DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 74



Axel segera naik ke lantai atas. Dia menuju ruang lukisnya yang kini berubah fungsi menjadi ruang penyimpanan barang-barang untuk bayinya.


Lukisan-lukisan entah berada di mana. Mungkin saja mereka ada di gudang. Hanya Tertinggal satu lukisan yaitu lukisan Renata kecil dengan menggunakan kalung giok miliknya yang kini terpanjang di dinding sana.


Axel menatap ke seluruh ruangan. Dia tersenyum kepada beberapa barang yang sudah ia beli.


'Masih belum penuh.' gumam nya.


Dia lantas menelepon seseorang.


Xl mulai memindahkan barang-barang tersebut ke tengah ruangan sambil menunggu orang yang ditelepon datang.


...*...


Gio sedang bekerja di kantornya. Pekerjaannya sangat menumpuk sedari kemarin. Apalagi hari ini Axel meninggalkan kantor di siang hari untuk mengantarkan Renata mengecek kehamilannya.


Gio menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Matanya lelah. Semalam dia tidur lewat dari tengah malam. Sebenarnya pekerjaan sudah selesai dari jam sepuluh malam, tapi ada sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya.


Tiara.


Entah kenapa bayangan Tiara selalu hadir di pelupuk matanya. Keterlaluan. Padahal dia tidak pernah seperti ini lagi semenjak kekasihnya meninggalkannya dulu.


“Pak, kenapa?” tanya Tiara. Gio membuka matanya, menatap Tiara kini berdiri di depannya.


“Apa bapak sakit?” tanya Tiara seraya menyerahkan pekerjaan nya yang sudah selesai.


“Tidak, saya tidak apa-apa. Hanya sedikit kurang istirahat.” ucap Gio.


“Kalau begitu Bapak istirahat saja di dalam kamar. Biar saya selesaikan ini semua.” Tiara berujar.


Tapi tidak mungkin dia membiarkan Tiara bekerja sendiri sedangkan dia enak enak kan istirahat.


“Tidak apa-apa. Tolong buatkan saya teh hangat beri sedikit madu.” pinta Gio. Tiara mengangguk. Dia lantas berjalan ke arah dispenser air dan segera membuat teh yang diminta Gio.


Tiara melirik kearah pria itu yang kini sedang memeriksa pekerjaannya. Sesekali Gio mengurut pangkal hidungnya. Terlihat sekali wajah lelahnya


'kasihan sekali pria itu.' batin tiara.


Dia selesai membuat teh hangat untuk Gio, dan segera membawanya ke meja kerja.


“Ini Pak.”


“Terima kasih.”


“Apa nanti malam kita lembur lagi?” tanya Tiara.


“Memangnya kenapa? Segitu maunya lembur denganku?” Gio menyunggingkan senyumannya.


Tiara mendelik kesal. Bukan itu yang dia maksud. Beberapa malam bekerja lembur membuat tubuhnya sakit.


“Enak saja. Kalau bisa aku ingin pulang cepat. Aku capek lembur terus!” ucap Tiara dengan nada kesal.


Ibu selalu menunggu kepulangan nya meskipun dia sering pulang di jam sepuluh malam.


Gio tersenyum melihat Tiara yang cemberut. Sepertinya saudari pagi dia baru melihat wajah ini. Aneh. Dia malah terhibur dengan wajah cemberut Tiara. Lucu sekali.


“Apa kamu betah bekerja di sini?” tanya Gio.


' Aslinya tidak betah, bos aku tukang perintah. Arogan. Menyebalkan. Egois. Dan keterlaluan.' ingin sekali Tiara mengucapkan hal itu. Tapi urung ia lakukan. Dia masih butuh banyak uang untuk merenovasi rumahnya.


Hah... Bersabarlah hanya 2 tahun. Batin Tiara.


“Kenapa kamu diam? Tidak betah?”


“Betah kok pa. Betah sekali!” Tiara berusaha tersenyum dengan lebar, namun Gio tahu kalau senyuman itu terpaksa.


“Siapa yang tidak akan betah bekerja di perusahaan ini. Perusahaan yang mewah. Royal kepada karyawan. Dan terutama gajinya besar.” tutur Tiara.


Gio hanya menatap tiara sekilas, kalau kalimat terakhir itu memang benar. Tapi kalimat yang pertama itu dia sangat tahu tiara terpaksa melakukannya. Dua miliar. Darimana gadis itu akan punya uang sebanyak itu jika dia ingin mengundurkan diri dari sini.


Dia tersenyum tipis. Dia tidak habis pikir. Bagaimana bisa dirinya mengubah isi kontrak itu. Dua tahun. Lucu. Bukan lucu pada tiara, tapi pada dirinya sendiri. Tidak menyangka dengan apa yang dia lakukan. Aneh!


“Ini. Kerjakan ini dalam satu jam. Lalu berikan hasilnya padaku.” Gio menyerahkan pekerjaan lain kepada Tiada. Tiara menyambutnya, tangan mereka tidak sengaja bersentuhan membuat Gio terasa aneh. Dia menjadi canggung dengan Tiara. Sedangkan tiara bersikap biasa saja, dia tidak tahu kalau bosnya sedang grogi.


