DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 164



Pesawat sudah mulai take off. Daniel menatap ke arah luar, satu tangannya menempel di jendela kaca pesawat sedangkan tangan satu lagi membalas lambaian tangan ayah di luar, ayah di sana dengan beberapa pengawalnya melambaikan tangannya pada kami. Rasanya berat sekali, pasti!


Ku lihat ayah menyusut sesuatu di sudut matanya. Maafkan aku ayah telah memisahkan ayah dengan Daniel dan Axel. Maafkan kami telah meninggalkanmu!


Ayah tidak mau ikut dengan kami. Dia ingin menjalankan amanat dari mendiang nenek untuk meneruskan perusahaannya. Ayah janji akan sesering mungkin mengunjungi kami, atau aku yang akan mengunjungi ayah jika keadaan Axel membaik.


Axel sedang tidur di temani Devan di kamar. Aku menemani Daniel, tapi anak itu hanya diam sedari tadi. Seperti patung, tanpa ekspresi. Tatapannya kosong menatap ke luar.


"Mama yakin semua akan baik-baik saja setelah kita disana?" tanya Daniel. Ahhh anak itu, kenapa jadi pesimis begitu?


"Tentu, sayang. Mama yakin semua akan baik-baik saja! Disana juga ada nenek sama kakek, dan juga para aunty!" ucapku. Daniel mendelik ke arahku.


"Termasuk Aunty Sofia?" tanya Daniel.


"Iya!" aku tertawa melihat wajahnya yang mendadak... Ummm seperti apa ya? Ekspresi yang ngeri, takut, tapi malah terlihat lucu.


"Aku akan cepat mati kalau dekat dengan dia!" lirihnya, membuang nafas berat.


"Jangan lebay, Niel!" ucapku sambil mengelus rambutnya. "Walau begitu aunty Sofia orang yang baik!" sambungku.


"Aku tidak lebay. Memang begitu kenyataannya!" Dia berdiri.


"Perjalanan masih jauh kan? Aku mau tidur!" ucapnya lalu melangkah ke arah kamar.


Hmmm anak itu, sekarang semakin irit bicaranya, meski percakapan kami barusan termasuk kalimat yang panjang yang dia ucakan selama akhir-akhir ini.


Mana Danielku yang dulu?!


Ku tatap punggung kecilnya yang kemudian menghilang di balik pintu.


Semoga saja kehidupan kami di tempat yang baru menjadi lembaran hidup kami yang baru pula. