
Berkali-kali aku menatap pintu itu. Lampu di atas sana masih menyala. Beberapa dokter terbaik sedang berjuang untuk menyelamatkan nyawa Devan.
"Minum!" Seseorang menyodorkan gelas berisikan minuman berwarna coklat, wanginya enak tapi aku merasa tidak selera untuk makan ataupun minum.
"Aku tahu kamu pasti akan menolak untuk makan, jadi minumlah ini. Habiskan." Aku menerima gelas itu. Minuman sereal dengan rasa coklat sama sekali tidak bisa mengalihkan fikiranku dari ruangan dengan penuh pisau bedah dan alat medis itu.
"Tenang saja. Dokter pasti bisa menyelamatkan Devan. Dia bukan orang yang lemah." tutur Samuel.
"Tapi kata dokter... Devan... dia..." Akhirnya setelah beberapa lama aku menahan sesak di dada ini tangisku pecah juga. Aku tidak bisa meneruskan kata-kataku. Samuel mendekatkan dirinya dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Membiarkan air mataku membasahi bajunya.
"Tenang saja. Meskipun dokter bilang dia kritis, tapi aku yakin Devan punya semangat untuk hidup. Tahu tidak, dia yang paling khawatir saat mendengar kamu di culik? Aku yakin dia akan bertahan untuk kamu dan Daniel." Samuel menepuk punggungku lembut.
Daniel. Maafkan mama, karena mama, papa kamu jadi...
Aku terisak kuat. Mengeluarkan rasa sesak di dada ini. Bahkan Daniel belum pernah bertemu dengan ayahnya!
"Maafkan aku. Aku sudah ingkar janji sama kamu. Devan memaksaku untuk melihat foto Daniel. Dia senang sekali, dia bilang seperti melihat gambaran dirinya sewaktu kecil. Dan dia sangat ingin sekali berkenalan dengan anak bandel itu!" Samuel tertawa kecil.
Suara derap langkah kaki terdengar dan berhenti tepat di depan kami.
"Anye!" aku mengangkat kepalaku. Sofia, Nanda, dan Nayara, berdiri di depanku. Samuel menggeserkan tubuhnya memberikan ruang untuk kami.
"Devan. Dia... dia..." tetap saja aku tidak bisa berkata apa-apa. Hanya tangis yang keluar dari mata ini tidak bisa berhenti. Aku payah! Ketegaranku selama lima tahun ini menghilang karena Devan yang menghalangi laju peluru yang mengarah padaku.
Sofia duduk di sebelahku, mereka memelukku bersamaan. Aku terisak pelan.
"Menangis lah yang kuat, Nye. Tidak apa-apa. Kami akan temani kamu." Nanda mengelus punggungku. Aku tidak bisa menahannya lagi. Menagis dengan kuat dan kencang. Menangisi kebodohanku.
Ya, aku menangisi kebodohanku.
Lima tahun aku pergi darinya. Dan aku tidak pernah melirik dia saat dia mencoba mengejarku kembali. Teringat semua kenangan manis yang selalu ia lakukan untukku. Mencoba menarik perhatianku dengan segala tingkah dan kekonyolannya.
Aku baru sadar. Aku masih cinta dia.
Aku masih cinta Devan!
Dev, jangan pergi. Ku mohon!
Teringat perkataan dokter tadi. Operasi ini mengandung resiko. Peluru yang bersarang di tubuhnya hanya berjarak satu senti dari jantungnya. Devan mengalami pendarahan hebat, dan dokter juga bilang trauma di pembuluh darahnya.
Dev. Please bertahan untuk aku. Untuk anak kita!
...*...
Operasi berjalan dengan lancar. Devan sudah di pindahkan ke ruangan rawat, tapi aku masih belum juga tenang. Devan masih belum sadar.
"Tunggu sampai tengah malam. Kalau Devan masih belum sadar juga panggil aku. Aku akan berjaga di ruanganku malam ini. Setiap dua jam aku juga akan datang memantau Devan." dokter muda itu pamit. Alex mendekat ke arahku dan berdiri tepat di belakang punggungku. Dia memegang pundakku, mengusapnya dengan ibu jarinya.
