DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
257



Pintu di ketuk dari luar, Gio kembali keluar dan melihat seorang pria kurus dengan pakaian penuh noda kuning. Gio sangat yakin sekali jika ini adalah pria yang sama yang mengganggu istrinya.


Dengan satu gerakan Gio mengisyaratkkan untuk kedua sekurity yang membawa pria ini keluar dari sana. Mereka berdua mengangguk patuh dan lalu keluar dari ruangan itu dengan segera.


Pria kurus yang kini sedang berlutut di lantai. Keringat dingin membasah di wajah dan juga keningnya. Tubuhnya gemetar takut akan terjadi hal yang nantinya sudah tidak baik, buktinya saja jika dia kini ada di ruangan ini. Ruangan yang terasa menyesakkan dan menghabiskan oksigen di paru-parunya.


Pria itu menunduk, tidak berani unuk mengangkat kepalanya apalagi pria yang tadi menyeretnya kesini kini berdiri di belakangnya. Dia ingat dengan ucapan wanita itu tadi. Tidak dia sangka jika teryata yang dia bicarakan tadi tentang istri bos mungkin saja itu benar, tapi dia sama sekali tidak tahu, dia tidak pernah mendengar jika bosnya ini telah menikah, kapan dan dimana dia tidak tahu sama sekali.


Dengan langkah tegapnya Gio maju dan mendekati ke arah pria yang kini terlihat bagai kerbau yang terjebak di dalam lumpur. Tidak bisa bergerak sama sekali.


Gio memutari tubuh yang kini masih melantai itu, memperhatikan postur tubuh kurus dan jangkung pria itu. Aroma makanan bersantan tercium di bawah hidung Gio.


Pria itu tidak pernah ada di dalam ruangan ini sebelumnya. Dia hanya bisa sampai di asisten bos saja, Heru. Keinginannya selama ini untuk bisa bertemu dengan bosnya ini kini rasanya dia sudah tidak ingin lagi. Bertemu dengan Gio dalam keadaan dirinya yang bermasalah dengan wanita milik Gio.


"Kau yang mengganggu istriku?" tanya Gio setelah memutari pria itu dan kini dia berdiri tepat di depannya. Sepatu milik Gio bisa ia lihat dengan jelas di bawah wajahnya yang tertunduk takut.


"Maaf, maafkan saya, Pak. Saya tidak tahu kalau dia itu wa-istri Pak gio. Maafkan saya. Ampuni saya!" mohonnya. Kekejaman Gio memang sudah dia dengar sedari dulu, tapi dia tidak menyangka akan menjadi salah satu korban yang sebentar lagi namanya akan tetera pada salah satu kolom disana. Semoga saja kali ini Gio akan mengampuniya, semoga kekejaamannya tu hanyalah rumor belaka.


"Maaf? Aku bisa saja memaafkanmu." Pria itu menghela napasnya dengan lega.


"Tapi itu tidak mudah."


Glek.


Sudah payah pria itu menelan salivanya hingga rasanya dia merasa sakit di tenggorokannya, bagai ada duri yang menyangkut dan tidak bisa ia sngkirkan.


"Kau tahu tidak, istriku itu rapuh sekali di hatinya, dia mungkin kuat di depanmu, tapi apa kau tahu di belakang dia bagaimana? Satu tetes saja airmata yang dia buang dari mata indahnya, aku akan membuat nya berkali-kali lipat untukmu!" ucap Gio yang semakin membuat pria itu kini ingin terjun saja dari jendela sana. Sungguh sesak di dalam sini, hanya dengan tatapan dan juga ucapannya saja pria di depannya ini membuat oang lain ingin menyerah saja.


"Apapun, akan saya lakukan unuk Pak Gio dan istri. Izinkan saya melakukan apa pun untuk mendapatkan maaf dari Anda ,Pak. Aku sungguh tidak tahu jika itu adalah istri bapak. tadi dia juga menggodaku, aku pikir dia sama dengan yang lainnya." pria itu berkilah.


Gio memasuk kan kedua tangannya pada saku celana bahannya. Dia berdiri dengan menjulang di hadapan pria itu, Mendengar pria itu berkata yang tidak-tidak degan istrinya serasa ia ingin mnendangnya saja. Tepat di mukanya dan membuat patah hidungnya.


"Kau bilang istriku itu menggodamu begitu? Kau pikir kau ini bagaimana? Apa kau tidak punya cermin?"


"Memangnya kau merasa pantas untuk bersaing dengan ku?" tanya Gio dengan kesal


"Jangan pikirkan tentang harta dan kedudukan, bandingkan saja dengan fisik kita. Lalu apa yang kau pikirkan? Apa kau pantas bersaing dengan itu? Aku kira tidak!"


Gio menatap kesal dan berkata dengan nada yang dingin. Sungguh ingin sekali dia mengeksekusi pria ini, poptong tangannya yang sudah berani memegang tangan Tiara!


"Tidak, saya tidak berani, maafkan saya, Pak. Saya tidak berani bersaing dengan Pak Gio." ucap nya takut. Sungguh dia ingin sekali pergi dari sini sekarang juga.


"Lalu kenapa kau bilang istriku menggodamu? Apa dia sudah salah lihat hingga dia berbelok lari kepadamu?" tanya Gio lagi. Pria itu kini menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Maaf, maafkan saya." Dia menunduk, bersimpuh kepalanya di kaki Gio hingga keningnya menyentuh sepatu mahal milik pria itu. Gio hanya diam membiarkan manusia tidak tahu diri ini melakukan hal itu, toh dia lakukan setiap hari pun Gio tidak akan memaafkannya karena telah berani menyentuh tangan istrinya.


Krekkk...


Sepatu yang keras itu kini beralih, solnya ada di atas tangan pemuda di depannya. Dengan keras Gio menekan ujung sol sepatunya di punggung tangan pria itu hingga pria itu terpekik kesakitan.


"Maaf kan, maafkan saya pak Gio. Maafkan atas segala kesalahan saya. Saya janji saya tidak akan melakukan hal itu lagi. Saya gak akan mengganggu istri Bapak lagi." ucapnya dengan penuh permohonan. Gio tertawa mendecih. Benar-benar sangat menyedihkan sekali!


Gio semakin memperdalam pijakannya, dia tidak peduli dengan teriakan kesakitan dari pria itu yang kini trus memohon untuk dia lepas kan.


Pria itu menangis, meringis dengan rasa sakit di tangannya, dia tidak manyangkan jika kelakuannya ternyata akan mendapatkan balasan yang seperti ini.


Tatapan Gio sangat marah kini, pria itu ternyata memang kejam. Bahkan, dia memohon untuk di lepaskan sekali pun dia tidak mengindahkannya sama sekali.


"Melepaskan juga tidak mudah. Kau harus mendapatkan oleh-oleh dariku! Heru ...." Gio memanggil Heru dan menadahkan satu tangannya.


Heru paham dengan apa yang diminta bosnya ini. Dia berjalan ke arah dinding dan mencabut sebilah pedang samurai yang ada terpajang disana.


Mata pria itu membelalak saat melihat Heru kini datang dengan samurai mengkilat di tangannya, terlihat bersinar akibat pantulan cahaya lampu yang ada di dalam ruangan itu.


Dia kira itu hanya lah benda pajangan, tapi saat heru menebas kan pedang itu pada sebuah kertas, kertas itu terbelah sempurna. Tidak terbayangkan bagaimana jika salah satu dari mereka menebaskan peedang itu padanya. Entah leher atau tangan, semoga saja tidak.