
Ayah sudah pulang, aku berada di ruang kerjanya. Berbeda dengan ruangan kemarin, itu perpustakaan. Ada yang ingin aku tanyakan, banyak sekali. Dan aku menuntut sebuah cerita. Detail!
Maafkan aku para readers, aku penasaran dengan cerita hidupku, kenapa sampai ayah tidak membawaku dulu padahal sudah jelas dia tahu keberadaanku.
Kami duduk di sofa. Di atas meja ada teh, camilan juga.
"Aku menunggu cerita ayah!" tidak mau berbasa basi. Jika aku penasaran aku tak akan bisa tidur!
"Kamu itu..." Ayah mengacak rambutku gemas. "...persis seperti ibumu!"
"Benarkah?" Ayah mengangguk.
"Meskipun ayah tidak lama mengenal ibumu, tapi bisa di pastikan kamu itu mirip sekali sifatnya dengan ibumu." aku tersenyum bahagia. Mendekat pada ayah dan bergelayut manja di lengannya. Aaahhh aku ingin menjadi anak manja sekarang!! Hatiku bersorak.
"Jadi ayah cerita atau tidak?" tanya ayah menggoda ku.
"Semua. Ceritakan semua dari awal sampai ayah tega ninggalin aku lagi?" aku merengut manja.
"Baiklah! Dengarkan baik-baik. Ayah tidak mau mengulang cerita!" ucap ayah.
"Ok!" aku berseru.
"Dari mana awalnya?" eh ayah malah tanya balik.
"Hmmm... ceritakan soal pertama kali ayah bertemu dengan ibu!" pasti seru!
"Itu akan sangat panjang, sayang!" apa ayh keberatan?
"Aaahh tidak mau! Ceritakan!" ya ampun, benar-benar aku bisa jadi anak manja di depan ayah!
"Sebentar. Minum dulu!" ayah mengambil tehnya dan menyesapnya, terlihat nikmat. Aku juga sama mengambil minumanku. Benar-benar enak!
"Ayah dan ibu pertama kalinya bertemu di Semarang. Ayah punya sebuah perusahaan, jika di lihat termasuk lumayan lah. Tidak besar dan juga tidak kecil. Waktu itu ayah sebagai wakil CEO, istilah kerennya!" ayah melirikku dengan menggerakkan kedua alisnya ke atas dan ke bawah dengan cepat. Aku tertawa, ayahku bisa terlihat lucu juga!
"Lanjutkan!"
"Singkatnya, ayah jatuh hati pada ibumu. Dia karyawan biasa. Tapi saat ayah mendekatinya ibumu selalu menolak, kamu tahu ibumu adalah wanita pertama yang menolak ayah!" kisah cintanya seperti di novel!
"Alasannya, status kami berbeda. Yura di besarkan di panti asuhan sejak kecil. Dia merasa kecil, merasa tidak pantas dengan ayah. Tapi ayah terus meyakinkan dia, ayah ingat apa yang ibumu bilang. 'Maaf kalau aku tidak punya cinta untuk kamu. Di dalam sini masih ada nama orang lain!' menunjuk pada dadanya sendiri. Ayah tidak peduli, biar saja kalau orang lain bilang ayah terobsesi dengan ibumu, memang benar itu kenyataannya!" ayah tertawa kecil.
"Ayah bilang, ayah rela menunggu hingga cinta itu datang untuk ayah. Yura menginginkan sebuah keluarga, dia berkali-kali minta maaf jika mungkin kebersamaan kami bisa di bilang hanya pelariannya saja. Ayah tidak peduli! Kami menikah meski dari keluarga ayah tidak ada yang setuju. Mereka hanya diam saat ayah bilang akan meninggalkan mereka dan tidak mau mengurus perusahaan. Ayah anak tunggal, tidak ada lagi pewaris lain yang bisa meneruskan perusahaan."
"Kehidupan rumah tangga kami cukup bahagia. Meskipun belum ada nama ayah dalam hati ibumu, tapi Yura menjalankan peran sebagai istri dengan sangat baik. Seluruh kewajibannya dia lakukan termasuk hubungan di atas ranjang." Ayah yang cerita terlihat biasa saja, kenapa aku yang mendengar menjadi malu sendiri?
