DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 141



Di sebuah hotel, acara pernikahan yang megah sedang berlangsung. Lobi di sulap menjadi indah dengan banyaknya hiasan dan juga karangan bunga ucapan selamat berbahagia.


Sebuah aula besar juga di hias dengan sangat mewahnya, nuansa serba putih dari berbagai bunga dan juga kain-kain panjang yang menjuntai di dinding atau pun dari pilar besar hotel itu terlihat sangat indah dan juga elegan. Meja-meja dengan bentuk bundar lengkap dengan kursi yang telah di tata rapi di setiap sudut yang ada. Apalagi panggung pelaminan, itu adalah pusat tujuan utama para tamu untuk menyaksikan dimana dua insan telah mengikat janji.


Singgasana yang indah. Bunga mawar pink dan juga putih menambah kesan indah tersendiri bagi semua mata yang melihat. Sepasang pengantin yang sedang berdiri dan menyambut para tamu yang datang terlihat sangat tampan dan juga cantik dengan balutan gaun putih dan juga tuxedo berwarna senada dengan gaun putih tersebut. Senyum terulas di bibir keduanya. Senyum bahagia karena kini mereka telah bersatu setelah menghadapi ujian dan juga cobaan yang berat. Apapun ujiannya, yakinlah bahwa itu hanya sedikit hambatan yang akan mengantarkan kita pada kebahagiaan.


Axel tersenyum senang, melirik ke arah Renata yang berdiri di sampingnya berkali-kali. Seakan dia takut jika mengalihkan sedikit saja pandangannya dari sana, gadis itu akan menghilang lagi seperti dulu. Renata sedang menyapa salah satu rekan kerjanya yang datang untuk mengucapkan selamat atas pernikahan keduanya.


Senyum Renata tersungging indah. Kadang Axel sebal, dia tak suka Renata terlalu bayak tersenyum pada tamu yang datang. Kalau sesama perempuan sih tak apa, tapi tamu lelaki jangan lah senyum selebar itu pada mereka. Axel sebal jika para tamu lelaki memandang istrinya terlalu lama. Dia tak suka pandangan mereka yang terpesona dengan kecantikan istrinya. Dia berharap pesta ini cepat selesai dan rasanya dia ingin mengarungi Renata, memanggulnya bak penculik dan membawanya ke kamar pengantin mereka.


Tapi dia tak bisa melakukan itu, buan? Dia harus menyambut para tamu yang datang di hari pernikahan mereka.


"Sayang." Panggil Axel lirih saat tamu itu sudah turun dari panggung pelaminan. Renata memutar kepalanya sedikit, menatap wajah Axel yang kini setengah cemberut.


"Iya?"


"Aku gak suka kamu tersenyum terlalu lebar pada para tamu lelaki yang datang." rajuk Axel. Renata menatap lamat mata Axel.


"Memangnya kenapa? Mereka tamu yang datang untuk kita masa aku gak sambut mereka dengan baik?" Renata sedikit protes. Axel terlalu pencemburu hingga senyum saja dia tak boleh. Padahal mungkin mereka sengaja atau terpaksa menyempatkan waktunya yang sibuk untuk datang hanya untuk memberikan selamat pada mereka berdua.


"Tapi aku tak suka. Lihat tatapan mereka sama kamu, aku gak suka mereka melirik kamu sambil tersenyum seperti kambing. Tatapan mereka genit!" menekan nada di akhir kalimatnya dengan nada tak suka.


Renata membuka mulutnya tak percaya. Axel baru saja membandingkan para tamu itu dengan... ya ampun!


"Axel jaga bicara kamu! Aku tahu kamu gak suka, tapi please cemburu juga ada batasannya. Ini hari yang membahagiakan untuk kita berdua jangan sampai hanya karena ini kamu menjadi cemburu buta." Renata mulai kesal. Pria ini benar-benar seperti anak ABG yang baru merasakan cinta pertama.


Axel memberengut sebal, memang benar apa kata Renata, tapi dia sungguh tak suka dengan tatapan para pria yang di tujukan pada istrinya. Akh... dia sedikit menyesal. Harusnya dia tadi meminta MUA untuk merias Renata biasa saja, tak perlu di jadikan wanita dengan kecantikan luar biasa bak bidadari yang turun dari kahyangan.


"Aku kan hanya tak suka dengan tatapan mereka. Mereka seperti melihat mangsa lezat saat melihat kamu." Axel kembali memberengut bak anak tk yang sedang protes. Dia menunduk menghindari pelototan Renata yang terlihat tak suka. Menyeramkan jika wanita itu sudah melotot seperti itu.


Renata menghela nafas. Menahan kesal yang ada dalam dirinya, kemudian dia tersenyum, merasa lucu dan juga ingin tertawa melihat tingkah Axel yang seperti itu. Mirip seperti papa Devan. Ya, dia pernah melihat papa berlaku seperti itu pada mama beberapa kali. Sepertinya sifat Axel yang satu ini menurun dari papa. Tak seperti Kak Daniel yang lebih bersikap dingin tak tersentuh mirip dengan mama.


