DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 75



Ini hari ke tujuh. Aku kacau. Devan pun terlihat sama, tapi aku masih belum tahu alasan apa Devan tidak pernah bertanya padaku. Saat sarapan dia hanya diam tidak pernah menyuapiku lagi, saat malam dia memilih tidur di sofa seperti saat kami belum menikah dulu. Tidak ada kiss morning, apalagi ciuman selamat malam. Tidak ada elusan di prutku, atau ciuman dan bisikan manja pada anaknya. Devan seperti membuat jarak denganku.


Ada apa?


"Dev, bisa kita bicara?" aku mencoba menepis hawa aneh di sekitar kami. Devan hanya diam meneruskan makannya.


"Kamu akhir-akhir ini kenapa? Aku ngerasa kamu jauhin aku." tanyaku dengan pelan dan lembut. Padahal di dalam hati ini aku ingin berteriak sekarang!


"Tidak apa-apa. Aku hanya capek." jawaban yang sama seperti kemarin. Dan aku tidak puas!


Hening.


Hanya diam, suara dentingan sendok lebih keras terdengar. Sesekali aku melirik suamiku, dia terlihat cuek, tenang dengan menatap makanannya tanpa ekspresi, juga terlihat malas untuk makan sepertinya.


"Dev..."


"Makanlah dulu, nanti kita bicara!" titahnya.


Oke, nanti aku akan bicarakan semua yang aku rasa di dalam hatiku. Ini tidak bisa di biarkan! Bagaimanapun juga kami harus bicara!


Selesai makan, aku menyusul Devan di ruang kerjanya. Suasana disini mendadak angker, dingin, mengerikan, hingga bulu tanganku meremang.


Devan duduk di kursinya, pekerjaannya dari kemarin sepertinya tidak berkurang, malah semakin menumpuk. Aku tahu mungkin ini bukan waktu yang tepat untuk kami bicara, kurasa Devan sedang lelah akibat pekerjaan, tapi aku juga tidak bisa dia diamkan lebih lama.


"Dev. Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu cuek sama aku? Kamu gak nanya sama aku, gak nyapa, bahkan kamu juga gak mau tidur di kamar. Aku ada salah? Aku minta maaf kalau aku singgung kamu, Dev. Aku..."


"Memang pantas kamu minta maaf. Apa lagi kesalahan kamu ini sangat fatal!"


Fatal? Maksudnya?


"Maksud kamu? Aku minta maaf. Apapun kesalahan aku, aku minta maaf!" ucapku tulus.


"Tentu, aku akan maafkan kamu, tapi setelah anak ini lahir kamu tinggalkan tempat ini."


Aku pasti salah dengar! Tapi dadaku terasa sesak.


"Maksud kamu apa Dev? Kamu usir aku?" tanyaku lirih, bisa ku rasakan kalau suaraku bergetar sekarang.


"Ya!" jawabnya tanpa menatapku. Dia sibuk memeriksa kertas-kertas itu.


"Kesalahan apa yang sudah aku perbuat sampai kamu bilang fatal Dev?" tanyaku. Mataku mulai panas. Dia pasti bercanda, tapi candaannya ini benar-benar tidak lucu sama sekali!


Devan menghela nafas lelah, tangannya berhenti, menyimpan pulpen di atas meja, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam laci, melemparkannya tepat di depanku. Sebuah amplop berwarna coklat.


Aku menatap Devan, ingin bertanya apa isi di dalamnya, tapi suaraku ini tidak bisa aku keluarkan. Dia menatapku tajam, seolah dari tatapan itu dia bilang "Buka saja dan lihatlah!" . Rahangnya mengeras, sorot mata tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsanya.


Aku takut.


Gemetar tanganku mengambil amplop itu. Membukanya perlahan. Dadaku sesak, mataku seketika melotot terasa panas, jantungku seolah berhenti seketika.


Foto! Jelas ini semua fotoku, dan...Samuel! Entah berapa lembar foto itu, tapi aku kira mungkin ada dua puluh lebih. Satu persatu aku melihat foto itu, ada beberapa foto ku dengan pria lain, disini jujur terlihat sangat mesra.


