DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 137



Dasar Devan sialan! Pinggangku... Awww!!! Sakit sekali, milikku... Tapi kenapa tadi tidak terasa sakit ya. Malah sekarang rasanya.... Dasar Devan b*ngke!!


"Cape ya?" tanya Devan. "Maaf, aku gak bisa mengendalikan diriku tadi." ucap Devan sambil terkekeh pelan. Dia mengecup bibirku sekilas, memasangkan bathrobe di tubuhku, mengikat talinya, dan kemudian dia memakai handuk kecil di pinggangnya. Aku berdiri di dekat wastafel sambil berpegangan, menahan tubuh ku yang lelah dan lemas. Kakiku gemetar. Sial. Harusnya setelah selesai kami bercinta tadi aku pergi, dan tidak meladeninya bermain lagi.


"Dasar, tidak berperasaan!" bentakku pelan. Lagi-lagi dia hanya tersenyum. Menyebalkan!


"Tidak berperasaan? Tapi menikmati?" godanya. Dia menjepit daguku dan mencium bibirku untuk ke sekian kalinya. Bukan hanya ciuman, tapi juga lum*tan penuh gairah. Tangannya sudah mulai aktif menelusup ke dadaku.


Oh tidak! Ini harus cepat di hentikan! Aku sudah lelah, dan tidak mau melakukannya lagi untuk ketiga kalinya!


"Devan stop!" aku mendorong dadanya. Menepis tangan Devan dari tubuhku. Devan mencebik kesal. Benarkah ini si pasien luka tembak di punggung?


Devan tidak peduli dengan penolakanku, dia sangat hafal dengan titik kelemahanku dan membuat tubuhku terasa panas kembali.


Ya tuhan, aku benar-benar lelah sekarang. Tidak lagi bertenaga untuk melepaskan diri dari serigala mesum ini.


"Devan, aku lelah..." lirihku. Devan masih saja berusaha untuk memenangkan ku lagi. Memancing semangat gairah tubuhku yang lelah untuk timbul.


Ini tidak bisa di biarkan! Aku sangat lelah sekarang! Ku dorong dadanya perlahan.


"Dev, aku lapar!" cicitku. Devan berhenti. "Kita sudah sangat lama di kamar mandi. Bagaimana kalau dokter atau yang lain mencari kita?" tanyaku.


"Baiklah. Ayo kita keluar." Devan tersenyum sambil mengacak rambutku pelan. Yeaayy... tidak perlu bermain pasrah-pasrahan lagi...


Kami keluar dari kamar mandi. Terlihat beberapa orang sudah duduk di sofa dan menatap kami berdua tajam. Oh tidak, sejak kapan mereka duduk disana. Jangan sampai mereka bilang sudah lama datang dan menunggu kami sedari tadi. Kami masih belum mengganti baju kami.


"Ckckck...." Sofia berdecak kesal sambil menggelengkan kepalanya.


"Kalian ini... Aku tahu ya kalian baru baikan, tapi gak gini juga kali! Tahu gak sih kalau kita udah nunggu kalian keluar dari dalam sana satu jam lebih loh!" serunya.


"Kenapa tidak cari hotel saja untuk menuntaskan hasrat kalian? Mesum di area rumah sakit... Ckckck... Ya tuhan.... Kalian ini... Aku tidak habis fikir dengan kalian...!" geramnya.


OMG. Matilah aku. Malu sekali rasanya sampai aku ingin menembus tembok untuk menghindari tatapan mereka. Nanda, Nayara, Edgar, dan Alex juga ada. Mereka menatap kami kesal seperti ingin menelan kami hidup-hidup.


"Memangnya kenapa sih, Sof? Jangan iri jadi orang, nanti kalau kamu sudah punya suami juga pasti gak jauh beda sama kami!" ujar Devan cuek. Ya ampun pria ini kenapa berucap seperti itu di hadapan para jomblo? Tidak tahukah dia kalau ucapannya akan sangat mengganggu mereka?


"Siapa juga yang iri? Paling tidak suara horor nya tuh di silent, biar gak kedengeran sampai keluar!" ucapnya kesal membuat aku semakin merasa malu.


Devan berjalan dengan santai ke arah lemari kecil dan mengambil baju lalu mendekat ke arahku dan memberikan bajunya padaku.


