
Malam pun tiba, aku sudah memesankan sebuah meja untuk mereka. Sedangkan aku hanya akan menonton dari kejauhan. Mereka cukup baik dalam berperan, haruskah aku bantu mereka menjadi artis?
Aku cukup puas dengan mereka. Bisa aku pastikan dalam beberapa hari restoran ini pasti akan sepi. Di tambah lagi aku memerintahkan seseorang untuk merekam kejadian malam ini. Aku jahat ya. Haha... biarlah, biarlah. Aku cukup sakit saat dia menamparku tempo hari, dan sekarang tamparan itu aku kembalikan padanya dengan wujud yang lain. Besok aku akan bisa lihat di majalah bisnis sebuah ulasan dengan judul "Restoran Terkenal yang Mengecewakan!" atau apapun lah judulnya terserah yang penting berita itu akan keluar besok!
"Ini bayaran kalian!" aku menyerahkan cek yang tadi siang aku janjikan pada mereka jauh dari restoran tadi. Mereka menerimanya dengan senang hati. Ya siapa juga yang akan menolak dengan uang yang banyak. Uang memang segalanya.
"Waahh terimakasih!" mereka berdua berjingkrak senang. "Tapi nona, ini tidak akan beresiko pada kami kan?" tanya salah satunya.
"Tergantung kalian tadi melakukannya seperti apa. Apakah rapi atau tidak?" Tanyaku. Mereka terdiam. Aku tertawa melihat wajah gelisah mereka berdua. "Tenang saja, aku yakinkan meja itu tidak tersorot oleh kamera hanya belakangnya saja. Dan kamera lainnya sudah aku urus." ucapku. Mereka bernafas dengan lega.
Aku pergi dari hadapan keduanya dengan langkah yang ringan. Keduanya mengucapkan terimakasih padaku. Jarang-jarang, ehm...maksudnya mereka tidak pernah menerima uang dengan jumlah yang banyak seperti ini.
Aku masuk ke dalam mobil.
"Cukup senang?" tanya seorang yang duduk di belakang kemudi.
"Jangan dulu merasa senang sebelum turun berita besok pagi." Ucapku. Dia mendecih sebal.
"Padahal aku ingin sekali merobohkan tempat itu! Kecewa sekali karena harus melihat permainan ringan seperti ini." dia mulai menyalakan mobilnya dan melakukan mobil membaur ke jalanan.
"Sudah lah Sam, lain kali. Aku ingin mama Mauren menyesal sudah fitnah aku kemarin!"
"Tapi apakah dia akan benar-benar menyesal?" tanya Sam. "Aku sudah menunggu hal yang bisa membuat aku masuk ke dalam sana untuk membantai dia, malah acara komedi yang di suguhkan! Mengecewakan!"
"Sam, ingat disini bukan wilayah mu! Kalau mau main bantai pulang saja sana!" aku mulai kesal. Aura gelapnya mulai terlihat.
Kami pulang ke hotel. Sam masih saja menggerutu kesal. Dia terus saja bilang ingin melenyapkan wanita itu. Padahal kan yang punya urusan dengan dia aku!
Pagi menjelang, baru jam setengah enam pagi dan ada yang sudah berani menggangguku! Beberapa notifikasi masuk dengan beruntun. Aku membuka mataku dengan malas. Meraih hp di atas nakas. Menggeser layar kunci dan membaca pesan dari seseorang.
-Tugas sudah di laksanakan. Silahkan anda lihat di internet.
Aku menyingkap selimutku sambil menatap hp. Mencari berita yang di maksud. Tersenyum dengan puas. Bagus!! Bagus sekali.
Kadang aku berfikir aku keterlaluan gak sih? Ah sudahlah!
...*...
"Sudah siap?" Tanya Sam. Aku mengangguk. Kami sudah ada di lobi sebuah hotel ternama untuk malam penghargaan itu. Aku memakai dres berwarna biru laut dengan tinggi di bawah lutut. Rambut aku gerai dengan sedikit di buat ikal pada bagian bawah. Make up natural, tanpa ada yang berlebihan. Tas merk channel terbatas ada di genggamanku.
"Jangan gugup ya!" ujar Sam menggodaku. Ish yang benar saja.
"Buat apa aku gugup?" aku mendecih sebal. Sambil meraih lengannya untuk ku pegang. Kami mulai melangkah masuk ke dalam sana. Suasana disana cukup ramai, tempatnya pun di hias seperti layaknya tempat pesta. Para pengusaha dari berbagai daerah ada disini, pria maupun wanita, tua dan muda. Sebenarnya aku juga disini mewakili ayah.
Beberapa orang menatap pada kami yang berjalan memasuki aula. Ada yang berbisik pada temannya, ada pula yang berdiri mematung hanya diam.
