
Ketiga sahabatku terlihat bahagia saat melihatku sudah berada di dalam kelas. Mereka langsung berhambur memeluk ku. Nayara terlihat menangis, Nanda hanya berlinang air mata, dan Sofia terlihat marah! Tapi aku tahu di balik kemarahannya itu dia sayang padaku.
"Dasar kamu. Kenapa gak pernah angkat telfon hahh??!!" Suara Sofia menggelegar di dalam kelas membuat beberapa orang yang ada di dalam kelas ini refleks melihat ke arah kami.
"Sof jangan teriak ini masih pagi!" cecarku, menampilkan senyuman lebar. Ketiga sahabatku itu menatapku, ya aku tahu mereka pasti minta kejelasan keberadaanku selama tiga hari kemarin.
"Aku juga ke rumah tapi tante Linda bilang kamu udah gak tinggal lagi disana, terus kamu tinggal dimana?" Nanda terlihat akan menangis.
Dan Nayara, dia memberengut sebal karena masih pagi dia harus mengeluarkan air mata karena terlalu bahagia melihatku, katanya.
"Nanti saja aku ceritakan."
"Anye!" Sofia meggeram tidak suka.
"Please. Nanti. Kita ke kafe biasa. Aku akan cerita." ucapku.
"Awas saja kalau cerita kamu gak masuk akal, nih!!!" Sofia mencubit kedua pipiku dengan gemas.
"Sakit, Sofia!!" sudah bisa di pastikan pipiku pasti merah!
Setelah pulang sekolah kami ke kafe milik Dimas, teman Edgar. Aku dan Sofia dengan mobil Devan, dan Nanda juga Nayara dengan motor di belakang kami. Ketiga sahabat ku tidak sabar dengan ceritaku. Tanpa ada yang aku tutupi aku bercerita pada mereka. Dari mulai aku yang di jemput Devan sampai aku tahu kalau aku bukan anak mama dan papa.
Mereka menutup mulutnya yang menganga. Tidak percaya dengan apa yang aku bilang.
"Kenapa kamu gak datang ke rumah aku Anye?" Tanya Sofia berapi-api.
"Atau ke rumahku!" Nanda juga sama.
"Kamu gak nganggap aku?" Nayara menangis.
Oh, mereka memang sahabat terbaikku! Kami saling berpelukan, banyak pengunjung yang memperhatikan kami.
"Sudah jangan sedih."
"Jadi selama ini kamu tinggal sama Devan?" Aku mengangguk. Semua kembali ke kursinya masing-masing.
"Tenang saja. Devan juga tidak pernah macam-macam. Kami juga tidak tidur sekamar." Aku meyakinkan Sofia, karena tatapan matanya terlihat mengancam!
"Kenapa kamu tolak lamaran bang Ed. Dia cinta kamu dari dulu Nye." ucap Sofia sendu.
Brakk!!!
Nayara menggebrak meja, membuat kami terkejut. "Sudah ku duga!!" serunya. "Pantas saja kalau bang Ed lihat Anye itu beda banget sama lihatin gue!"
Sofia mendelik ke arah Nayara. "Elo suka sama abang gue?"
"Enggak!" ucap Nayara santai. "Ya kali gue suka sama abang elo, gue kan udah punya calon su..." Nayara menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bola matanya menatap kami satu persatu.
"Calon su....?" Nanda mengulang kalimat terakhir Nayara.
Naya tersenyum dengan lebar, kami tahu arti senyuman itu!
"Nay!!!!" Sofia melipat kedua tangannya di depan dada. "Jangan ada rahasia!" ucap Sofia menggeram tidak suka.
"Hehe. Keceplosan!" Kami pun tertawa. Ini pasti pada saat arisan waktu itu, dan Nayara pun membenarkan.
"Anye!" suara panggilan itu membuat tawa kami berhenti seketika. Edgar sudah ada di sampingku, menarik tangan ku hingga aku berdiri dan dia langsung memelukku dengan erat. Wajahku menempel di dadanya yang hangat.
"Kamu kemana saja Anye? Aku cari kamu. Aku khawatir!" aku masih terkejut. Tidak menyangka Edgar akan datang dan tiba-tiba saja memelukku seperti itu, tapi kenapa Egdar tahu aku disini?
"Aku khawatir Anye! Kamu gak apa-apa kan? Kata Sofi..." perkataan Edgar terhenti saat seorang berjas hitam mencekal tangan Edgar dan menariknya menjauh dariku.
"Maaf, tuan. Saya harap anda bisa jaga jarak dengan nona Anyelir!" ucapnya dingin.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengaturku, hahh??!!!!" teriak Edgar marah. Kedua tangan mereka saling mencengkeram kerah satu sama lain. Para pengunjung menatap ke arah kami dengan tatapan penuh tanya. Sorot mata Edgar penuh dengan emosi, sedangkan mata Samuel, pengasuhku, menatap tanpa ekspresi namun dingin seperti es.
Dimas berjalan mendekat, mungkin ada yang melaporkan.
Edgar dan Samuel masih tetap menatap satu sama lain.
"Saya hanya di perintahkan untuk menjaga nona Anyelir, jangan sampai celaka atau di sentuh selain tuan Devan!" ucapnya dingin. Aku melongo mendengarnya. Ya ampun, bahkan Devan pun tahu kalau Edgar sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Perasaanku tidak akan pernah berubah! Kenapa dia membuat peraturan seperti itu?
"Stop. Hentikan!" tapi teriakanku tidak ada yang mendengarkan! Baik itu Edgar atau Samuel mereka masih sama-sama menatap dengan tatapan membunuhnya.
"Sam, lepaskan Edgar!" Masih tidak mendengarkan, malah semakin erat memegangi Edgar.
"Dimas, tolong!" teriakku.
Dimas maju dua langkah.
"Jangan berani bertindak, atau kau tahu bosku tidak akan segan merobohkan kafe ini saat ini juga!" Sam mulai mengancam. Aku lupa siapa Devan! Dia anak dari pengusaha nomor satu di negeri ini.
"Sam, lepaskan Edgar."
"Saya hanya ingin menghukum orang yang sudah menyentuh anda nona. Apalagi mengatakan mencintai Anda." Samuel tetap dengan wajah datarnya. Menyebalkan!
"Sam!" kupegang tangannya. "Aku bilang lepaskan! Atau aku akan laporkan kalau kamu juga menyentuh ku!" ancamku.
"Yang benar adalah anda yang menyentuh ku Nona!" ucapnya datar.
"Bukankah itu sama saja? Kita tetap bersentuhan? Lalu siapa yang akan Devan percayai? Aku atau kamu?" Barulah dia melepaskan tangannya dari Edgar.
"Dasar muka tembok!" Edgar mengambil kursi dari meja lain lalu bergabung dengan kami. Dimas kembali ke tempatnya sesekali melirik ke arah kami berada.
Samuel duduk di meja kosong tak jauh dari meja kami. Dia menyilangkan kakinya. Satu tangannya menopang dagunya. Pandangannya tidak pernah ia lepaskan dari kami berlima.
"Maaf, bang. Gue punya pengasuh sekarang." kelakarku. Hanya Nayara yang tertawa, yang lain mungkin masih tegang dengan yang baru saja terjadi.
"Kamu kemana saja Anye, aku telfon kamu dari kemarin tapi gak aktif. Apa Devan culik kamu? Apa dia paksa kamu? Apa dia..."
"Anye di usir dari rumah bang." ucapku memotong ucapan Edgar.
"Diusir?" tanya Edgar tidak percaya. Aku hanya mengangguk.
"Iya, aku..."
"Maaf nona." Samuel sudah berdiri di sampingku. Menghalangi pandangan Edgar dariku. "Kita harus pulang sekarang."
"Nanti saja." ucapku.
"Ini perintah tuan. Nona hanya boleh bertemu dengan teman nona selama enam puluh menit, dan ini masih ada dua menit lagi, silahkan mulai berpamitan." ucapnya lagi membuatku geram.
"Mana ada perintah yang seperti itu!" bentakku.
"Ada, silahkan tanya sendiri jika nona tidak percaya." Ish dasar menyebalkan! Segera aku menelfon Devan. Dan benar saja, dia menyuruhku pulang sekarang. Dasar Devan menyebalkan!
"Pulang sekarang, atau kamu tidak boleh keluar selain ke sekolah!"
"Enggak!" teriakku di telfon.
"Aku tunggu di apartemen!"
Tutt...Tutt...
Telfon di matikan. Dasar, dia tidak tahu apa kalau aku kangen dengan yang lain?
"Sudah jelas? Mau ikut suka rela, atau saya yang harus menyeret anda nona?" ucapnya penuh ancaman semakin membuatku kesal.
Edgar berdiri dengan muka yang merah padam. Lagi, mencengkeram kerah leher Semuel.
"Jangan macam-macam kamu!" bentak Edgar.
"Saya hanya menjalankan perintah."
"Bilang sama bos kamu jangan buat peraturan konyol!"
"Lepaskan tuan!" Samuel mencengkeram lengan Edgar keras.
Rasanya aura disini semakin panas, apalagi melihat Edgar sudah sangat emosi. Bisa di pastikan mereka akan adu jotos. Karena selama aku mengenal Samuel, dia tidak akan segan melukai orang yang menggangguku.
Dan Edgar, dia juga pasti tidak akan melepaskan Samuel. Ya ampun kenapa hidupku tidak pernah tenang?