DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
270. Happy Ending



Tiara bangkit dari duduknya, dia segera berlari tanpa mempedulikan Ridwan yang kini menatapnya dengan senyum. Dengan segera Tiara sampai di dapur dan memeluk Gio. Pria yang kini sedang mengunyah makanan itu sampai tersedak karena perlakuan Tiara yang tiba-tiba.


"Ara, apa yang kau lakukan? Aduh... Sakit!" keluh Gio saat makanan yang ada di lehernya tidak mau turun ke perut. Tersangkut dengan tak tau keadaan dirinya yang sakit disana. Gio mengusap lehernya yang sakit.


Tiara menjauhkan dirinya dan segera mengambilkan minum untuk suaminya. Merasa bersalah karena perlakuannya tadi membuat suaminya kesakitan seperti itu.


"Maaf, maafkan aku," ujar Tiara sambil menyodorkan air minum untuk suaminya.


"Ara, kau ini kenapa sih?" tanya ibu yang sedang menyiapkan makan siang.


"Ibu." Tiara mendekat ke arah ibu dan memeluknya. "Aku kangen," ucap Tiara kepada ibu.


"Ibu juga." Ibu mengelus kepala Tiara dengan lembut.


Gio baru saja selesai minum, dia kembali menghabiskan makanan yang ada. Tiara sedang bergelayut manja di lengan ibu. Menumpahkan rasa kangen yang ada. Syukurlah. Tidak ada air mata yang keluar dari mata cantik istrinya itu. Malahan senyum bahagia yang terpancar dari wajahnya. Ibu juga terlihat bahagia. Sepertinya keputusan Gio untuk membawa Ridwan kembali kesini adalah keputusan yang tepat.


Tiga wanita, ibu, Tiara, dan Cantik saling mengobrol sambil memasak bersama. Gio tidak mau mengganggu acara mereka. Dia bergegas pergi ke luar dan memilih bergabung dengan kakak iparnya dan calon istrinya di ruang tamu.


"Terima kasih Gio. Kau sudah membuat kami bahagia," ucap Ridwan.


Gio tersenyum menanggapi ucapan kakak iparnya itu.


"Kalian keluargaku juga, sudah semestinya aku membuat kalian bahagia juga, terutama istriku," jawab Gio.


Ridwan bahagia. Dia beruntung, adiknya mendapatkan caalon suami seperti Gio. Dulu dia pernah punya pemikiran untuk menjodohkan adiknya itu dengan pria lain. Seorang pengusaha juga. Berpikir untuk dia juga bisa mendapatkan keuntungan dan bisa menyembuhkan Nita. Untungnya dia terlambat. Anak buah Gio sudah datang dan memberitahunya bahwa Tiara akan menikah dengan Gio. Dan siapa yang tahu jika pria ini ternyata berkali lipat lebih tajir dari pria itu.


Oh, kadang Ridwan merasa dirinya bukan kakak yang baik, masih sering melihat bahwa harta adalah hal yang penting.


Ah sudah lah. Bukan mauku juga jika Tiara menikah dengan pria ini. Bukan mau ku juga jika pria ini memberikan aku pekerjaan dengan bayaran yang besar. Aku hanya meminta sedikit untuk menyembuhkan Nita, dan dia setuju. Jadi ini bukan salahku kan? Ridwan bermonolog dalam hati.


...****...


Malam harinya, Gio dan Tiara berkunjung ke kediaman Aditama. Mereka menyambut kedatangan kedua pengantin yang masih baru ini. Seperti biasa, Mama Anye dan Renata menyambut Tiara dengan hangat. Rasa rindu dan bahagia menyambut anggota baru keluarga ini.


Mereka makan malam bersama di sebuah meja jamuan besar. Berbagai makanan lezat tersedia disana.Tidak tanggung banyaknya, makanan kesukaan setiap orang ada disana, termasuk makanan yang Axel tak suka, kini semenjak Renata hamil dia jadi menyukai makanan yang dia sangat tidak ia suka. Bubur ayam. Makanan itu kini wajib harus ada di atas meja makan untuknya.


Tiara menatap aneh Axel yang makan bubur degan lahap, dia kira Axel sedang sakit.


"Dia jadi aneh semenjak istrinya hamil. Dulu dia sangat tidak suka makan bubur," bisik Gio pada istrinya itu. Tiara mengangguk sebagai jawaban. Dia ingin banyak bertanya tapi tidak sopan juga banyak bicara di saat makan malam seperti ini.


