DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 173



"Apa yang sedang kalian perbuat di kantor putraku. Putra kesayangan?" Suara bariton Devan terdengar membekukan tubuh Tiara, meskipun pertanyaan itu di tujukan bukan kepadanya melainkan pada Gio. Tiara semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap ujung sepatunya. Menggigit bibirnya cukup keras, bekas ciuman Gio membuat bibirnya kebas.


"Kami... Kami hanya sedang berdiskusi!" Gio menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Dia sangat malu sekali ketahuan sedang berbuat hal yang mengasyikan di ruangan ini. Wajahnya memerah. Tak pernah dia merasa malu seperti ini karena ketahuan kedua orangtuanya.


"Baru kali ini Papa lihat diskusi yang tak membosankan. Apa kalian tidak ingin mengajak kami berdiskusi juga?" tanya Devan dengan sedikit kekehan di bibirnya. Lalu terhenti saat Anyelir menyodok perut suaminya dengan siku tangan. Devan memekik tertahan, dia mengusap perutnya yang linu.


"Gio. Tiara! Kalian tahu bukan dimana ini?" Anye dengan nada suara datar dan tegas. Tanpa menjawab dengan kata-kata kedua orang yang tadi disebutkan namanya mengangguk bersamaan. Kali ini Gio sama menunduknya. Daripada papa, dia lebih takut dengan kemarahan mama.


Anye sungguh kecewa melihat tingkah kedua orang ini yang tadi sempat dia lihat. Mungkin, bisa jadi jika mereka bisa melakukan hal yang lebih dari itu jika dia dan suaminya tak ada disana.


"Kalau kalian tahu, kenapa kalian berbuat hal seperti itu disini?! Mama tidak suka, dan mama tidak ingin melihat hal seperti ini terjadi lagi di perusahaan ini. Entah kalian atau siapapun yang ada di perusahaan ini melakukan hal seperti itu lagi, lebih baik siapkan saja surat pengunduran diri kalian!"


Deg...


Hati Tiara mencelos mendengar ucapan tegas dari Anyelir. Bos dari segala bos yang ada di perusahaan ini, meski memang perusahaan sudah di alihkan pada putra keduanya, tapi asal muasal perusahaan ini konon katanya milik ayah dari Nyonya besar ini.


"Kalian dengar?!" Sekali lagi Anye berkata dengan tegas. "Jawab!" berkata dengan nada tinggi setengah membentak, menatap kedua orang di hadapannya dengan tatapn bak elang yang tajam. Tiara sampai hampir melompat mendengar bentakan yang keluar dari bibir Anye. Dia tak pernah mendengar Nyonya Besar Anyelir marah seperti ini. Salahnya. Semua ini salahnya. Kalau saja dia tak mengizinkan Gio untuk kembali menciumnya... Oh tidak. Pada kenyataannya dialah yang menarik Gio ke dalam permainannya.


"Maaf, Bu. Ini semua salahku. Aku yang salah. Jangan salah kan Pak Gio. Aku yang tak bisa tegas." Nada suara Tiara bergetar meminta maaf pada Anyelir. Dia sampai ingin ambruk karena lemas mengakui kesalahannya. Matanya sudah memerah, kalau bisa dia ingin menangis sekarang juga, tapi air matanya tak bisa keluar.


"Bagus, kau akui kesalahanmu. Tapi segera berikan surat pengunduran dirimu satu jam dari sekarang!" Tiara refleks mendongak menatap Anye tak percaya, begitu juga dengan Gio. Dia menatap mama dengan tatapan marah. Papa Devan juga hanya diam tak melakukan apapun untuk membantunya. Papa di hadapan mama, seperti sapi yang di cocok hidungnya.


"Ma, jangan lakukan itu. Aku yang salah. Aku yang sudah menggoda Tiara. Aku yang mengganggu dia." Gio mencoba menjelaskan.


"Gio. Kau tahu mama tak suka dengan penolakan!" Anyelir menatap putranya dengan tatapan yang sangat dingin, mengalahkan dinginnya Benua Antartika. Gio tak bisa berkata apapun jika mama sudah mengatakan hal itu.


"Ma, aku mohon. Jika Mama mau, aku saja yang akan menyiapkan surat pengunduran diriku. Jangan Tiara. Semua aku yang salah!"


Anye menggelengkan kepalanya. Tak ada lagi ekspresi hangat yang terlihat disana. Tak ada lagi ekspresi penuh kasih yang Gio lihat selama ini. Hanya ada aura kemarahan dari seorang Anyelir Dewi Maharani!


"Dan kau Gio! Mulai besok. Kau akan Mama kirim ke Kalimantan. Urus perusahaan batu bara yang ada disana! Dalam satu tahun, mama ingin perusahaan itu berkembang di tangan kita!" ucapan Anyelir kali ini membuat Gio semakin tak percaya. Selain membuat Tiara dipecat dari perusahaan ini, mama juga mengirimnya ke Kalimantan! Mengurusi perusahaan yang sedang mengalami kesulitan. Bagaimana ini? Apa yang harus Gio lakukan?


