DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
Axel-Gio part 207



Tiara perlahan membuka pintu kamarnya lalu menutupnya dengan cepat. Dia melotot melihat Gio yang kini tengah berbaring dengan santai di atas kasurnya. Berbaring miring dengan kepala tertopang telapak tangannya. Gio tersenyum menggerakkan kedua alisnya naik turun sambil menepuk tempat kosong di depannya.


Tiara mengunci pintu kamar. Takut jika ibu tiba-tiba nyelonong masuk. Padahal ibu tidak pernah melakukan hal itu, tapi Tiara hanya takut saja jika itu benar terjadi.


"Apa yang kau lakukan? Aku bilang kan kau harus sudah pergi saat aku kembali?!" Tiara berang. Dia memang suka dan juga bahagia melihat Gio yang ada disni, tapi dia juga takut dan juga kesal karena pria ini bukannya keluar tapi malah berbaring di atas kasurnya.


"Tadi kau bilang takut ketahuan ibu! Aku mana bisa keluar kalau kau bilang seperti itu!" ucap Gio dengan kesal.


"Kau kan bisa lewat jendela!" tunjuk Tiara pada jendela kaca.


Gio menoleh ke arah jendela, "kau tadi tidak bilang aku harus keluar lewat mana. Aku kira kau menyuruhku untuk pergi lewat depan, dan kau takut ketahuan ibu dan kau mati muda, jadi aku ya,... tidak berani keluar." Ucap Gio dengan santai.


Tiara menepuk keningnya. Ada benarnya juga, tiara tidak mengatakan Gio keluar lewat mana. Tapi dia kesal karena pria itu kini malah menarik selimut hingga ke dada. Rasa kesal ini membuat Tiara ingin sekali menyiramkan air yang ada di tangannya ke wajah Gio. Tapi tidak! Sayang kasurnya akan basah, dan dia akan sulit mengeringkannya besok, mengingat tidak ada yang tinggal di rumah. Mana bisa meningalkan kasur basah saat semuanya pergi bekerja!


"Sekarang kau sudah tahu aku menyuruhmu pergi lewat jendela, kau pergilah!" ucap Tiara kini berjalan dengan langkah kasar ke arah nakas dan menyimpan gelas disana.


"Terimakasih, kau sangat tahu sekali kalau aku sedang haus. Trimakasih, Sayang!" ucap Gio yang merebut gelas dari tangan Tiara, segera menyeruputnya dengan suara berisik. "Akh.... nikmat sekali!" ucap Gio lalu menyimpan kembali gelas itu ke atas nakas.


Tiara menopang kedua tangannya di pinggang. Dia berdecak kesal. daripada rindu, dia lebih merasakan kesal sekarang! Dasar kepala batu!


Tiara menarik tangan Gio untuk bangkit dari atas kasur.


"Sekarang kau pergi. Aku tidak mau ada laki-laki di dalam kamarku!" ucap Tiara dengan berang. Menarik tangan Gio sekuat tenaga, tapi tubuh itu tetap saja bergeming di tempatnya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Tiara berontak di dalam dekapan Gio.


"Aku tidak melakukan apa-apa. hanya sedang memelukmu karena kangen!" ucap Gio dengan santainya. Gio tersenyum dengan lembut, membuat Tiara terkesima.


Sudah sangat lama sekali dirinya tidak melihat senyum Gio, terhitung tiga belas hari lagi, enam bulan saat mereka berpisah sejak hari itu.


"Lepaskan G, aku mohon!" ucap Tiara, dia tidak mau dirinya menjadi gamang dan malah membuat hatinya yang sudah ia tata dengan rapi kembali hancur berkeping karena penolakan dari Nyonya Anyelir. Sekali tidak setuju, lalu bagaimana dengan nanti?


"Aku tidak mau lepaskan. Aku sangat kangen denganmu Tiara!" Ucap Gio, Tiara berhenti memberontak, hatinya berdebar mendengar Gio mengatakan hal itu.


Aku juga kangen, G. Sangat. Sangat kangen!


Ingin Tiara mengatakan hal itu, tapi... kembali teringat dengan siapa dia berbicara. Gio Arian Aditama! Seorang anggota keluarga Aditama!


"Lepaskan, Pak Gio. Aku mohon!" mata Tiara panas, suaranya berubah sendu bergetar siap mengalirkan buir cairan bening yang ia tahan mati-matian. Jangan sampai dia menangis dihadapan Gio.


Mendengara nada suara Tiara yang berubah Gio melepaskan Tiara. Tiara segera bangkit dari atas kasur. Merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakkan.


"Aku akan mandi. Sebelum aku selesai kau pergilah. Lewat jendela." ucap Tiara lagi. Tanpa banyak bicara, Tiara segera melangkah dan masuk ke dalam kamar mandi. Gio hanya menatap pungung Tiara yang kini menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Aku tahu kau juga mmerindukanku, Ara!" lirih Gio. Gio menyibak selimut lalu bangkit dari kasur Tiara.