DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 148



Ken mendekat pada adiknya yang kini tengah menangis di taman. Rasanya kasihan juga melihat adik satu-satunya menagis karena patah hati, tapi akan lebih baik seperti ini, daripada nantinya rasa cinta Alea semakin besar pada pria itu sedangkan pria beku yang kini mulai mencair itu tak pernah mencintainya sama sekali.


"Kakak jahat!" Alea mencerca kakaknya saat Ken mengatakan yang sejujurnya bahwa Gio tak pernah meliriknya sama sekali. Dia mengusap wajahnya yang basah dengan air mata. Ken mengeluarkan sapu tangan yang selalu ia bawa di dalam saku bajunya. Memberikannya pada Alea.


"Sudah lah Le. Dia tak pernah mencintaimu sedari dulu. Dia hanya menganggap kau adik dan tak akan pernah lebih!" Ken mencoba mengatakan kenyataan yang ada.


"Pria beku itu tak akan mudah mencintai orang lain, dan kakak tahu kalau dia suka dengan Tiara. Jika ini tak di hentikan sedari sekarang lalu bagaimana nanti jika kau tak bisa membendung perasaan hati mu lagi?" Ken mengusap kepala Lea dengan sayang. Hatinya ikut merasakan sakit saat melihat Alea.


"Kakak juga suka dengan Tiara, kan? Lalu kenapa kakak membiarkan dia dengan Gio. Kalau kakak bersama dengan Tiara tentu aku yang akan bersama dengan Gio!" jerit Alea. Dia tak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat ke arahnya. hatinya sedang terluka sekarang.


Ken menarik nafasnya pelan lalu menghembuskannya dengan kasar.


"Le, aku memang dari dulu mencintai Tiara. Tapi sama dengan Gio yang menganggapmu adik, Tiara juga hanya menganggapku kakak. Tidak lebih. Dan kita tak akan pernah bisa mengubah persepsi mereka dengan mudah. Mengertilah. Jika ini di paksakan maka akan ada hati yang terluka, bukan hanya kita, tapi juga dengan mereka." Ken berkata dengan bijaknya. Dia tahu sangat berat melepaskan Tiara, gadis yang sedari dulu disukainya, tapi apalah daya jika gadis itu memiliki pandangan dan ketertarikan meski dalam perkataannya ketus dan kesal dengan pria itu.


"Hikss..." bahu Alea naik turun, dia tetap tak terima dengan apa yang dikatakan kakaknya meski itu memang benar. Dia sangat menyukai Gio saat pertama kali mereka bertemu.


Ken mendekatkan dirinya, melingkaran lengannya melewati punggung sang adik, dan mengambilnya ke dalam pelukan.


"Biarkan mereka berbahagia. lagipula, apa kau tak kasihan dengan sahabatmu itu? Dia selama ini selalu membantumu dan selalu mengalah padamu. Apa kau ingat saat itu? Saat kalian pertama masuk kuliah dan kau suka dengan seorang lelaki? Tiara menyukai dia, tapi dia mundur karena kau juga suka dengan pria itu. Dia menolak pria itu hanya karena kau juga mencintainya. Ah, kau tidak pernah mencintainya, au hanya membuatnya sebagai pelarian semata. Tiara mengatakan kalau dia sudah bertunangan. Kau ingat saat itu tidak? Aku sampai kaget saat mendengar dia punya tunangan." Ken tertawa kecil. Mengingat masa lalu, dia sampai marah-marah tak jelas dan kemudian menculik Tiara dari rumahnya untuk menanyakan hal itu.


Alea menjauhkan dirinya dari Ken, dia menatap sang kakak dan mencari kebohongan disana. Tak ada.


"Jadi saat itu dia mengatakan pada semua orang dia sudah bertunangan karena aku suka dengan Romi?" tanya Alea sekali lagi ken tersenyum dan juga mengangguk mengiyakan.


Alea merasa dirinya jahat. Tiara tak mudah menyukai seseorang dan saat itu dia malah membuat sahabatnya mundur. Dia jahat sekali, bahagia di atas penderitaan sahabatnya sendiri, padahal dia melakukan itu hanya untuk pelarian perasaannya dari seorang Gio Arian Aditama.


