Gio, maka dari itu aku dan Devan memutuskan untuk mengurusnya.


Terkadang Gio bermimpi buruk dalam tidurnya. Dia berteriak ketakutan. Pastilah kejadian yang dia alami selama ini membuat dia down dan tertekan.


Pintu di gedor dari luar dengan keras. Aku dan Devan terbangun karenanya. Axel berteriak keras. Aku dan Devan saling berpandangan. Terdengar Axel berteriak menyebutkan nama Gio.


Aku berjalan ke arah pintu dan membukanya. Axel terlihat panik.


"Gio, mama. Gio menangis!" Axel menarik tanganku ke kamarnya. Devan mengikuti dari belakang. Terlihat anak itu sedang duduk di lantai memeluk lututnya sendiri. Segera aku menghampiri dia.


"Gio, ada apa nak?"


Dia mengangkat kepalanya. Matanya merah. Bibirnya bergetar.


"Aku tidak sengaja! Aku tidak sengaja!" hanya itu yang dia ucapkan.


"Ada apa nak? Kamu mimpi lagi?" ku raih dia dalam pelukan.


"Aku tidak sengaja pukul dia! Dia cari aku, dia akan bunuh aku!" bergetar saat dia bicara. Apa mungkin dia bermimpi lagi?


"Tenang ya, kamu aman disini. Kami janji akan melindungi kamu." ku usap kepalanya sampai dia tenang.


Kami kembali ke kamar setelah Gio tertidur. Axel menjaga anak itu dengan baik. Sepertinya Axel sudah sayang pada Gio.


...***...


Kami sedang duduk di ruang keluarga. Aku, Devan, dan Axel. Seperti biasa aku akan membantu Axel belajar. Bukan membantu sebenarnya, hanya mendampingi. Terbukti Axel tidak pernah menanyakan soal-soal yang di anggap sulit. Dia bisa menyelesaikannya sendiri.


Gio terlihat di ambang pintu, dia mengintip kami dari sana. Berdiri dengan diam, memperhatikan kami. Buku pelajaran dia pegang di tangannya.


"Gio?" Axel dan Devan menoleh saat aku memanggil namanya.


"Kemari, Nak!" ku panggil anak itu. Dia hanya menggelengkan kepala. Gio sudah satu bulan tinggal disini. Tak banyak bicara jika dengan ku atau dengan Devan, tapi dengan Axel dia bisa jadi teman dan pembicara yang baik.


Aku mendekat ke arah mereka, dan mengintip apa yang Axel perlihatkan. Axel menutup bukunya dengan cepat.


"Ini aku buat untuk di perlihatkan pada Gio!" ucapnya.


"Kalian main rahasia?" cibirku.


"Hehe...." menyengir memperlihatkan gigi ompongnya.


"Ma. Bisakah Gio tinggal bersama kita selamanya?" Ucapan Axel seketika membuat aku dan Devan saling menatap. Gio bisa saja kami adopsi, hanya tinggal mengurus surat-surat untuk mengesahkannya menjadi anggota keluarga kami. Tapi Gio masih punya ayahnya.


"Gio..."


"Tentu!" Devan segera menyambar ucapanku.


"Gio bisa tinggal disini sampai kapanpun!" tambahnya lagi.


"Yeeeaaayy. Beneran pa?" Axel menoleh pada Devan dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Devan mengangguk, aku menatap Devan dengan bingung. Dia hanya tersenyum. Mungkinkah dia sudah punya rencana lain?


Axel mengajak Gio pergi ke taman belakang, mereka pasti akan berenang seperti biasanya. Udara akhir-akhir ini sangat panas, memang paling cocok kalau mendinginkan diri dengan berenang. Ku perintahkan Leon untuk menemani mereka. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu, kemudian berjalan ke arah dimana Axel dan Gio berada.


Leon, satu lagi bawahan yang ayah tunjuk untuk menggantikan Hanson.


Aku beralih duduk ke dekat Devan. Devan merangkul pudakku dan melabuhkan kepalanya di bahuku.


"Aku suka saat Axel tertawa, jadi apapun akan aku lakukan untuk anak kita!" ucap Devan.


"Lalu apa yang akan kita lakukan dengan Gio?"


"Kita akan mengurusnya. Selama Gio bersedia tinggal dengan kita, kenapa tidak?" ucapnya.


Ya benar sekali. Aku harus percaya urusan Gio pada Devan. Dan lagi Gio mau kemana? Ayahnya berada di penjara dan dia tak ada kerabat lain yang bisa mengurusnya. Melepaskan dia bukankah berarti membuang anak itu!


Aku lihat Gio anak yang cerdas, hanya saja dia sedikit tertutup pada orang dewasa. Aku harap selama dia ada disini dia punya kepercayaan pada kami untuk bisa menyelami hatinya!