Jika biasanya anak pertama lebih mirip dengan papa, tapi Axel dan Kak Daniel berbeda. Axel-papa. Kak Daniel-mama. dan Gio... sepertinya pria itu lebih pada keduanya. Tapi dia juga tak begitu mengenal Gio dengan baik, pria itu seperti menjaga jarak dengan dirinya. Sulit untuk di sentuh dan di dekati. Mungkin karena dia pernah merasakan trauma terhadap wanita jadi dia menjaga jarak kecuali dengan mama. Eh tapi tunggu. Lalu apa kabar dengan Tiara?


Renata memegang tangan Axel dan mengelus punggung tangan pria itu dengan lembut. Dia menggoyangkan tangan Axel supaya pria itu menatap dirinya.


"Xel, Sayang. Honey ku." panggil Renata dengan lembut membuat yang di panggil mengangkat kepalanya.


Renata mengulum senyum. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi Axel dan menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.


"Ayo tersenyum. Yang ikhlas. Jangan cemberut begitu. Kau jauh lebih tampan jika tersenyum."


Axel pura-pura memasang wajah cemberut, dia suka saat Renata memperlakukannya dengan manja seperti ini. Lalu dia menarik kedua sudut bibirnya lebar-lebar.


"Janji ya. Lain kali jangan tersenyum lebar pada mereka, siapapun itu. Aku hanya mengizinkan mu untuk senyum dua detik pada pria lain, meski sebenarnya aku gak rela!" Axel mencebik sebal saat mengatakan hal itu. Dia memegang tangan Renata yang ada di pipinya. Renata tersenyum geli mendengar permintaan lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya itu. dia tersenyu dan kemudian mengangguk mengiyakan. Axel mengambil tangan Renata dan mencium telapak tangannya dengan sayang.


Semua perlakuan manis kedua pengantin itu terlihat oleh seorang gadis yang kini meremas gaunnya dari kejauhan. Matanya sudah memerah menahan sesak di dada. Dia melipat kedua bibirnya yang tipis ke dalam, mencoba untuk menahan diri dari sesuatu yang kini terasa panas dan berdesakan ingin keluar dari mata cantiknya.


Dia tak tahu, dia sudah mencoba merelakan Axel untuk wanita itu, tapi hatinya tetap saja sakit, perih, bagai sesuatu yang ada pada dirinya di ambil paksa oleh orang lain. Ya, gadis itu yang mengambil Axel dari dirinya.


Ia ingat hari itu, saat Axel menjemput dirinya dari bandara dan mereka mampir ke kafe. Harusnya dia tak mengatakan soal Axel yang mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama. Harusnya dia diam saja pada saat itu. Bodoh, bukan? Dia seperti menyodorkan daging pada seekor singa untuk di lahap.


Tiana mencoba menguatkan diri. Dia sudah mencoba merelakan pria itu. Berpikir jika dia mungkin memang bukan jodohnya. Ah tapi tetap saja hatinya ini sakit!


"Mau aku temani di luar?" Tiana mengenal betul suara siapa itu. Dia tak ingin menoleh. Tepatnya dia tak ingin terlihat cengeng oleh pria beku itu.


"Tidak perlu. Aku akan pulang saja!" Tiana berucap dengan ketus. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah lain meninggalkan Gio yang terdiam menatap punggungnya.


Tiana berjalan tanpa melihat keadaan sekitar hingga dia tak sengaja menabrak Daniel, putra sulung Anye dan Devan.


"Tiana, mau kemana kamu?" Daniel bertanya setelah menahan laju langkah kaki gadis manis itu.


"Aku lelah, Kak. Aku mau ke kamarku." pamit Tiana pada Daniel, tak lupa dengan senyum palsu yang ia pasang di wajahnya. Dia kembali melangkah kan kakinya ke arah lain. Sedangkan Axel kembali melanjutkan langkahnya ke arah dimana putrinya berada.


Melati dan juga Anyelir sama-sama menatap ke arah anak-anak mereka. Melati tahu pasti bagaimana keadaan hati Tiana saat ini, tapi apalah daya jika Axel tak pernah mencintainya. Axel hanya menganggap Tiana seperti adiknya dan hal itu tak akan pernah berubah.


Gio melangkahkan kakinya untuk menyusul Tiana. Meski gadis itu mengatakan untuk ingin sendiri tapi Gio cukup khawatir dengan dia.


Angin berhembus dengan kencang, menerpa tubuh Tiana yang lelah, sebenarnya yang lelah itu hatinya saat ini, tubuh hanyalah alasannya saja supaya dia bisa keluar dari dalam ruangan yang hanya menambah luka di hatinya.


Tiana duduk bersandar pada tembok, dia tak peduli dengan gaunnya yang kotor karena duduk di lantai yang penuh debu. Dia duduk sambil melipat kedua kakinya, menumpukan kedua tangan pada lututnya, dan menenggelamkan kepalanya disana, menangis tersedu tanpa khawatir akan ada yang tahu dengan keberadaan dirinya. Semua orang sedang menikmati pesta di bawah sana. Tak akan peduli dengan keadaan dirinya yang seperti ini.