
Devan sangat bersemangat sekali. Dia mengecat kamar Daniel seharian tadi dengan warna biru langit dan juga warna abu-abu kesukaannya. Beberapa mainan yang aku sebutkan juga sudah tertata rapih di dalam lemari. Beberapa game terbaru yang menjadi favorit Daniel juga sudah ada disana bersanding di depan tv layar lebar yang di beli Devan tadi siang.
"Dev, minum dulu." Ku serahkan jus jeruk dingin kepadanya. Devan menenggaknya dengan rakus. Dia sangat bersemangat sampai lupa untuk minum dan juga makan.
"Apa Daniel akan suka tinggal disini?" Tanya Devan. Sepertinya ada ketakutan yang dia rasakan di dalam hatinya.
"Tidak tahu. Tapi kita harus tetap mencoba kan!" ucapku. "Kenapa kamu jadi pesimis begitu?" tanyaku.
"Aku cuma takut!" Nada suaranya bergetar. Aku mengusap bahunya pelan.
"Tenang saja, Daniel..." aku bingung. Ya aku sangat bingung bagaimana mengatakannya pada Devan. Daniel bukan anak yang gampang berinteraksi dengan orang asing. Dia cenderung suka menghindar. Dia...
"Ah, aku juga terkadang bingung dengan sifat anakku. Tapi aku yakin kalau Daniel bisa terima kamu." ucapku, walaupun aku juga tidak yakin!
Daniel, akankah kamu terima papa kamu?
...***...
Sudah tiga hari ini Devan pergi ke luar kota. Papa menyerahkan bisnis hotel dan juga resort yang ada di Bali kepada Devan. Papa bilang itu adalah bisnis yang papa bangun semenjak papa tidak lagi aktif di perusahaan beberapa tahun belakangan ini. Pada intinya papa ingin pensiun menikmati masa tuanya bersama mama, istri yang amat sangat di cintainya. Mungkin karena terpisah sangat lama, aku jadi sedikit iri pada papa, karena papa lebih bisa romantis daripada Devan.
Pekerjaanku disini sangat banyak, kalau tidak aku pasti bisa ikut ke Bali sekalian honeymoon. Ah honeymoon, bahkan aku tidak pernah merasakan sesi honeymoon dengan Devan. Kapan itu akan terjadi? Di tempat yang indah nan romantis? Entahlah!
Rasanya sepi sekali di rumah ini. Biasanya aku dan Devan akan duduk di ruang tv untuk menonton sambil memakan jajanan. Entah itu makanan ringan atau makanan berat. Sesekali saling menjahili entah itu aku atau Devan, lalu kami tertawa bersama. Setelah itu... ya begitulah... hehe.
Untungnya asisten yang kami punya datang pagi dan pulang saat sore hari setelah menyiapkan makan malam, jadi kami bisa bebas melakukan apapun, termasuk... ya saling bercumbu bertukar keringat dimanapun kami mau, di ruang tv, di taman belakang rumah, atau di dapur. Upsss.... Memalukan! Rasanya seperti pengantin baru saja...🙈🙈🙈
Ah... Ini masa terindah yang pernah aku lewati dengan Devan. Aku harap ke depannya masih banyak lagi masa-masa dimana aku dan keluargaku hidup dalam kebahagiaan, bersama suami dan juga putraku. Devan aku rindu.
Telfon berdering saat aku baru saja keluar dari kamar mandi. Devan. Aku mengangkat panggilan darinya dan berbaring di atas kasur masih menggunakan bathrobe dan handuk melilit kepalaku.
"Ya Dev?" tanyaku.
'I miss you!'
"I miss you too!" jawabku sambil tersenyum. Rasanya aneh, di dalam diri ini seperti ada sesuatu yang menggelitik perutku. Bunga-bunga bermekaran tersiram hujan yang beberapa hari ini aku tunggu-tunggu. Cih aku lebay!
'Sedang apa?' tanya Devan.
"Sedang tiduran!" jawabku. Biasanya aku akan mematikan panggilan telfon unfaedah seperti ini kalau Edgar atau Alex yang telfon. Tapi dengan Devan, entahlah meskipun yang kami obrolkan bukan hal yang penting tapi rasanya sangat menyenangkan. Merasa geli juga, bagaimana mungkin hanya dengan telfon wajahku bisa panas seperti ini?!