"Hampir dua tahun menikah akhirnya Yura hamil. Ayah sangat senang. Apalagi saat Yura bilang dia sudah berusaha keras mencintai ayah, dan saat kehadiran kamu di rahimnya, Yura bilang ayah satu-satunya yang akan menjadi penghuni hatinya. Itu berarti Yura sudah mulai jatuh cinta pada ayah meskipun masih sedikit. Ayah sungguh bahagia. Kami menjadi keluarga yang sangat bahagia saat itu. Hingga kamu lahir. Ayah sangat senang dengan kehadiran kamu, nak!" ucap ayah mengambil tanganku lalu mengecupnya beberapa kali. Ku lihat mata ayah berair.
"Pada saat itu ayah harus pergi ke luar pulau, untuk urusan pekerjaan. Ayah naik pesawat. Entah ada apa ayah tidak tahu. Yang ayah ingat pesawat itu menukik tajam, semua orang panik termasuk ayah. Ayah baru saja mendapatkan kebahagiaan, ayah hanya bisa berdoa supaya kami selamat. Dan... pesawat...pesawat itu..." ayah terdiam, suaranya tercekat di dalam tenggorokan.
"Pesawat jatuh di atas lautan. Entah lautan mana. Setelah itu ayah tidak ingat. Bahkan ayah melupakan semuanya! Melupakan kamu dan ibumu! Maafkan ayah nak. Maaf!" Ayah memelukku erat, menciumi puncak kepalaku. Aku melabuhkan kepalaku di dada ayah, hangat. Perasaa tidak ingin berpisah lagi dari ayah.
"Apa yang terjadi ayah?" lirihku. Aku masih penasaran. Ayah menghela nafas, terdengar berat.
"Kepala ayah terbentur. Ayah lupa segalanya. Tidak ada identitas. Tidak ingat apapun. Yang ayah tahu ayah terbangun di sebuah rumah sakit. Ayah di tolong oleh sepasang suami istri. Suaminya orang Prancis, dan istrinya orang yang sama dengan asal kita. Mereka merawat ayah hingga ayah sehat." Tapi kenapa ayah tidak kembali pada keluarganya?
"Mungkin terdengar egois. Mereka membawa ayah kesini. Karena rasa sayang ibu angkat yang besar, dia ingin merawat ayah. Beliau tidak punya anak. Jadi saat itu mengaku kalau ayah adalah anak mereka. Ayah tidak di kembalikan pada keluarga. Ayah hanya percaya saja, karena memang ayah tidak ingat apapun."
"Ayah di ajarkan memegang perusahaan disini. Status ayah juga di sembunyikan dari masyarakat, karena ibu angkat bilang bisa bahaya kalau ada orang lain tahu ayah adalah putranya. Bisnis ayah angkat sangat besar, bisa saja musuh menyerang kapanpun. Ayah juga percaya saja. Ayah di buatkan identitas palsu, entah bagaimana mereka mendapatkan itu!"
"Satu persatu ingatan ayah pulih. Itu sudah empat tahun sejak kecelakaan. Ayah ingat semuanya. Termasuk Yura dan kamu! Ayah tentu marah karena merasa di bohongi! Ayah pulang dengan keadaan marah. Tidak ingin kembali lagi. Tapi saat ayah sampai disana. Yura tidak ada, dan kamu juga." ayah kembali menghela nafas, dia mengusap pipiku. Wajahnya terlihat sedih.
"Mereka bilang semenjak ayah pergi waktu itu. Yura melarikan diri membawa kamu, dia sudah janjian dengan pria lain yang di cintainya. Mungkin saja itu pria yang dulu. Ayah tentu marah! Dan ayah hanya percaya saja, mengingat begitu sulitnya Yura bisa mencintai ayah. Dia lebih banyak mencintai pria lain daripada ayah. Sungguh waktu itu ayah tidak tahu kebenarannya!"
