
Selesai makan aku mandi, berendam di dalam bathtub dengan air hangat di campur buble bath yang Devan beli kemarin. Aroma mawar!
Tok. Tok!!
"Anye, honey! Ini sudah satu jam, kamu tidak apa-apa?" tanya Devan dari luar. Handle pintu bergerak-gerak awalnya pelan lalu semakin kencang dan terdengar gedoran yang kencang dari luar. Aku segera menyelesaikan mandiku membilas tubuhku dengan air dari shower.
Devan bersama dengan dua pengawalnya, sepertinya bersiap untuk mendobrak pintu seperti dua hari yang lalu saat aku menenggelamkan diriku di dalam bathtub yang penuh dengan air!
"Apa yang kalian lihat!!! Pergi dari kamarku!!!" teriak Devan pada dua pengawalnya. Karena aku hanya memakai handuk menutupi dada hingga setengah paha. Segera keduanya pergi.
"Kenapa kamu membuka pintu?"
"Aku selesai mandi ya buka pintu dong! Kamu juga tadi mengetuk pintu kan?" lalu aku berjalan santai ke arah lemarinya dan memilih baju milik Devan. Kaos berukuran besar dan celana boksernya. Mengenai dalaman, aku membelinya online. Baju belum aku bawa dari rumah mama.
"Lain kali jangan buka pintu kalau ada mereka!" ucap Devan akhirnya.
"Mana aku tahu kalau ada mereka! Sana pergi!"
"Kamu usir aku?!" berangnya.
"Aku mau pakai baju, jadi kamu keluar!" ucapku mendorong dadanya. Devan menahan tanganku.
"Cium aku dulu!" ucapnya dengan senyuman jahilnya.
"Cium?" Devan mengangguk senang. "Tutup mata kamu!" Masih dengan senyuman di bibirnya Devan menutup matanya. Bahunya aku tarik hingga Devan condong ke depan dengan wajah yang sejajar denganku.
Perlahan aku melangkahkan kakiku ke arah kamar mandi dan menutupnya dengan cepat. Beberapa detik kemudian terdengar teriakannya memanggil namaku.
Malam semakin larut. Aku masih terjaga lalu keluar dari kamar dan mendekati Devan yang tertidur dengan damai di sofa.
Selama aku disini Devan tidak pernah memaksaku untuk tidur satu kamar dengannya. Dia cukup tahu diri dengan namanya dosa. Cukup sekali kami melakukannya malam itu. Ya walaupun peluk cium juga termasuk dosa karena bisa saja mengarah pada hal yang akan terjadi selanjutnya.
Wajah Devan selalu menenangkan. Apalagi saat dia tidur seperti ini. Bulu matanya lentik, aku pun kalah! Rahang tegas, hidung mancung, bibirnya tipis, alis tebal. Definisi tampan yang sesungguhnya menurutku.
Aku membelai keningnya yang tergurat luka. Hasil karyaku dua hari yang lalu saat aku marah dan melayangkan vas bunga dan tepat mengenai keningnya.
"Belum tidur?" tanyaku lalu menjauh. Tapi Devan menarik tanganku hingga aku terjatuh di pelukannya.
"Ada yang lupa sampai aku tidak bisa tidur!" lirihnya.
"A-apa?" jujur aku gugup. Entah kenapa. Mata Devan yang bersinggungan denganku membuat aku tidak bisa bicara atau melawan.
Cup.
"Sudah!" ucapnya lalu membelai bibirku yang tadi di ciumnya.
Devan terkekeh melihat aku masih diam.
"Selamat malam. Tidur yang nyenyak." ucapnya lalu kembali mencium keningku.
Aku bangkit tidak mau Devan mendengar detan jantungku yang tidak karuan.
"Sebentar." serunya lalu duduk, dan menarik pinggangku hingga wajahnya sejajar dengan perutku.
"Selamat malam baby boy. Jangan buat mom mu susah!" Lalu mencium perutku dengan lama. Semua perlakuannya membuatku merasa spesial dan bahagia. Bunga-bunga kembali bermekaran!
"Apa kamu yakin anak kita 'boy'?" tanyaku.
"Iya. Aku yakin sekali!" ucapnya lalu memeluk ku dengan telinga menempel di perut.
"Kenapa bisa yakin?"
"Entah. Tapi aku rasa anak kita boy!" ucapnya, lagi-lagi menciumi perut ku. Lalu sedetik kemudian menjauhkan kepalanya.
"Sudah sana, tidur. Aku takut akan terjadi hal yang aku inginkan kalau kita terus seperti ini."
"Dasar mesum!" Devan tertawa. Tawa yang baru aku lihat selama tiga hari ini.