Aku segera menerima baju itu dan pergi dengan cepat ke kamar mandi.


Aahhh aku malu... Ku peluk baju itu di dadaku. Tidak tahu sudah semerah apa wajahku. Tidak berani bercermin. Habislah aku, pasti mereka akan mengolok-olok aku setelah ini!


***


Hari ini Devan sudah di perbolehkan pulang. Rasanya senang sekali karena aku juga sudah mual mencium bau obat-obatan rumah sakit. Dan aku juga sudah bosan dengan suasana kamar rumah sakit yang membosankan. Kami pulang ke apartemen.


Ya, sejak memutuskan kami berbaikan dan bersama, aku bersedia ikut Devan kembali ke apartemen kecil kami.


Suasana yang sama seperti dulu, bahkan perabotan dan juga hiasan dinding tidak berubah. Hanya satu yang berubah, kamar untuk putra kami. Ranjang anak-anak dengan seprai bergambar kartun dan juga dinding putih yang kosong, beberapa cat masih utuh di pojokan sana. Beberapa mainan teronggok di lantai maupun di lemari kecil. Semuanya berisi mainan anak laki-laki.


"Ini kamar yang aku siapkan untuk anak kita." ucap Devan. Dia merangkul bahuku.


"Maafkan aku, sayang. Aku pernah meragukan kamu!" mencium pucuk kepalaku mesra.


"Sekarang kamu yakin Daniel anak kamu?" tanyaku menatapnya. Devan mengangguk.


"Ya, aku percaya. Tapi aku sangat menyesal karena terlambat untuk meminta maaf sama kamu, sampai aku kehilangan kalian selama lima tahun ini." sesalnya.


"Aku salah sudah percaya pada wanita itu! Maaf!" aku tersenyum.


"Semua sudah berlalu, Dev. Bagaimana perkembangan kasusnya?" tanyaku.


"Papa sudah mengurus semuanya. Besok sidang di laksanakan, dan pengacara meminta kita untuk bersaksi. Kamu jangan terlalu banyak memikirkan wanita itu, dia tidak akan mudah untuk bisa bebas." ucapnya.


Hari berikutnya. Papa Stevan, mama Lita, aku, Devan dan Alex, pergi ke persidangan. Dengan beberapa bukti yang dikumpulkan oleh pengacara, termasuk rekaman suara Mauren tempo hari akhirnya hukuman untuk wanita itu di putuskan. Kami puas dengan hukuman yang di berikan oleh pengadilan.


Sidang selesai, Mauren di giring pergi dari ruangan itu, dia berontak dan berteriak minta di lepaskan.


Dengan cepat dia dibawa pergi, masih dengan berteriak dan memaki kami semua. Terutama aku dan mama Lita. Dia juga memohon untuk di maafkan oleh papa dan berkata bahwa dia sangat mencintai papa, memohon untuk berada di samping papa selamanya meski dia harus rela menjadi yang kedua. Cinta yang seperti itu, bukankah obsesi namanya?


Devan memegang tanganku dengan erat.


"Jangan takut, dia tidak akan mudah hidup di dalam penjara dan tidak akan mudah untuk bebas!" ucap Devan.


"Siapa yang takut? Aku tidak takut, banyak bodyguard yang menjagaku!" ucapku, lalu pergi menjauh darinya.


Selesai dengan urusan di pengadilan kami semua pulang ke tempat masing-masing. Jalanan cukup ramai, suasana di luar sangat panas menyengat. Devan bersikeras ingin menyetir, dia terlihat sangat santai. Aku hanya diam menikmati perjalanan yang cukup panjang.


"Apa kamu takut tadi?" tanya Devan tiba-tiba.


"Tidak!"


"Benarkah?" Aku mengangguk. "Bagus. Aku kira kamu tadi ketakutan karena ancaman Mauren!"


"Kenapa aku harus takut! Aku kan sudah ada yang melindungi." Devan tersenyum bangga, wajahnya berseri. "Kalau kurang aku bisa minta ayah buat menyewa para bodyguard dengan kemampuan yang hebat!" ucapku. Seketika wajahnya berubah suram.


