DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 168



Tiba waktunya kak Mel melahirkan. Semua orang sangat menunggu dengan harap-harap cemas. Mama, papa, juga keluarga Alex. Aku dan keluarga kecilku juga ikut menunggu kak Mel yang sedang berada di ruang bersalin.


Rasanya mendebarkan, padahal aku sudah pengalaman dua kali meski yang aku ingat pada saat melahirkan Daniel saja!


"Anye, Devan!" panggil mama Linda seraya mendekat ke arah kami. Papa juga ada di sampingnya.


"Kalian pulang saja. Mama tidak tahu kapan bayinya akan lahir, kasihan anak kalian kalau menunggu terlalu lama disini!" mama mengusap kepala Axel di gendongan Devan.


"Iya, Nye! Kalian pulang saja. Bawa cucu papa pulang. Kasihan mereka kalau menunggu lama disini. Nanti setelah bayinya keluar kami akan kasih kalian kabar!" ucap papa. Aku senang sekarang papa sudah bisa menerima aku dan juga anak-anak. Bahkan tidak canggung menyebutkan 'cucu papa'. Bahagianya hatiku.


"Tapi aku ingin menunggu kak Mel lahiran ma!" ucapku.


"Jangan egois! Kamu itu sudah jadi orang tua dari dua anak. Mulai sekarang kamu harus fikirin keadaan anak kamu! Lagipula tidak baik anak-anak di rumah sakit terlalu lama!" ucap mama mencubit pipiku gemas.


"Sakit!" rintihku, mengusap pipi ini.


"Iya deh, Anye pulang. Tapi nanti segera kabari Anye ya ma, kalau bayinya sudah lahir!" ucapku dengan nada manja.


"Iya!" ucap mama.


Dengan sangat menyesal aku pulang ke rumah. Benar kata mama anak-anak tidak baik berada di rumah sakit lama-lama. Daniel dan Axel juga terlihat bosan disana.


"Memangnya bayi lahir lama ya ma?" tanya Daniel saat kami sudah melaju di tengah jalanan. Kami sudah menunggu hampir tiga jam untuk kelahiran bayi kak Mel.


"Ya, begitulah, Niel! Kenapa? Kamu ingin lihat bayi ibu Mel?" tanyaku. Daniel mengangguk.


"Nanti, nenek akan telfon kita kalau bayinya sidah lahir!" ucapku. Daniel mengangguk lalu dia merebahkan kepalanya di sandaran kursi.


Sudah hampir dua jam aku menunggu. Melirik ke arah hpku maupun hp Devan, menunggu kabar dari mama, tapi masih tidak ada telfon juga dari sana.


"Kenapa bisa selama ini?" gumamku.


"Ada apa, honey?" Devan baru saja keluar dari kamar mandi.


"Kak Mel. Belum ada kabar dari sana!" ucapku.


"Kamu khawatir?" aku mengangguk.


"Kalau kamu mau pergi kesana, pergi saja. Anak-anak juga sedang tidur. Biar aku yang jaga!" ucap Devan. Aku berfikir sebentar, takut jika Axel akan menangis kalau dia bangun dan aku tidak ada!


"Sudah pergi saja. Jangan khawatirkan anak-anak, lagipula ada Hanson yang membantu menjaga mereka!" ucap Devan. Aku masih terdiam.


"Jangan khawatir!" ucapnya lagi seraya mengacak rambutku.


Aku bergegas pergi ke rumah sakit di temani satu bodyguard. Meski sekarang menyandang status Aditama tapi aku juga tidak mau membuat ayah khawatir. Tetap aku mengambil satu bodyguard untuk ku, Hanson untuk Daniel, dan Devan tetap bersama Seno! Ah sudah bertahun-tahun berlalu bahkan aku belum pernah melihat pria itu tertawa. Jangankan tertawa, senyumpun tidak pernah terlihat!


Sampai di rumah sakit, aku bergegas ke ruangan bersalin. Semua orang masih menunggu disana. Selama itukan waktu persalinan kak Mel?


"Belum lahir juga, ma?" tanyaku pada mama yang sudah terlihat pucat wajahnya.


"Dokter menyarankan untuk cessar tapi Melati menolak!" ucap mama. "Mama takut Anye!" Ku peluk mama dan ku tenangkan.


