DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 144



Acara makan siang bersama. Aku melirik Devan dan Daniel bergantian. Mereka seperti punya duplikat dalam versinya masing-masing. Mungkin saat Devan kecil dia seperti Daniel, dan mungkin juga saat Daniel dewasa akan terlihat seperti Devan nantinya.


Suasana meja makan terasa aneh sekarang. Tidak ada larangan untuk berbicara saat makan, tapi hari ini terasa sunyi senyap. Sangat canggung!


Devan mencuri pandang, menatap putranya. Di bibirnya tersungging senyuman penuh kebahagiaan. Sedangkan Daniel bersikap tak acuh, sama sekali tidak berminat untuk melihat ayahnya. Dia sangat keras kepala meski aku sudah jelaskan siapa Devan padanya. Samuel hanya fokus terhadap makanannya, sedangkan ayah menatap Daniel dan Devan bergantian.


Makan siang yang canggung ini selesai. Ayah kembali ke kamar untuk beristirahat sedangkan Daniel ditemani Samuel akan pergi ke tempat latihan.


"Sam, biar kami yang akan antar Daniel!" mengajukan diri sendiri. Daniel yang sedari tadi berpegangan pada Samuel menarik pamannya itu untuk pergi.


"Aku mau pergi dengan uncle! Jangan ganggu aku!" ucap Daniel seraya pergi dan terus menjauh.


"Daniel, biar mama yang..."


"Sudahlah, sayang. Biarkan saja kalau Daniel ingin dengan Samuel." Devan menghentikan teriakanku pada Daniel yang terus saja melangkah menjauhi kami.


"Tapi Dev..."


"Sudah. Aku mengerti kalau Daniel belum bisa terima aku!" potongnya lagi.


Aku dan Devan menghela nafas lelah dan berat. Anak itu, tidak bisakah sedikit saja dia memperlihatkan ekspresi senangnya atas kehadiran Devan? Minimal dia tidak bersikap dingin seperti itu pada papanya.


"Aku tidak apa-apa." ucap Devan, dia mengelus jari-jari tanganku.


"Daniel butuh waktu untuk bisa menerima aku yang pernah membuat kalian pergi!" Devan pasrah dengan perlakuan Daniel. Aku mengangguk. Memaksakan kehendak memang tidak akan baik, malah justru akan membuat Daniel semakin tidak suka dengan Devan!


"Iya. Kita kembali ke kamar saja. Kamu belum istirahat semenjak turun dari pesawat!" ucapku akhirnya. Kami pergi ke lantai atas untuk beristirahat.


Kami merebahkan diri bersama di atas kasur. Aku berbaring dengan kepalaku yang bersandar di lengannya.


"Dev, maaf kalau semua tidak sesuai dengan ekspektasi sebelumnya." ucapku.


"Tidak apa-apa." Devan mengelus lenganku. "Aku pantas dapatkan semua ini karena aku sangat berdosa sama kamu dan juga Daniel. Dan juga aku sudah mengecewakan ayah dan semua tang sayang sama kamu!" lirihnya.


"Kamu tetap mau berjuang kan demi kita?" tanyaku takut menatap Devan.


"Tentu saja. Aku akan berjuang untuk membahagiakan kamu. Tapi aku sekarang hanyalah ibarat remahan roti di atas piring!" ucapnya sendu.


"Dan aku sisa saos yang ada untuk menemani kamu!" ucapku. Devan balas menatapku, terlihat matanya berkaca-kaca.


"Trimakasih, kamu sudah mau menerima aku yang tidak berarti ini!"


"Ssttt..." ku tutup bibirnya dengan jari telunjuk ku. "Aku lebih suka dengan pria yang melakukan hal nyata daripada cuma bicara. Jadi harus semangat, jangan kecewakan aku!" ucapku. Devan mengangguk dan tersenyum. Mencium keningku lama. Kami melanjutkan waktu kami untuk tidur. Hanya tidur! Kami terlalu lelah setelah melakukan perjalanan jauh.


