
Mobil sudah sampai di depan rumah. Edgar selaku lelaki gentle katanya, membukakan pintu untukku. Oke lah, terserah dia saja!
"Makasih ya bang! Tapi lain kali kalau mau ajak Anye keluar mendingan ke sirkuit balap!"
"Hahh??" kening Edgar mengkerut.
"Gue mau minta di ajarin nyetir mobil sama Rifat Sungkar atau Rio Haryanto!"
"Ish dasar! Gue kira mau lihat balapan mobil!" ucapnya dengan mencubit hidungku gemas. Ku rasa hidung ini panas, dan pasti merah mengingat dia mencubitnya agak keras.
"Ya udah masuk sana. Bang Ed juga mau langsung pulang."
"Oke, makasih ya bang!" ucapku untuk terakhir kalinya lalu masuk ke dalam pagar rumah.
Mobil Devan masih terparkir di garasi. Ah aku fikir dia udah pulang tadi.
Masuk ke dalam rumah, dan mendapati dua orang itu masih duduk di ruang tamu. Kue coklat yang di buat kak Mel tadi pagi terlihat masih banyak.
"Anyelir kamu sudah pulang?" tanya Devan. Kak Mel baru menoleh karena sejak tadi memainkan ponselnya.
"Ya udah pulang lah, orang aku juga dah nyampe disini! Kalau gak ada di rumah berarti Anye belum pulang!" ucapku ketus sambil berlalu.
"Anye!! yang sopan kalau bicara!" Kak Mel memperingatkan.
"Hehe. Maafkan aku baginda raja..." ucapku sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada. "...Silahkan teruskan acara baginda bersama ratu, saya pamit undur diri!"
"ANYE!!!" teriak Kak Mel yang sudah melotot padaku, tapi pipinya merah merona malu rupanya.
Aku setengah berlari sebelum kak Mel melemparkan sendal rumah miliknya.
Aku berjalan menuju kamar, merebahkan diri disana.
Dadaku terasa sakit. Panas rasanya.
tittt...
Notif di hpku berbunyi.
'Kenapa lengan kamu?'
'Tidak apa-apa. Urus saja kak Mel, gak usah peduliin aku!'
Memangnya kenapa kalau aku peduli sama cintaku?
'Dan sayangnya juga aku masih ingin teror kamu, sampai kamu nyerah dan mau ngakuin hubungan kita! I LOVE YOU, MY BUNNY .'
Ish dasar Devan menyebalkan! Dan apa itu, emoji hati yang banyak.
Aku bergegas untuk mandi. Berendam agak lama mungkin akan membuat aku sedikit rileks.
Pintu di ketuk dari luar. Aku masih mengeringkan rambutku dengan handuk. Kak Mel tersenyum saat aku membuka pintu.
"Makan malam?"
"Iya kak. Anye simpan handuk dulu." ucapku lalu pergi ke kamar mandi untuk menyimpan handuk. Tanpa menyisir rambutku aku turun ke lantai bawah.
Mama, papa, kak Mel, dan Devan, sudah duduk melingkar di meja makan. Beberapa masakan terhidang di tengah-tengah. Salah satunya udang saus padang. Kesukaanku dan Devan.
Aku duduk di kursi yang kosong di dekat papa dan di sebelah Devan. Aku tahu Devan melirikku dari ujung matanya. Dia selalu suka dengan rambutku yang basah. Ah, dan aku baru ingat. Devan suka saat rambutku basah dan tidak di sisir. Jangan sampai dka berfikir aku seperti ini karena dia. Kebiasaanku akan menyisir saat rambutku benar-benar kering sempurna.
Mama mengambil nasi untuk papa, dan kak Mel mangambilkan juga nasi untuk Devan. Dan aku, mama yang akan yang mengambilkan.
"Anye, kamu bisa kan ambil makanan sendiri?" ucap papa, aku menghela nafas. Papa memang selalu ketus padaku. Entah kenapa sedari dulu memang seperti itu. Berbeda dengan sikap papa pada kak Mel.
"Iya pa." ucapku lalu mengambil alih sendok nasi dari tangan mama.
Kami makan di selingi dengan obrolan ringan, paling banyak tentang kelanjutan hubungan kak Mel dengan Devan. Papa sangat berharap dengan bertunangan antara kak Mel dan Devan ikatan persahabatan dan bisnis antar orangtua menjadi lebih erat dan saling menguntungkan. Jadi apa mereka bertunangan tidak berdasarkan dengan cinta? Ah sudahlah!
"Kamu harus contoh kakak kamu. Melati selalu rajin belajar dan mendapatkan nilai yang bagus. Dan lihat dia sekarang, baru saja kerja Melati bisa menjabat sebagai manager keuangan. Kenapa kamu gak pernah contoh kakak kamu, bukannya belajar malah selalu keluyuran. Dan bla bla bla..." jujur aku malas mendengarnya. Maafkan aku kalau aku bilang papa sangat cerewet. Tapi bukan hanya kali ini papa membahas soal ini di meja makan.
"Iya pa. Anye akan berusaha lebih keras lagi."
"Jangan hanya bicara saja Nye. Kamu juga harus berjanji akan mendapatkan nilai yang bagus, jangan hanya memikirkan main saja dengan teman-teman kamu, papa tidak suka! Apalagi kalau kamu sudah mulai mengenal laki-laki!"
Ya ampun. Kenapa papa harus membahas hal yang seperti ini, padahal selama ini nilai-nilaiku selalu bagus. Aku unggul di kelas dari sejak SD sampai sekarang.
"Pa. Yang penting aku selalu menjaga nilai aku kan? Papa juga jangan khawatir aku pastikan nilai-nilai aku tidak akan menurun, meskipun aku punya pacar!"
"Uhukk!!" Devan tersedak saat baru saja menyuap makanan. Refleks aku menyodorkan air minumku dan dia sambut lalu dengan rakus menenggaknya hingga setengah.
"Kamu gak pa-pa Dev?" Kak Mel berdiri dan menepuk punggung Devan agak keras.
"Tidak apa-apa!" ucap Devan lalu mengembalikan gelas milikku. Wajahnya terlihat merah.
"Aku sudah selesai ma, pa, kak Mel, kak Devan. Permisi." pamitku sambil berdiri. Makananku masih sisa setengah di atas piring tapi aku sudah kehilangan selera makanku.
"Nye, makanan kamu belum habis sayang." ucapan mama menahan laju kakiku.
"Anye mau belajar ma. Biar nanti Anye bisa jadi direktur perusahaan dan menikah dengan pemilik perusahaan." ucapku masih dengan nada halus. Tapi tatapan papa tajam menatapku tidak suka. Dan tatapan mama dan Kak Melati tersirat seperti adanya rasa iba. Dan Devan? Entahlah!