
Waktu menunjukkan hampir jam sepuluh siang, yang ditunggu belum juga datang, membuat Axel kesal karena merasakan hampa di hatinya.
Tiga minggu sudah dia bekerja di kafe ini, dari pagi sampai sore bisa bebas melirik Renata, memperhatikannya dengan diam, bahkan sepertinya Renata tidak tahu kalau Axel seringkali tersenyum karena dirinya.
Axel sempat bertanya pada Darius, kalau-kalau Renata menelfonnya dan mengatakan alasan gadis itu tidak datang bekerja.
"Tidak ada, tuan!" bisik Darius.
"Apa kau tidak mengerti juga? Aku bukan cuma bertanya! Tapi kau juga harus mengerti maksudku!" geram Axel, karena pria ini tidak seperti Gio yang cepat tanggap dengan maksudnya. Ingin dia berteriak pada pria ini, sudah terlanjur kesal, tapi dia juga sadar dirinya hanyalah karyawan biasa saat ini! Bawahan Darius. Hahhh.... Dasar cinta membuat seorang bos rela menjadi pegawai biasa!
"Baik. Tuan. Maafkan saya!" masih dengan berbisik. Namun, jelas dari nada suaranya pria ini sedang ketakutan!
Darius menghubungi Renata sebentar, lalu kembali lagi pada Axel setelah mendapatkan jawaban dan menutup telfonnya.
"Itu.... Tuan. Renata sedang tidak enak badan!" bisik Darius.
"Lalu bagaimana keadaannya?" tanya Axel khawatir.
"Ya, dari suaranya tidak apa-apa sih, mungkin hanya pegal-pegal dan cuma butuh istirahat ringan saja." menunduk saat tatapan Axel berubah menyeramkan.
"Mulai besok, jangan beri dia pekerjaan yang berat! Kalau bisa jangan sampai dia melakukan apapun! Mengerti!!" bentak Axel masih pelan, tak mau membuat heboh jika ternyata seorang karyawan malah berbalik membentak sang manajer.
"I-iya, Tuan." jawab Darius takut.
Axel pergi dari sana, sebelum beberapa karyawan menyadari ketakutan manajernya.
Seharian bekerja tanpa Renata. Menyebalkan bukan? Ah, tidak! Bahkan Axel tak bersemangat bekerja tanpa kehadiran gadis itu!
Jam menunjukan pukul dua belas siang. Axel sudah tidak tahan, dia ingat kepada Renata. Apakah dia sedang berbaring? Apakah dia sedang tidur? Apa dia sudah makan? Sudah minum obat? Semua itu berseliweran semenjak tadi saat mendengar alasan Renata tidak masuk kerja.
Dia mendatangi kantor Darius dengan langkah lebarnya.
Darius yang melihat bos besarnya ini mendatanginya, segera menyimpan hpnya di atas meja dan bangkit dari posisi nyamannya. Berdiri tegak namun dengan kepala menunduk hormat.
"Daripada kau hanya diam saja, lebih baik gantikan aku di bawah! Aku tak menggajimu untuk hanya diam dan bersantai disini!"
"Baik, Tuan!" Peluh di keningnya keluar seketika. Dia bahkan tak berani bernafas karena atmosfer yang terbakar di ruangan ini membuat oksigen serasa menipis. Axel Felix Aditama Rudolf, seorang bos dengan sifat baik dan ramah tiba-tiba berubah galak, ketus, dan menyeramkan. Sepertinya dia tahu apa yang terjadi pada bos nya ini. Renata! Cinta membuat seseorang berubah!
Sepuluh menit menunggu. Gio datang dengan mobilnya. Axel menatap ke sekeliling, memastikan tak ada siapapun yang melihat dirinya memasuki mobil mewah miliknya.
Gio tahu pasti dengan raut wajah yang suram bagai hari dengan penuh awan mendung di siang hari.
"Kenapa?" tanya Gio.
"Renata gak masuk hari ini!"
"Sakit?"
"Hemm."