"Tenang Laura, Devan akan baik-baik saja. Vero dokter yang bagus di kota ini." Alex menenangkan aku. Ternyata dokter itu adalah sepupunya.
"Devan pasti akan cepat sadar." ucapnya menghiburku. Aku hanya mengangguk pelan.
"Iya. Trimakasih atas kepeduliannya, kak Alex." Alex menepuk bahuku satu lagi.
"Trimakasih juga karena kak Alex sudah mengangkat telfon dariku malam itu." ucapku lirih.
"Ya, sama-sama. Aku curiga karena kamu tidak pernah berinisiatif menelfon aku duluan." dia tertawa lirih. Heh... Kenapa dia seperti sedang menyindirku?
"Aku juga ucapkan terimakasih karena kamu sudah bantu aku mendapatkan bukti yang kuat untuk keadilan kedua orangtuaku. Aku yakin Mauren tidak akan mudah hidup di penjara. Dan dia akan berharap untuk cepat mati disana." Alex berkata dengan dinginnya.
Luka di hati Alex, seorang anak kecil yang di tinggalkan kedua orang tuanya yang mati mengenaskan di vila milik keluarganya. Pamannya lah yang mengurusnya di kemudian hari. Membantu mengurus Alex dan juga perusahaan kedua orangtuanya.
"Aku tidak tahu kenapa kalian bertiga bisa datang malam itu." jujur aku masih penasaran dengan mereka datang bersamaan waktu semalam.
"Aku menelfon Samuel dan juga Devan. Meskipun aku mampu cari kamu sendirian, tapi mereka juga berhak tahu dengan apa yang terjadi sama kamu. Samuel sudah seperti kakak buat kamu kan? Dan Devan, bagaimanapun juga dia masih berstatus suami kamu." Ya benar.
Aku menengadah melihat Alex dari bawah, terlihat dagunya yang runcing. Dia menunduk. Pandangan kami saling bertemu. Aku tersenyum dengan memicingkan mata. Tidak ku sangka Alex punya pemikiran seperti itu! Bijaksana!
"Hei, apa? Kamu kira karena aku sedang mengejar kamu, aku akan mengambil kesempatan ini buat cari perhatian kamu, begitu? Menjadi pahlawan di saat kamu kesusahan? Meskipun iya aku ingin, tapi kamu masih istri orang! Dan aku tidak suka bersaing dengan cara seperti itu! Setidaknya aku tidak ingin jadi pebinor!" dia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya bersemu merah. Hei kenapa dia? Apa dia sedang blushing?
Pintu terbuka. Terlihat papa Stevan datang dengan tergesa bersama Samuel di belakangnya. Alex menjauh dariku. Aku berdiri memberikan ruang untuk papa.
"Bagaimana keadaan Devan?" tanya Papa. Papa duduk di kursi yang aku berikan untuknya.
"Sementara masih belum bisa di pastikan. Kita harus menunggu Devan sadar, paling tidak sampai tengah malam nanti." Alex menjelaskan tentang apa yang di katakan dokter tadi pada papa Stevan.
"Anye, kamu baik-baik saja?" tanya papa padaku.
"Aku baik, pa. Tapi gara-gara aku Devan jadi celaka!" mataku kembali memanas, siap meluncurkan berbulir-bulir air mata lagi.
"Aku minta maaf, karena masalah kami membuat kamu ada dalam bahaya." ucap papa.
"Trimakasih, sebelumnya aku tidak pernah curiga dengan wanita itu. Dia menjebak kami. Kalau saja tidak ada kejadian ini pasti dia akan terus bebas berkeliaran di luar sana, tanpa rasa bersalah." papa menatap sang putra yang kini terbaring lemah.
