
Bab ini dan entah sampai bab berapa Author ingin menceritakan tentang Devan. Mohon maaf dulu deh kalau semisal tidak berkenan ✌.
*
*
*
Pov Devan Januar Aditama.
Sedikit flash back.
Sudah dua bulan ini aku menerima foto dari seseorang yang tidak aku kenal, foto berisikan Anye dengan beberapa pria, salah satunya saat makan di mall.
Aku geram. Belum lagi mama juga bilang pernah melihat Anye dengan pria lain. Bagaimana bisa dia selalu dalam pengawasan bodyguard.
"Justru dengan bodyguard mu itu dia berselingkuh!" begitu kata mama, aku hanya diam. Tidak percaya. Tidak mungkin! Anye bukan tipe wanita yang tidak setia. Dia mungkin sedang dalam masa remaja, mengingat usianya yang masih muda. Mungkin hanya sedang akrab dengan seseorang. Aku hanya menyimpan foto itu di dalam laci meja kerjaku.
Kiriman demi kiriman foto lain terus berdatangan via email, terakhir banyaknya foto dengan pengawal tidak tahu malu itu! Sekarang aku percaya kata mama. Mereka sangat terlihat mesra. Sedang berpelukan bahkan hampir berciuman di depan banyaknya orang! Dan di dalam kamar...oh ya Lord! Apa mereka bercinta? Hatiku panas, menangis. Di saat aku berjuang untuk mendapatkan yang terbaik untuknya dia malah bersenang-senang dengan pria lain?Jangan-jangan anak itu bukan...
Saat itu juga aku memerintahkan bawahanku menangkap pria itu jika dia sudah sampai kesini. Membawanya ke gudang kosong di tepi kota, mengikatnya. Cambuk dan pukulan, serta metode penyiksaan lainnya, ku akui dia pria yang tangguh!
Dia bilang ini semua hanya fitnah saat aku menunjukkan foto itu padanya. Tapi dia tidak memohon untuk meminta dirinya di lepaskan, dia hanya ingin aku mencari kebenaran untuk istriku, membawa nama mama di dalam kata-katanya. Besar juga rasa dia untuk istriku! Di ambang kematiannya dia masih menjelaskan hal itu!
"Menjijikkan! Demi apa kamu bicara seperti itu?"
"Anye gak salah Dev, semua itu rencana ibumu. Bahkan dia membayar orang lain untuk menjebak Anye!" teriaknya. Dia masih punya tenaga rupanya sampai masih bisa berteriak seperti itu padaku meski sekarang dia berada di lantai dengan tangan terikat dan tubuh penuh luka.
Cih... Berani sekali dia membuat fitnah! Membawa nama mama dan menyebutkan menjebak Anye. Dan apa itu, dia berani menyebut nama istriku?!
"Lalu apa bedanya kamu sama orang itu? Bukankah rencana kalian berdua telah berhasil? Kalau hanya untuk menjebak Anye, KENAPA BISA KAMU YANG ADA DI FOTO ITU HAHH!!!" teriakku emosi Aku mengeluarkan pistol yang ku selipkan di balik pinggangku. Tepat ku arahkan ke keningnya!
"Tuan, sebaiknya serahkan dia pada kami! jangan kotori tangan anda dengan darah tikus tidak berguna ini!" seorang bawahanku mendekat dan mengulurkan tangannya saat aku akan menembak langsung kepalanya. Oke, benar juga. Aku tidak boleh mengotori tanganku dengan darah 'sampah' ini!
Aku pergi, menyerahkan pistol ku padanya. Dia salah satu orang kepercayaanku. Terserah mau Bawa dia kemana, yang penting aku tidak mau melihat dia lagi!
Sampai di rumah. Istriku sudah terlelap. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan. Rasanya hati ini sakit sekali. Kenapa dia bisa melakukan ini padaku? Dia bermain dengan pria lain? Tidak kah cukup hanya aku saja? Jelas aku cinta dengan dia dengan segenap hatiku.
