
Tiara selesai dengan tangisnya yang hampir satu jam lamanya. Dia beranjak bangun dari tempat tidur dan teringat akan sesuatu, piring di dapur belum selesai ia bersihkan tadi.
Tiara mendekat ke arah cermin, melihat wajahnya yang sudah sembab. Dia pergi ke arah kamar mandi, mencuci wajahnya. Bagaimana jika ibu melihat dia ada di dapur dengan wajah sembab seperti itu?
Setelah selesai, Tiara pergi ke dapur. Dia mendekat ke arah wastafel, piring kotor sudah tidak ada lagi disana. Tiara hanya terdiam, memikirkan siapa yang telah menyelesaikan pekerjaannya, apakah ibu atau... Tidak mungkin jika itu kakaknya yang menyelesaikannya. Ah sudahlah... Tak ada pekerjaan lagi, lebih baik dia istirahat saja, toh ini juga sudah hampir jam sepuluh malam. Lagipula hanya piring yang tinggal dibilas saja.
Tiara berhenti saat melihat Ridwan melewatinya, dia mengambil sebuah gelas dan menuangkan air dari dispenser.
"Kau benar sudah putus dengan dia?" Tiara yang hendak melangkah kembali terdiam. Ridwan memium air yang ada di tangannya.
"Tidak ada urusannya dengan mu!" ucap Tiara dengan ketus.
Ridwan terkekeh, "Tentu saja ada. Kalau kau nanti menikah memangnya siapa yang akan menjadi walimu? Siapa yang akan menghantarkanmu pada pengantin pria?" tanya Ridwan. Tiara mendecih dengan sebal.
"Aku tidak perlu wali nikah, dan aku tidak perlu seseorang untuk mengantarku pada calon suamiku! Stop untuk urusi segala urusanku, urusi saja urusanmu sendiri." Tiara melangkahkan kakinya.
"Apa kau masih cinta dengan dia?" tanya Ridwan lagi. Tiara kembali tertahan langkah kakinya.
"Ku bilang bukan urusamu!" Tiara mulai geram, bertahun-tahun lalu kakaknya ini mencampakkan Tiara dan ibu, dan kini sok menanyakan dan juga peduli pada dirinya? Oh... Jangan salah sangka, pria ini hanya ingin uang, hanya butuh calon adik ipar kaya untuk bisa numpang hidup dengan enak tanpa harus susah payah bekerja!
"Aku memang salah sudah meninggalkan kalian, tapi bagaimanapun juga aku ini kakakmu. Tidak ingin adiknya terluka karena hal apapun!" ucap Ridwan, dia berjalan ke arah wastafel dan mencuci gelas bekas dia pakai.
"Tidak ingin terluka karena hal apapun? Nyatanya kau lah yang menorehkan luka terbesar dan terdalam untuk kami, untukku dan juga untuk ibu!" sarkas Tiara dengan penuh penekanan dalam setiap kata-katanya.
"Maafkan aku, Ara. Aku memang pria brengsek. Aku buta karena cinta dulu, tapi aku sekarang sudah berubah. Aku...."
"Berubah menjadi apa? Jadi lebih brengsek dengan meminta uang pada orang lain dengan tak tahu malunya? Berubah menjadi pria yang tak peduli dengan ibu dan juga adiknya? Tak tahu apakah setelah kau pergi ibu dan adikmu bisa bertahan hidup? Sakit atau sehatkah ibu? Makan atau tidaknya kami? Kemana pikiranmu?"
"Setelah kepergian ayah, kau menghilang meninggalkan banyak luka untuk kami. Begitu banyak tanggungan yang kau limpahkan pada ibu seorang... Apa kau pikir dengan hal itu? Apa kau tidak berpikir dimana kami akan tinggal setelah beberapa orang datang kesini dan menyerahkan surat-surat sampahmu itu?!" Tiara menjerit dengan kesal, menurunkan kedua tangannya yang kini terkepal di kedua sisi tubuhnya. Dadanya sering sesak setiap kali berhadapan dengan pria ini.
Ridwan hanya terdiam mendengar cacian yang keluar dari mulut adiknya. Dia memang pantas mendapatkan cacian itu. Dirinya memang brengsek! Dia akui itu karena cinta buta membuatnya mengabaikan tanggung jawab yang seharusnya.
"Ibu mungkin akan mudah memaafkamu, tapi aku.. jangan harap kau akan mudah mendapatkan maaf dariku!" Tiara berbalik arah dan lalu berjalan dengan cepat ke arah kamarnya.
Lagi dan lagi, sesak dan juga emosi harus ia tahan. Tak ingin air matanya terlihat oleh pria itu dan membuatnya menjadi terlihat lemah di hadapan kakaknya.
Ridwan terdiam melihat punggung Tiara yang kini telah menghilang di balik pintu kamarnya.
"Tidak bisakah kau memaafkanku sedikit saja, Ra. Aku memang brengsek." lirih Ridwan. Ada rasa sesak yang dia rasakan di dalam hatinya saat melihat adiknya yang cengeng berpura-pura kuat dan tegar seperti ini.