
Rasanya lelah sekali. Baru kali ini aku merasakan pengalaman seperti ini. Yang waktu itu, aku tidak menikmatinya dan tidak tahu bagaimana rasanya karena dalam pengaruh obat laknat yang di berikan Noval.
Devan tertidur di sampingku, wajah lelahnya sangat terlihat. Mau aku bangunkan, kasihan.
"Biarkan saja lah. Lebih baik aku mandi dan menyiapkan makan malam. Devan pasti capek dan lapar." memindahkan tangan Devan dari atas perutku, dan berusaha untuk bangun, tapi semua badanku terasa sakit, seperti tulang-tulangku terlepas dari tempatnya. Capek, pegal, dan sedikit sakit di area bawahku. Memang tidak terlalu sakit seperti pertama dulu, tapi tetap saja ini perih!
"Mau kemana?" suara Devan terdengar, menarik tanganku kembali ke dalam pelukannya.
"Mau mandi, badan aku lengket." ucapku.
"Sudah tidur saja. Memang kamu gak capek gitu?" tanyanya, matanya masih terpejam. Tangannya membelai kepalaku yang kini ada di dadanya.
"Capek, badan aku juga sakit semua. Tapi aku lapar, aku mau mandi dulu terus masak buat makan malam." Menyingkirkan tangan Devan dan duduk di sampingnya. Devan juga ikut duduk, matanya mengerjap lucu.
"Pesan makanan saja. Biar Sam yang belikan. Ayo kita mandi." Devan menarik tanganku.
"Aku mandi sendiri saja. Kamu saja duluan yang mandi."
"Tidak, biar cepat kita mandi sama-sama!" ucap Devan lalu menggendongku ala bridal hingga membuat selimut jatuh ke lantai.
Perlakuan Devan sangat manis sekali. Dia memandikanku seperti memandikan anaknya. Kami dalam satu bathub dengan banyak busa yang menutupi tubuh kami. Devan duduk di belakangku.
"Bagaimana? Enak?" Tangan Devan menaik turunkan pijatan tangannya di punggung dan bahuku.
"Iya, enak. Pinggangku juga pegal, Dev!" tunjukku di pinggang, tangan Devan turun ke area pinggang yang pegal. Nyaman sekali. Aku tidak menyuruhnya untuk memijitku, dia sendiri yang ingin melakukannya.
"Mana lagi yang pegal?"
"Semuanya." ucapku sambil merasakan pijatannya yang terasa enak di kedua bahu. "Emh...ya disitu!"
"Tapi ini tidak gratis ya. Aku akan minta bayaran untuk layanan ini semua."
"Aku mana punya uang! Ya sudah berhenti saja!" geramku, kesal. Apa-apaan dia, minta bayaran? Tidak salah? "Lagi pula aku gak nyuruh kamu buat pijit juga! Awas!" usir ku, tapi aku yang duluan berdiri dan beralih ke tempat bilas. Devan hanya melongo menatapku. Dia terlihat menggaruk belakang lehernya dengan raut wajah yang aneh.
*
*
Aku masih marah pada Devan karena ucapannya tadi. Minta bayaran pada pengangguran? Apa dia sudah mulai miskin dan akan jadi tukang pijat?
Devan mengulurkan tangannya hendak mengambil sepotong martabak telur. Segera ku tepis tangannya dan membawa piring itu jauh dari jangkauannya. Berpindah membawa semua makanan milikku ke sofa dan meletakkan semuanya disana. Menyalakan tv dengan suara besar, tidak peduli dengan raut wajah Devan yang melongo menatapku.
"Sayang, aku mau satu dong!" Devan mendekat dan duduk di sampingku.
"Apa?" tanyaku garang.
"Itu!" tunjuknya pada martabak.
"Tidak boleh! Kalau mau cilok saja sana. Habiskan semuanya! Untuk martabak telur aku gak mau berbagi!" menggigit martabak terakhir di tanganku, "Enaaaakk!!" lalu mengunyahnya dengan pelan. Setiap gigitan dan kunyahan terasa nikmat. Apakah karena ini yang baby ku inginkan, aku tidak mual saat memakannya.
Devan hanya mengerucutkan bibirnya, wajahnya di buat menggemaskan berharap aku membagi satu gigitan dengannya.
"Ini eennnakkk sekali!" godaku, menggoyangkan sisa martabak di tanganku. "Mau? Tapi sayang nya akan ada di dalam mulut ku. Hap." aku tertawa melihat raut wajahnya yang kecewa karena satu potongan terakhir masuk ke dalam mulutku.
"Kamu ini ya!" Dengan cepat tangan Devan meraih tengkukku, dan mel*mat bibirku menggigitnya dengan sedikit kasar hingga membuat mulutku terbuka. Devan membelitkan lidahnya dengan lidahku, meraih makanan yang belum sempat aku telan dan memindahkannya ke mulutnya.
Aku terkejut. Bukan karena makanan ku di rampas paksa, tapi karena aku hampir tersedak. Dan sekarang aku hampir kehabisan nafas karena perbuatannya.
Devan berhenti karena aku memukuli dadanya. Nafas ku tersengal, menatap Devan dengan tajam. Sedangkan suamiku ini hanya tersenyum sambil mengusap sudut bibirnya.
"Enak sekali!" ujarnya.
"Enak? Aku hampir mati!!" pekikku Devan sedikit menjauh karena aku berteriak tepat di depannya.
"Mati karena keenakan?" lagi-lagi terkekeh.
"Ish enak dari mana?"
"Salahmu, karena tidak mau berbagi, jadi aku hanya mengambilnya sedikit." ucap Devan sambil memperlihatkan ujung kukunya.
Dasar menyebalkan!