"Lihat mereka terpesona dengan penampilan kamu!" Sam berujar dengan tenangnya tanpa menatapku, pandangannya tertuju ke arah depan.
"Dan para gadis itu terpesona dengan wajah kamu!" aku pun berkata demikian. Sam tertawa pelan. Kami terus melangkah semakin ke dalam. Di ujung sana berdiri Alex dan... Devan, serta di sebelahnya juga ada Riana, meteka bertiga sedang mengobrol santai. Devan dan Riana, apakah meteka datang bersama? Mereka semakin lengket, apa mama sukses mendekatkan mereka?
"Kenapa? Apa kamu merasa cemburu dengan mereka?" Sam berkata lirih dengan nada mengejek saat tahu pandanganku tertuju pada mereka
"Jangan mulai menyebalkan Sam." Nadaku tak suka.
"Jujur saja, sudah kelihatan kok!" dia tertawa pelan. Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain dan tersenyum saat tak sengaja melihat Edgar mendekat ke arah kami.
Edgar mendelik tak suka saat melihat pria di sampingku. Begitu juga Sam. Sejak saat Sam menjadi bodyguardku dulu hingga sekarang hubungan kami menjadi kakak dan adik, kedua orang ini masih saja sering melemparkan tatapan permusuhan. Ada apa sih?
"Ternyata nona Laura! Selamat datang, nona!" sambut Edgar sambil menunduk dan mengulurkan tangannya, aku menyambut uluran tangan itu, tapi Sam menepis tangan Edgar.
"Sam." aku menggeram tidak suka, menatap tajam pada dia. Samuel mendecih malas dan memalingkan wajahnya, sedangkan Edgar tersenyum menang.
"Ya sudah, sana!" usirnya seraya menggerakkan tangannya.
"Ayo nona. Kita pergi! Bye kakak, kami pergi dulu!" pamit Edgar lalu membawaku ke arah meja untuk mengambil minuman yang sudah di sediakan.
"Papi sama mami apa sudah datang?" tanyaku pada Edgar. Dia menyerah gelas minuman padaku.
"Belum sampai, paling sebentar lagi." ucapnya. Kami mengobrol dengan santai cukup jauh dari tempat dimana Devan dan Riana berada. Kali ini mereka berdua sedang mengobrol dengan yang lainnya? Terlihat Alex berjalan menghampiri kami. Dia tersenyum dengan lebarnya. Aku pun balas tersenyum sedangkan Edgar dia merengut tidak suka.
"Halo nona Laura." Alex mengulurkan tangannya padaku, dan aku sambut untuk bersalaman dengan dia.
"Hai."
"Baik!" jawabku. Pertanyaan yang membosankan.
"Aku kecewa karena nona tidak ingin datang dengan ku, ternyata nona sudah punya pasangan untuk datang kemari." ucap Alex.
"Iya tolong maafkan aku, pak Alex. Aku hanya tidak mau membuat pasanganku ini kecewa. Dia sudah lebih dulu membuat janji dengan aku!" ucapku. Alex tersenyum miring, senyum yang di paksakan dan tidak rela.
"Jadi kalau lain kali aku ingin mengajak kamu, aku harus jadi yang pertama membuat janji ya?" dia bertanya sambil menatapku tajam. Aku hanya tersenyum.
"Maaf, pak Alex. Malam ini Laura menjadi pasanganku. Tolong jangan rebut dia." Edgar berkata dengan nada tak suka.
"Aku gak maksud rebut dia. Malam ini aku hanya ingin menyapa wanita tercantik ini!"
OMG, aku pusing! Mereka saling berdebat dan saling menyindir. Aku harap jangan ada perkelahian di antara mereka.
"Maaf para pria. Aku mau permisi ke toilet dulu!" aku melerai debat mereka. Meskipun mereka hanya saling berbisik, tidak ada debat yang membuat orang lain menonton kami, tapi itu jujur membuat aku merasa sakit kepala. Aku ini orang, bukan barang. Enak sekali mereka memperebutkan aku. Oh aku terlalu kepedean hehe...ðŸ¤.
Aku pergi ke toilet untuk membasuh wajahku. Rasanya di sana agak panas, dan aku butuh penyegaran. Membasuh wajahku beberapa kali dan mengelapnya dengan tisu.
"Oh, jadi wanita ini berani kembali ke sini ya!" suara seseorang membuat ku terkejut dan menoleh ke belakang. Kak Melati dengan dua temannya yang dulu aku temui di mall, ya aku masih ingat dengan wajah-wajah itu!
"Aku kira kamu sudah bahagia dan akan terus menghilang dengan lelaki lain! Dan aku dengar kamu pergi dengan pria yang lebih kaya dari Devan, ya?" ejek kak Mel. "Lalu kenapa kamu kembali ke sini. Untuk menargetkan orang lain? Yang lebih kaya lagi? Kamu sudah di campakkan oleh pria itu?" dia berkata sembarangan!
