
"Lalu siapa jika bukan karena dia?"
"Karena aku gak pantas buat Bapak. Aku hanya gadis miskin yang tak punya apa-apa. Bahkan aku juga rela menukar tujuh tahun hidup ku hanya untuk sebuah rumah yang kami huni saat ini!" Tiara kini menatap tajam ke kedalaman mata Gio. Dia sungguh tak tahu lagi harus berkata apa. Satu yang dia inginkan. Dia ingin hidupnya normal seperti semula.
"Apa maksud mu? Bukankah kau yang bilang aku harus terima kau yang tak punya apa-apa? Kau sudah lupa dengan ucapanmu tadi?" teriak Gio tak terima. Dia merasa hancur saat Tiara mengatakan ingin putus hanya karena dirinya yang tak punya apa-apa.
Gio mencengkeran kedua bahu Tiara. Dia tatap mata itu yang kini menunduk tak mau menatap dirinya.
"Tatap mataku, Ra. Dan katakan kalau kau hanya bercanda!" Gio mengoyangkan bahu Tiara ke depan dan ke belakang. Dia sungguh tak ingin mendengar hal itu keluar dari mulut Tiara.
Tiara hanya diam, sulit untuk mengatakannya. Dia juga tak sanggup manatap mata Gio yang kini terlihat sorot sedih di dalam sana. Ada satu lagi hati yang terluka selain Alea dan juga Ken. Dan sebenarnya juga hatinya, tapi Tiara tak peduli dengan hatinya. Semua orang bahagia, maka dirinya juga ikut merasakan bahagia.
Gio mengambil Tara ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, tak mau jika Tiara harus pergi darinya. "Jangan. Ku mohon jangan pergi. kIta baru saja bersama jangan tinggalkan aku lagi. Aku sungguh akan merasa kehilangan jika kau ingin pergi." Sesuatu yang tersa hangat tersa di pipi Gio. Gio mengusap cairan hangat itu dari wajahnya, menatapnya penuh rasa tak percaya. Bahkan dia tak pernah menangis saat wanita itu pergi darinya.
"Aku gak akan pergi jauh. Aku masih karyawanmu, ingat? Aku masih asistenmu! Ada kontrak kerja yang harus aku jalani sampai tujuh tahun ke depan." Lirih Tiara, suaranya bergetar saat mengatakan hal itu. Berat baginya kini mengatakan dia hanya seorang asisten.
Gio menarik dirinya. Menatap Tiara dengan tajam. Bisa Tiara lihat mata Gio yang kini merah. Apa Gio menagis?
"Katakan. Apa alasannya? kamu tak mungkin minta putus tanpa sebab kan? Aku gak akan kabulkan permintaan kamu jika alasan mu tak logis!" Gio berkata dengan nada dingin. Sungguh apapun alasan yang di berikan Tiara, dirinya tak akan pernah melepaskan gadis ini.
Tiara menatap Gio, jika memang Gio inginkan jawaban, oke. Dia akan beri jawabannya.
"Alea! Alea suka dengan mu, Pak!" jujur Tiara. Gio membuka mulutnya, ternganga. Lalu dia tertawa sambil mengusap wajahnya. Jadi karena gadis itu?
"Alea itu hanya adik kecil! Aku tak pernah anggap dia lebih dari itu. Sumpah. Aku..."
"Tapi dia suka denganmu. Masa bodoh kamu suka dengan dia atau tidak, tapi dia suka denganmu!" jerit Tiara sambil menepis kedua tangan Gio dari pundaknya.
"Itu sebabnya aku minat putus! Terserah apa kau mau tidak. Aku hanya ingin hidupku yang tenang kembali. Itu saja!" jerit Tiara sekali lagi. Tak ia pedulikan tatapan dari orang-orang yang ada disana.
Dia sudah mulai lelah sekarang. Bahkan ini belum sehari, dan dia sudah merasa lelah!
Sungguh ingin hidup damainya yang dahulu, meski tanpa cinta di dalam hatinya.
Tiara melangkah cepat, menjauh dari Gio yang kini terdiam mematung. Gio tak meyangka jika Tiara melakukan hal itu hanya demi sahabatnya. Gadis itu tak berhenti atau bahkan menoleh sama sekali.
"Ara!" Gio mengejar Tiara, dia menahan tangan Tiara hingga gadis itu kini berhenti melangkah.
"Jika dia sahabatmu. Dia pasti akan bahagia kalau kau juga bahagia. Plase. Raih kebahagiaanmu sendiri. Jangan pikirkan orang lain!" Gio sungguh tak suka dengan Tiara yang kini menggelengkan kepalanya. Matanya sudah berubah merah.
"Aku tak suka jadi orang yang egois. Tak bisa tepatnya. Dia sudah sangat banyak membantuku selama ini dan aku gak bisa melanjutkan hubungan ini. Maaf anggap saja aku sedang dalam keadaan mabuk tadi. Anggap saja aku meracau tak jelas. Maafkan aku, Pak Gio!" Tiara membalikkan dirinya. Dia mengusap air mata yang kini lagi-lagi mengalir di wajah cantiknya. Dasar air mata kurang ajar! Harusnya jangan keluar sekarang dan membuat dirinya terlihat lemah di hadapan Gio. Mana Tiara yang biasanya kuat? Tunjukkan kalau kau bisa kuat dan ini yang kau inginkan! Tiara mencoba menghibur dirinya sendiri.
Grep.
Duk!
