
Hampir satu jam Gio menunggu Tiara bangun dari tidur siangnya, ini sudah hampir jam tiga sore. Pekerjannya menumpuk tapi dia tak tega membangunkan gadis itu.
Menghembuskan nafasnya dengan kesal. Dia mengerjakan semuanya sendirian. Padahal jika biasanya dia akan membangunkan para pekerjanya dengan mendorongnya keluar dari kursinya hingga terjatuh ke lantai, dan langsung memecatnya.
"Dia enak sekali tidur siang. Keterlaluan! Kalau aku pecat, aku rugi dong. Rumah sudah aku renov-kan. Bagaimana dia akan membayar hutang-hutangnya kalau aku pecat dia?" galau sendiri. Akh...
Bukankah biasanya juga dia mengerjakan semuanya sendirian? Bahkan ada kalanya dia mendapatkan pekerjaan lebih banyak daripada ini dan harus selesai dengan jangka waktu yang tak masuk akal. Begitu kejamnya bosnya itu padanya hingga dia tak bisa menarik nafas dengan benar!
Lama-lama dia kesal juga. Buat apa dia punya asisten jika dirinya mengerjakan semuanya sendiri? Asisten kurang ajar kan dia?!
Kurang ajar tapi di perhatikan terus 😒😒.
"Heh, bangun!" Akhirnya dia membangunkan Tiara dengan cara mencolek bahu gadis itu dengan jari telunjuknya. Tubuh Tiara bergoyang namun dia tak lantas bangun dari tidur siangnya.
"Heh! Mau sampai kapan kamu tidur? Kamu kira ini hotel apa?" Gio mulai kesal saat yang dibangunkannya tak kunjung bangun juga.
"Apa dia pingsan?" bergumam dengan pelan. Dia mendekatkan dirinya lebih dekat lagi, sedikit menunduk untuk mendengarkan nafas Tiara dengan lamat. Di tusuk-tusuknya pipi gadis itu dengan ujung jari telunjuknya. Tiara hanya bergerak pelan lalu melanjutkan tidurnya.
Gio merasa heran, ada ya gadis yang sulit di bangunan seperti dia!
"Tiara?!" Sekali lagi menggoyangkan bahu Tiara dengan sedikit keras. Masih tak ada tanda-tanda juga. Akhirnya Gio memegang tangan Tiara untuk di tariknya. Betapa terkejutnya dia saat merasakan hawa panas dari tangan itu. Dia tempelkan punggung tangannya ke kening Tiara. Dia demam!
"Hei, Tiara kamu kenapa?" Gio panik. Dia kembali menggoyangkan bahu Tiara supaya gadis itu bangun.
Mata Tiara mengerjap, dia akhirnya membuka mata, mengangkat kepalanya sedikit, lalu tersenyum ke arah Gio. Wajahnya memerah. Apalagi matanya, sayu. Berat untuk di buka sepertinya.
"Bu. Aku sakit!" hanya itu yang Tiara katakan sebelum kedua matanya kembali terpejam, dan kepalanya kembali terkulai di atas kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
Gio semakin panik. Gadis ini tak pernah sekalipun seperti ini sebelumnya.
Tak menunggu waktu lag Gio menarik tangan Tiara dan membungkuk, menggendongnya di depan. Dia membawa Tiara dengan tangannya keluar dari area kantornya. Tak dia pedulikan tatapan dari orang-orang yang menatapnya heran.
...***...
Gio menatap Tiara yang kini masih tertidur pulas di ranjang rumah sakit. Demam Tiara masih belum turun juga. Dokter belum ada yang datang untuk memeriksa keadaan Tiara.
Betapa khawatirnya dia dengan gadis ini. Pasalnya dia tak pernah melihat Tiara dengan tubuh lemah seperti ini. Dia juga berhalusinasi tadi memanggil dirinya dengan ibu.
Dengan segera Gio mengeluarkan hpnya dan memanggil seseorang.
Tak lama, Heru datang karena panggilan dari Gio. Dia mendekat hingga jarak tiga langkah dari pria itu.
"Pergi ke rumah Tiara, dan sampaikan kalau Tiara ada di rumah sakit, tapi jangan sampai ibunya kaget." unjuk Gio. Heru menganguk faham, dia segera undur diri dari hadapan Gio dan melaksanakan perintah atasannya itu.
Satu orang lagi datang setelah kepergian Heru. Dia adalah Ken, salah satu dokter di rumah sakit ini.
Ken menatap Gio yang masih setia menemani Tiara. Pria itu duduk di samping brankar sambil terdiam menatap gadis itu. Ken tersenyum, memiringkan kepalanya. Tak pernah Gio bersikap seperti ini sekalipun dia dengan kekasihnya dulu.
"Ekhem..!" suara deheman Ken membuat Gio tersadar dan membenarkan posisi duduknya. menjadi tegak.
"Apa yang terjadi? Kenapa Tiara bisa pingsan seperti ini?" tanya Ken menyelidik pada Gio.
"Mana aku tahu. Aku kembali ke kantor dan dia sedang tidur, saat aku bangunkan dia... Badannya panas." terang Gio.
Ken mendekat ke arah Tiara. Gio beringsut menggeserkan kursinya ke arah lain, memberikan ruang untuk Ken memeriksa Tiara.
Gio berdiri, dia memperhatikan apa yang akan Ken lakukan.
"Apa yang kau lakukan?" Gio menahan tana Ken yang hendak membuka kancing baju Tiara.
"Aku hanya ingin memeriksa dia!" ujar Ken.
"Carikan saja dokter perempuan atau perawat perempuan, biar mereka yang melakukan ini!" ucap Gio dengan nada garang. Dia tak suka Kenzo menyentuh Tiara sembarangan.
"Hei aku ini dokter, berhak melakukan pemeriksaan pada pasien!" protes Ken, seakan dalam nada suara Gio tadi menyiratkan suatu ketidaksenangan pada dirinya.
"Lakukan saja apa perintahku! Jangan membantah!" ucap Gio lagi menatap manik mata Ken dengan tajam. Ken menarik kasar lengannya dari cekalan tangan Gio. Dia mendengkus kesal, lalu berbalik untuk pergi keluar dari ruangan itu. Memanggil dokter perempuan lebih baik daripada dia menapat murka dari lelaki yang notabene adalah sahabatnya. Se-meyeramkan itukah Gio? Ya... Dia tak mau dirinya di tugaskan ke pedalaman Kalimantan!
Dokter wanita sedang memeriksa keadaan Tiara, Gio dan Ken menunggu hasil pemeriksaan Tiara. Gio menggigit bibir bawahnya, khawatir dengan keadaan Tiara yang seperti itu.
"Tiara terkena tipus, demamnya sangat tinggi. Untuk sementara dia harus di rawat secara intensif disini. Saya sudah pasang infus, sebentar lagi suhu panas tubuhnya juga akan menurun!" ucap dokter wanita itu pada Gio. Ken hanya diam mendengar penjelasan dokter itu, dia sangat paham sekali dengan gejala tipus dan sebagainya. Berbeda dengan Gio, lakilaki itu terlihat panik dan juga melayangkan beberapa pertanyaanpada dkter wanita itu. Di jawabnya semua pertanyaan Gio dengan sabar, hingga Gio tenang dan tak terlihat panik lagi