"Bagaimana hari kalian di Kalimantan?" tanya Anye pada keduanya.


"Semua baik, Ma. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ucap Gio.


"Syukurlah. Tiara, sekarang kau sudah tenang meninggalkan ibumu dengan kakakmu kan?" tanya Anye lagi.


"Ma– Mama tau?" tanya Tiara, terkejut dan juga malu. Dia melirik ke arah Gio yang hanya tersenyum ke arahnya.


"Gio sering curhat kepada Mama, tentu Mama tahu. Kami sedang mengupayakan calon istri kakakmu untuk pengobatan yang terbaik. Kami sedang mencari dokter terbaik untuk mengoperasi wajahnya."


"Ma, aku tidak curhat. Aku hanya meminta saran saja," ucap Gio protes. Dia bukan Axel yang sering curhat perihal rumah tangganya. Gio hanya meminta saran dan juga meminta bantuan kepada mama untuk mencarikan dokter terbaik untuk calon istri Ridwan, dan juga sedikit bicara tentang suasana hati Tiara yang sering muram.


Anye tertawa mendengar hal itu.


"Oh, Mama salah bicara ya? Tapi Mama tidak bisa membedakan mana curhat dan mana meminta saran," ucap Anye tidak peduli, Devan dan Axel yang mendengar itu tertawa kecil melihat wajah Gio yang kini memerah. Dia pasti sangat malu sekarang. Cowok sok cool dengan wajah datar itu kini bersemu merah di wajahnya.


"Kau tahu Ra. Gio kami banyak sekali berubah setelah menikah denganmu. Dia sekarang ini lebih sering menelepon kami untuk bertanya bagaimana cara membahagiakan istrinya. Bagaimana cara agar dia bisa menjadi suami yang baik." Devan menambahkan.


Blushhh....


Wajah Gio semakin memerah. Dia sangat malu sekali sekarang.


"Pa, bisakah kita tidak membicarakan itu? Kita sedang makan sekarang. Mana etika saat makan malam bersama?" Gio mengalihkan pembicaraan. Dia sungguh tidak mau Tiara tahu lebih banyak tentang dirinya yang bertanya pada mama dan papa selama ini.


"Ah, etika saat makan malam, sudah lama menghilang. Kapan lagi kita bisa biacara besama seperti ini? Kita hanya bisa bertemu saat makan malam. Apalagi kalian juga kan baru bertemu dengan kami sekarang." Devan menjelaskan.


"Kenapa? Apa kau malu dengan perbuatanmu sendiri, G?" tanya Axel menggoda.


"Tidak, siapa yang malu? Tidak sopan sekali rasanya bicara saat makan malam." Gio mengelak, padahal di dalam hatinya dia merasa ingin mendadak punya jurus menghilang seperti ninja.


"Oh Ayolah, kau sangat terlihat sekali sekarang ini. Lihat wajahmu. Merah. Haha." Axel tertawa dengan keras. Dia menunjuk tepat ke arah Gio yang kini semakin merah di wajahnya.


Renata yang kesal dengan kelakuan suaminya ini mencubit paha Axel dengan keras di bawah meja, hingga pria itu terpekik kesakitan.


"Sakit." Rajuk Axel pada istrinya, tangannya mengelus pahanya yang kini mungkin sudah merah. Cubitan istrinya itu bagai semut besar yang menggigitnya, terasa panas kemudian.


"Perhatikan cara bicaramu. Tidak sopan begitu pada kakak sendiri!" Renata memberi peringatan, dia lalu mengelus perutnya yang buncit seraya mengatakan 'amit-amit' dalam hati. Jangan sampai anaknya ini menurun pada sifat ayahnya yang terkadang kekanakan. Sangat kekanakan dan juga manja.


"Iya maaf," Axel berkata dengan lirih. Bibirnya manyun beberapa senti.


Tiara ingin tertawa sebenarnya. Dua pemimpin perusahaan besar di depannya ini, Axel dan juga Papa Devan, terlihat sangat berwibawa di depan karyawannya, tapi di dalam rumah, mereka ternyata suami yang sayang istri, tidak berdaya.