'Besok aku pulang, tunggu aku ya!'
"Memangnya aku mau kemana tidak tunggu kamu?" tanyaku. Dia terdengar tertawa entah apa yang dia tertawakan.
'Ya aku kira kamu ada urusan di luar kota.'
Kami meneruskan obrolan unfaedah kami. Tak terasa sampai satu jam lamanya, dan sampai telinga ini terasa panas.
Skip penerbangan selama ke Prancis, tidak ada yang menarik selama perjalanan kami, kecuali Devan yang sama sekali tidak bisa tidur karena memikirkan Daniel. Harus bersikap bagaimana saat bertemu dengan ayah dan Daniel nanti.
Kami sampai di bandara Charles de Gaulle. Disana sudah ada orang-orang kiriman ayah yang akan menjaga kami sampai ke rumah. Aku bersama Devan dan juga Samuel menggunakan limousin yang ayah kirimkan.
"Pourquoi la sécurité est-elle si stricte?(kenapa keamanan sangat ketat?)" tanyaku pada seorang bodyguard yang duduk di depan dengan menggunakan sambungan telfon yang berada khusus di dalam mobil. Terlalu banyak penjaga yang ayah kirim, tidak seperti biasanya. Dan lagi, kenapa tidak mengirim helikopter untuk menjemput kami?
"Notre situation est maintenant très précaire. (Situasi kita sekarang sangat genting, nona!)"
Ada hal apa lagi ini? Ayah tidak pernah membicarakan hal itu denganku. Kenapa ayah tidak bilang soal situasi genting ini? Aku hanya menatap Samuel dengan diam. Dari tatapan Samuel aku merasa ada yang dia sembunyikan.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat gelisah?" tanya Devan menatapku. Aku menggelengkan kepala.
"Tidak ada." jawabku bohong. Aku tidak mau Devan khawatir. Perasaanku mulai tidak enak.
Hampir satu jam perjalanan darat, itu pun karena jalanan sudah di amankan dari pengendara lain.
"Dari tadi aku tidak lihat ada mobil lain selain kita!" ucapan Devan.
"Ayah yang melakukannya untuk kita!" jawabku. Devan mengangguk, dia tidak bisa diam. Bergerak gelisah di tempatnya.
"Kenapa sih Dev?" tanyaku.
"Aku takut ketemu sama ayah Surya. Bagaimana kalau ayah tidak bisa menerima aku?" tanya Devan. Samuel yang sedari tadi memainkan hpnya tertawa terkikik pelan.
"Tidak aku sangka, kamu sudah dapatkan anaknya tapi masih takut menghadap ayahnya!" ejek Sam, dia hanya mencebik melihat Devan sekilas.
"Sam!" Aku melotot pada Sam. Samuel hanya mengangkat bahunya dan kembali pada layar hpnya.
"Dev, kita sudah bersama hampir dua bulan ini, bukankah kamu sudah mempersiapkan diri?"
"Iya. Tapi tetap saja aku gugup!" ucap Devan wajahnya terlihat lucu saat-saat seperti itu. Tapi aku merasa kasihan juga. Tidak pernah aku melihat Devan seperti itu sebelumnya.
"Tenang saja. Ayah bukan orang yang jahat juga!" jelasku menepuk tangannya pelan.
"Hanya saja kalau ayah tidak suka, siap-siap saja menjadi makanan piranha!" sambar Samuel. Ish orang ini... bukannya bantuin malah bikin Devan tambah gelisah!
"Samuel bisa diam gak?!" teriakku. Samuel tertawa sembari menunjuk tepat ke arah Devan.
"Lihat wajah lucu kamu! Ah hahaha... Seorang Devan Aditama bos dingin yang aku kenal dulu. Takut?!" Aih... Rasanya aku ingin melakban mulut Samuel sekarang!
"Jangan dengarkan dia, Dev. Maklum akibat jet lag, otaknya jadi sedikit bermasalah!" tuturku. "Dan lagi dia itu kan jomblo abadi! Tunggu saja kalau dia punya pacar nanti! Kewalahan sama bapaknya baru tahu rasa!" aku merasa kesal, hingga melemparkan kata-kata itu. Entah itu doa atau hanya sekedar ucapan. Aku juga tidak tahu.
"Aku?" Samuel menunjuk dirinya sendiri. "Tidak mungkin!" ucapnya pede.