"Hingga suatu hari, ayah mendapat laporan dari seorang asisten, kalau ternyata Yura kabur karena tertekan, dan terus di salahkan. Di sebut wanita pembawa sial, karena kehadirannya membuat ayah celaka. Ayah sungguh tidak tahu kalau Yura selama ini mendapatkan tekanan dan siksaan dari mereka. Ayah sungguh buta, nak. Ayah kurang memperhatikan keadaan ibumu!" Ayah menangis. Kali ini aku biarkan ayah menangis untuk beberapa saat. Aku hanya bisa mengelus lengan ayah, mencoba menenangkan.
"Ayah mencari ibumu, dengan bantuan dari ibu angkat. Dan setelah beberapa saat di telusuri, Yura sudah tiada! Meninggal karena tertabrak. Dan...dan... pelaku tabrak lari itu adalah suruhan ibuku! Ibuku sendiri!" Kali ini ayah menangis dengan memukuli dadanya sendiri. Jangankan ayah, akupun yang mendengarnya merasa sesak!
"Lalu kenapa ayah tidak bawa aku, pasti ayah tahu dimana aku saat itu kan?" tanyaku. Ayah mengangguk membenarkan.
"Maaf. Ayah pergi dari keluarga ayah, karena permintaan dari ibu angkat. Perusahaannya sedang dalam masalah serius, seseorang menargetkan salah satu dari kami. Ayah tidak bisa tinggal diam."
"Perusahaan di Semarang, ayah tidak peduli lagi. Ayah merasa marah saat itu. Ingin membawa kamu pergi, tapi ibu angkat melarang. Justru dengan membawa kamu, mereka akan dengan mudah menemukan titik lemah kami, bisa saja mengancam dan membahayakan nyawa kami termasuk kamu."
"Maka dengan berat hati ayah kembali kesini, beberapa orang di tunjuk oleh ibu angkat untuk menjaga kamu dari belakang. Kamu tahu kan pak Didi? Dia salah satunya. Dan ada beberapa orang lagi, sebagai satpam di komplek perumahan kamu. Dia menjaga rumah kamu." Jujur aku terkejut, siapa lagi?
"Siapa ayah?" tanyaku penasaran. Aku pasti tahu jika mendengar nama atau melihat dia!
"Satpam itu masih berada disana untuk menjaga keluarga Gunawan. Ayah masih takut keluarga itu terkena masalah."
"Ayah kenal dengan papa?" tanyaku. Ayah menggelengkan kepala.
"Tidak. Tapi ayah tahu semua tentang mereka. Ayah sangat berterima kasih karena mereka sudah menjaga dan membesarkan kamu. Ayah membantu usaha mereka sedikit lebih maju dari saat itu! Walaupun mereka keterlaluan beberapa bulan lalu, tapi ayah tidak akan mencabut semua yang mereka punya. Biar ayah serahkan saja sama kamu, jika kamu ingin ayah membalikkan perusahaan mereka saat ini juga, ayah bisa dengan mudah menyuruh seseorang untuk melakukannya!" aku tersentak kaget.
"Jadi selama ini usaha papa Yudhistira maju karena bantuan ayah?"
Ayah mengangguk. "Ayah hanya menyuruh anak buah yang mengurusi perusahaan di sana untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan milik Gunawan."
Lagi aku terkejut. Ayahku sekaya apa punya perusahaan dimana-mana?
Ayah menatapku bingung, lalu tertawa terkekeh. "Kenapa kamu?" ayah mengusap wajahku. Aku pasti terlihat seperti orang bodoh, barusan.
"Ayah hebat! Ayah punya banyak perusahaan!" Ayah tertawa.
"Ini hanya titipan, ayah hanya ikut menjaganya, yang sebenarnya punya semua ini adalah orangtua angkat ayah. Tanpa mereka ayah tidak akan menikmati fasilitas ini!" Kami terdiam.
