
"Oke, kirim alamatnya sekarang!" aku mematikan telfon sepihak lalu bergegas pergi dari sana. Dua bodyguard setiaku menunggu di dekat mobil.
Hp ku kembali berbunyi.
'.....'
"Tidak bisakah kamu tahan mereka?!"
'Aku di usir dari sini nona. Dia juga membawa penjaga. Aku tidak bisa masuk ke dalam sana.'
Klik. Aku matikan hpku dengan perasaan kesal.
"Hotel XY. Cepat!" seruku. Mobil langsung berjalan keluar dari basemen. Jalanan sedikit ramai. Sial! Semoga saja masih sempat!
Kenapa aku bisa kecolongan seperti ini? Sial! Sial! Sial! Semua salahku. Kalau saja aku sedikit menurunkan egoku! Sial! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai itu semua terjadi pada kak Mel!
Kebetulan sekali Semuel menelfonku dengan nomor lokal. Apa dia ada di negara ini?
"Sam kamu dimana?" tanyaku langsung saat mengangkat telfonku.
'Hei, merindukan kakakmu? Aku baru saja turun dari pesawat!' sudah aku duga! Sangat kebetulan sekali! Hotel XY jaraknya lebih dekat dari bandara. Kebetulan yang sangat kebetulan, ehhhh... kok kata-katanya jadi aneh 🤔. Ah pokoknya Aku beruntung!
"Sam Hotel XY sekarang!" jeritku.
'Woww woww, just calm beib. Apa kamu sedang siapkan hadiah disana untuk menyambut aku?' dia tertawa. Kira-kira aku tahu, seperti apa raut wajahnya sekarang, pastilah dia sedang tersenyum dengan wajah aneh.
"Samuel, berhenti bercanda!" bentakku. "Kal Mel ada disana!" Aku seperti orang stress, menjerit dan berteriak pada Samuel di telfon.
'Harusnya kamu senang kan kalau memang dia seperti itu! Itu artinya kamu menang!' sindirnya.
OMG. Samuel. Kenapa dia menyebalkan seperti itu? Aku mematikan telfonku, dan karena kesal dengan Samuel aku malah membanting hpku ke lantai mobil. Sedetik kemudian aku menyesal kenapa juga harus membanting hp. Aku mengambilnya kembali beruntung hp ku baik-baik saja karena lantai mobil di lapisi karpet lembut, sehingga tidak langsung menyentuh lantai mobil yang keras.
Entah kenapa harusnya memang aku senang kan dengan kekalahan kak Mel, tapi sekarang aku marah karena dia memilih jalan yang salah, dan itu karena aku yang egois dan terlalu naif! Tadinya aku kira kak Mel akan sedikit memohon atau paling tidak dia meminta bantuan ku. Ternyata dia lebih memilih egonya. Kami sama-sama keras kepala!
"Jalanan sedikit macet nona!" Aku kesal. Bagaimana kami bisa lebih cepat sampai disana. Aku hanya berharap Sam mau membantuku. Sial! Nomor Sam malah tidak aktif! Apa dia tidak mau membantuku? Kak Mel, maafkan aku. Maafkan aku, semoga kakak baik-baik saja!
Akhirnya setelah perjalanan yang panjang. Kami sampai di hotel itu. Aku bergegas berlari menuju lift dan kemudian ke arah kamar yang di sebutkan orangku tadi. Di luar ada tiga orang yang berdiri tak jauh dari pintu, aku mengenali mereka. Mereka mengangguk hormat saat melihatku. Aku membuka pintu.
Terlihat di tepi ranjang kak Mel sedang duduk menangis. Dia memeluk selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Samuel berdiri bersandar pada jendela. Terlihat pula baju-baju yang berserakan di lantai, hingga dalaman pink teronggok disana. Salahku! Ini semua salahku!
"Kakak." Aku menghambur ke arah kak Mel dan memeluknya erat. Kak Mel menatapku dan kemudian menangis dengan keras, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku menatap Samuel meminta penjelasan.
"Sudahlah, jangan menangis. Untung aku datang tepat waktu! " ucap Samuel datar lalu pergi dari sana. Aku lega.
"Maafin Anye, kak. Maafin Anye. Kenapa kakak lakuin ini? Bagaimana kalau papa dan mama tahu kakak seperti ini?" tanyaku, tak terasa aku menangis.
"Tidak ada pilihan lain Anye. Aku harus selamatkan perusahaan papa."
"Dengan menjual diri kakak sendiri?" tanyaku tak percaya, aku menatapnya lekat, Kak Mel menunduk dalam-dalam. Air matanya mengalir dengan deras.
"Dia bilang akan membantu kami." lirihnya.
"Tapi bukan seperti ini caranya kak. Masih banyak cara lain, tapi bukan dengan kakak tidur sama bajingan itu!" aku berkata dengan emosi, tak menyangka kalau kak Mel akan melakukan hal serendah ini.
"Lalu harus bagaimana lagi Nye! Aku bingung memikirkan perusahaan. Itu impian papa sejak dulu! Tidak ada yang bisa membantu kami!" jerit kak Mel.
"Kenapa aku gak kenal dengan kakakku? Mana sosok kak Mel yang selama ini kuat dan pantang menyerah? Hanya karena aku mencabut semua milikku, dan kakak menyerah? Bahkan ini masih belum lama kak!" Ku tatap wajah kak Mel yang sembab. Kak Mel menangis sesegukan.
"Aku bingung Nye! Papa... papa sangat frustasi dengan keadaan perusahaan! Dan aku... sebagai putrinya satu-satunya tidak ingin melihat papa terpuruk!" Kak Mel menangis lagi. Bahunya naik turun akibat tangis yang hebat. Aku memeluk kak Mel erat. Rasanya sosok kuat nan tegar ini kali ini menjadi sangat, sangat rapuh.
"Maaf kan aku kak! Aku terlalu kejam dengan mengambil semuanya dari kalian." sesalku. Kak Mel menggeleng pelan.
"Semua karena aku kan? Ini hukuman karena aku sudah jahat sama kamu! Maaf. Maaf, Nye!" sesal kak Mel.