DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel. part 9



"Eh, kok kamu turun juga?!" Renata heran saat aku mengikutinya turun dari bis.


"Aku antar kamu sampai kost-an."


"Tapi itu... bisnya..." menunjuk pada bis yang sudah pergi menjauh.


"Itu bis terakhir Xel!"


"Memangnya kenapa? Aku bisa pulang pakai yang lain!" ucapku santai. "Ayo tunjukkan jalannya. Sudah terlanjur sampai disini juga." Renata masih terdiam di tempatnya sampai aku menariknya untuk berjalan.


"Tapi kamu pulang pakai apa nanti?" tanya Renata lagi. Kami berjalan menyusuri gang yang kecil dengan pencahayaan remang.


"Itu masalah gampang. Aku bisa pesan ojek online, atau bisa tanya kalau kakakku bisa jemput."


"Aku jadi merepotkan." sesalnya.


"Tidak juga. Memang aku yang mau antar kamu kok! Jangan sungkan! Lagipula kamu itu wanita sebaiknya jangan pulang sendirian, apalagi lewat gang sepi seperti ini." meski dalam cahaya remang, bisa aku lihat kalau wajahnya tersipu.


"Kamu itu pintar bicara ya!"


"Pintar bicara apanya?"


"Aku bukan pintar bicara, tapi pada kenyataannya memang wanita tidak baik pulang sendiri. Kejahatan ada dimana-mana. Aku takut terjadi sesuatu kalau kamu pulang sendiri."


Kami terdiam, aku masih mengikuti sampai pada akhirnya kami telah sampai di depan kost-an Renata.


"Sudah sampai. Aku gak bisa tawarkan kamu untuk mampir, ini sudah malam. Gak apa-apa kan?" ucapnya merasa tak enak.


"Tidak apa-apa. Aku langsung pulang saja. Kamu masuk. Aku pulang ya!" ucapku, dia mengangguk.


"Iya. Kamu hati-hati. Trimakasih sudah antarkan aku!"


"Ok"!


Renata melambaikan tangannya dan masuk ke dalam, sedangkan aku kembali berjalan untuk pulang. Kembali menyusuri jalanan gang kecil yang sempit, mungkin hanya cukup untuk dua motor yang saling berpapasan.


"Sialan, kau! Aku baru saja pulang dari kantor dan harus menjemputmu? Besok bawalah kendaraan sendiri aku juga lelah mengurusi urusan kantor!" cerca Gio kesal. Matanya merah, dia bersungut sambil menyalakan mobil dan kemudian melajukannya.


"Hemmm." hanya itu jawaban dariku. Gio memang aku telfon saat di bis tadi untuk menjemputku disini.


"Bagaimana perkembangan kalian?" ku dengar dia bertanya.


"Ini baru tiga minggu, apa yang kamu harapkan? Aku menembak dia dan dia menerima begitu? Inginku sih begitu, tapi bagaimna dengan dia?"


"Coba kalau Renata seperti gadis lainnya, tanpa kamu kejar pun dia takluk sendiri."


"Itu lebih baik, sih. Tapi dia beda dari yang lain, dan aku harus berusaha keras untuk dapatkan dia! Bangunkan aku kalau sudah sampai. Aku capek!"


Terlalu lelah badan ini hingga aku tidak lagi bisa mendengar gerutuan Gio.


Axel pov end


...***...


Renata membaringkan dirinya di kasur lepek miliknya. Semua badannya sakit, pastilah karena beberapa hari ini dia lembur sampai malam. Terpaksa kalau tidak seperti itu bagaimana dia bisa mendapatkan uang lebih?


Hpnya bergetar di dalam saku celananya, di ambilnya dan dia lihat nama yang tertera disana.


Huffttt.... Menghela nafasnya yang berat.


Dia biarkan saja sampai panggilan itu mati sendiri. Rasanya sangat enggan mendengar suara itu. Membuat kepalanya semakin pusing saja.


Tring. Satu pesan masuk.


[Kau boleh tidak angkat telfonku. Tapi ingat perjanjian kita.]


Renata membuang hpnya ke atas kasur.


'Apa yang harus aku lakukan ayah, ibu?!' batin Renata dalam hati.