"Aku mau ke tempatnya. Antarkan aku kesana. Dan jangan lupa mampir ke apotek dan toko bunga!" Gio mengernyitkan dahinya.
Toko bunga? Sungguh Axel sudah pintar dengan hal mengejar wanita.
Mobil berhenti di toko bunga tak jauh dari sana. Axel dan Gio masuk ke dalam.
Axel memilihkan seikat besar bunga mawar putih untuk dia beli. "Aku beli yang ini saja!" menyimpan bunga itu di hadapan seorang wanita.
Gio mendekat dan menarik lengan baju Axel. "Xel, tidakkah kamu fikir Renata akan curiga kalau kamu beli seikat besar?" bisik Gio.
"Maksudnya?"
"Dia kan tahu kamu kere, kalau kamu bawa seikat bunga besar, apa dia gak akan banyak tanya?" Axel tertegun, menatap bunga itu.
'Benar juga sih!' Axel berkata dalam hati. 'Tapi masa iya aku beli cuma satu tangkai?'
...***...
Renata membuka jendela kamarnya dan menatap langit biru yang masih cerah. Dia tertegun sendiri, membayangkan sesuatu yang terjadi akhir-akhir ini membuat kepalanya pusing.
Tentu saja pusing! Apa yang harus dia lakukan untuk menyingkirkan para bandit itu?
Ahhhh....
Renata mengusap kepalanya, meremas rambutnya. Otaknya sungguh terasa panas. Tidak bisa berfikir lagi. Kabur hanyalah jalan sementara. Nyatanya, mereka bisa menemukan lagi dan lagi.
Fuhhhh....
Menghela nafas lagi, dan lagi...
Apa yang harus aku lakukan?
Tok...tok...tok
Suara ketukan di pintu membuatnya kembali tertarik pada kenyataan. Seketika bayangan-bayangan masa lalunya pergi bersembunyi entah dimana yang pada saatnya nanti akan kembali menunjukkan dirimya lagi kepadanya.
"Iya, sebentar!" Renata mengambil jaketnya dan menarik resletingnya hingga ke dada. Entah siapa yang ada di balik pintu itu, tapi dia yakin seorang yang datang adalah orang yang ingin menjenguknya. Hehe... Feeling!
Gotcha!!!
Renata tertegun, mulutnya terbuka tak menyangka dengan si dia yang berdiri menjulang di depan pintu.
Tubuh tinggi tegap itu sangat mempesona, apalagi senyumnya yang merekah, indah mengalahkan sinar matahari pagi yang menghangatkan harinya. Sorot matanya yang terhalang oleh kacamata berbentuk kotak. Namun, tidak menghalangi tatapan pria itu yang selalu menyejukkan di kala hati merasa gundah gulana. Oh, jangan lupakan dengan setangkai bunga mawar putih yang ia bawa di depan dadanya sekarang.
"Untuk kamu!" wangi dari mawar putih itu menguar ketika Renata menerimanya. Wangi...
"A-Axel?!" berkata, lebih rasa tidak percaya jika yang datang kesini adalah pria ini. Pria yang entah kenapa rasanya begitu teramat sangat dekat meski dia baru mengenalnya lebih kurang tiga minggu ini.
'Untung saja aku sudah pulang!' batin Renata.
"Ka- kamu ngapain kesini?" tanya Renata, antara bingung, senang, dan juga canggung.
"Aku khawatir, kamu gak masuk kerja, jadi aku juga izin. Hehe..." Axel menggaruk belakang lehernya yang tak gatal sama sekali. Dia mengangkat tangannya dan menempelkannya pada kening Renata. Renata tersentak kaget. Tak menyangka dengan perlakuan Axel yang mendadak.
"Tidak panas!" Lalu kemudian menempelkan kedua telapak tangannya menangkup di kedua pipi Renata. Menggerakkan kepala Renata ke kanan dan ke kiri, "Tidak pucat!" membuat Renata menahan nafasnya karena hembusan nafas Axel sangat dekat dengan wajahnya.