Di sebuah pusat perbelanjaan, kami duduk makan berdua. Tapi aku benar-benar tidak pernah makan berdua dengan laki-laki lain, hanya sekali waktu itu. Aku dan mbak Yani, asisten yang dikirim mama untuk membereskan apartemenku setiap tiga kali dalam seminggu.


Kami sedang berbelanja kebutuhan bulanan, dan tidak sengaja saat memilih barang seorang pria kurang dari tiga puluh tahun menyenggolku hingga aku hampir jatuh. Dia dan mbak Yani, menahan tubuhku hingga aku tidak terjatuh, dan untuk permintaan maafnya dia memaksa untuk mentraktir kami makan. Saat itu mbak Yani sempat minta izin ke toilet. Apakah mungkin foto ini di ambil saat kami hanya berdua? Saat itu bukan Samuel yang menjaga kami, karena Samuel sedang di beri tugas oleh Devan entah kemana selama dua hari.


Ada fotoku dengan Samuel, dari baju yang aku pakai, itu malam saat aku mabuk di kapal pesiar. Disana terlihat aku sedang berdekatan dengan Samuel, seperti kami hendak berciuman. Lalu saat berdansa dengan Samuel yang memeluk erat pinggangku, dan aku bersandar di dadanya. Saat aku di gendong ala bridal, dan di atas ranjang terlihat seperti Samuel sedang berada di atasku, juga foto saat Samuel keluar dari kamarku dengan hanya memakai kemeja putih dan rambut berantakan. Tapi aku bisa pastikan kalau kami tidak melakukan apapun, aku masih pakai baju lengkap saat pagi terbangun dari tidurku. Kurasa aku juga tidak bodoh, foto ini hanya jebakan. Meski aku mabuk, tapi aku pasti tahu semalam kami bercinta atau tidak. Jelas tidak ada bukti sisa percintaan di antara aku dan Samuel. Tidak ada!


Beberapa foto saat di kapal pesiar dan entah foto kapan lagi disana, aku dengan Samuel yang terlihat mesra. Tapi aku yakin aku selalu jaga jarak dua atau tiga meter darinya, dan jika di lihat dari sudut foto-foto ini kami terlihat tidak berjarak karena di ambil dari arah samping.


"Apa maksudnya ini Dev, ini bukan aku... maksudku aku tidak pernah hianatin kamu! Aku yakin foto itu... ada yang ingin fitnah aku Dev!" Devan hanya terdiam, wajahnya penuh amarah, sorot matanya terlihat menakutkan!


"Jadi ini kelakuan kamu selama aku bekerja? Selama aku tidak ada di rumah?" Devan mencengkeram tanganku, sakit. Aku meringis.


"Sakit Dev! Tolong lepaskan! Sakit!" rintihku, tapi Dev tidak mendengarkan, tanganku semakin sakit hingga rasanya urat di tanganku ingin pecah menonjol kebiruan akibat cengkeramannya.


"Dev, aku yakin ada yang mau fitnah aku Dev. Ini memang aku tapi bukan seper..."


"Mengaku kan?" tutur Devan. Aku menggelengkan kepala, mataku mulai panas berair hingga tak terasa air mataku jatuh begitu saja. "Sudah lama foto ini ada dan aku menahan amarahku, tapi ini..." menunjuk foto saat aku berdansa dengan Sam. "Sudah tidak ada toleransi lagi!"


"Aku bisa jelaskan Dev. Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku bisa jelaskan satu persatu foto itu! Malam itu aku mabuk, tapi aku bisa pastikan kami tidak melakukan apa-apa!" aku meyakinkan Devan. Devan hanya menggelengkan kepalanya.


"Mabuk? Ohh jelas!" tertawa miring, malah semakin membuatku takut karena dia menarik tanganku hingga perutku terbentur tepian meja, sedikit terasa linu. "Ternyata selain kamu penghianat kamu juga bukan wanita baik-baik. Salahku karena aku masih mengira kamu seperti dulu, Anyelir!"


"Sakit, Dev. Lepas!"


"Jadi anak ini, milik siapa?!" pertanyaan ini membuat aku semakin sakit dari pada rasa sakit di perutku. Hatiku hancur. Ini artinya Devan tidak mengakui anaknya kah?