"Rasakan!" cecar Gio dengan puas. Adiknya ini tidak berdaya jika di depan istrinya. Renata yang kalem bisa membuat Axel menjadi pria yang berbeda.


"Kau tahu Ra. Gio juga sering menelepon kepadaku. Dia menanyakan hadiah apa yang akan menjadi ummppttt ...." ucapan Axel terhenti karena Renata dengan cepat membekap mulut Axel. Dia juga melotot kepada suaminya itu dengan tajam.


Devan menggelengkan kepalanya, sedangkan Anye menepuk keningnya dengan keras. Gio pun terhenyak dan melotot ke arah adiknya itu. Ingin rasanya menghambur ke arahnya dengan melewati meja makan dan mencekik adiknya hingga sesak napas.


Kenapa anakku ember sekali? batin Anye tak mengerti. Axel sungguh beda sekali dengan Daniel. Anak ini terlalu ....


Ah, Anye tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Hadiah? Hadiah apa?" tanya Tiara tidak mengerti. Dia mentap heran kepada Axel yang kini masih dibekap mulutnya oleh Renata.


"Bukan apa-apa. Aku meminta hadiah kepada Gio kemarin. Mungkin dia bertanya pada Axel. Iya kan, Sayang?" tanya Renata dengan membesarkan matanya. Axel takut menatap mata bulat yang semakin bulat itu.


Mampus! Alamat gak akan kasih tengok anak nanti!


Axel menganggukkan kepalanya, dia menurunkan tangan Renata yang masih betah membekap mulutnya.


"Iya, aku ... itu maksudku. Gio kan gak tahu hadiah apa yang istriku mau, jadi dia sering telepon aku dan menanyakan hadiah apa yang istriku mau. Apa kau sudah membelikannya G? Ini untuk babyku. Dia kemarin bilang padaku ingin mobil sport keluaran terbaru." Axel tersenyum dengan kikuk. Bisa dicekik dia oleh semua orang kalau dia tadi keceplosan bicara.


"Kau mau aku siram dengan minumanku? Mana ada bayi yang mau mobil sport seperti itu?" tanya Gio dengan geram.


"Ada, semalam aku menengok dia dan dia membisikkan ingin mendapat hadiah mobil dari pamannya, apa itu salah?"


Menengok anak?


Tiara yang mendengar kata-kata itu merasa malu. Seketika pikiran liarnya berkelana.


Renata yang mendengar ucapan ambigu dari mulut suaminya itu, memukul lengan Axel dengan keras. "Axel, jaga ucapanmu. Jangan bicara jorok!"


"Aku bicara jorok apa?" tanya Axel dengan bingung. "Aku tidak ...."


"Sudah lah kalian ini! Jangan ribut. Renata, jangan marah-marah! Axel, tutup mulutmu!" Anye menengahi keributan yang ada disana. Semuanya kini terdiam mendengar ratu di rumah ini sudah berbicara.


"Gio, Tiara kalian nanti akan menginap disini, 'kan?" tanya Anye. "Mama harap kalian menginap disini, Mama sangat kangen sekali dengan kalian. Mau ya." Mohon mama dengan tatapan penuh harap.


Tiara bingung. Ibu juga pasti sedang menunggunya pulang ke rumah.


"Aku mau menginap disini malam ini, kamu gak keberatan kan?" tanya Gio kepada Tiara. "Aku juga sudah meminta izin kepada ibu dan ibu mengizinkan seandainya kita tidak pulang malam ini." sambungnya lagi. Tiara mengangguk pada akhirnya. Jika dipikirkan, menginap disini hanya malam ini saja, dia akan punya banyak waktu lebih dengan ibu besok dan beberapa hari ke depan sebelum kembali ke Kalimantan. Rasanya tidak adil juga jika dia menolak. Gio juga berhak bersama dengan keluarganya.


"Iya, kami akan menginap Ma," ucap Tiara pada Anye. Anye tersenyum senang dengan ucapan menantunya ini.


Setelah selesai makan malam. Mereka mengobrol di ruang keluarga. Tiara menatap perut Renata yang sudah membesar. Tanpa sadar Tiara juga mengelus perutnya yang masih rata. Dia ingin seperti itu juga, pasti akan sangat lucu jika dia nanti hamil dan juga punya bayi. Suasana rumah akan terasa ramai dengan tangisan bayi.