Suasana sungguh terasa menegangkan di luar sini. Tidak aku sangka akan semenegangkan ini, apa Sam dan ayah juga merasakan hal yang sama saat aku melahirkan Daniel dulu?


Satu jam kembali berlalu. Mama sudah terlihat lelah, namun enggan untuk beristirahat, masih setia menunggu kelahiran putra kak Mel.


Baru saja aku selesai menelfon Devan menanyakan keadaan anak-anak, mereka masih tertidur. Aku sedikit tenang!


Perawat keluar dari ruangan setengah berlari, lalu tak lama dia kembali dengan membawa dua labu infus di tangannya. Aku dan mama saling memandang satu sama lain, sedangkan papa... Dia terdiam, entah apa yang sedang di fikirkannya, sesekali papa melirik ke arah pintu, lalu kembali menunduk. Mulutnya bergerak-gerak, mungkin sedang merapalkan doa.


Menunggu dan masih menunggu. Rasanya aku tidak sabar, ingin mendobrak pintu itu dan berteriak pada kak Mel supaya dilakukan cessar saja!


Pintu terbuka! Seorang perawat keluar.


"Bayinya sudah lahir, perempuan!" dan terdengar samar suara tangis bayi dari dalam sana. Finally!


Kami berucap syukur, bahkan mama terkulai lemas di bahuku. Tangisnya membuncah namun pelan. Pastilah mama lega karena kak Mel sudah melewati beberapa jam masa sulitnya.


"Akhirnya, ma. Bayi kak Mel lahir juga!" mama mengangguki ucapanku.


Alex keluar dari dalam sana, raut wajahnya terlihat sangat bahagia. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.


"Mama!" Alex datang dan memeluk mama. "Akhirnya anakku lahir juga, ma!" Mama mengangguk, tangis haru seketika pecah, Alex beralih memeluk papa. Sungguh indah hubungan diantara mereka. Sedangkan aku dulu... Aku hanya di temani ayah dan juga Samuel, dan beberapa bodyguard yang berjaga di luar. Aku iri? Ya!


"Anye!" Alex kini menghampiriku dan merentangkan tangannya. Apa dia ingin memelukku? Tidak! Ada yang akan marah jika kami berpelukan!


"Jangan peluk aku Kak Alex, kak Mel nanti marah!" aku memperingatkan. Dia berhenti dan menarik tangannya, menggaruk lehernya yang tidak gatal. Tersenyum meringis.


"Bukan Melati, tapi Devan juga kan?!" kami tertawa bersama. Ya, dia memang benar! Mereka berdua pencemburu!


"Selamat atas kelahiran baby kalian." ku ulurkan tanganku padanya, dan di sambutnya dengan hangat.


"Trimakasih! Akhirnya aku tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ayah!" ucapnya bangga.


Kak Mel di pindahkan ke ruang inap, semua orang sangat bersuka cita menyambut kelahiran baby Tiana yang kini sedang tidur di dalam boks bayi. Dia sangat kecil. Pipinya merah, keseluruhan wajahnya mirip dengan Alex, kecuali hidungnya yang kecil mancung mirip dengan kak Mel. Bulu matanya lentik, juga ada lesung di pipi kanannya. Dia lucu dan menggemaskan!


"Kenapa dia mirip ayahnya?!" celetuk kak Mel tak terima.


"Kalau mirip orang lain apa tidak takut jadi pertanyaan?" ucapku asal, kembali menatap dan mengelus pipi baby Tiana yang lembut. Dia masih tetap tertidur tanpa merasa terganggu karena perlakuanku. Dia lucu!


"Tapi kenapa dia tidak mirip aku!" tanya Kak Mel.


"Itu karena kamu sangat benci ayahnya, jadi anak kamu mirip dengan Alex!" mama yang baru saja keluar dari kamar mandi mendengar ucapan kak Mel. Mendengar jawaban dari mama, kak Mel mendengus sebal.


"Lagian kenapa sih yang, kalau anak kita mirip aku? Aku kan bapaknya!" ucap Alex yang duduk di brankar milik sang istri. Sepertinya dia tidak terima dengan perkataan istrinya.