Mata Tiara membulat sempurna saat Gio menarik tangannya hingga membuat kepalanya menubruk dada hangat pria itu.
"Aku akan bicara dengan Lea dan membuat dia mengerti. Aku tak pernah punya perasaan apa-apa dengan dia. Dia hanya aku anggap adik. Aku akan membuatnya mengerti, Tiara. Please, tolong. Aku mohon sama kamu. Jangan lakukan ini. Kita berjuang bersama ya." Mohon Gio pada Tiara. Tiara semakin tak kuat hatinya. Di satu sisi dia tak ingin Alea membencinya, tapi di sisi yang lain dia juga sangat mencintai pria ini.
"Aku harus bagaimana?! Aku sayang dengan Alea, aku gak mau dia marah dengan ku. Aku gak mau dia membenciku. Tapi aku juga cinta padamu, Pak! Huuu...." Tak kuat lagi. Tiara mengeluarkan semua rasa yang ada di dalam hatinya dengan tangis yang hebat. Dia benar-benar sudah tak peduli dengan kemeja putih Gio yang sedikit ternoda oleh bedaknya yang sudah luntur karena tangis.
"Kenapa harus dia yang suka denganmu? Kenapa aku juga harus suka denganmu! Huaa...." Gio tersenyum kecut mendengar ucapan kalimat terakhir Tiara.
"Aku... Aku hanya ingin bahagia...!" Ungkap Tiara masih dengan tangis yang hebat dan tersedu. Gio mencium kepala Tiara dan mengelus pundak gadis itu.
"Maafkan aku. Tapi aku janji. Aku akan bicara dengan Alea dan membuat dia mengerti. Ayo kita pulang. Ibu sudah khawatir dengan kita." ucap Gio. Tiara mengangguk pada akhirnya.
Karena lelah setelah sekian lama menangis dan juga akibat perjalanan jauh, Tiara tertidur di mobil. Gio melajukan mobilnya dengan kecepatan konstan, dia tak ingin membuat gadis kesayangannya terbangun. Kasihan dia, pasti sangat lelah dengan kejadian hari ini. Tak lupa Gio juga menelpon ibu dan mengabarkan jika mereka sedang dalam perjalanan pulang.
Gio melirik ke arah samping. Tiara tertidur dengan kepala yang tertopang di bahunya. Pasti sangat tidak nyaman dengan kondisi seperi itu.
Gio menepikan mobilnya di jalanan yang sepi. Dia mendekat dan memperbaiki posisi kepala Tiara, menurunkan kursi hingga Tiara bisa sedikit lebih nyaman dalam tidurnya.
Disingkirkannya anakan rambut yang menutupi mata Tiara, wajah gadis itu terlihat sangat lelah, dengan mata sedikit bengkak dan hidung yang memerah. Udara terasa dingin, karena malam baru saja tiba Gio menyelimuti ribuh Tiara dengan jas miliknya. Dia juga menurunkan suhu dingin di dalam mobil. Tak lupa Gio juga menunduk, mengambil kaki Tiara dan melepaskan heels tinggi dari kaki jenjang itu.
Dia mendecih kesal, ini pasti perbuatan Ken. Tidak tahukah pria itu jika Tiara bisa saja bengkak kakinya memakai heels tinggi terlalu lama? Gio tahu itu karena dia pernah memaksa Tiara memakai heels tinggi di kantor dan saat sore hari Tiara harus bertelanjang kaki karena kakinya lecet dan juga bengkak.
Gio kembali mendekat ke arah Tiara, dia mencium kening Tiara. Sebenarnya dia tergoda dengan bibir tipis itu, tapi nanti saja lah. Kalau ada kesempatan lain. Ini bukan waktu yang tepat bahkan hanya untuk mencuri ciuman dari gadisnya ini.
Kembali melajukan mobilnya ke arah rumah Tiara. Hingga dua jam kemudian mereka sudah sampai di rumah.
Ibu yang menunggu kepulangan putrinya dengan perasaan khawatir hanya bisa melihat Gio yang menggendong Tiara dari dalam mobil dan membawaya masuk ke dalam rumah. Gio membaringkan Tiara di atas kasurnya, menyelimutinya hingga sebatas dada, sedangkan Ibu menyimpan tas dan juga sepatu Tiara di sudut kamar.
"Sebenarnya apa yang terjadi Nak? Ada apa dengan Tiara?" Tanya ibu saat mereka sudah keluar dari dalam kamar Tiara. Gio hanya diam, sebaiknya Tiara saja yang bercerita pada ibu tentang masalah hari ini hingga dirinya menyepi dan menenangkan diri di tepi pantai.
"Sebaiknya Ibu tanyakan saja langsun pada Tiara. Emosiya sedang tidak baik saat ini. Mungkin jika dia bicara dengan Ibu dia bisa sedikit tenang dan juga bisa berpikir dengan jernih." ucap Gio. Ibu hanya memandang pintu kamar Tiara dengan tatapan nanar penuh rasa khawatir.
"Maaf, Bu. saya ingin meminta izin pada Ibu. Saya suka dengan Tiara. Sekiranya Ibu bisa izinkan saya menjalin hubunga dengan Tiara. saya tak pernah main-main mengenai perasaan ini. Tolong dukung kami dan beri kami restu."
Ibu menatap tajam pada Gio dengan rasa penuh tak percaya. Ibu tersenyum lalu mengangguk dengan cepat.
"Ibu restui, Nak. Ibu merestui kalian!"
.
.
.
.
.
Cieee Selamat Bang Gio dapat restu dari calon ibu mertua.