DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 50



Hari H pernikahan ku. Ya ampun menikah?! Aku di usia yang masih sangat muda menikah, bahkan belum lulus dari SMA.


Bersiap di rumah oma, tepatnya di kamar yang sudah oma sediakan untuk kami. MUA sedang merias wajahku. Meski acara ini sederhana tapi Devan dan keluarga ingin aku tampil memukau.


Pintu di ketuk dari luar lalu terbuka. Mama.


"Mama?" tak percaya dengan apa yang aku lihat, aku menghentikan tangan MUA yang sedang merias wajahku, dan berlari menyongsong mama. Tidak percaya jika mama ada disini. Mama berderai air mata memelukku dengan erat, begitu juga aku.


"Aku kangen mama!" mama mengangguk.


"Mama juga." lalu menciumi kepalaku beberapa kali.


Kami duduk di tepi ranjang. MUA yang di pesan Devan undur diri memberikan waktu privasi untuk kami.


"Maaf, mama cuma datang sendiri kesini. Papa..." mama tercekat.


"Aku tahu. Sudahlah. Sudah jelas selama ini papa tidak menganggapku ada, apa yang bisa aku harapkan ma." aku pasrah. "Tapi aku senang mama bisa hadir di acara ini." menahan tangis sebisa mungkin.


Mama menunduk. "Mama berhutang cerita sama kamu Anyelir, tentang siapa ibu kamu, mungkin lain kali mama tidak bisa ketemu kamu, jadi mama harus ceritakan ini, supaya kamu tenang." aku diam mendengarkan. Mama mengelus kepalaku dengan sayang.


"Ibu kamu, adalah wanita yang periang. Kami bersahabat sejak dulu sewaktu kami masih SMP. Mama, papa, dan ibu kamu, Yura Adisti." mama memulai cerita, aku masih diam mendengarkan.


"Yura di besarkan di panti asuhan sejak kecil, tidak tahu siapa orang tuanya. Itu yang menyebabkan dia di jauhi oleh teman-teman yang lain. Sampai kami kuliah kami tetap bersama. Papa Yudhistira ternyata menaruh hati pada Yura. Bukan rasa persahabatan lagi yang dia rasakan, melainkan cinta. Mama dan Yura juga tahu akan hal itu. Bahkan mama tahu Yura juga menaruh hati pada papamu, tapi Yura mengalah karena mama dan papa sudah di jodohkan semenjak lulus dari SMA." menghela nafas berat.


"Kami terjebak cinta segitiga. Harusnya mama yang mengundurkan diri waktu itu karena mereka saling mencintai, tapi rasa sayang mama pada papa kamu, dan juga rasa bakti kami pada orangtua membuat kami tidak bisa menolak dan terus melanjutkan hubungan ini."


"Setelah lulus kuliah, Yura pergi ke Semarang. Yura menghindar dari kami yang akan melangsungkan pernikahan, dia takut pernikahan kami akan batal jika dia masih ada di antara kami."


"Bertahun-tahun kami tidak tahu kabar dari Yura, kontaknya tidak aktif, hanya sesekali medsosnya yang aktif. Itu pun sangat lama sekali. Hingga kami melihat foto pernikahan Yura dengan seorang pria. Dia tampan. Kami bahagia akhirnya Yura bisa menemukan kebahagiaan disana."


"Saat Melati berumur enam tahun. Yura datang ke rumah. Penampilannya sungguh buruk. Tas lusuh, dengan kamu di gendongan kain jarik sedang menangis karena kedinginan. Waktu itu hujan deras, mama tidak tahu kenapa Yura nekat membawa kamu saat hujan deras seperti itu. Wajah Yura panik, tirus, lebih kurus dari saat terakhir kami bertemu. Mama membawa Yura masuk ke dalam rumah. Memberikan baju kering untuk Yura, dan mengganti baju kamu yang terus menangis karena dingin dan lapar."


"Selama empat bulan Yura tinggal bersama mama. Mama tidak mengizinkan Yura mengontrak, karena dia harus bekerja dan kamu yang masih bayi, mama yang mengurus. Tidak sulit untuk Yura mendapatkan pekerjaan meski gaji sedikit. Bekerja menjadi karyawan di sebuah garment."


