
Selesai dengan acara belanja, Cantik dan Tiara makan malam di foodcourt yang ada di lantai atas. Mereka menikmati makanan yang ada setelah lelah dengan acara belanja, yang tadinya hanya akan membeli sebuah sepatu. Kini di kursi di samping mereka terdapat delapan tas karton, enam di antanya milik Cantik dan dua milik Tiara.
Ini sudah hampir jam delapan malam, entah nanti saat mereka pulang apa ibu akan marah atau tidak. Yang pasti Tiara tidak mau jika dirinya yang kena marah sendirian.
"Kau bilang hanya akan membeli sepatu?" Tiara kesal dan memasukkan makanannya ke dalam mulut. Cantik hanya tersenyum terkekeh dengan pertanyaan Tiara.
"Kau ini seperti yang bukan perempuan saja! Wajarlah kalau pergi ke mall melenceng dari niat awal, hehe ...."
"Huhh, dasar kau ini. Lain kali aku tidak mau menemanimu belanja lagi! Kakiku sampai sakit berjalan masuk keluar toko. Kenapa tidak sekalian saja kau borong isi mall ini!" cerca Tiara kesal.
Cantik lagi-lagi tersenyum meringis, tak peduli dengan cibiran temannya itu, yang penting dia puas hari ini.
"Oke, karena sore ini kau sudah menemaniku belanja, lain kali aku akan mengajakmu ke salon kecantikan! Bagaimana?" tanya Cantik seraya menatap Tiara, tak lupa dengan senyum manisnya agar Tiara tak lagi marah.
"Nah kalau itu aku setuju, bayarkan aku untuk lelahku hari ini!" ucap Tiara.
"Oke!" Cantik membentuk jari tangannya membulat. Mereka kemudian melanjutkan acara makan mereka sambil bercengkerama sampai makanan di depan mereka habis.
Keduanya keluar dari dalam mall yang sebentar lagi akan tutup.
"Ah...perutku... Aku berasa menjadi anak yang durhaka. Makan dengan enak tapi tidak memikirkan ibu!" sesal Tiara, meski di tangannya kini ada makanan yang dia beli untuk ibu.
"Kita memang anak durhaka! Lain kali ajak ibu sekalian. Kita, tiga wanita, akan bersenang-senang bersama!" tutur Cantik.
"Oke. Kau memang adikku yang paling baik!" ucap Tiara mencubit gemas pipi Cantik lumayan keras. Cantik menepis tangan Tiara yang sangat betah di pipinya.
"Sakit!" ucap Cantik seraya mengelus pipinya yang sudah memerah.
Tiara dan Cantik menunggu di tepi jalan, tak lama mereka mendapatkan taksi.
Hampir jam sembilan malam Tiara sampai di depan rumah, Tiara melambaikan tangannya ke arah Cantik yang kini tertinggal di dalam mobil.
"Aku akan banyak merepotkanmu besok. Bye!" ucap Cantik dengan wajah yang terlihat sangat menyebalkan.
Merepotkan ya? Tiara menggelengkan kepalanya. Ya... Cantik memang banyak sekali merepotkannya.. bukan repot sih, tapi dia anak yang manja!
Tiara melangkah masuk ke dalam rumah, tapi langkah kakinya terhenti saat dia mendengar suara sesuatu di balik pohon.
"Siapa?" tanya Tiara seraya mendekat ke arah asal suara. Di dalam hatinya terasa takut, dia meninggalkan ibu seorang diri di rumah, apakah ada maling? Atau perampok?
Takut sebenarnya, tapi Tiara tetap berjalan ke arah pohon itu.
"Hei... siapa disitu?" Tiara masih mendekat, dia membuka sebelah sepatunya dan dia angkat setara dengan kepalanya. Ujung yang lancip siap untuk menjadi senjata atas dirinya.
"Hei....!" tak ada suara. Tiara mendekat lagi, dia penasaran! Waspada dengan pergerakan yang mungkin akan tiba-tiba.
"Siapa disitu?!!" seru Tiara melompat ke balik pohon. Tak lupa dengan sepatu yang siap dia hujamkan jika memang benar adanya perampok atau pencuri.
Miauu....
Menarik nafas dengan lega, ternyata hanya seekor anak kucing. Tiara menegakkkan dirinya. Tiara mengusap bulir keringat yang sempat keluar dari pelipisnya.
"Kucing manis, kenapa kau ada disini?" Tiara mendekat, tapi kucing itu kemudian berlari menjauh sebelum Tiara berhasil menjangkaunya.
"Aku kira orang, Syukurlah itu hanya kucing." Tiara menatap kucing itu yang kini menghilang keluar dari pagar rumahnya.
Grepp....
"Aaakkhh...!!! Humptttt..."