"Kak Mel memang tidak salah. Aku memang pergi untuk lelaki yang jauh lebih kaya dari Devan." ucapku. Aku tidak bohong kan, ayahku memang lebih kaya dari Devan berkali-kali lipat.
Dia mendecih sebal. "Dasar jal*ng! Setelah kamu rebut Devan dari aku, kamu meninggalkannya begitu saja? Wanita tidak tahu malu! Benar-benar tidak tahu di untung!" jerit kak Mel sambil melayangkan tangannya menampar pipiku. Perih.
Aku menatap kak Mel sambil memegang pipiku yang terasa panas.
"Kenapa kakak salahkan aku? Bukankah ini rencana kalian yang sudah buat aku dan Devan salah faham?" tanyaku geram. "Dan setelah aku pergi kenapa kakak tidak mendekati Devan, malah dia dengan wanita lain? Tidak mampu mendekati dia?" tanyaku jahil sambil tertawa kecil. Dia merasa geram, kedua tangannya sudah terangkat ingin mencekik ku, tapi urung di lakukan karena ada seseorang masuk ke dalam toilet.
Aku menggunakan kesempatan itu untuk pergi keluar. Kak Mel bisa jadi sangat berbahaya apalagi dengan dua orang lainnya di belakangnya. Bisa saja mereka mengeroyokku. Wajah Kak Mel terlihat kesal.
Aku kembali ke tempatku dimana Edgar dan Alex masih berdiri disana di tambah lagi sekarang ada Samuel.
"Kenapa wajah kamu?" Tanya Edgar sambil mengelus pipiku.
"Tidak apa-apa." jawabku.
"Tidak apa-apa bagaimana? pipi kamu merah begini! Ada orang yang jahat sama kamu?" tanyanya lagi. Dua orang yang lain juga menanyakan hal yang sama.
"Sudahlah. Aku gak pa-pa. Cuma tadi ke pentok pintu." jawabku malas.
"Tidak masuk akal!" ujar Alex, "ini seperti bekas tamparan." Alex mendekatkan kepalanya ke arahku.
"Siapa yang perbuat ini Nye?" Tanya Samuel. Aku mulai kesal. Aku malas membahas ini dengan mereka.
"Sudahlah. Jangan di permasalahkan. Ini cuma salah faham."
"Tidak bisa di biarkan!" Alex menggeram marah. "Aku akan cari tahu siapa yang sudah tampar kamu!" ucapnya lagi. Aku menahan tangan Alex yang akan melangkah pergi.
"Kal Alex, sudah! Ini masalah pribadi! Biar aku selesai kan sendiri." pintaku. Dia terdiam.
Acara sudah di mulai, beberapa orang menerima berbagai penghargaan, termasuk aku? Ah tidak, ayah maksudku, aku hanya mewakili ayah. Aku berjalan ke arah podium, menerima penghargaan berbentuk piagam dan memberikan sedikit ucapan dan ungkapan terimakasih yang di tujukan pada relasi.
Semua orang terdiam menatapku. Mungkin mereka bingung karena baru melihat aku untuk pertama kalinya berdiri disini. Ku edarkan pandanganku dengan senyum penuh, sampai pandanganku terhenti pada seseorang, Devan! Dia menatapku lekat, pandangannya tersirat penuh kerinduan. Sedangkan di sebelahnya papa Stevan dan mama Mauren juga ada, mereka terkejut, terutama mama dia sedang berdiri mematung.
Aku turun dari atas podium. Berjalan melewati mereka dan juga kak Melati. Kak Mel terlihat shock tidak bisa berkata apa-apa.
"Kerja bagus Anye!" Sam mengangkat tangannya, aku menyambut dengan telapak tanganku untuk tos. "Lihat bagaimana mereka menatap kamu!" Sam menunjuk dengan dagunya. Aku mengalihkan tatapanku pada arah dimana yang di tunjuk Sam. Mereka menatapku dengan tatapan tak percaya.
"Sam kita pulang!" pintaku.
"Acara belum selesai Nye." ucap Sam.
"Sudah cukup mengejutkan mereka." ucapku. Sam mengangkat bahunya lalu mengangguk. Aku pamit pada Alex dan juga Edgar. Papi dan maminya juga sedang sibuk dengan yang lain, jadi aku titip salam saja buat mereka.
Kami berjalan ke arah luar, Sam menelfon sopir untuk menjemput kami.
"Oh jadi rupanya kamu simpanan tuan Fabian ya? Pantas saja kalau kamu bisa ada disini. Ngomong-ngomong kemana tuan Fabian? Apa terlalu lelah karena sudah kamu urus?" Suara seseorang menghentikan langkahku. Aku berbalik, dia tertawa mendecih dengan raut wajah yang menyebalkan!
"Apa maksud kamu kak Mel?"