"Nanti kita akan buat, kita akan punya sendiri. Jangan iri dengan mereka," ucap Gio dengan berbisik di telinga Tiara. Tiara merasa panas di wajahnya. Memang bukan hal yang baru mereka melakukan hubungan intim, tapi membahasnya sekarang jadi panas juga. Ingin segera pergi ke kamar dan ....


"Jangan bahas yang seperti itu, obrolan kita sepertinya masih sangat panjang." Tiara menyikut perut kotak Gio. Gio tertawa kecil, geli melihat ekspresi wajah Tiara yang seperti itu. Dia sangat tahu, Tiara dan juga dirinya masih dalam masa pengantin baru, masih sangat suka dengan hal memabukkan yang seperti itu.


"Ma, Pa. Kami permisi mau istirahat dulu. Tiara masih lelah dengan perjalanan panjang hari ini." Gio berpamitan kepada kedua orangtuanya, membuat Tiara menoleh ke arah suaminya itu


"Oke, istirahatlah dengan baik," ucap Anye pada keduanya.


"Ah, aku tahu. Kalian mau berdua saja dan main catur kan? Mainkan strategi agar kalian bisa cepat memberiku keponakan. Biar putraku punya saudara." Axel tersenyum menggoda ke arah Tiara, tangannya mengelus lembut perut Renata.


Tiara semakin malu. Dia merasa salah tingkah dengan godaan yang dilayangkan pria itu.


"Kau ini, bisa tidak sih jangan ganggu mereka?" Devan membuka suara setelah sedari tadi hanya memperhatikan saja. Axel hanya tersenyum sambil mengangkat tangannya berbentuk V.


"Ayo jangan hiraukan dia." ajak Gio dengan menarik tangan Tiara. Tiara mengangguk dan berpamitan pada Anye dan juga semua orang yang ada disana.


"Re, ngomng-omong ...," Gio menjeda ucapannya. "... Axel masih merokok di belakangmu," ucap Gio lalu dengan cepat dia pergi membawa Tiara menuju ke latai atas.


Gio tersenyum puas sambil menatap Renata yang memarahi Axel dengan hebat. Di sela pandangan memohon ampun pada istrinya itu, Axel masih sempat melotot kepada Gio dengan marah.


"Kau keterlaluan, G. Axel jadi dimarahi Renata kan!" seru Tiara kepada suaminya itu. Gio tertawa kecil, dia menarik Tiara ke dalam pelukannya. Punggungnya ia sandarkan pada kepala ranjang hingga membuat Tiara berada di atas tubuhnya.


"Tidak apa-apa. Dia memang pantas mendapatkan marah dari istrinya itu. Axel harus bisa menjaga kesehatannya, dia harus menjaga jantung kakak Renata dengan baik."


Tiara mengangkat kepalanya, dia menatap Gio dengan tidak mengerti.


"Jantung kakak Renata?" tanya Tiara. Gio mengangguk.


"Panjang ceritanya, dan kita akan kehabisan malam ini jika aku bercerita." Gio terkekeh menatap wajah penasaran istrinya.


"Aku pikir, mereka memang sudah jodoh. Axel sakit sejak lahir, masalah jantung bawaan kata mama. Saat Axel sekitar berusia sepuluh tahun, dia mendapatkan jantung baru. Papa mencari tahu jantung milik siapa itu, tapi tidak ada petunjuk hingga akhirnya jasad anak lelaki berusia remaja itu dikuburkan dengan layak oleh keluarga ini."


"Baru kemarin, saat sebelum mereka menikah kami baru tahu kenyataan itu. Renata melihat lukisan milik Axel, ada kalung miliknya di dalam lukisan itu. Axel tidak bisa menggambar sebelum dia mendapatkan donor jantung, tapi setelah dia mendapat jantung baru, dia jadi mahir menggambar, bahkan melukis dengan indah. Kau tahu banyak lukisan di bawah sana kan? Itu lukisan yang Axel buat."


Tiara menatap Gio tidak percaya. Lukisan yang selama ini ia lihat di rumah ini sangat indah, dia kira itu milik pelukis terkenal.


"Aku tidak tahu itu Axel yang membuatnya," ucap Tiara. Gio hanya tersenyum dan mulai melanjutkan ceritanya. Tiara kembali merebahkan kepalanya di atas dada Axel, mendengarkan cerita tentang hidup Axel dan juga Renata yang.


