DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 112



Anye terdiam mendengar penuturan Axel. Dia tak habis pikir dengan anak ini, apa yang sebenarnya dia pikirkan? Dia mau membiarkan Renata di luaran sana sendirian? Dengan kondisinya yang lemah seperti ini? Dia butuh dukungan, dia butuh kasih sayang!


"Kamu gila Xel..." Mama menggelengkan kepalanya, tak percaya engan ucapan sang putra.


"Kamu tahu dia pergi dan kamu biarkan saja, begitu?"


Anye menatap putranya yang masih saja diam.


"Kalau kamu gak akan cari dia biar Mama saja yang cari Renata!" Seru mama sambil melangkahkan kakinya. Mama merasa geram dengan kelakuan anaknya yang hanya diam. Apa dia sudah tak peduli lagi pada Renata?


Anye sudah menyayangi Renata seperti putrinya sendiri. Dia takut jika terjadi sesuatu pada gadis itu. Apalagi dengan keadaan Renata yang baru saja sesai proses kuret.


"Aku akan tetap cari dia, Ma. Hanya saja aku gak akan muncul di hadapannya. Mama tenang saja, orang-orang ku sedang mencari dia. Biarkan saja dia sendiri kalau memang itu bisa membuat dia tenang. Aku akan suruh orang untuk mengawasi dia. Aku mohon, mama setuju saja dengan keputusan Renata!" ucap Axel, menatap kosong pada brangkar yang kini tak berpenghuni.


Mama terdiam di depan pintu mendengar permohonan putranya, dia ingat Axel tidak pernah memohon seperti itu padanya. Apalagi dengan nada suara dan raut wajah yang menyedihkan seperti itu.


Gio yang mendengar pembicaraan ibu dan anak ini hanya bisa diam. Jika Axel sudah memutuskan, dia bisa apa?


Suara hp terdengar lirih dari saku celana Gio. Gio mengambil hpnya dan melihat siapa yang menghubunginya.


Gio melangkah melewati Mama Anye, keluar dari ruangan itu. Lebih baik dia mengangkat hpnya di luar saja.


'Kami sudah menemukan keterangan dari terminal, Nona Renata naik ke bus menuju luar kota.' Terdengar suara sesaat setelah dia menggeser ikon hijau di layar hpnya.


Gio terdiam. Luar kota? Mau kemana dia?


"Kemana?" tanya Gio singkat.


'Surabaya.'


"Susul mobilnya dan terus pantau dia. Jangan sampai kalian kehilangan dia. Awasi saja dia dari jauh. Jangan sampai dia tahu kalian mengikuti dia." tutur Gio.


'Baik.'


Gio mematikan panggilannya, dia lalu mencari nama kontak lain di hpnya, menghubungi seseorang yang mungkin dan pasti bisa membantunya.


"Aku butuh bantuan!"


...***...


Sudah tiga hari Axel terlihat tak bersemangat. Tiga hari tak bertemu Renata seperti neraka baginya, rasa rindu, dan khawatir terus saja menggelayuti pikirannya. Batinnya tesiksa, tapi dia harus bisa tahan dengan keadaannya. Renata tak mugkin begitu saja meningalkan dia. Seperti apa yang dia katakan, dia hanya butuh ketenangan. Semua yang terjadi padanya sangat berat akhir-akhir ini.


Gio baru saja masuk ke dalam ruangan, dia membawa berkas di tangannya.


"Masih memikirkan Renata?" tanya Gio, dia menyimpan berkas itu di atas meja, lalu mendudukan dirinya di atas kursi di depan Axel.


"Sudah tahu kenapa masih tanya?" jawab Axel ketus, dia mengambil berkas itu dan membacanya. Dia memperhatikan setiap detail tulisan yang ada disana, kemudian tersenyum.


"Bagus, semua sudah siap. Sayang Renata tak ada disini untuk mendengar kabar bagus ini." ucap Axel sendu. Dia menutup berkas itu. Berkas yang menunjukan hasil perkembangan perusahaan milik Renata. Sudah membaik dari beberapa bulan lalu.


Dia belum memberi tahu Renata tentang perusahaan yang sudah berhasil ia ambil alih, tadinya dia akan memberikan perusahaan itu sebagai hadiah pernikahan mereka. Tapi sayang... Akh... Sudahlah. Perjuanganya ternyata masih sangat panjang. Dia harus bersabar lagi dan lagi.


"Nanti siang kita ada pertemuan di luar."


"Oke." jawab Axel.


Tapi Axel masih tetap menunggu, jika Renata belum siap bertemu dengannya maka dia akan sabar sampai Renata mau bertemu lagi dengannya.


...***...


Suasana terasa sangat panas di luar sana. Seorang gadis hanya bisa diam di dalam kamar, dia menatap ke arah luar, suara kendaraan yang melintas di jalanan terdengar sangat ramai. Kendaraan banyak yang berlalu lalang sangat jelas terlihat dari jendela kamarnya, tapi pandangan dan pikirannya tertuju ke arah lain. Axel. Dia merindukan pria itu.


"Nduk!" suara wanita paruh baya masuk ke dalam kamar setelah mengetuk pintu, panggilan wanita itu membuat Renata terbangun dari lamunannya.