"Ih... Kamu apaan sih!" menepis tangan Axel. Dadanya berdetak dengan cepat sampai Renata merutukinya karena takut jika terdengar oleh Axel. Jangan sampai wajahnya memerah yang mengakibatkan Axel membuly-nya.
"Kamu masih sakit?" tanya Axel. Renata tersenyum.
"Lumayan agak enakan! Masuk!" menyingkir dan memberi jalan pada Axel.
Axel menatap ruangan kecil dengan ukuran tak seberapa itu. Hanya ada dua ruangan kecil, satu tempat dimana ia berada, sedangkan satu lagi ia yakini adalah kamar Renata. bahkan dua ruangan itu tak seluas dari kamar mandinya.
"Maaf ya, sempit!" Tahu akan arti pandangan Axel, Renata mengambil selimut dan bantal yang tadi dipakainya berbaring hampir seharian.
"Gak pa-pa, kok. Sama saja seperti kamarku!" Renata pergi ke dalam kamarnya, menyimpan bantal dan selimut itu, lalu kembali ke hadapan Axel.
"Duduk, Xel."
Axel duduk di lantai beralaskan karpet bulu yang tak lembut lagi. Pun dengan Renata yang melakukan hal yang sama.
Ternyata Renata hidup seperti ini?
Hati Axel terasa perih. Seperti ada rasa ingin membawa gadis itu ke tempatnya yang nyaman nan hangat.
"Aku bawakan makanan dan obat." Axel menyerahkan dua bungkusan kresek putih pada Renata.
Seharian bekerja tanpa Renata membuatnya merasa tak bersemangat sama sekali. Dia rindu senyumannya, dia rindu suaranya, dia rindu semua yang ada pada dirinya. Meski lelah, tak ada salahnya kan menghilangkan rasa penatnya ini sekejap saja disini.
Maafkan aku Gio. Tunggulah sebentar saja disana.
Merasa bersalah pada sahabatnya yang menunggu di tepi jalan. Berharap saja semoga mobilnya tidak di angkut satpol pp karena parkir sembarangan.
Mata Renata membulat melihat makanan yang menggiurkan di depan matanya. Olahan lobster terlihat nikmat, wangi, menggoda selera. Tapi ia kemudian menutup kembali makanan itu. Tahu pasti dengan harga makanan itu, pastilah tidak murah. Renata menatap tajam Axel.
"Kamu gak perlu beli makanan semahal ini buat aku Xel, kamu bilang mau kumpulin uang buat beli motor!" Renata menatap Axel yang duduk tak mau diam. Tatapannya penuh tanda protes, tidak mau menerima.
"Itu... um... A-aku dapat diskon!" Axel mengusap tengkuk lehernya yang mendadak tegang. Mungkin benar apa kata Gio, seharusnya dia tidak membeli makanan semacam itu untuk Renata. Tapi masa iya dia belikan makanan sembarangan untuk gadis yang di sukainya?
"Memang ada makanan seperti ini diskon?" selidiknya.
"Itu... anu... temanku driver online, dia sering mendapatkan orderan dan itu... aku dapat gratis dari dia! Kupon. Hehe..."
Upsss.... berbohong deh jadinya!
"Beneran? Kamu gak beli pakai uang kamu?" Renata terus menatap Axel.
"Aku cuma keluar uang tiga puluh ribu. Buat ganti bensin dia," tambahnya lagi. Semakin banyak kebohongan yang ia ucapkan.
Hahhh... biarlah dosa aku sendiri yang tanggung kok!
...***...
Sementara Axel sedang sibuk mendekati gebetannya, berbeda dengan seorang pria yang hanya duduk di dalam mobil, dan terus menatap ke arah jam tangannya. Dia mendengus kesal. Pasalnya hampir satu jam Axel pergi, padahal tadi dia bilang hanya lima belas menit!
"Ckckck. Keterlaluan! Dia yang jatuh cinta kenapa aku yang merana?"