"Ayo kita tidur." Gio menutup ceritanya. Tiara mengangguk patuh. Dia beralih ke samping Gio dan mulai menyamankan dirinya di atas tempat tidur.


Gio semakin mendekat ke arah Tiara. Dia memeluk istrinya itu dengan erat. Setiap malam, Gio akan tidur dengan memeluk Tiara. Seakan wanita itu menjadi candu baginya.


"Kita akan bermain catur?" tanya Gio dengan menatap ke kedalaman mata Tiara.


"Catur? Aku tidak bisa bermain catur!" jawab Tiara.


Gio tertawa geli. "Maksudku ... permainan catur dengan strategi untuk segera menghasilkan anak."


Tiara tersenyum malu. Haruskan melakukan disini? Di rumah mertua?


"Aku malu, G."


Gio mengerutkan keningnya. "Malu? Kenapa?" tanya Gio.


"Ini rumah mertua. Aku malu jika besok keluar dengan rambut basah," ungkap Tiara malu-malu. Gio mengeratkan pelukannya.


"Ah kau ini. Ada hairdryer, aku jamin akan keluar dengan rambut yang sudah kering." Gio tertawa kecil. Dia mulai mendekat ke arah Tiara dan memberikan kecupan ringan di bibir Tiara.


"Aku sangat kangen sekali denganmu. Aku ingin malam ini jadi malam yang tidak terlupakan." Tiara tersenyum dengan ucapan Gio.


"Setiap malam yang telah kita lewati juga tidak akan terlupakan, G." Tiara tersenyum, dia memainkan ujung jari telunjuknya di dada Gio.


"Terimakasih, atas semua yang telah kau lakukan untukku. Banyak sekali yang telah kau lakukan. Kau sudah membuat kakakku kembali, tapi aku ... aku sama sekali belum melakukan hal apapun untukmu," ucap Tiara dengan sendu. Dia merasa sedih, memang benar dia belum pernah melakukan apapun untuk Gio.


"Kau tidak perlu melakukan apapun untukku, cukup menjadi istriku." Gio tersenyum sambil mendekatkan diri untuk mengecup kening Tiara.


Perlakuan hangat Gio kepada Tiara berlanjut. Bukan hanya dengan ciuman dan kecupan, tapi juga berlanjut kepada hal yang lainnya hingga mereka kini hampir melepaskan pakaian mereka.


Syyuuuttt .... Duarr!!


Suara sesuatu meledak di luar, Tiara dan Gio terkejut, hampir terlonjak dari tempatnya. Tiara dan Gio menatap ke arah luar. Dari luar jendela terlihat cahaya berwarna-warni. Suara-suara ledakan itu masih terdengar beruntun. Gio berdecak dengan kesal. Ini pasti ulah Axel.


"Suara apa itu di luar?" tanya Tiara sambil beranjak dari ranjang. Gio hanya mengangkat kedua bahunya tinggi-tinggi. Tiara segera turun dari ranjang sambil merapikan bajunya yang terbuka kancingnya. Tiara setengah berlari ke arah balkon. Dia segera membuka pintu balkon itu dan menatap ke arah langit malam yang kini berwarna-warni dengan indah.


Tiara menatap ke arah bawah dimana beberapa orang berada disana. Ternya Axel yang menyalakan kembang api. Tiara juga sangat terkejut dengan keberadaan mereka, ibu, Ridwan dan juga Nita ada disana bersama dengan Mama Anye, Papa Devan, dan juga Renata.


Gio telah sampai di dekat Tiara. Dia menatap kesal pada saah satu pria yang ada disana. Benar-benar membuat emosi.


"Gio lihat itu? Ibu! Kakak!" teriak Tiara tak percaya.


"Tiara!! Ini hadiah untukmu dari Gio!" teriak Axel yang ada disana. Kedua tangannya melambai dari taman di depan kamar Gio. Kembang api masih menyala di atas sana, membuat suasana malan yang gelap kini menjadi terang oleh cahayanya yang indah.


Gio kesal bukan main. Ini waktu yang tidak tepat untuk menyalakan kembang api. Rencananya tidak secepat ini. Dia akan melakukan suatu hal tengah malam nnati.


Dasar Axel. Awas saja kau nanti! geram Gio. Ingin sekali dia melompat dari balkon dan menggantung Axel di tiang lampu dengan tubuh terbalik. Rencana kejutan yang dia susun dengan mama dan papa, kenapa jadi maju beberapa jam? Kan dia belum siap dengan kata-kata yang akan dia katakan kepada Tiara.