"Huhh, sebal! Curang!" kak Mel memberengut. Ya ampun, kak Mel bisa juga bersikap seperti ini!


"Apa melahirkan sakit, yang?" tanya Alex sambil menyuapkan potongan buah pisang untuk kak Mel.


"Menurut kamu?" kak Mel balik bertanya, dia mendelik sebal.


"Ah kasihan sekali kamu." Alex mengambil tangan kak Mel dan menciumnya mesra. "Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi kesakitan!" Kembali Alex mencium tangan kak Mel dengan lamat. Kak Mel tersipu, pipinya merah. Iihh mereka so sweet sekali. Sungguh beda perlakuan Alex dengan Devan dulu pada kak Mel. Meski kak Mel sangat mencintai Devan dulunya, tapi dia tidak pernah semerah ini wajahnya. Tidak pernah tersipu malu seperti ini.


"Mama!" suara teriakan anak kecil terdengar memecah lamunanku. Aku menoleh ke arah asal suara itu. Daniel berlari mendekat ke arahku, dan di belakangnya terlihat Axel yang sama berlari dengan kaki mungilnya. Devan tersenyum dengan santai berjalan ke arah kami.


"Mama jahat tidak bangunkan aku!" Daniel memberengut.


"Maaf, tadi kamu tidur jadi mama tinggal. Lihat ini baby Tiana!" tunjukku pada Daniel. Seketika wajah Daniel berubah cerah, bibirnya tersungging senyuman.


"Mama! ndong!" Axel sudah sampai di dekat kakiku, dia bersuara sedikit melengking. Kedua tangannya terulur ke atas meminta di gendong. Meski keduanya aku biasakan bahasa Indonesia, tapi disini Axel yang lebih mahir dengan bahasa, sedangkan Daniel kadang masih salah dalam pengucapannya, juga sesekali terselip bahasa Inggris atau bahasa Prancis saat dia bicara.


"Ah anak mama, sudah bangun. Mau lihat kakak, sayang?" Aku mengambil Axel dan menggendongnya. Mata Axel mengerjap-ngerjap dia memiringkan kepalanya melihat makhluk yang lebih mungil darinya sedang tidur lelap.


"Namanya baby Tiana!"


"Ana!" ucap Axel menunjuk baby Tiana, kebanyakan Axel mengikuti kata akhiran saja! Dia belum terlalu lancar bicara.


"Mama bawa Baby Tiana pulang ke rumah!" Daniel berseru.


"Mah! Ana. Mah!" Axel mendukung ucapan kakaknya. Dia tersenyum, tertawa kecil sambil melompat-lompat di dalam gendonganku. Sepertinya Axel suka dengan baby Tiana.


"Gak boleh sayang. Baby Tiana harus sama Ibu Melati. Gak boleh ikut kita pulang!" aku mencoba menerangkan, tapi apa yang terjadi? Axel mencebik, bibir bawahnya ia tarik ke atas, matanya berkaca-kaca.


"Hiks... Hiks..." oh ya ampun anak ini.


"Axel!" panggil kak Mel. Axel memutar kepalanya. "Sini, anak ibu!" kak Mel mengulurkan kedua tangannya pada Axel. Axel hanya terdiam. "Axel mau sama baby Tiana?" Axel lirih mengangguk. Oh... Dia menjawab meski dengan anggukan kepala. Aku tak percaya ini! Biasanya Axel cuek pada selain kami yang ada di rumah!


"Sini!" aku mendekat ke arah kak Mel. Aku mendudukkan Axel di samping kak Mel. Kak Mel membujuk Axel agar tidak menangis. Anak itu menatap ku, lalu menatap kak Mel.


"Tolong bawa kemari baby Tiana!" ucap Kak Mel. Alex mengambil baby Tiana dari dalam boks lalu membawanya mendekat pada kak Mel. Kak Mel memangku baby Tiana, Axel menatap putri kecil itu dengan diam, matanya tidak lepas dari baby Tiana.


Perlahan tangannya terulur. Axel tersenyum saat meraih tangan bayi mungil itu.


"Ana!" serunya senang. Aku melirik ke arah Devan yang sedari tadi memperhatikan tingkah Axel. Devan tersenyum.


"Haruskah kita memberikan Axel adik perempuan?" bisik Devan.