
Aku sudah selesai makan lalu mengelap mulutku dengan tisu.
"Mau bicara apa?" tanyaku. Noval baru saja akan menyuapkan bakso terakhirnya.
"Nanti lah! Nunggu abis ini dulu, oke?!" ucapnya lalu makan dengan pelan.
Ishhh ini laki makan kok lelet banget sih?! Perlu gue bantu gitu makan pake sekop biar cepet selesai?
"Cepetan deh!" aku sudah mulai kesal dan melipat kedua tanganku di depan dada. Noval masih makan dengan perlahan.
"Elo gak mau ngomong gue balik nih!" kesabaranku sudah mulai habis!
"Iya bentar Anye sayang! Babang Oval abisin ini dulu napa sih? Entar kalau babang keselek neng Anye mau tanggung jawab?" ucap Noval dengan mulut penuh hingga kedua pipinya mengembung.
"Ih telen dulu deh kalau makan! Gak sopan banget bicara sambil makan!" Noval mengunyah dengan cepat kemudian menelannya dengan susah payah, lalu menggapai es jeruk dan minum dengan rakus. Dia mengelus lehernya, raut wajahnya terlihat kesakitan.
"Udah habis kan? Cepet ngomong apa?" bentakku!
"Bentar dong Nye, masih sakit nih!"
Ni cowok banyak alesan banget sih!!
Srakk.
Aku berdiri, membuat kursiku terdorong ke belakang. Noval menatapku bingung.
"Gue pulang! Elo lama mau ngomongnya juga. Makasih baksonya!" ucapku lalu pergi dengan kesal.
"Eh, Anye tunggu!" Suara Noval terdengar berlari di belakang, lalu menyusul juga suara seseorang yang memanggil Noval soal uang kembalian.
"Eh Nye, tunggu dong!" Noval mencekal lenganku.
"Sorry, kamu gak bisa banget deh di ajak jalan!" protes Noval.
"Udah sore! Waktunya pulang! Lagian elo lama cuma mau ngomong aja!" ketusku.
"Ke taman yuk, gak enak ngobrol disini, banyak yang lihat." Noval mengedarkan pandangan ke sekeliling. Benar! Banyak yang melihat kami!
"Oke, tapi jangan yang jauh, deket sini aja!" tukasku.
"Oke!"
Kami sampai di taman, tidak jauh dari warung bakso tadi. Beberapa orang duduk di bangku taman beberapa berpasangan, dan berkelompok, tapi ada juga yang sendiri.
"Cepetan mau ngomong apa?" Kami duduk di salah satu bangku kosong.
"Cuma mau bilang gue galak aja elo ngajakin gue muter-muter?!"
"Eh enggak!" Noval menggerakkan tangannya di depan tubuhnya.
"Gue cuma mau tanya, emm... kamu... Kenapa sih jutek banget sama aku?"
"Kamu tahu kan selama ini aku suka sama kamu. Tapi kamu gak pernah bales perasaan aku!"
Noval terdiam, tangannya saling meremas di atas lututnya. Ya ampun apa dia gugup? Lucu!
"Denger ya Val. Aku gak bisa bales perasaan kamu karena memang aku gak punya rasa! Jadi please dan gue minta maaf banget. Kita temenan aja ya!" ucap ku lembut. Bahu Noval meluruh ke bawah, wajahnya tersirat kekecewaan.
"Gak pa-pa kamu gak suka sama aku, nanti lama-lama aku yakin kamu juga bakalan suka. Pepatah bilang rasa suka muncul karena terbiasa kan?" Noval masih berharap. Aku hanya menggelengkan kepala.
"Aku udah coba, dari dulu, tapi gak bisa! Sorry." ucapku lalu berdiri. Wajah Noval berubah sendu.
"Eh Anye! Aku antar." ucap Noval menahan laju kakiku.
"Oke!" ucapku.
Kami kembali berkendara. Tiga puluh menit akhirnya kami sampai, tanpa ada yang berbicara.
Aku turun dari atas motor.
"Besok malem berangkat sama aku ya!" pintanya sebelum aku masuk ke dalam pagar.
"Oke! Tapi kita cuma sebatas teman kan? Gak lebih!" Noval mengangguki ucapanku.
"Oke!" dia tersenyum lalu memakai helmnya dan pergi.
Ya ampun! Heran deh sama lelaki! Gak Devan, Noval, Radit, dan siapalah, aku lupa nama mereka. Padahal aku selalu jutek dan cuek. Tapi kenapa mereka selalu coba deketin aku? Masih banyak cewek manis dan baik di sekolah gitu loh!!
"Anye pulang!" aku masuk ke dalam rumah dan duduk bersandar di sofa, tv aku nyalakan. Aku menekan satu persatu tombol di remot, acara tidak ada yang bagus.
"Anye! Ganti baju dulu!" mama berseru dengan membawa pot bunga berukuran sedang di tangannya.
"Ya ma." ucapku lalu mematikan tv dan bangkit menuju kamarku.
Sambil membuka baju seragam aku menatap hpku. Sudah beberapa hari ini tidak lagi ada pesan atau telfon dari Devan.
Apa yang aku fikirkan? Bukannya itu bagus?!
Aku mengambil handuk lalu menuju kamar mandi. Mandi dengan air hangat membuat tubuh ku rileks!