Tiara menatap Gio dengan bingung.


"G, ini hadiah apa? Aku tidak sedang berulang tahun," ucap Tiara kepada Gio.


Gio hanya tersenyum meringis. Dia merogoh saku celananya dan mengeluaran sesuatu dari sana.


"Aku belum pernah melamarmu dengan romantis kan?" tanya Gio dengan sambil menekuk satu lututnya ke lantai. Gio membuka kotak yang sudah ia persiapkan sedari tadi di rumah.


Tiara tidak mengerti dengan apa yang dilakukan suaminya ini. Dia hanya diam terpaku dengan semua yang dia lihat dan dia dapatkan. Suara kembang api masih bersahutan di atas sana, tapi suara itu kini seakan menghilang dan hanya terfokus dengan keadaan dirinya yang kini dalam keadaan yang canggung dan tak percaya.


"Tiara, aku ingin memberikan pengalaman yang lain untukmu, meski mungkin ini bukan hal yang romantis seperti yang kau mau, tapi ini yang bisa aku lakukan. Di hadapan semua orang yang ada di bawah sana. Aku ingin melamarmu sekali lagi." ucap Gio degan mantap.


Tiara menyandarkan dirinya pada pagar balkon. Dia menutup mulutnya dengan satu tangan. Matanya hampir tidak berkedip, napasnya juga terasa sesak. Paru-parnya tidak memompa oksigen dengan benar. Otaknya juga tidak bisa berpikir dengan baik. Semua yang terjadi sekarang membuat dirinya bak kabel yang konslet.


"Kita sudah menjadi suami istri, tapi aku belum bisa memberikan hal terbaik untuk mu. Aku ingat kau ingin aku lamar dengan hal romantis, meski aku tidak yakin apakah aku melakukannya sesuai dengn apa yang kau mau."


"Ara, terima kasih. Kau telah mau menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih kau telah menerimaku menjadi suamimu. Aku tanpamu, bagai kumbang yang terus mencari bunga yang tepat. Dan aku ... Ah maaf.Aku tidak isa merangkai kata dengan benar. Aku pikir kumbang bukan kata yang tepat, hehe.... " Gio tertawa terkekeh. Sangat bodoh sekali kenapa memilih hewan kumbang untuk mengibaratkan dirinya, padahal kumbang hinggap di bunga-bunga yang cantik dan juga manis, memberikan kenikmatan sesaat.


"Tiak perlu bertele-tele, katakan saja secara langsung Gio!" seru Tiara.


"Intinya. Kau istriku, aku akan setia padamu sampai akhir hayatku. Aku akan selalu menyayangimu sampai akhir hidupku. Hanya kau yang akan ada di hatiku. Hanya kau yang akan selalu ada di dalam pikiranku. Aku ingin kau menjadi ibu dari anak-anakku. Selamanya kita menjadi keluarga yang bahgia sampai akhir dari kita."


Gio mengambil tangan Tiara dan menyematkan sebuah cincin dengan berlian yang sederhana tapi terlihat elegan di jari manis Tiara, berdekatan dengan cincin pernikahan mereka.


"Gio, kau menyematkan dua cincin di jari manisku." protes Tiara.


Gio terkekeh. "Aku tidak tahu harus memasangkannya di jari yang mana. Tapi tolong, sematkan aku di dalam hatimu, Ara."


Tiara mengangguk. Dia sudah tidak peduli lagi dengan jari manisnya yang terdapat dua cincin sekaligus. Sama saja. Ini dari suaminya juga!


Tiara menarik tangan Gio membuat pria itu kini bangkit dan berdiri sejajar di depannya.


Tiara menghambur di pelukan suaminya itu.


"Terimakasih, Gio. terima kasih. Semua yang kau berikan padaku sangat cukup. Ini lebih dari yang aku bayangkan." Tiara berucap dengan haru. Gio tersenyum senang. Dia sangat merasa senang karena apa yang sedari kemarin dia rencanakan dengan mama dan papa akhirnya berhasil membuat Tiara bahagia dan terharu. Hanya saja dia harus melakukan sedikit perhitungan dengan Axel yang kini bersorak paling keras di bawah sana.


TAMAT