
Sekolah telah usai. Acara kelulusanku hanya di hadiri Devan dan mama Mauren. Mungkin karena permintaan Devan mama mau datang kemari. Mama Linda sama sekali tidak bisa datang. Papa melarang keras. Entahlah! Papa sepertinya sangat kecewa denganku. Tentu saja kecewa karna aku membuat putrinya patah hati.
Mengenai kak Melati, semenjak aku pergi dari rumah, kak Mel berhenti dari perusahaan Devan dan bekerja di perusahaan papa. Tapi yang aku tahu, mama masih saja menginginkan kak Mel untuk menjadi pendamping Devan.
Usia kandunganku sudah hampir lima bulan, dan benar apa kata Devan sebelumnya, anak kami 'boy'! Dasar Devan! Aku ingin kejutan saat dia lahir, tapi dia malah bertanya pada dokter untuk tahu jenis kelamin anak kami.
Devan semakin sibuk dengan pekerjaannya. Terkadang dia harus keluar kota beberapa hari. Devan sangat khawatir meninggalkanku sendirian maka dari itu memutuskan untuk berpindah ke rumah mama. Aku sempat menolak, tapi Devan malah marah, dia bilang aku tidak sayang dengan mama yang ingin ikut merawatku. Apa ini salah satu rencana mama?
Tinggal satu atap dengan mama, dia hanya baik saat Devan dan papa ada. Kalau mereka tidak ada mama bebas mencerca ku, dan membuat aku lelah. Semua asisten disini menurut pada mama tanpa terkecuali. Tidak ada yang berani melaporkan atau mereka akan di pecat dan tidak bisa bekerja seumur hidup di luar sana. Benarkah sebesar itu pengaruh keluarga Aditama?
Terkadang aku menangis sendirian di kamar. Devan terlalu mencintai mamanya hingga tidak percaya saat aku bercerita. Dia hanya bilang, 'Mama hanya ingin mengajarimu saja. Bagaimana mengurus rumah tangga dengan baik. Percayalah, mama itu sayang sama kamu, kamu sudah seperti anaknya sendiri!' begitu katanya.
Mama juga tidak segan berakting di depan Devan. Ya ampun. Aku hanya ingin di sayangi ma, tapi mama selalu mengingatkanku tentang jati diriku.
Devan baru saja pulang setelah tiga hari mengurus pekerjaannya di luar kota, wajahnya terlihat sangat lesu pasti dia capek.
"Aku buatkan kopi? tawarku. Devan menggeleng, malah semakin erat memelukku.
"Aku cuma kangen kamu!" bisiknya sambil mengelus perutku yang sudah mulai membuncit. Usapan halusnya membuat bayiku bergerak. Devan masih saja kaget dan berteriak girang saat baby boy kami bergerak perlahan.
Dia menjauhkan dirinya dan menunduk, mensejajarkan kepalanya dengan perutku. Mengelus dan menciuminya. Kepala Devan di simpan di atas pahaku. Devan terus saja mengajak baby kami berbicara meski hanya di jawab dengan gerakan halus dari dalam. Terkadang Devan tertawa dan tersenyum, raut wajah lelahnya berubah senang dan bahagia. Beberapa kali mengelus dan menciumi perutku.
Tak ada lagi suara, Devan terlelap dengan posisi miring menghadap perutku.
Ku elus kepalanya dan mencium pelipisnya singkat.
"Bisakah aku meninggalkanmu nanti, Dev? Rasanya aku berat meninggalkan kamu, tapi aku juga sudah tidak tahan dengan hinaan dari mamamu. Lalu bagaimana dengan anak ini nantinya?" setitik cairan bening meluncur bebas di pipiku, dan segera ku hapus.
"Tentu saja aku akan membawanya. Aku tidak mau anakku nanti merasakan apa yang aku rasakan. Mama tidak mungkin dengan mudah menerima anak ini. Aku bukan menantu idaman untuknya dan hanya kak Melati yang selalu membuat mama bahagia. Mama hanya berpura-pura bahagia di depan kamu dan papa."
"Dan aku? Aku hanya sebutir debu untuk kalian. Aku bukan Cinderella yang datang dan kehilangan sepatu kacanya, hingga seorang pangeran yang baik hati mengangkat derajatku. Tapi aku juga bukan Hua Mulan yang bisa kuat dan tegar untuk mendapatkan pengakuan dari raja. Aku hanya Anyelir seorang yang membutuhkan kasih sayang, seorang yang ingin keberadaannya di akui di keluarga ini. Seorang yatim piatu yang ingin hidupnya bahagia. Salahkah aku berharap?"
