
Tiara baru saja turun dari taksi, dia menatap sekelilingnya. Keadaan rumah terlihat ramai oleh beberapa orang. Dia heran tak biasanya rumah ramai seperti ini. Tunggu... barang-barang rumahnya kenapa banyak yang ada di luar? Dan kenapa ada yang mengangkutnya ke dalam mobil? Apa yang terjadi? Seingatnya dia dan ibu sudah melunasi hutang pada rentenir itu, apa masih ada debu yang luput dan membuatnya menggunung lagi?
"Ibu!" teriak Tiara menghambur ke dalam rumah. Tiara hanya melihat beberapa pria disana sedang melakukan pembersihan dan juga mengangkut barang yang lain.
"Eh, ada apa ini? Kenapa semua di keluarkan? Mau di bawa kemana barang-barang ini?" tanya Tiara pada salah satu pria yang sedang mengangkut Tv miliknya.
"Maaf, Mbak. Kami hanya melakukan perintah bos!" Pria itu menjawab lalu berjalan dengan cepat ke arah luar, begitu juga dengan yang lain. Mengangkut barang-barang yang lain juga keluar, termasuk lemari usang yang sudah lama tak berpindah dari tempatnya. Debu-bedu tebal terlihat di lantai saat lemari itu terangkat ke atas.
Tiara kemali berjalan dia mencari ibu. Orang-orang itu tidak memberinya jawaban mungkin ibu bisa memberinya jawaban atas pertanyaannya ini.
"Ibu!" mencari ke kamar ibu, tak ada. Dia juga ke belakang rumah, tetap tak ada ibu, malah ada beberapa orang yang sedang merubuhkan gudang.
"Apa yang kalian lakukan?" teriak Tiara saat orang-orag itu dengan palu gada menghantam tembok gudang yang kini rubuh ke lantai semen.
"Kami hanya di perintah bos, Mbak. Tolong Mbak mundur, beri ruang untuk kami." ucap Pria dengan palu gada itu.
"Maksudnya bos siapa ini?" tanya Tiara masih bingung.
"Maaf, Mbak. Bos sedang ada perlu diluar. Tolong Mbak menjauh dari sini, bahaya!" ucapnya. Barang sudah di angkut keluar, gudang juga dirobohkan. Ada apa sebenarnya ini?
"Tiara?" suara orang yang ingin dia temui terdengar dari belakang. Tiara memutar kepalanya. Ibu berdiri di ambang pintu dapur. Segera dia mendekat ke arah ibu.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa banyak orang disini? Hutang kita pada bank dan juga rentenir sudah lunas, kan? Kenapa masih ada orang yang datang kemari?" Tiara dengan pertanyaan memberondongnya. Perasaanya sudah takut sedari tadi.
"Kamu ini tenang kenapa, sih? Memang kamu gak tahu kalau ini atas perintah Pak Gio?" Tiara langsung terdiam saat mendengar nama pria itu di sebut.
"Saya yang menyuruh pekerja proyek datang kesini!" Suara pria itu terdengar membuat Tiara dan juga ibu menoleh bersamaan. Pria itu hanya memakai baju kemeja putih yang sama dengan tadi siang. Dia membawa kantung kresek di tangannya dan berjalan ke arahnya. Dengan satu tolakan tangan besarnya membuat Tiara bergeser dari jalannya dan membiarkan pria itu lewat.
"Buat makan malam. Tolong lakukan saja semua yang kalian bisa, tapi jangan sampai mengganggu tetangga. Jangan membuat berisik disini!" ucap Gio sambil menyerahkan kantung kresek berisi makanan itu.
Tiara tersadar, lalu dia mendekat ke arah Gio dan tanpa permisi menarik tangan pria itu. Berjalan melewati ibu yang kini hanya mesam-mesem meihat mereka berdua.
Tira membawa Gio ke halaman depan rumah. Barang-barang yang tadi ada di luar kini entah kemana.
"Pak gio... Ini maksudnya apa sih? Datang ke rumah dan angkut-angkut, main hancurkan rumah orang sembarangan!" tegur Tiara.
Gio menatap Tiara dengan tatapan yang etahlah...
"Loh bukannya kamu tadi sudah setuju?"
"Setuju apa?" bingung.