"Daniel, malam ini mama dan papa temani kamu tidur ya?" Daniel mengangkat pandangannya menatapku dengan tatapan dingin.


"Tidak perlu! Aku sudah besar. Bisa tidur sendiri!" tolaknya.


"Tapi mama kangen ingin tidur sama kamu, dan papa juga. Oke?" tidak mau menyerah.


"Aku bilang tidak perlu. Ada Cleo yang menemaniku tidur!" Ucapnya lagi. Cleo adalah anak Xander yang lahir tahun lalu.


Daniel menyimpan sendok dan garpunya, dia turun dari kursi. Makanannya masih sisa setengah.


"Aku sudah selesai makan, kakek!" ucap Daniel. "Mama, Uncle , aku permisi dulu!" Daniel melangkah meninggalkan meja makan, tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku dan Devan menatap punggung Daniel yang perlahan menjauh. Anak itu... dia baru berumur enam tahun, dan sudah punya sikap seperti ini, dia tidak menganggap keberadaan Devan! Apa mungkin karena pengaruh dan ajaran luar negeri?


Umm maksudku, kalau di negeri asalku bahkan anak sebesar Daniel masih ingin tidur dengan orangtuanya. Aku ingin Daniel seperti itu! Setidaknya walaupun tidak sering, tapi beberapa kali dalam seminggu juga boleh!


"Aku akan susul Daniel!" pamitku pada yang lain. Devan menahan tanganku, sepertinya mengerti dengan apa yang akan aku bicarakan dengan Daniel. Devan berbisik lirih 'Jangan!', dia bilang. Dan aku balas dengan senyuman.


Pergi ke kamar Daniel yang tak jauh dari kamarku. Ku ketuk pintunya perlahan. Daniel tidak suka jika ada orang yang sembarangan masuk ke dalam kamarnya.


"Niel!" panggilku. Daniel sedang tengkurap di atas ranjang.


"Are you oke?" tanyaku seraya mendekat ke arah nya dan duduk di samping Daniel.


"Hem!" jawabnya. Ckckck. Benar-benar mirip ayahnya!


Ku usap rambutnya yang lembut dan mencium kepalanya dengan penuh sayang.


"Niel. Mama sangat berharap kamu tidak bersikap dingin terhadap papa kamu!" ucapku pelan. Takut sebenarnya kalau Daniel tidak mau menerima Devan.


"Sikapku biasa saja!" ucap Daniel cuek. Aku menghela nafas berat. Aku seorang ibu muda yang tidak punya banyak pengalaman mengurusi anak kecil. Salahku, dulu aku menyerahkan urusan Daniel pada seorang Nanny dan aku sibuk ikut serta dengan urusan perusahaan untuk mengalihkan perhatianku dari Devan. Dan Daniel juga lebih dekat dengan Samuel, mungkin karsna mereka sesama laki-laki!


"Niel, papa kamu sudah sangat menyesal. Dia ingin kita kembali ikut pulang bersama dia. Kamu mau, kan?" tanyaku hati-hati. Daniel terdiam dia memainkan jari-jari tangannya.


"Mama saja yang ikut dengan dia. Aku mau disini bersama kakek!" ucap Daniel lalu menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


"Niel..."


Daniel berbalik. "Aku mengantuk ma, selamat malam!" ucapnya lalu menarik selimutnya hingga sebatas leher.


"Selamat malam!" ucapku lalu mengecup kepala Daniel dengan penuh sayang.


Bujukan di malam pertama, gagal. Oke masih ada malam-malam lainnya menanti! Mungkin Daniel masih belum bisa menerima kehadiran Devan. Aku tidak pernah tahu apa yang ada dalam fikirannya tentang ayahnya. Dalamnya lautan bisa di selami, tapi dalamnya hati dan fikiran manusia, tidak ada yang bisa tahu!