Ayah tertawa lagi. "Tidak, ayah bahagia disini! Mereka jelas sayang pada ayah. Justru orangtua ayah sendiri yang memperlakukan ayah seperti budak. Mereka tidak sehebat orang tua angkat, tapi lagak mereka seperti penguasa! Terlalu serakah! Bahkan saat tahu kehidupan ayah yang lebih baik, mereka sering meminta bantuan dana untuk perusahaan. Berkali-kali. Dan mereka tidak bisa menjaganya dengan baik. Dan akhirnya ayah yang memutuskan hubungan dengan mereka. Ayah jahat bukan?" tanya ayah padaku.
Aku bingung. Mana bisa aku menjawab. Tentu salah jika memutuskan hubungan antar keluarga, tapi jika keadaannya seperti itu, siapa yang harus di salahkan? Siapa yang di sebut jahat?
"Lalu kenapa ayah tidak bawa aku kesini setelah keadaan aman?" tanyaku.
Lagi-lagi ayah menghela nafas berat.
"Semakin tinggi pohon, semakin besar angin yang menerpa, bukan? Ayahpun sama. Banyak perusahaan yang mencoba menjatuhkan kami. Satu mundur, lima maju. Kira-kira begitulah waktu itu. Semenjak itu ayah hanya bisa kirimkan orang untuk pantau kamu. Sesekali ayah pulang untuk lihat kamu secara langsung dari kejauhan."
"Sampai saat itu kamu di rampok, kenapa kamu tidak lari, hem?" tanya ayah.
Ya pertama kalinya aku dan ayah bertemu adalah saat aku kelas lima SD kalau tidak salah. Aku dan seorang temanku, di ikuti oleh satu pria saat kami berjalan di gang yang sepi dia ingin merebut barang yang kami punya, hp, uang, termasuk kalung yang temanku pakai. Dia mengancam kami dengan pisau karena aku menolak untuk menyerahkan yang dia minta. Aku sungguh tidak menyangka kalau dia bawa pisau kecil dari saku celananya. Tidak ada orang lain yang lewat sana, dan dia berani metampok kami pada siang hari saat kami pulang sekolah.
Saat itulah ayah datang sebagai pahlawan, membantu kami mengalahkan pria itu. Dia berhasil ayah lumpuhkan, dan pergi kocar-kacir dengan beberapa lebam di wajahnya. Tapi ayah terkena sabetan pisau di lengannya.
Dan beberapa pertemuan lagi, aku kira itu hanya kebetulan semata.
"Karena aku kira dia tidak membawa pisau." lirihku, aku merasa sedih dan bersalah mengingat masa itu.
"Lain kali jangan bodoh lagi ya, kamu itu perempuan. Ayah akan panggil seseorang buat ajarin kamu berkelahi supaya kamu bisa jaga diri kamu sendiri." Ayah mengusap kepalaku lagi. Aku hanya mengangguk.
"Itu lebih baik daripada di kawal terus!" cicitku, ayah tertawa.
"Lanjut lagi?" tanya ayah.
"Tentu saja! Aku yakin ceritanya pasti masih panjang!" aku sangat antusias ingin mendengarnya! Ayah hanya tersenyum.
"Sebenarnya ayah ingin sekali membawa kamu saat itu, tapi lagi-lagi ayah harus menahan diri. Semua untuk keselamatan kita. Selain ayah dan ibu angkat. Ayah juga tidak mau kamu dalam bahaya, apalagi sempat ada penghianat didalam rumah kami! Mereka mencoba membunuh kami di dalam rumah kami sendiri!" aku mengangguk, meskipun iya ayah jahat karena meninggalkanku lagi, tapi aku fikir itu karena untuk melindungi aku. Toh ayah juga tidak benar-benar meninggalkanku. Membantu papa dengan memajukan perusahaannya. Mengirimkan beberapa orang untuk menjagaku.
"Saat kamu kenal dengan lelaki itu, ayah sebenarnya tidak setuju!" ucap ayah nadanya sedikit kesal.
"Yang mana?" tanyaku bingung. Kenalan lelaki ku cukup banyak, meskipun banyak yang tidak aku respon! Cih, sombong!
"Yang menjadi suami kamu!" Oohh...
"Kenapa ayah tidak suka?" tanyaku menatapnya lekat.
"Dia punya sifat yang buruk dulu. Ayah sudah selidiki."