Devan menggeliat bangun dan mengerjapkan matanya.
"Aku ketiduran, maaf!" cicitnya lalu duduk di samping ku. Aku hanya tersenyum padanya.
"Hahh... sudah jam sebelas?" Terkejut saat melihat jam yang melingkar di tangannya. "Aku sudah tidur tiga jam? Kenapa kamu tidak bangunkan aku?" Devan meradang dengan wajah bersalah.
"Kamu tidur nyenyak banget Dev, gak tega bangunkan kamu." Ucapku.
"Maaf, kaki kamu pasti pegal!" aku menggeleng, meski iya kakiku kesemutan.
"Aww!!" aku memekik saat tak sengaja kaki Devan menyenggolku.
"Kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Devan khawatir.
"Enggak, cuma kesemutan." jawabku.
"Maaf, maafkan aku honey!" Devan beralih ke ujung kakiku dan memijit lembut jempol dan telapak kakiku.
"Aaahh Dev...!" tapi sebentar saja kakiku sudah normal kembali.
"Apa masih sakit?"
"Sudah makan tadi di jalan. Kamu sudah makan?"
"Su-sudah." jawabku. Padahal perutku sangat lapar. Mama melarangku makan malam tadi, dan beberapa hari kemarin juga semenjak Devan pergi. Hanya ada satu pelayang yang berani mengambil resiko memberikan roti untukku yang di sembunyikan di balik bajunya, dan dengan alasan akan mengambil baju kotor di kamarku.
"Ya sudah, kita tidur?"
Kami merebahkan diri di atas ranjang, setelah sebelumnya Devan membuka seluruh bajunya dan hanya meninggalkan celana bokser.
Devan menarikku ke dalam pelukannya, aku merebahkan kepalaku di atas tangan kirinya yang menjadi bantal.
"Dev."
"Hem?"
"Sampai kapan kita disini?" tanyaku. Devan memiringkan tubuhnya ke arahku.
"Emangnya kenapa? Kamu gak betah disini?" tanya Devan.
"Bukan begitu. Aku...cuma... aku... hanya rindu kehidupan saat kita berdua di apartemen." aku tidak bohong, meskipun sebenarnya yang ingin aku bicarakan adalah sikap mama padaku.
"Aku juga rindu saat-saat berdua, tapi aku juga khawatir ninggalin kamu sendirian disana. Tahu kan kalau pekerjaanku sekarang sedang sibuk-sibuknya?" Aku mengangguk sambil memainkan jari telunjukku berputar-putar di dadanya. Melukiskan sesuatu yang abstrak yang aku sendiri tidak tahu apa itu!
"Tapi Dev, aku tidak mau merepotkan mama terus." cicitku.
Devan menghentikan aktifitas tanganku dari dadanya.
"Sebenarnya yang kamu mau bicarakan itu apa?" nada suaranya mulai menunjukkan tidak suka.
Ini saat yang baik untuk bicara dengan Devan atau tidak ya?
"Umm sebenarnya aku... sedikit tidak suka dengan sikap mama padaku." lirihku sambil menarik tanganku.
"Maaf, Dev. Tapi kadang aku capek menuruti mama, aku disuruh ini, itu, mama juga sering bicara soal ibuku dan...dan...aku tidak setara dengan kalian!" lirihku tapi dengan nada tegas, walaupun ada ketakutan di setiap kata yang aku ucapkan.
"Tidak mungkin!" hardik Devan lalu bangkit duduk. "Kamu hanya sedang sensitif Anye!"
"Mama hanya sedang mengajarimu menjadi istri yang baik."
"Tapi aku memang bisa melakukan semua tugasku Dev. Kecuali memasak." imbuhku.
Aku ikut duduk di samping Devan. Devan terdiam dengan raut wajah yang tidak enak untuk di lihat.
"Dev..."
"Tidurlah, jangan bicarakan ini lagi! Aku tidak suka saat kamu menjelek-jelekkan mama. Kamu sedang hamil, dan sedang sensitif!" tunjuknya tepat di wajahku. Hal yang jarang sekali Devan lakkukan. Lalu Devan mengambil selimutnya dan tidur memunggungiku. Itupun dia lakukan kalau sedang marah!
*
*
*