"Dia bilang Lita bunuh diri karena stress dengan pemberitaan itu. Mobilnya terbakar, hingga jasad Lita tidak bisa di kenali lagi. Tapi aku bersumpah aku tidak pernah selingkuh dari dia. Dan Mauren terus saja mendekatkan dirinya dan ternyata dia membohongiku. Dia bisa membujuk Devan yang terus menangis setelah beberapa bulan Lita menghilang. Dan aku setuju untuk menikah dengan dia. Sifatnya hampir sama dengan Lita, tapi ternyata semua itu hanya kebohongan!" Papa Stevan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Dia terisak.
"Polisi juga tidak melihat hal aneh pada kecelakaan itu. Itu murni kecelakaan tunggal. Lita maafkan aku! Maaf! Aku percaya begitu saja dengan kata-kata dia!" Terlihat jelas kalau papa Stevan sangat menyesalinya.
"Ibu Lita ada bersama ku, pa." Papa menegakkan tubuhnya dan menatapku tak percaya.
"Benarkah? Lita masih hidup?" tanya dia tidak percaya. Aku mengangguk. Papa terlihat shock dengan ceritaku.
"Dimana? Dimana dia sekarang?" tanya papa menggenggam tanganku erat.
"Tenang saja tuan. Nyonya Lita sedang sedang kami jemput." Samuel menjawab dari belakang Papa Stevan.
"Trimakasih!" ucap papa lalu memelukku. Mengucapkan banyak terimakasih untuk semua yang aku lakukan untuk ibu Lita.
"Papa, maafkan aku karena aku sudah mengambil alih perusahaan papa." Lirihku, merasa tidak enak juga dengan pria paruh baya ini. Perusahaan yang sudah payah ia besarkan telah aku ambil dengan mudah. Papa melepaskan pelukannya dan tertawa lirih. Mengusap pipiku lembut.
"Tidak masalah. Aku sudah menyerahkan semuanya pada Devan. Dia yang bertanggung jawab dengan semua itu, dan dia pantas mendapatkan itu atas perlakuan kasarnya sama kamu."
"Lagipula Devan harus belajar banyak untuk bisa menyaingi kamu sekarang. Aku tidak percaya selama lima tahun ini kamu berubah banyak." papa tertawa lirih. Aku senang papa tidak membenciku.
"Apa papa percaya dengan yang di katakan mama Mauren?" tanyaku.
"Yang mana?"
"Aku simpanan lelaki tua!"
Papa tertawa. "Sudahlah. Kebenarannya hanya kamu yang tahu!" papa menepuk pundakku.
"Tapi kamu harus tahu, Nye. Hidup Devan selama lima tahun ini tidak mudah setelah kamu tinggalkan." ucap papa.
"Aku tahu." jawabku.
"Kamu pergi kemana selama ini?" tanya papa.
"Aku bertemu dengan ayah kandung ku!" jawabku. Lalu mengalirlah cerita tentang saat itu. Dari mulai mama Mauren selalu menindasku dan juga perlakuan Devan yang akhirnya membuat aku memutuskan untuk pergi.
"Maaf. Papa selalu tidak ada di rumah. Itu pasti sangat berat buat kamu. Apalagi kamu sedang mengandung." ujar papa. Aku hanya menggeleng pelan.
"Dimana cucu papa? Bagaimana kabarnya sekarang?" tanya papa antusias.
"Daniel bersama ayah, pa. Dia anak yang mandiri, tidak pernah manja denganku. Bahkan aku merasa kalau dia besar begitu cepat." ungkapku melirik ke arah Samuel. Samuel mengangkat bahunya tak acuh.
"Daniel? Nama yang bagus! Ayah kamu juga pasti orang yang hebat." sanjung papa.
"Iya, dia orang yang hebat!" aku menyetujui.
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dokter bilang Devan akan segera siuman. Aku masih menunggunya. Dia tertidur begitu tenang. Selang oksigen membantunya bernafas. Luka di punggungnya terbalut perban. Rasanya menyedihkan sekali melihat dia tidak berdaya. Kenapa dia lama sekali untuk bangun?
"Hei tidur lah." Samuel datang mendekat dan memasangkan selimut di bahuku. Alex tertidur pulas di single sofa, dengan kaki di atas meja. Sedangkan papa Stevan berbaring di sofa panjang. Mereka pasti kelelahan, apalagi papa, kesehatannya akhir-akhir ini sedang tidak bagus.