"Mama melihat sorot mata papa yang masih mencintai Yura. Ya. Papa kamu masih menyimpan rasa pada Yura. Mama mengizinkan kalau papa mau menikah dengan Yura. Yura menolak. Tidak mungkin menghianati mama yang sudah baik padanya, katanya. Walaupun mama juga merasa sakit saat mengatakannya tapi mama sungguh tidak keberatan, mereka dua orang yang mama sayangi. Nyatanya meskipun mama memiliki papa, tapi tidak dengan hatinya. Hingga malam itu, kesalahfahaman terjadi. Melati melihat papa sedang memeluk Yura di dalam kamarnya. Tapi mama tahu Yura hanya sedang terluka, dia menangis dalam pelukan papa. Mama yakin Yura sedang tidak menggoda papa, tapi Melati kecil berfikiran lain. Siapa yang rela papanya berpelukan dengan wanita lain? Melati marah dan terus menyebut Yura wanita penggoda. Entah dari mana dia bisa mendapatkan kata-kata seperti itu." mama mengusap air mata di sudut matanya, terisak kecil. Lalu memegangi dadanya yang mungkin sesak.


"Yura memutuskan untuk pindah tempat, dia menyewa kamar kos, tidak jauh dari sini karena mama yang meminta. Kamu tetap mama yang mengurus. Dengan keuangan yang minim, tentu pengasuh akan membuat Yura semakin kesulitan. Terkadang mama kamu lembur hingga kamu harus menginap beberapa hari bersama mama."


Mama menghela nafas dan menghembuskannya. Terdiam sebentar, seakan ini hal yang paling sulit untuk di ceritakan. "Mama mendapatkan telfon dari nomor Yura. Mama kira Yura akan lembur lagi, karena katanya di perusahaannya akan mengekpor barang dengan jumlah besar ke beberapa negara. Tapi mama salah, itu bukan suara Yura, tapi temannya. Yura kecelakaan dan langsung di larikan ke rumah sakit terdekat."


"Mama segera menelfon papa dan kami langsung pergi ke rumah sakit. Yura minta tolong agar kami menjaga kamu. Menganggap kamu seperti anak kami sendiri, menyayangi kamu seperti Melati Dan melarang kami memberikan kamu jika ada yang mengaku utusan dari keluarga Surya. Yura tidak ingin kamu hidup susah dengan mereka."


Cerita di tutup. Mama meremas dadanya, lalu memukulnya beberapa kali. Aku sudah tahu kelanjutannya. Ibuku tidak selamat!


"Tidak ada yang tahu siapa pelaku tabrak lari itu, dan bagaimana keadaan mereka setelah meninggalkan ibumu tanpa tanggung jawab. Manusia tidak berperasaan!" mama geram.


"Mama membujuk Melati dengan susah payah, dan akhirnya setelah kamu bisa berjalan dan bicara Melati bisa sayang sama kamu. Tapi sekarang, kedua putri mama...hiks..." menangis tersedu menyayat hatiku. Sakit. Dan itu semua karena aku!


"Maaf ma. Anye yang salah. Anye bersedia memberikan Devan untuk Kak Mel. Biar kak Mel yang menikah dengan Devan." tak percaya dengan apa yang aku katakan.


Mama menggelengkan kepalanya.


"Sudah cukup dengan ibu kamu yang mengalah. Kamu, jangan. Melati tidak akan bahagia dengan pria yang tidak mencintainya. Maaf karena mama dan papa tidak peka selama ini, kalau yang Devan suka itu kamu. Kami tidak tahu."


"Apa mama tahu cerita lain tentang sosok ayah? apa mama kenal ayahku?" mama menggelengkan kepalanya.


"Ibu kamu menolak bercerita. Terlalu menyakitkan! Yang mama tahu nama ayah kamu Surya."


Tidak ada yang bisa aku katakan lagi. Rasanya hati ini sakit, sedih, terluka, tapi ada setitik bahagia karena aku tahu siapa ayah dan ibuku. Aku lahir dari pernikahan yang sah, dan ibuku bukan wanita penggoda!