Tiara menunduk semakin dalam. Dia meremas rok span hitamnya hingga kusut karena saking keras tangannya mengepal. Dia harus jauh dengan Gio di saat mereka baru saja memulai? Mata Tiara panas, kali ini air mata yang ada di matanya mengalir dengan perlahan ke pipi.


"Ma. Tiara tidak bersalah, Ma. Semua aku..."


"Tiara. Kau pergilah ke ruanganmu. Lakukan apa yang istriku perintahkan tadi." Papa Devan memberi perintah pada Tiara. Tanpa di perintah dua kali Tiara melangkahkan kakinya ke luar dari ruangan itu setelah sedikit membungkukkan badannya setengah pada dua orang besar di hadapannya.


Tiara berjalan dengan cepat, meraih handle pintu dan membukanya. Dia mengusap air mata yang semakin deras mengalir sebelum kembali menutup pintu itu.


Bodoh. Bodoh. Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa aku bisa berbuat seperti itu. Aku bodoh! Harusnya aku sadar dengan waktu dan tempat! Tiara memukul kepalanya sendiri. Tak peduli dengan beberapa karyawan yang memperhatikan tingkah lakunya selama menuju lift.


Brak.


Pintu ruangan Tiara tutup sedikit keras. Dia merasa marah pada dirinya sendiri. Bagaimana dia akan melanjutkan hidupnya setelah ini? Tak akan mudah mencari pekerjaan di luaran sana sementara hutang Tiara pada perusahaan ini sangat besar.


Tiara memegangi dadanya yang sesak. Dia benar-benar merasa lemas sekarang. Kakinya tak lagi bisa menopang tubuhnya hingga Tiara kini melantai bersandarkan pintu. Memukul dadanya untuk mengeluarkan rasa sesak yang ada di dalam sana.


...*...


"Ma. Maafkan semua kesalahanku ini. Tapi aku mohon... Aku akan pergi, menurut apa kata mama, tapi aku mohon jangan keluarkan Tiara dari sini, Ma. kasihan dia!" mohon Gio.


"Kau kasihan dengan dia, tapi kau sendiri yang membuat dia Mama pecat. Semenjak ada dia kau jadi berubah G. Tak pernah bisa memberi yang terbaik lagi untuk kami, tak pernah peduli pada kami. Lalu ini balasanmu untuk kami yang telah merawatmu selama ini? Kau sudah lupa dengan siapa kau sebenarnya?" bentak Anye, menguak masa lalu Gio. Gio terdiam, menunduk dengan dalam. Memaksa ingatannya menggali kembali bayangan masa lalu yang telah ia pendam dalam-dalam.


Anye menggelengkan kepalanya, menatap pria itu yang hanya diam. Wajahnya suram.


"Lepaskan dia!" Gio mengangkat kepalanya menatap mama dengan wajah penuh amarah, tapi tak bisa melakukan apa-apa. hanya menggeleng pelan. Tak mungkin, disaat dia baru saja menemukan wanita baik yang bisa mengubah hidupnya dan dia harus melepaskan Tiara begitu saja? Ini baru beberapa hari! Apa kisah ini harus berakhir secepat ini?


"Terserah kau. Jika kau lebih sayang dengan wanita itu. Jangan salahkan kalau dia takakan pernah mendapatkan pekerjaan sama sekali seumur hidupnya!" Ancam Anyelir lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah pintu. Devan yang hanya diam tak bisa melakukan apa-apa. Anye adalah ratu, dan dia tak bsa membantah atau membantu Gio dalam keadaan susah seperti ini.


Devan menatap Gio sekilas, lalu menggerakkan kakinya berputar, mengikuti langkah kaki istrinya. Membukakan pintu untuk sang ratu.


"Arrrgghhtt!!!! Sialan!!!" Gio membanting kursi dengan segala kekuatannya, hingga kursi itu patah. Persetan dengan harganya yang mahal. Dia sedang marah sekarang. Marah dengan keadaan. Memilih. Memilih yang tak bisa dia pilih sama sekali. Dia sayang dengan keluarganya, yang sudah memberikan dia kehidupan, tempat ternyaman, dan juga kasih sayang. Tapi dia juga mencintai Tiara, gadis yang sudah membuat hatinya bahagia. Gadis yang bisa membuat senyum merekah di bibirnya. Gadis yang bisa membuat hatinya tak karuan. Apa yang harus dia lakukan?


"Sialann!!!!" teriak Gio penuh amarah menendang dan membanting apapun yang ada disana.


Lelah dengan kelakuannya yang sudah membuat ruangan Axel berantakan. Gio duduk bersandar di kaki meja. Dia menekuk kedua lututnya dan memeluknya, menenggelamkan wajahnya disana.


Apa yang harus aku lakukan?