Aku mendekat dan mengulurkan tanganku, tapi ku tarik kembali saat terlintas bayangan di foto itu. Seketika yang ada rasa jijik. Dia telah bersama orang lain!
Tidak ingin emosi dan menyakitinya, lebih baik aku ke ruang kerja. Pekerjaanku sangat menumpuk akhir-akhir ini di tambah lagi dengan berhasilnya kerjasama dengan RA corp. dari Singapura. Fikiranku bercabang, antara pekerjaan dan urusan pribadi.
Ini sudah hari ketiga dimana aku masih diam. Anye begitu banyak bicara soal kapal pesiar, membuatku semakin kesal. Dia dengan riangnya terus bicara dan mengulang ingin kesana lagi dengan ku. Honeymoon.
Cihh bukannya dia sudah honeymoon dengan yang lain?
Setiap malam aku tidur di sofa, begitu enggannya tidur satu kasur dengan wanita yang sudah di jamah lelaki lain. Salahku, karena aku juga tidak percaya dengan perkataan mama dulu. Mungkin jika aku lebih tegas pada Anye dia tidak akan jadi istri yang durhaka. Mama bilang pernah melihat mereka masuk hotel, makan berdua di kafe. Dan puncaknya kemarin, saat mama membawa Anye ke kapal pesiar. Mereka licik! Menggunakan kesempatan dimana aku tidak ada untuk bersenang-senang!
Anye datang ke ruang kerjaku, dia membawakan kopi. Jujur aku sangat rindu dengan dia, tapi aku marah. Sangat!
Dia memijit pundakku, bilang kangen sekali padaku, bertanya kenapa beberapa hari ini aku tidur di sofa, dan bilang kalau anakku rindu elusan tangan ayahnya.
Ayahnya yang mana?
Aku menariknya kembali dan menuruhnya untuk tidur di kamar. Anakku atau bukan, dia sedang hamil harus banyak istirahat.
Aku pergi meninggalkan dia yang tertegun di samping meja kerjaku. Ini lebih baik daripada aku marah dan menyiksa dia. Tanganku sudah terasa gatal, dan panas. Aku harus mendinginkan otakku. Pergi ke bar. Meski sudah lama aku tidak minum tapi penghianatan Anye membuatku kembali menenggak minuman haram itu! Dan saat pagi aku terbangun di hotel. Pasti Seno yang bawa aku kesini.
Di sofa ada mama, dia duduk sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Dev!" teriak mama. Ini masih pagi ma.
"Kenapa kamu jadi seperti ini? Kan mama sudah bilang, Anye itu bukan wanita baik-baik dari dulu, tapi kamu gak pernah dengerin mama. Dia cuma mau harta kamu, dia cuma main-main sama kamu. Dia itu belum dewasa, fikirannya masih remaja, masih ingin main-main dengan yang lain. Mama tidak pernah lihat kamu minum-minum lagi sejak kamu bersama Melati. Tapi dengan Anye kamu jadi anak yang tidak menurut sama mama bahkan sekarang kembali mabuk. Dia bawa pengaruh buruk untuk kamu!"
"Ma, sudah lah. Ini masih pagi! Kepalaku pusing!" ucapku sambil duduk memegangi kepala.
"Kenapa kamu masih membela dia. Segitu cintanya kamu sama dia sampai membangkang mama?" Nada suara mama naik satu oktaf.
"Dev, setelah anak itu lahir kamu harus ceraikan dia. Mama sih berharap kalau bisa sekarang saja kamu buat surat cerai, sayangnya dia pasti akan berkelit dan menggunakan alasan kehamilannya itu yang entah anak siapa. Berani-beraninya dia berkhianat dengan kaum rendahan. Tapi mereka cocok, sama-sama dari kaum bawah. Dia sama sekali tidak cocok sama kamu Dev. Mama sudah bilang dari dulu, kalau kamu sama Melati kamu pasti tidak akan di hianati!"