"Ini. Jamunya diminum dulu, si Mbak Jamu baru saja datang antarkan ini." ucapnya sambil menyodorkan gelas denga air berwana kuning kental.


"Trimakasih, Bu." Renata menerima gelas itu dari tangan wanita yang ia sebut ibu, dia lantas menenggaknya perlahan meski dia tak suka dengan aromanya yang menyengat.


"Wess.. pelan-pelan saja!" titah ibu saat melihat raut wajah aneh Renata. Dia tersenyum seraya mengusap kepala Renata dengan sayang. Sudah sangat lama sekali dia tak bertemu dengan gadis ini. Sudah tumbuh dewasa dan cantik dari saat terakhir dia bertemu, saat pemakaman putranya. Restu.


Renata memberikan gelas kosong itu pada Ibu Rini. Dia masih meringis merasakan pahit di dalam mulutnya.


"Pahit ya?" tanya ibu Rini. Renata tersenyum seraya mengangguk.


"Sing sabar yo... Biar luka di dalam perut membaik." ucap ibu Rini.


"Iya bu. Trimakasih atas perhatian Ibu. Maaf kalau Nata merepotkan Ibu disini." Renata menunduk sedih.


"Yo ndak po-po, Nduk. Ibu malah seneng ada temennya disini. Mbak Halimah juga sudah lama ndak pulang-pulang. Ibu kesepian." ibu tersenyum.


"Yo wes. Ibu ke belakang dulu. Mau masak sayur sop. Kamu tidur yo!" ucap Ibu.


"Aku bantu ibu saja." Renata hendak beranjak dari kursi tapi Ibu Rini melarangnya.


"Ndak usah, kamu belum sembuh banget. diam saja disini. Istirahat. Jangan terlalu banyak bergerak. Masih sakit, kan?" tanya ibu Rini. Dia mengulurkan tangannya ke arah perut Renata dan mengelusnya pelan.


"Cuma sedikit masih linu." Renata terdiam menerima perlakuan hangat ibu Rini.


"Tuh. Masih harus banyak istifahat. Nanti sore kita ke dokter, ya." ajak ibu. Renata mengangguk. Selama tiga hari disini dia memang belum mengunjungi dokter lagi.


"Ibu ke dapur dulu. Kamu istirahat, atau berbaring. Jangan banyak gerak. ya." Renata mengangguk. Ibu Rini bangun dari tepian ranjang dan berjalan ke luar dengan membawa gelas kosong bekas jamu di tangannya.


Renata beralih menuju kasur tua, kasur yang terbuat dari kapuk itu kini menjadi tempatnya beristirahat. Tidak ada lagi kasur springbed yang menjadi alas tidurnya. Tak ada AC yang mendinginkan ruangannya. Tak ada lemari besar yang menampung baju-bajunya. Semua yang ada disana sederhana. Sangat sederhana seperti rumah yang dia tinggali kini. Bahkan rumah dengan bentuk kuno tapi sangat terawat. Dan pakaiannya pun... Dia hanya memakai pakaian bekas milik Mbak Halimah, kakak Restu, yang ada disana.


Pergi dari rumah sakit tanpa membawa apa-apa. Dia hanya mengambil beberapa lembar uang dari dompet Axel. Lancang? Iya, dia mencurinya. Dia pergi saat Axel tertidur pulas di sampingnya, menunggu hingga hampir pagi sampai penjaga di depan kamarnya pergi entah kemana.


"Maaf, Xel. Aku harap kamu baik-baik saja. Maaf aku memang egois... Hiks..." air mata Renata mengalir membasahi bantalnya. Dia menangis terisak antara rindu, sedih, dan merasa bersalah. Axel dan keluarga terlalu baik padanya


Dia tak ingin bertemu dengan Acel dulu. Dia ingin menenangkan diri. Kehilangan anak membuat dia sedih. Apa lagi saat dia tak sadarkan diri, bukan dia tak sadar sepenuhnya. Dia bisa mendengar semua yang mereka bicarakan. Antara Axel dan juga pria tua itu. Pria tua yang merupakan ayah dari Noah.


Renata sungguh tak percaya dengan apa yang Axel katakan, dia sudah membunuh Noah. Dia kira Axel membawa pria itu ke kantor polisi dan memenjarakannya. Kenapa dia bisa begitu mudahnya menghilangkan nyawa orang lain? Dia seperti paman dan juga bibinya, seperti Noah, seperti ayahnya...


Renata mengusap air mata di sudut matanya. Jujur dia kecewa. Meski dia juga mendengar kalau Axel melakukan itu untuk dirinya, tapi melenyapkan nyawa orang tetaplah salah.


Entah lah. Renata belum bisa menerima kenyataan itu.


Renata kenal dengan keluarga mereka. Noah adalah teman dari kakaknya. Dia juga sering membawa Renata kecil berkunjung ke rumahnya. Hingga kemudian terjadi lah hal yang sampai sekarang renata tak mengerti bagaimana asalnya, tentang bagimana kecelakan yang merenggut nyawa orangtuanya adalah hasil perbuatan paman dan bibinya. Harta. Apalagi? Akibat haus akan kekayaan mereka berani melenyapkan nyawa saudara nya sendiri.