"Aku mau tunggu Devan sadar." lirihku.
"Aku saja. Kamu tidur saja di atas sana. Selama penculikan juga kamu pasti kurang tidur kan?" ucap Samuel lagi, dia menunjuk satu brankar yang tadi sore di datangkan perawat untuk beristirahat. Semua orang tidak mau pulang, alhasil kami meminta satu brankar tambahan untuk tempat tidurku.
"Tidak apa-apa. Aku khawatir dengan Devan." ucapku. Samuel menarik kursi kecil dari sudut ruangan, dia duduk di sebelahku.
"Aku tidak menyangka akan mengalami hal yang seperti ini lagi. Bedanya sekarang Devan malah yang menjadi korban." lirihku.
"Tidak apa-apa, dia akan baik-baik saja. Aku yakin sebentar lagi dia akan bangun seperti yang dokter bilang." aku mengangguk.
"Sam, kamu tidur saja duluan. Aku masih ingin jaga Devan." titahku. Samuel mengambil satu tanganku, terlihat masih menggurat berwarna sedikit kebiruan akibat ikatan yang kuat.
"Masih sakit?" dia mengelus pergelangan tanganku perlahan.
"Sudah tidak. Tadi perawat sudah bantu obati." ucapku. Samuel melepaskan tanganku dan menyandarkan dirinya di kursi. Dia memainkan hpnya.
"Sam, mengenai dua bodyguardku..."
"Sudah aku urus. Aku juga sudah memberikan mereka santunan yang besar, dan keluarga mereka akan aku tanggung kehidupannya." jawab Sam, dia tidak mengalihkan pandangannya dari hpnya. Ibu jarinya lincah bergerak di atas hpnya yang menyala.
Samuel menoleh nafas saat aku mendesaknya, ingin mendengar seluruh cerita soal penyelamatanku semalam.
Sam menyimpan hpnya, dan mulai bercerita.
Dari ceritanya, malam itu Alex menelfonnya. Dia, Alex dan Devan bersama mencari lokasi terakhirku. Dan mereka berhasil menemukan gudang itu. Memang tempat itu agak terpencil masuk sedikit ke dalam dengan jalanan yang rusak di tepian hutan pinus.
Tentang negosiasiku, mereka tetap keukeuh ingin aku membayar dua puluh kali lipat untuk kebebasanku. Ish, rakus sekali!
Malam itu mereka dengan beberapa pengawal datang dan juga mengepung tempat itu. Suara-suara dentuman, pukulan, dan juga barang-barang jatuh terdengar di sana sini. Teriakan kesakitan yang memilukan juga terdengar melengking dari luar. Aku sudah menduga, siapapun itu pasti orang yang akan menyelamatkan ku. Dan benarlah Three Musketeers datang dengan jubah hitamnya... Ummm... ralat, baju hitam.
Kami melakukan sedikit drama disana. Tujuannya adalah supaya Mauren datang dan kami sudah bersiap dengan alat perekam sebelumnya. Dan aku harus berpura-pura menjadi sosok korban disini. Menyebalkan! Aku ingin menjadi sosok antagonis lain kali! Dan aku juga kelaparan!
Ya dan begitu lah, aku harus bisa memancing emosi Mauren dan akhirnya dengan sedikit menahan rasa sakit di pipiku, dia mengakui dosa-dosanya!
"Aku tidak menyangka, wanita gila itu berani menembakan pistol ke arahmu! Aku pastikan kalau dia tidak akan lolos dari penjara!" Sam berkata dengan nada geram.
"Ya urus saja semua itu. Aku tidak mau lihat dia lagi!" ucapku.
Ku alihkan pandanganku pada Devan. Aku meraih tangannya, rasanya hangat. Tangan yang sudah sangat lama sekali tidak aku sentuh. Lima tahun lebih.
Dev, cepatlah bangun! Ku mohon. Kita akan hukum wanita itu bersama-sama!