DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 163



"Morning kiss?" Gio menatap kedua mata Tiara.


"Ini sudah siang, Pak Gio. Dan jaga sikapmu. Kita ada di kantor!" bisik Tiara pelan hingga deru nafasnya terasa sangat jelas dan hangat di dekat bibir Gio.


Gio tersenyum dengan raut penuh kekecewaan. Dia rindu akan bibir yang manis itu, dia rindu menyapu dan mel*mat bibir Tiara hingga bengkak, dan dia rindu membuat Tiara kehabisan nafas.


Tiara tersenyum tipis tak terlihat, dia melihat dengan jelas raut wajah yang kecewa itu kini sedikit mengerucut bibirnya. Melingkarkan tangannya dengan erat ke leher Gio, Tiara menarik kepala Gio hingga dekat dan menempelkan bibirnya ke bibir kenyal pria itu. Oh ... dia gila! Dia wanita dan nyosor duluan? Dunia sudah akan kiamat!


Gio tersenyum senang dengan perlakuan kekasihnya ini, dia menjulurkan lidahnya. Namun, sebelum sempat masuk ke dalam sana Tiara sudah menjauhkan dirinya hingga Gio hanya terdiam dengan wajah penuh tanda tanya.


"Tugas apa yang harus aku kerjakan? Aku sudah menganggur sedari tadi." Kesal karena mendengar pertanyaan Tiara, dia kira akan dapat sedikit suntikan semangat di pagi menjelang siang ini.


"Tidak jadi?" tanya Gio dengan wajah yang cemberut.


"Nanti saja. Kalau kau mengantarku pulang. Sekarang aku ini asistenmu, apa yang harus aku lakukan sekarang, Bos?" Tiara menarik kedua tangannya dan menjauh dari Gio. Gio berdecak dengan kesal. Memalingkan wajahnya ke samping.


Tiara tersenyum geli melihat tingkah pria itu, kenapa sekarang dia jadi terlihat seperti kanak-kanak yang kesal karena dilarang membeli sebuah permen karena takut sakit gigi.


Cup.


Gio mengalihkan pandangannya tak percaya, setelah merasakan basah di sebelah pipinya. Perlahan kedua sudut bibirnya melengkung ke atas. Satu tangannya memegang pipinya dengan rasa tak percaya.


"Ayo Bos. Kita mulai bekerja. Aku tidak mau sampai lembur hari ini!" Tiara mengingatkan dengan senyuman nakal di bibirnya. Ia segera menjauh dari Gio dan mengambil cangkir kopinya, lalu berjalan menuju ke arah meja kerjanya.


Gio tersenyum kecut. Bekerja! Entah kenapa dia yang biasanya semangat kini menjadi malas dan ingin selalu berduaan dengan Tiara.


...***...


Tiara melirik ke arah Gio yang kini hanya duduk diam sambil menopang dagunya, menatap dirinya tanpa henti. Rasanya risih ditatap seperti itu olehnya.


"Bisa hentikan menatapku seperti itu, Pak?"


"Tidak!"


"Sebaiknya kau kerja, dan bukan melamun!" kembali pada pekerjaannya mengetik di layar komputer.


"Aku sedang bekerja."


"Bekerja apa? Sedari tadi melamun seperti itu?" Tiara mulai kesal.


"Apa kau tidak lihat aku sedang bekerja untuk selalu memantau kamu agar tak jauh dari jangakauan mataku?"


Tiara memutar bola mata malasnya. Ish... Pria ini kenapa sih? Lebay!


"Memangnya aku akan kemana? Aku kan asistenmu, dan aku tak akan kemana-mana sampai jam pulang kerja nanti!" ucap Tiara cuek. Dia ingin sekali melepas heelsnya dan melemparkannya ke arah Gio.


"Justru itu, aku malah berharap jam kerja tak akan selesai. Rasanya tak rela kalau kau pulang nanti." Hais... Dasar bucin!


"Kau harus relakan. Karena kita tidak tinggal satu rumah!"


"Kalau begitu, ayo kita tinggal bersama!"


"Kau ingin aku dipukul sampai mati oleh ibu?" Tiara mendelik kesal mendengar permintaan Gio. Matanya melotot dengan tajam. Apa-apaan pria ini, dia kira Tiara wanita seperti apa mau di ajak tinggal bersama?


"Aku belum selesai bicara. Ayo kita menikah, supaya kita bisa tinggal bersama."


Tiara merasa jengah, ini acara lamaran lagi? Tak romantis sama sekali! Apalagi dengan sikap Gio yang mash dengan keadaan yang sama, menopang dagunya di atas meja dengan sikap malas seperti itu.


"Kenapa tidak menjawabku?" Gio menarik dirinya duduk dengan tegak. Melihat Tiara yang kini kembali fokus dengan pekerjaannya.


"Tidak perlu menjawab, aku sudah bilang kan kemarin kau harus apa sampai aku bersedia mengatakan iya!" ucapnya dengan kesal. Gio tak bisa berkonsentrasi sekarang. Dia malah terlihat seperti anak kucing yang sedang bermalas-malasan di atas permukaan karpet yang lembut.


