DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 82



"Bu, besok Ara harus keluar kota, mungkin selama dua atau tiga hari."


"Ada apa?" tanya ibu.


"Peninjauan proyak di luar pulau. Ibu tidak apa-apa kan kalau aku tinggalkan? Atau aku akan meminta Santi menginap disini?" Tiara sedang menimbang bahan kue di atas timbangan kecil.


"Tidak usah. Santi sedang mau ujian, jangan di ganggu! Kasihan dia."


"'Dia bisa belajar disini."


"Hush! Jangan. Dia tidak akan bisa konsentrasii, nanti konsentrasinya malah bantu bikin kue!" ibu melarang.


Santi adalah anak gadis tetangga mereka. Cukup dekat, hingga pernah beberapa kali menginap untuk menemani ibu. Sewaktu Tiara kuliah juga Santi lah yang menemani ibu selama dirinya KKN.


"Tapi ibu sendiri dong!" Tiara khawatir."


"Tidak apa-apa. Ibu sudah biasa. Telfon saja ibu setiap kamu ada waktu senggang." ucap ibu akhirnya. Dengan terpaksa Tiara mengiyakan saja.


...***...


"Pak kita berapa hari sih disana?" tanya Tiara saat memasukkan koper ukuran kecil ke dalam bagasi mobil.


"Kalau lancar dua hari cukup. Kenapa?" tanya Gio.


"Tidak. Aku khawatir sama ibu. Tidak ada yang menemani." ucap Tiara. Dia menatap ibunya yang kini masih menunggunya di teras rumah.


Gio juga melakukan hal yang sama. Seorang ibu yang mengkhawatirkan keadaan anaknya, dan sebaliknya. Apa kalau saja ibunya masih ada dia juga akan melakukan hal itu? Jelas sekarang sosok ibunya di gantikan dengan sosok mama Anyelir.


"Titip Tiara ya, Pak! Tegur saja kalau dia bandel!" ibu mendekat dan berbicara pada Gio.


"Ibu. Malu-maluin. Tiara memberengut kesal sambil menggelayut manja di lengan ibunya.


"Tentu, Bu. Saya pasti akan tegur dia kalau dia bandel!"


"Aku bukan anak kecil!" decih Tiara pada keduanya. Ibu dan si muka beku ini kompak juga ternyata!


Ibu tertawa. "Lihat wajah kamu cemberut seperti itu. Seperti anak kecil kan?" meminta dukungan dari Gio. Semakin membuat Tira kessal.


Gio tertawa melihat ibu dan anak ini. Perasaan hangat menjalar di hatinya. Sepertinya akan indah sekali jika dia menjadi anak ibu juga. Eh?!!!


Tiara memeluk ibunya sebelum dia masuk ke dalam mobil.


"Bos kamu ganteng juga ya?" bisik ibu pada Tiara.


"Ibu suka? Mau aku jodohkan sama dia?" tanya Tiara. Dalam hati dia bergidik jika ber-ayah tiri-kan Gio.


Ih jangan sampai. Amit-amit!!


"Ya enggak lah. Masa ibu setua ini mau sama brondong?"


"Ya, kali! Hehe..."


Tiara mendelik kesal, menatap ke arah Gio. Baik, sopan, menyenangkan? Dari mana? Ibu tidak tahu saja perlakuan dia selama ini sama aku!


"Ayo. Kita berangkat! Bu kami pamit dulu." Gio mencium tangan ibu dengan takzim. Semakin besar rasa kagum ibu pada Gio.


"Iya, Nak. Kalian hati-hati di jalan. Jangan lupa telfon ibu kalau sudah sampai ya!" ucap ibu.


"Tentu kami akan mengabari ibu kalau sudah sampai disana.


Ibu melepaskan kepergian kedua orang itu dengan lambaian tangan.


Tiara merasa sedih meninggalkan ibunya sendirian di rumah. Meski hanya dua atau tiga hari tentu dia khawatir, setelah KKN dulu, dia tidak pernah lagi meninggalkan ibu sendirian di rumah.


Tapi ibu menyebalkan. Waktu KKN saja banyak sekali petuah yang ibu berikan.


Jaga diri baik-baik disana


Hati-hati dengan para pemuda.


Jaga jarak dengan teman laki-laki!


Jangan kelayapan tidak jelas.


Jangan tidur terlalu larut.


Tapi sekarang kenapa kata-kata itu tidak ada? Seakan ibu tidak khawatir, padahal jelas kali ini anak gaidsnya pergi dengan seorang laki-laki. Berdua pula!


"Kenapa?" tanya Gio saat menyadari Tiara melirik ke arahnya.


"Segitu terpana dengan wajahku?"


Mode menyebalkan sedan ON!


"Siapa yang terpana. Bapak ini hebat ya. Bisa membuat ibuku kagum."


"Kagum? Bagus dong!" Gio tertawa bangga.


"CIh ibu salah besar. Baik, sopan, menyenangkan darimana? Ibu harus mencoba jadi aku supaya mata ibu bisa melihat bagaimana bosku!"


"Memang selama ini aku bagaimana? Aku memang baik, sopan, menyenangkan!" ucap Gio.


"Menyenangkan untuk selalu menggangguku?" sindir Tiara.


"Tuh tahu!" Gio menyengir ria.


"Aku bisa cepat tua kalau lama-lama dekat dengan bapak!"


Tiara kesal saat Gio malah tertawa dengan bahagianya.