"Aku kira kamu gak takut karena aku ada untuk melindungi kamu!" cibirnya. Aku hanya tersenyum lebar. Devan memegangi tanganku, menariknya ke depan dadanya, sesekali menciumi punggung tanganku lembut.


Tahu tidak apa yang kurasa sekarang. Dug. Dug. Dug. Jantungku berdetak dengan keras dan cepat. Rasanya sangat tidak nyaman di dalam dada ini. Ingin sekali aku keluar dari dalam mobil, dan berteriak kalau 'AKU JATUH CINTA LAGIII....!!!'. Akh... aku sakit.


"Kamu tahu tidak? Sebenarnya aku kecewa sama kamu!"


"Kecewa?" tanyaku bingung. Apa dia kecewa karena aku mengambil miliknya?


"Iya, terkadang aku ingin kamu seperti wanita lain yang manja pada suaminya, jadi aku bisa jagain kamu. Aku bisa jadi pahlawan buat kamu. Aku bisa jadi sosok yang bisa untuk kamu bergantung!" ucapnya sendu.


"Tapi kamu terlalu hebat buat aku! Apalagi dengan keadaanku sekarang. Rasanya aku ini hanya daun kering yang jatuh dari pohonnya." ungkapnya.


"Dev, aku gak pernah anggap kamu seperti itu." Rasanya hatiku sakit mendengar dia berkata seperti itu.


"Aku gak pernah nilai orang dari apa yang dia punya. Aku cuma ingin ketulusan, aku gak peduli dengan harta." ucapku. Dia tersenyum, kembali mencium punggung tanganku lama.


"Trimakasih!" ucapnya. "Aku janji aku akan bangkit, dan aku akan berusaha untuk kalian."


Perjalanan terasa sangat lama, apakah karena Devan menyetirnya dengan pelan? Entahlah. Aku hanya bisa melihat pemandangan di luar dengan diam.


Harusnya kami sampai kurang dari satu jam, ini sudah hampir dua jam dan belum sampai juga. Jalanan terlihat lain dari biasanya. Area ini aku tidak mengenalinya sama sekali.


"Dev kita mau kemana?" tanyaku.


"Aku akan menemui seseorang dulu. Kamu ikut tidak apa-apa kan?" tanya Devan.


"Ok!" jawabku.


Tak lama kami sampai di sebuah rumah yang cukup besar, seorang penjaga membuka pintu gerbang untuk kami.


"Dev, ini rumah siapa?" tanyaku menatap rumah besar di hadapan kami.


"Kamu akan tahu!" Dia menyuruhku keluar dari mobil dan menggandeng tanganku, berjalan ke arah pintu yang besar.


"Mungkin ini tidak seberapa dengan istana milik ayah kamu, tapi aku membuat ini dengan penuh cinta dan pengharapan." Ucapnya. Aku menatap Devan tidak percaya.


"Maksud kamu ini rumah kita?" Devan mengangguk.


"Iya, aku membuatnya sudah sangat lama. Bahkan saat kita masih bersama dulu. Aku ingin beri kamu kejutan, dan pindah kesini saat anak kita lahir, tapi sayangnya impian itu harus musnah karena aku yang brengsek!" ucapnya.


"Maafkan aku juga Dev. Harusnya aku lebih sabar hadapin kamu." sesalku.


"Tidak sayang. Kamu sudah benar, kamu sudah benar tinggalin aku waktu itu. Aku sadar kalau seharusnya aku lebih percaya pada istriku bukan pada orang lain, meskipun itu ibuku."


"Anye." Devan tiba-tiba berlutut di hadapanku, dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, membukanya. Sebuah cincin! Dia mengulurkan tangannya. Apa Devan sedang melamarku? Lututku mendadak lemas, aku berpegangan pada pintu yang masih tertutup. Dadaku berdentum tidak karuan.


"Maukah kamu menikah dengan ku lagi? Menjadi istriku sampai maut memisahkan kita? Aku tahu aku tidak punya apa-apa sekarang. Aku hanya bisa menawarkan cinta dan juga hidupku serta nyawaku untuk menjagamu, untuk mencintaimu sampai akhir nanti. Aku akan menjaga kamu dan anak kita. Maukah kamu melanjutkan pernikahan kita lagi, dan melahirkan serta membesarkan anak-anak kita?" tanya Devan.


Dev... Aku...