Gio mencebik kesal. "Apa aku harus melakukannya di tempat romantis?" Tanya Gio.


"Hem..." Tiara mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.


"Kau mau aku lamar dimana? Di bawah Menara Eiffel? Di depan Taj Mahal? atau di depan Gedung Putih?" Gio memberikan pilihan. Tiara membuka mulutnya menganga sedikit. Eiffel, okela. Itu tempat romantis. Taj Mahal itu tempat bersejarah, dan Gedug Putih?


"Mungkin setelah itu kita bisa mengunjungi Air terjun Niagara." ucap Gio dengan asal.


Aih-aih... pria ini bercandanya keterlaluan. Dia kira Gedung Putih dan Air Terjun Niagara itu dekat apa. Beda negara dan butuh berapa lama waktu untuk pergi kesana.


Dia kira sini ke Monas apa? batin Tiara kesal.


"Terserah kau lah." Tiara bersikap tak peduli, dia pusing dengan ucapan Gio yang melantur kemana-mana. Tak ingin Menara Eiffel, Taj Mahal atau apapun. Tiara hanya ingin sesuatu yang berkesan saat Gio melamarnya.


Sejenak dia melupakan tentang Alea dan juga Kenzo.


"Pak Gio. Bukankah seharusnya kau ada di ruangan Pak Axel untuk menggantikan dia sementara?" Tiara sampai lupa dengan hal itu.


"Kau juga ikut kesana ya?"


"Hei, aku bir disini saja. Ini ruanganku."


"Tapi aku ingin kau juga ikut pindah kesana dengan ku. Biar aku bisa semangat untuk bekerja."


"Semangat dari mana? Aku disini saja kau sedari tadi hanya menatapku. Sudah sana jangan selalu ingin dekat dengan ku. Kau punya tugas penting dan tanggung jawab yang harus kau lakukan beberapa hari ini."


Gio menghela nafas dengan berat. Dia beranjak bangun dan melangkah ke arah Tiara berada.


Tiara terfokus pandangannya pada layar di depannya. Dia sendiri tak sadar saat Gio telah sampai di belakangnya untuk mencium pucuk kepala Tiara.


Tubuh Tiara menegang mendapat perlakuan itu dari Gio. sejenak dia menghentikan gerakan tangannya untuk mendongak dan mendapati wajah nan tampan itu.


"Benar tidak mau satu ruangan dengan ku?" Tanya Gio.


"Hem. Kau harus fokus dengan pekerjaanmu. Jangan sampai karena hubungan kita, kau jadi terlena dan malah tak mengerjakan tanggung jawabmu dengan benar."


Gio tersenyum senang mendengar ucapan Tiara yang lembut dan juga sangat benar. Hari ini dia memang lebih banyak melamun dan juga menatap Tiara dari tempatnya.


"Oke. Aku akan ke lantai atas." Gio meraih dagu lancip Tiara dan mendekatkan dirinya hingga bibir mereka menaytu dan hidung Gio menyentuh dagu Tiara. Mata Tiara terpejam menerima kecupan lembut kekasihnya Dia bisa mencium leher Gio yang beraroma maskulin.


"Aku ke lantai atas, ya. Aku akan sering-sering telpon nanti." ucap Gio. Tiara mengangguk lalu menarik kepalanya. Gio mengusap kepala Tiara dengan lembut, lalu memutuskan untuk pergi keluar dari ruangan itu.


Pintu kembali di buka dari luar.


Gio terlihat menyembulkan kepalanya disana, seperti enggan pergi dari ruangan yang sama dengan Tiara. Memang itu kenyataannya.


"Kalau rindu susul aku kae atas ya!" ucap Gio dengan nada tak rela, bukan sedikit tapi banyak, berharap jika Tiara tak menyuruhnya pergi ke ruangan yang berbeda.


"Pak Gio lakukan saja tugasmu!" ucap Tiara kesal. Gio tersenyum malas mendengar ucapan Tiara yang seperti itu, dia lantas menarik kembali pintu untuk di tutupnya.


Tiara kembali pada pekerjaannya.


"Tiara..."


Suara itu terdengar lagi. Masih dengan sikap yang sama seperti tadi, hanya kepalanya saja yang terlihat di sana.


"Jangan nakal ya. Jangan melirik pria lain. Aku tak suka kau seperti itu."


Astaga...


"Tiara, kau dengar aku kan?" Gio berkata sekali lagi, memastikan jika kekasihnya itu mendengar ucapannya. Siapa yang akan dilirik Tiara di kantor yang sepi ini? Dia hanya sendirian disini!


"Hei Tiara?! Dengar ap..."


"GIO ARIAN ADITAMA!"


Mulut Gio mengatup rapat. Dia tak lagi melanjutkan kata-katanya mendengar suara tegas Tiara yang juga terdengar kesal. Segera dia menutup pintu ruangannya dan dengan kesal pergi dari sana. Daripada dia dimarahi lagi oleh Tiara.


Haiss...biasanya aku yang suka marahi dia, kenapa sekarang dia yang lebiah galak? batin Gio merana.