"Aku jahat. hhu.... kenapa kakak tak pernah bilang padaku kalau Tiara melakukan itu..." Alea menagis dengan kencang, kembali menubrukan dirinya pada tubuh kakaknya. Dia ingat saat bertanya pada Tiara dulu, Tiara hanya ingin terfokus dengan kuliahnya dan tak ingin berpacaran dengan siapapun. dan cara itu berhasil meski tak semua pria menjauh dan meninggalkan Tiara setelah mendengar kabar itu.


Ken membiarkan Alea menagis di dalam dekapannya, tak peduli dengan kemejanya yang kini sudah basah. Hati yang tengah terluka ini butuh untuk di obati meski dia bukan obat yang tepat.


...*...


Tiana menjatuhkan dirinya dengan kasar ke atas kasur. baru saja tadi pagi hatinya terluka, kini hatinya harus kembali kecewa dengan kenyataan yang ada. Gio telah menyatakan perasaanna pada seorang gadis. Lagi-lagi dia kalah dengan gadis yang baru saja masuk ke dalam kehidupan pria yang selama ini dekat dengannya. Takdir tak pernah adil! Dalam satu hari ini dia harus merasakan dua kali patah hati!


"Hiks... kenapa ini terjadi lagi? Tidak ada satu orang pun yang sayang dengan aku! Tidak ada!" Tiana membenamkan dirinya ke bantal, membiarkan bantal itu menyerap air matanya yang sedari tadi tak mau berhenti mengalir.


"Ana, sayang!" suara sang ibu mendekat dan duduk di sampingnya. Dibelainya rambut putrinya dengan sayang. Dia merasa iba dengan putrinya ini. Selama ini tahu akan perasaannya kepada Axel, namun kali ini ia menangis kembali setelah mendengar Gio mengatakan mencintai gadis lain. Apakah putrinya ini diam-diam sudah merelakan axel dan beralih hati menyukai Gio?


"Ana." panggil Melati sekali lagi. Tiana mengangkat kepalanya dari bantal, dengan punggung tangannya dia mengusap sisa air mata yang masih saja mengalir.


Menahan isakan yang ada dalam dirinya, Tiana kemudian bangkit sambil menunduk dalam, tak ingin sang ibu tahu dengan kesedihan dirinya, meski itu percuma. Tak ada seorang ibu yang tak tahu dengan apa yang terjadi pada putrinya.


"Hei. Sudah cukup selama ini Ibu melihat kamu menahan diri. Sini. menangislah. Menangis di pelukan Ibu!" Melati membuka tangannya lebar-lebar. Tiana mengangkat wajahnya memandang sang Ibu yang kini tersenyum dengan lebar. Namun, dia jelas tahu jika itu adalah senyum duka atas luka yang diderita putri satu-satunya ini.


"Ibu... huuu... hatiku sakit!" Tiana mendekat ke arah ibunya dan memeluknya dengan erat. Akhirnya Tiana mengungkapkan apa yang dia rasakan setelah selama ini dia hanya diam. Tiana tak pernah mau bercerita tentang perasannya. Tak pernah dirinya mengadu dengan apa yang dia rasakan. Tak pernah mengatakan siapa pria yang dia suka, yang dia cinta. Tak pernah mengeluh sakit hati atau hanya cemburu. Putrinya yang kuat kini terlihat rapuh. Dia lebih kuat dari dirinya dulu.


Tiana. Beruntung dia memiliki sifat kuat yang diturunkan oleh Alex sang ayah.


Melati mengusap kepala Tiana dengan syang. Dia tahu semua yang di alami putrinya. Perasaan seorang ibu sangat tajam. Di saat putrinya bahagia, apalagi kini dia sedang terluka.


.


.


.


.


.


Kalau bahas soal kasih sayang ibu membuat othor jadi cengeng.


"Mah. Enci kangen, Mama."


Ingin lihat mama meski hanya dalam mimpi."


Doa terbaik buat mamah, semoga tenang di sisiNya. Di tempatkan di surgaNya. Aamiin


😭😭😭😭