Kepalaku pusing mendengar ocehan mama.
"Ma, pulang saja. Aku akan selesaikan masalahku sendiri!" aku bangkit dan pergi ke kamar mandi. Tidak peduli mama memanggilku dan masih ingin bicara.
Hari ke-tujuh. Anye mengajakku bicara saat kami sedang makan malam. Bertanya kenapa sampai aku seperti menjauh darinya. Mungkin dia sudah tidak tahan aku diamkan selama seminggu ini. Dia terlihat kacau, sedih, bahkan tidak terlihat berselera makan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya capek." jawaban seperti itu yang selalu aku katakan. Aku sedang mencoba menenangkan diriku sekarang.
Selesai makan malam, aku ke ruang kerja, tak lama Anye menyusulku. Tanpa banyak basa basi aku melemparkan amplop coklat berisi beberapa lembar foto yang sudah di cetak. Dia terkejut melihat foto-foto itu. Matanya basah. Dia menyangkal telah berselingkuh. Tapi bukti nyata di tangannya bagaimana dia menyangkalnya?
Mabuk?
Bisakah di percaya? Dia sedang hamil! Lalu saat di mall makan berdua?
Aku marah, geram, mencengkeram pipinya lalu mencekik lehernya hingga ku lihat dia sesak nafas. Aku benar-benar marah, hingga tak sadar apa yang aku lakukan. Melucuti semua pakaiannya. meneriakkan kata-kata yang tidak pantas. Dan aku menggaulinya dengan kasar.
"Dev, sakit..." begitu dia bilang. Hatiku lebih sakit saat melihat foto-foto itu!
Gelas yang ada di atas meja terjatuh dan pecah, aku tidak peduli. Anye milikku. Hanya milikku. Aku akan menghapuskan semua yang sudah di lakukan pria brengsek itu dari tubuh istriku.
"Dev..." wajah Anye pucat. Suaranya parau menambah seksi dan membuatku bergairah dalam lingkup amarah. Aku terus bergerak liar, membalikkannya hingga tubuhnya menelungkup di atas meja. Ku angkat satu kakinya dan menyimpannya di atas kursi. Menusuknya dari belakang. Semakin lama semakin nikmat tak peduli Anye berteriak dan mengatakan sakit karena perutnya membentur meja.
Aku menariknya hingga dia berdiri, tak melepaskan penyatuan kami. Ku pegangi kedua tangannya untuk menahan dirinya di tepian meja memberi jarak agar tidak membahayakan kandungannya. Dia menangis memohon untuk di lepaskan, sakit, dan meracau apapun. Aku tidak mau mendengar! Aku terlalu marah dan sudah terlanjur bernafsu.
Apakah saat bersama orang lain dia juga bilang seperti ini, atau malah mendesah nikmat? Arrgghhhh!!! Memikirkan itu aku semakin tidak terima.
"Dev, aku mohon Dev, sudah. Sakit!" teriak Anye saat aku semakin liar.
"Tidak! Dengan pria lain kamu bisa mendesah nikmat kenapa tidak dengan suamimu sendiri?" Semakin cepat. Aku hampir mendapatkan pelepasanku.
"Dev...ini sakit..." merintih. Aku mendekatkan diriku pada tubuhnya dan menggigit pundaknya, gemas. Semakin mempercepat tempo hingga aku mendapat pelepasanku.
Anye kembali ambruk di atas meja, menahan dirinya agar tidak jatuh. Dia menangis. Aku melepaskan milikku, tak peduli dengan sisa percintaan kami yang mungkin berceceran di lantai.
"Jangan berani macam-macam dengan ku Anyelir!" Aku pergi ke keluar, tidak ingin berlama-lama disana yang membuat aku ingin menerkam dia lagi.