"Kamu tadi pilih gambar yang nomor dua, kan?"
"Yang tadi siang. Saat aku ajukan gambar rumah itu. Kamu bilang nomor dua kan? Sudah setuju, kan?" tanya Gio.
Tara mengusap wajahnya dengan kasar. Ya ampun! Ternyata dia memilihkan rumah bukan untuk Gio, tapi untuk rumahnya sendiri!
"Tap... ini... Aduh.... Astaga. Apa yang harus aku sampaikan ini?" Tiara bingung sendiri.
"Maksud bapak apa sih, pakai acara ingin membangun kembali rumahku?" Akhirnya hanya itu yang bisa dia tanyakan.
"Aku gak ada maksud apa-apa. Hanya ingin mengubah sedikit saja disini. Aku tidak mau tempat tinggal asistenku terlihat buruk, bagaimana nanti kalau ada tamuku yang ingin datang dan berkunjung ke rumahmu? Rumahmu sangat buruk. Kalau dia membatalkan kerjasama dengan kita kamu mau tanggung jawab?" taya Gio.
Rahang Tiara terjatuh ke bawah. Alasan bosnya ini tidak logis! Mana ada tamu bos atau relasi lainnya akan datang ke rumah asisten? Yang ada terlebih dulu mereka akan berkunjung ke rumah bos, dan itu jarang sekali. Palingan mereka bertemu di restoran, hotel atau tempat yang lain!
"Bapak jangan ngadi-ngadi deh! Mana ada tamu atau relasi Bapak dan Pak Axel yang datag kemari" Tiara mengusap wajahnya kasar.
"Ngadi-ngadi apa? Memangnya kamu gak tahu kalau kemarin ada relasi ku yang bawa anaknya dan ingin menitipkannya sama kamu? Aku mana izinkan dia buat anaknya menginap disini, dia gak akan terbiasa dengan rumah angker seperti ini." tutur Gio menunjuk rumah tua di hadapannya ini.
"Oh ya, mengenai biaya renovsi rumah kamu jangan khawatir. Kamu bisa potong gaji dan melunasi biayanya sampai enam sampai tujuh tahun tahun bekerja di perusahaan, jadi jangan malas-malas bekerja ya!" tuturnya santai menunjuk tepat ke hidung Tiara, lalu memutar tubuhnya dan melangkah dengan cepat ke dalam rumah.
Tiara syok mendengar hal itu. Pertama, dia pulang dan rumah dalam keadaan ramai. Kedua, barang-barang di angkut orang asing. Ketiga, gudang di hancurkan. Dan keempat, tanpa meminta persetujuannya bosnya ini main renovasi rumahnya dan dia harus terjebak sampai enam atau tujuh tahun ke depan? Gila! Kenapa ada bos semacam ini?
"Pak Gio!" teriak Tiara menyusul langkah kaki Gio. Dia harus melakukan protes. Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar. Enak saja! Rencana ingin terlepas dua tahun lagi harus gagal.
"Gak bisa gini dong, Pak. Saya kan gak pernah setuju untuk ini semua. Bapak jangan seenaknya saja." tiara menarik tangan Gio hingga langkah kaki pria itu berhenti.
"Tapi kan kamu suka gambar yang tadi pagi kan?"
"Suka, tapi saya kirai itu rumah buat bapak, bukan rumah buat saya!" protesnya. Ini harus segera di hentikan, dia tak mau terjebak selama enam atau tujuh tahun dengan bos gila ini.
"Dan sudah terlanjur bagaimana? Kamu gak kasian dengan para pekerja yang ada disini? Mereka sedang mencari nafkah buat anak dan istri loh! Kalau pembangunan rumah ini di hentikan mereka akan menganggur!"
"Tapi rumah ini juga belum di rubuhkan, hanya baru gudang gak masalah!" ucap Tiara keukeuh.
Gio hanya mengangkat bahunya tak peduli.
"Aku sudah memutuskan dan kamu tidak bisa mengubah keputusan ku!" ucap Gio dingin lalu segera masuk ke dalam rumah.
Entah Tiara harus bagaimana. Senangkah? Sedih kah? Suka kah? Ughhh...! Ingin berteriak tapi ini sudah hapir malam, lagipula disin juga banyak orang.
Bos Gila. Sinting. Tukang Atur.