Ya ampun! Ternyata selain suamiku ayahku cukup protektif juga!
"Apa mungkin di balik putusnya aku dan dia dulu ada campur tangan ayah?" Aku mendelik menatap ayah. Menuduh ayah, bisa jadi kan? Ayah hanya menggaruk belakang kepalanya, sambil tersenyum, raut wajahnya terlihat aneh. Tuh kan, patut di curigai!
"Ayah?!!" aku berseru meminta jawaban ayah.
"Iya. Memang ayah yang membuat Devan pergi keluar negeri. Ayah memerintahkan seseorang untuk menghasut orangtuanya agar anak itu kuliah di luar negeri."
"Jahat!" aku merengut, melipat kedua tanganku di depan dada dan memalingkan wajahku ke arah lain. Tidak tahukah ayah bagaimana perasaanku waktu itu. Aku patah hati!
"Ayah tidak mau calon suami yang biasa saja! Dia cukup manja dan pembangkang saat itu, nakal, keras! Sepatutnya dia di didik dengan baik, dan punya pendidikan yang baik pula! Bagaimana akan menjadi kepala keluarga jika dia manja!" ayah terdengar emosional. Benar juga sih! Dulu Dev tidak suka bekerja, tapi sekarang dia gila kerja hingga tidak punya waktu buat aku dan baby kami. Tapi sifat kerasnya dulu perlahan luluh karena ada aku.
"Maaf, ayah hanya tidak ingin kamu dan cucu-cucu ayah kesusahan kelak!"
"Ayah..." panggilku. Aku ragu sebenernya. Malu juga. "Hmmm...waktu...pesta itu...berarti ayah tahu?" lagi ayah mengangguk. Ooohhh aku malu!!! Malam di saat aku memperkosa Devan!
"Ya ayah tahu semua. Sam agak bodoh waktu itu. Dia lalai karena tidak bisa jaga kamu." ucap ayah.
"Aku yang salah, ayah. Harusnya aku tidak pergi." ucapku.
"Anak ayah sudah dewasa!" Ayah mengacak rambutku lagi. Aku mulai terbiasa. Dulu Edgar, lalu Devan, Samuel sesekali dan sekarang ayah yang mengacak rambutku. Di kira aku kucing apa ya?
"Mengenai pria yang menjebak kamu, ayah sudah bereskan!" lagi aku terkejut!
"Maksud ayah?"
"Suami kamu yang urus anaknya, dan ayah yang urus kedua orangtuanya! Mereka sedang susah payah mengembalikan keadaan mereka ke semula!" Ayah mengambil minumanku dan menyesapnya perlahan dengan santai.
Ya ampun!
"Ayah terlalu berlebihan!" jujur aku merasa bersalah.
"Berlebihan bagaimana?" tanya ayah lalu menyimpan cangkir tehnya ke atas meja.
"Dia mungkin jahat awalnya. Tapi kalau bukan karena dia juga, Anye mungkin tidak akan menikah dengan Devan!" tuturku.
"Dan berakhir dengan kabur?" tanya ayah, pertanyaan ayah sungguh menusuk hatiku. Aku menunduk. Apalagi yang harus aku katakan? Ayah terdengar kecewa.
"Apa yang mau kamu lakukan? Kamu mau membalas Mauren?Membalikan perusahaan dia sekarang juga?!" tanya ayah.
"Ayah punya koneksi ke sana, ayah juga punya beberapa puluh persen saham disana. Dan ayah bisa membuat beberapa pemilik saham lainnya menarik sahamnya dari perusahaan itu! Itu juga kalau kamu mau lihat reaksi dari orang yang sudah buat kamu sedih!"
"Atau... kita akan datang dengan cara yang elegan? Menunjukkan diri kita seperti ini?"
"Maksud ayah?"
"Ayah hanya ingin tahu reaksi Mauren dan keluarga Gunawan, saat tahu kamu menjadi putri dari seorang Fabian Emanuel Rudolf!" ujar ayah sambil mengusap dagunya.
Oh, Tidak! Apa yang ayah rencanakan?