"Tentu ini anak kamu Dev! Kamu juga tahu kan kalau malam itu aku masih utuh? KAMU YANG PERTAMA BUAT AKU DEV!!!" aku berteriak setengah frustasi. Devan menghempaskan tanganku dengan kasar. Amarahnya masih memuncak. Dia bangkit dari duduknya dan condong ke depan dengan satu tangan bertumpu ke atas meja, tangan kanannya mencengkeram pipiku, hingga aku merasa sakit disana. Aku memegang tangan Devan, memukulinya supaya dia melepaskanku.


"Aku yang pertama, tapi setelah itu bisa saja kan kamu dengan yang lain termasuk LAKI-LAKI LAKNAT ITU!!!" teriak Devan tepat di depan wajahku. Kali ini bisa aku lihat urat-urat di wajahnya membiru.


"Enggak, tidak pernah Devan, aku bersumpah!" memohon, tapi Devan seakan tengah ada yang merasuki, dia tidak bisa mendengarkanku sekarang. Aku takut, siapapun tolong aku!


"Kamu bisa tanya mama, Dev. Mama pasti tahu ini hanya salah faham!" masih berharap dia melepaskan pipiku, ini sakit!


"Justru karena mama yang sadarkan aku kalau kamu bukan wanita baik-baik Anyelir!! Tapi selama ini aku buta karena aku sangat cinta sama kamu!"


Apa? Jadi, apakah aku di jebak? Mama... tega!


Hahh... Aku bodoh! Aku bodoh karena telah telah percaya pada wanita tua itu, wanita berhati ibl*s!


"Dev. Bukankah selama ini mama berusaha buat pisahin kita, mungkin ini cara mama yang lain. Kamu harus percaya sama aku Dev! Aku gak pernah hianatin kamu!" Devan melepaskan cengkeramannya dari pipiku, tapi dia beralih mencekik leherku. Sesak! Sakit!


"Sayangnya aku percaya dengan yang aku lihat!"


Terlambat, semua ini terlambat, Devan sudah murka, dan untuk saat ini dia tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan. Matanya merah.


"Jangan kamu perlihatkan wajah sedih kamu, karena aku tidak akan kasihan sekarang!" Devan semakin erat mencekik leherku.


"Kau wanita murahan, apa yang selama ini kurang dari aku HAHH?!!! Harta sudah aku berikan! Derajat juga! Kamu tidak akan di hormati orang lain kalau tidak menikah denganku! Ingat asal usul kamu itu dari mana?!!"


Selama ini dia yang tidak pernah peduli dengan asal usulku, tapi malam ini dia yang ingatkan aku tentang itu! Harta, dan derajat!


"Apa baiknya dia DI BANDING AKU?!!" Devan merangkak naik ke atas meja. "DIA HANYA SEORANG PENGAWAL RENDAHAN!!" telingaku sakit!


Samuel kamu dimana? Aku harap Devan tidak melakukan hal yang membahayakan kamu. Ini semua fitnah, dan Samuel ikut menjadi korbannya. Ataukah... dia juga ikut kerjasama dalam permainan mama?


"Dimana... dia? Dimana Samuel?"


"Masih menanyakan kekasihmu?" Devan turun dari atas meja, dia duduk di atas pangkuanku. "Dia sudah tenang di atas sana. Jadi buat apa kamu masih fikirkan dia. Sudah jelas kamu ada suamimu disini!" Melepaskan cekikannya, dan mengelus lembut pipiku.


"Aku suamimu. Aku akan hapuskan segala yang sudah dia lakukan padamu!"


Breetttt!!!


Bajuku sobek, terbelah menjadi dua. Menampilkan buah dadaku yang semakin membesar. Devan tertawa melihat perbuatannya. Dia berdiri dan menarik rambutku, mendorongku hingga terjengkang ke atas meja. Mengunci kedua tanganku di atas kepala.


Seperti singa yang kelaparan, dan aku lah mangsanya. Dia mulai bermain dengan kasar, tanpa pemanasan, tanpa sikap lembut. Dia kasar, bahkan menampar wajahku. Sakit.


Aku berontak, tidak bisa, tenaganya terlalu kuat. Tapi yang lebih sakit lagi saat dia melakukannya, menerobos milikku, menghentak dengan kasar dan cepat, tak peduli saat aku berteriak kesakitan di area perutku. Terus menggauliku sambil terus meneriakkan kata yang tak pantas padaku!


*


*


*