
Tiara hanya bisa berguling-guling di kasur milik Gio. Dia sama sekali tak bisa memejamkan matanya lagi. Ke kanan. Ke kiri. Dia merasa kesal sekali. Bosan!
"Akh! Gak bisa tidur lagi kan?" rungutnya sebal. Dia lalu berjalan ke arah jendela, melihat keadaan di luar yang begitu ramai oleh kendaraan. Betapa tingginya dia berada. Melongok ke arah bawah. Ngeri juga kalau sampai terjatuh dari sini!
"Aku suruh kamu tidur kan?" suara Gio terdengar di belakangnya. Tiara terkejut, bosnya datang tiba-tiba.
"Gak bisa tidur!" jawab Tiara. Gio duduk di tepi ranjang, dia membuka jas dan dasinya, membuat Tiara bingung sekaligus takut. Apa yang akan bosnya ini lakukan?
Dia berjalan bagai kepiting, kabur lebih baik daripada terjadi hal yang iya-iya yang kini terlintas di dalam fikiran mesumnya. Hei, Tiara gadis dewasa. Wajar jika dia sudah tahu adegan seperti itu!
"Mau kemana kamu?" tanya Gio, dia kini membuka kancing lengan kemejanya.
"M–mau bikin kopi, Pak! Biar segar! Bapak, mau?" bodohnya dia. Lupa jika Gio tidak minum kopi.
"Eh, saya lupa. Bapak kan gak minum kopi, hehe.... Saya buatkan teh?" tanya Tiara.
Gio tertawa geli. Sepertinya dia tahu kenapa gadis itu ingin kabur.
"Tidak usah. Nanti saja."
"Ya sudah kalau begitu saya pergi ... dulu!" Tiara menunjuk ke arah luar dan mendorong pintu kaca. Dia tertegun sejenak. Dari tempatnya berdiri dia bisa melihat jelas sejauh mana kaca itu memperlihatkan sisi lainnya.
Akh, lain kali aku harus hati-hati. batinnya. Meja kerjanya juga sangat terlihat dengan jelas.
Tiara keluar dari dalam sana. Gio masih tersenyum geli. Dia kemudian merebahkan dirinya sejenak.
Aneh! Bagaimana bisa dia mengizinkan Tiara untuk beristirahat di dalam kamarnya? Padahal selama ini dia paling tidak suka jika orang asing memegang barangnya atau bahkan tidur di tempat tidurnya.
Tiara bingung, mau melakukan apa dirinya? Saat dia kembali ke dalam kamar, dia melihat Gio sedang tidur siang.
Memang orang kaya, kerja aja bisa tidur siang! Ah, aku ke kantor Pak Axel saja!
Daripada bingung, jelas dia hanya bosan saja sedari tadi. Tiara memutuskan untuk pergi ke kantor Axel. Mudah-mudahan saja pria itu ada di kantornya. Tiara berjalan ke arah lift.
Tok. Tok. Tok.
Setelah terdengar suara dari dalam, Tiara membuka pintu ruangan Axel. Dia berjalan ke depan meja bosnya itu.
"Ada apa?" tanya Axel.
"Anu, Pak. Minta pekerjaan! Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Tiara. Axel mengangkat satu alisnya. Bingung.
Pekerjaan Gio menumpuk dan asistennya ini minta pekerjaan lagi padanya?
"Apa pekerjaan tadi sudah selesai?" tanya Axel.
Tiara mengangkat kepalanya.
"Tidak tahu, Pak. Semua Pak Gio yang mengerjakannya. Dan sekarang Pak Gio sedang istirahat di kamar."
Axel terdiam, tak percaya dalam hatinya. Seorang Gio mengerjakan pekerjaan yang harusnya di berikan pada asistennya? Itu di luar dari kebiasaan seorang Gio Arian!
"Apa Gio sakit?" tanya Axel.
"Saya rasa tidak, Pak. Pak Gio terlihat baik-baik saja." jawab Tiara.
"Nanti kalau dia bangun. buatkan saja dia teh hangat dengan madu. Biasanya kalau Gio tidur siang, dia sedang tidak enak badan." Tiara mengangguk patuh.
"Oh, orang seperti dia bisa sakit juga." lirih Tiara, tentu terdengar sekilas di telinga Axel.
Axel tertawa lirih, membuat Tiara tersadar dengan ucapannya. Dia lantas menutup mulutnya. Malu, iya!
"Maaf, Pak. Maaf! Bukan maksud saya mengatai Pak Gio!"
Aku lupa! Pak Gio kan saudara Pak Axel. Kenapa mulut ini keseleo terus?!
"Dia juga manusia Tiara! Apa dari kemarin kalian lembur terus?" tanya Axel.
Tiara tanya mengangguk, masih membekap mulutnya dengan tangan.
"Ya sudah, bantu saya saja." ucap Axel membuat Tiara senang. Tiara mengangguk lalu segara mendekat pada Axel dan memperhatikan apa yang Axel ajarkan.
"Sudah terbiasa jadi asisten Gio?" tanya Axel saat Tiara mendudukkan dirinya di kursi di depannya.
