
"Kau yakin kalau Tiara tak akan seperti itu? bagaimana kalau dia hanya dekat denganmu karena kau anggota Aditama? seperti sebelumnya?" Gio terdiam mendengar hal yang seperti itu. Meski dia yakin Tiara tak akan melihatnya karena siapa dia.
Axel menatap Gio dengan tatapan elangnya. Dia ingin tahu reaksi Gio dengan ucapannya. Tapi sepertinya percuma karena pria itu kini terlihat tanpa ekspresi.
...***...
Tiara menunggu Gio dengan hati yang berdebar. Dia takut jika Axel meminta Gio untuk memecat dirinya karena kelakuan mereka tadi. Bagaimana dengan hutang yang harus dibayarnya? Hutang pembangunan rumah dan juga barang-barang baru yang sudah dia dapatkan dari Gio.
Tiara berjalan bak setrikaan di dalam ruangan. Gadis itu tak mau diam tangannya, saling meremas satu sama lain. Dia juga sampai mengigit bibir bawahnya untuk meredam kecemasan, tapi percuma. Gio belum juga datang untuk menemuinya.
Klek. Pintu terbuka. Akhirnya yang dia tunggu datang juga. Gio dengan muka masamnya masuk ke dalam ruangan. Melihat Tiara yang kini berjalan ke arahnya.
"Pak Gio. Itu... anu... Apa Pak Axel marah?" tanya Tiara. Tiara menunggu jawaban yang akan di berikan Gio.
"Axel tak marah, dia hanya sedang kesal."
"Benar kah? Tapi aku malu karena tadi itu kita... Ini karena kau sih, aku kan sudah bilang kalau kau harus jaga sikap? Kenapa juga kau harus cium aku di kantor. Jadi Pak Axel lihat, kan?" Tiara memukul lengan Gio dengan keras. Kesal.
"Habis aku tak tahan kalau dekat dengamu." Tangan Gio sudah terulur untuk meraih pinggang Tiara tapi Tiara yang tahu dengan pergerakan Gio, dia segera mundur untuk menjauh.
"Jangan coba-coba!" Tiara menujuk tepat ke depan hidung Gio dengan wajah yang di buat marah. Gio tertawa kecil.
"Memangnya kenapa? Bukan iklan kayu putih!" ucap Gio mendekat ke arah Tiara. Ya ampun. Gio si irit bicara bahkan ini bisa melawak!
"Pak serius deh, aku gak bercanda ya!" Tiara kesal menepis tangan Gio yang kembali terulur ke arahnya.
"Aku serius, aku gak pernah bercanda denganmu."
"Lalu tadi itu apa? Iklan segala!"
"Loh memang iya kan, aku gak coba-coba karena aku bukan bayi model iklan kayu putih!"
Innalillahi...
"Sudah lah aku malas debat denganmu. Aku mau ke lantai atas dan meminta maaf pada Pak Axel."
"Untuk apa?"
"Tidak usah, Axel juga sudah tidak apa-apa dia sudah mengerti dengan apa yang terjadi. dia maklum kok!"
"Heh, maklum? Tetap saja aku merasa tak Enak hati, dan juga malu. Kalau bos lain mungkin akan memecatku saat tahu melakukan hal yang tidak-tidak di kantor." Eh.. Pak Axel gak akan pecat aku kan?" tanya Tiara.
Gio hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi tanda tak tahu.
"Haisss...kau ini, apa kalian tadi tidak membahas ini? ya sudah aku akan minta maaf pada pak Axel!" Tiara hendak berlalu ,dia mulai melangkahkan kakinya tapi pergerakan nya terhenti karena Gio menghalangi.
"Jangan ganggu Axel, di sedang sibuk sekarang. Tak ingin di ganggu."
"Tapi aku harus meminta maaf sama dia. aku tak enak hati."
Gio meraih tangan Tiara dan mengecupya dengan lembut.
"Percaya sama aku. Axel sudah tidak apa-apa, dia sedang sibuk sekarang dan tak bisa di ganggu. Kau lanjut kerja saja lah, jangan khawatirkan yang tadi. Aku juga yang salah karena memaksa mu." Ucap Gio. Tiara terdiam dia sungguh ingin minta maaf pada bos besar.
"Perlu aku antar ke meja mu?" tanya Gio dengan alis bergerak naik turun, dia juga bersiap dengan kedua tangannya, tubuhnya sedikit dia bungkukkan. Tiara mendorong bahu Gio.
"Aku bisa jalan sendiri, tak perlu menggendong ku seperti itu. Simpan semua hal yang manis itu untuk nanti!" Tiara berjalan meninggalkan Gio. Bibirnya mengulas senyum, wajahnya sudah terasa panas sekarang. Pria itu benar-benar sudah membuatnya merasa aneh, kesal tapi juga bahagia, marah tapi juga rindu, dan juga sebaliknya.Gila. Gila. Gila!!!!
Ahhh.... dadaku.... mau meledak!
Tiara duduk di kursinya, segera dia menyalakan kembali komputer di depannya.
...***...
Axel menatap hpnya yang mati. Menunggu seseorang mengirimkan pesan atau bahkan memanggilnya via telpon atau lebih baik lagi panggilan video. tapi sudah hampir satu jam dirinya menatap hp itu tak juga menyala.
Menghela nafasnya dengan berat, Axel menyandarkan dirinya di sandaran kursi. Tak menyangka jika pernikahan ini ternyata tak seperti yang dia bayangkan sebelumnya.
"Oke ini hanya sementara. Bukan ingin Renata jika seperti ini. Aku tak boleh marah, aku tak boleh kesal." Axel mencoba menyadarkan diinya. mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri. Tak perlu terburu-buru, waktu masih sangat panjang.
Untuk menghalau pemikiran yang negatif yang ada dalam dirnya Axel lebih baik fokus degan pekerjaannya. Lebih baik mengurus pekerjaan sebelum dirinya pergi untuk bulan madu dengan Renata.