“Oke” jawab Tiara santai. Dia lalu kembali ke tempat kerjanya.


Dengan ujung matanya Gio memperhatikan Tiara. Dia gadis biasa, tidak cantik, tidak seksi, tapi kenapa matanya lancang ingin terus menatap dia.


Suara dering telepon menarik Gio dari Tiara. Gio menatap layar hp-nya. Axel.


' Tumben, ada apa dia menelpon?' batin Gio.


Gio menggeser icon berwarna hijau. Lalu menempelkan nya di telinga.


“Hmm...” seperti biasa. Jawaban datar.


“What?!” Gio mengusap wajahnya.


' Dia gila. Hal seperti ini saja harus aku yang melakukannya! Apa dia tidak tahu kalau aku sibuk?' batin bio kesal. Axel keterlaluan. Padahal di rumah banyak orang untuk hanya dia suruh beli cat tembok. Kenapa harus dirinya?


Tiara menatap Gio setelah mendengar suara keras pria itu. Bingung.


' Apa yang terjadi?' terus menatap Gio tapi pria itu masih setia dengan teleponnya. Wajahnya berubah terlihat kesal.


“iya aku akan pergi sekarang juga!” ucap Gio akhirnya


Dia menutup teleponnya, dia lantas berdiri dan mengambil jas lalu memakainya.


“Aku akan keluar. Kalau sudah waktunya pulang saja. Malam ini tidak usah lembur.” ucap Gio setelah melihat jam yang melingkar di tangannya. Jam pulang kerja tinggal dua jam lagi.


Tiara tersenyum senang dengan lebarnya.


“Baik, Pak!” serunya bak anak tk. Gio menggelengkan kepalanya melihat tingkah asistennya ini. Tapi dia juga tersenyum sangat tipis sekali hingga Tiara tidak bisa melihatnya.


“Memangnya Bapak tidak akan kembali lagi ke kantor?” tanya Tiara.


Gio hanya mengangkat kedua bahunya lalu berjalan meninggalkan Tiara.


Tiara kesal. “memanWgnya dia tidak bisa gitu dia menjawab? Kenapa harus mengangkat bahu?!” gumam nya pelan sambil mempraktekkan apa yang Gio tadi lakukan. Dia sudah mulai terbiasa dengan kelakuan bosnya ini. Seandainya bukan dengan boss dia pasti sudah berani menegurnya.


...*...


Hampir setengah jam seseorang datang dengan muka kesal nya. Dia menentang dua ember cat di tangannya.


Anye dan Renata yang sedang duduk di ruang tamu menatap kedatangan Gio heran.


“Gio. Apa yang kamu bawa?” Anye bertanya. Gio mengangkat kedua cat di tangannya hingga sebatas dada. Tak biasanya anak itu pulang sebelum waktunya.


“Untuk apa?” tanya Anye.


“Si Manja yang meminta dibawakan ini!” tutur Gio. Dia lantas melangkahkan kakinya ke tangga. Anye dan Renata saling berpandangan. Keduanya memiliki pemikiran yang sama.


“Sepertinya Mama tahu yang akan dilakukan anak itu.” ucap mama.


“Aku bingung bagaimana harus memberitahu Axel, Axel terlalu berlebihan.” tutur Renata.


“Sudah biarkan saja jangan larang apa yang dia mau, selama dia tidak melakukan hal-hal aneh aneh.” ucap Anye .


“aku lihat Axel dulu ke atas ya mas.” ucap Renata. Takut jika dia membuat Gio kerepotan.


"Oke, Mama akan ambil buah di dapur. Jangan lama-lama di atas. Kamu harus istirahat.” Renata mengangguk.


Renata menyusul Axel ke lantai atas, dia ingin melihat apa saja yang para pria itu lakukan.


“Hei. Aku ini sedang sibuk di kantor. Apa tidak bisa menyuruh seseorang untuk melakukan hal ini?” Gio kesal.


“Kau kan tahu aku tidak suka menyuruh orang lain. Kau kan akan menjadi paman sebentar lagi, jadi berikanlah waktu sedikit untuk memperhatikan calon keponakan mu.” Axel tersenyum menyeringai saat melihat Gio semakin kesal wajahnya.


“Tidak suka menyuruh orang tapi suka menyuruhku.” Gio kesal tapi tetap juga melakukan apa yang Axel minta. Entah kenapa pria ini selalu saja merepotkan nya, dan entah kenapa dia selalu menurut kepada ya.


Renata masuk ke dalam ruangan dan mendekat ke arah Axel.


Kedua pria itu sudah melepaskan jas mereka dan menggulung lengan kemejanya hingga sebatas sikut. Mereka sedang memoles dinding dengan cat warna biru langit. Axel memoles cat dengan senyum penuh di wajahnya, sedangkan Gio sebaliknya. Cemberut!


Ah, dasar Axel Tukang Perintah. Dan entah kenapa Gio menurut saja. Renata terkadang bingung, pria ini apa tidak bisa menolak!