"Lumayan, Pak. Tapi Pak Gio itu banyak menyebalkannya. Masa saya terus di marahin, Pak. Mana saya di suruh bawain belanjaan dia lagi. Kan tangan saya sakit, Pak. Berat!" keluhnya. Axel hanya tersenyum, membuat Tiara terhanyut dalam senyuman itu. Tak ia sangka pria menyebalkan dulu adalah bosnya ini.
...*...
Gio terbangun dari tidur siangnya. Dia menatap jam di tangannya. Satu jam dia tertidur. Kepalanya sedikit pusing, mungkin karena sedari kemarin dia kurang tidur.
Gio keluar dari kamarnya, mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri, menyapu seluruh ruangan. Tidak ada Tiara. Dia segera menuju meja kerjanya dan menelfon gadis itu.
"Dimana?" bertanya tanpa basa-basi.
"...."
"Cepat kembali sekarang juga!" teriak Gio. Dia kemudian menutup telfonnya ganpa mau mendengar penjelasan Tiara.
Gio mendudukkan dirinya di kursi dengan kasar. Meskipun tidak ada dirinya harusnya gadis itu tetap ada di tempatnya, bukannya kelayapan!
Tiara baru saja menutup telfonnya. Dia mengusap telinganya yang pengang. Suara teriakkan Gio membuat telinganya sakit.
"Siapa?" tanya Axel.
"Pak Gio. Saya harus kembali ke ruangan saya, Pak. Kalau tidak saya pasti akan di marahi lagi!"pamit Tiara lalu menyerahkan pekerjaan pada Axel.
"Ya sudah, pergi saja. Trimakasih sudah bantu saya, ya." ucap Axel.
Tiara mengangguk hormat lalu berdiri. Belum juga dia melangkah, suara telfonnya terdengar lagi. Sama seperti tadi, Tiara menjauhkan hpnya dari telinga. Sepertinya pria itu ingin membuat gendang telinga Tiara rusak karena suaranya yang menggelegar.
"Iya, aku turun. Bawel!!" Bentak Tiara. Lalu dia beralih pada Axel.
"Saya pamit, Pak." sambil mengangguk malu.
Axel hanya menggerakkan tangannya.
Tiara setengah berlari menuju ke arah pintu, masih dengan hp di telinganya. Axel hanya menggelengkan kepalanya. Belum pernah ada yang membuat Gio seperti ini. Biasanya jika bawahannya membuat dia kesal, maka dia akan memecatmya segera.
Lihat saja. Sampai kapan Gio akan mempertahankan gadis ini.
...***...
Tiara sudah sampai di ruangannya. Dia melihat Gio yang terus manatapnya dengan tajam. Tatapan matanya bak elang yanh ingin menerkam mangsanya.
"Saya kembali, Pak!" Tiara mandekat ke meja Gio.
"Bagus ya. Kamu kelayapan saat jam kerja!"
"Saya cuma cari kesibukan, Pak. Bapak tadi tidur dan gak kasih saya pekerjaan, jadi saya bosan dan saya cari pekerjaan ke tempat Pak Axel!" lapornya.
Dada Gio terasa panas, entah kenapa. Dia merasa tak suka sama sekali.
Gio melemparkan pekerjaan pada Tiara. Tiara menatap pekerjaan itu dengan mata membulat.
"Kerjakan, dan jangan kelayapan! Sebelum itu selesai, jangan harap kamu bisa pulang!" Tunjuk Gio, dia berdiri dan meninggalkan Tiara yang terdiam di tempatnya berdiri.
Tiara mengambil tumpukan pekerjaan itu dan membawanya ke mejanya.
Keterlaluan! Harusnya dia kasih ini tadi sebelum dia tidur, yang repot sekarang kan jadi aku! Mana ini sudah jam tiga lagi. Apa aku bisa selesai tepat waktu?
Tiara duduk di mejanya dan mengambil pekerjaannya dari yang paling atas.
...***...
Sudah hampir jam lima. Tiara masih berkutat dengan pekerjaannya. Mustahil dia bisa menyelesaikan ini, bahkan dia tak minum hanya untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan setengah dari tumpukan itupun dia belum selesai.
Tiara memijit pangkal hidungnya. Dia merasa pening di kepalanya. Matanya juga perih, karena sedari tadi dia terus mantap layar komputer. Tiara menyandarkan dirinya di kursi, dan memejamkan matanya sekejap.
Gio yang memperhatikan sedari tadi hanya diam. Biasanya gadis itu akan cerewet dan protes, tapi sore ini dia sangat patuh dan diam. Sepi!
"Sudah, bereskan saja barang kamu." ucap Gio yang membuat Tiara kembali membuka matanya.
"Eh, akan saya selesaikan hari ini juga, Pak." Takut Tiara. Arti dari perkataan Gio menyiratkan hal yang menakutkan untuknya. Gio memintanya membereskan barang, apa dia di pecat?
Tiara segera kembali pada pekerjaannya, dia tidak mau jika sampai di pecat. Dia belum merasakan gajian!
"Kenapa tidak beres-beres?" tanya Gio.
"Maaf, Pak. Akan saya selesaikan. Jangan pecat saya!"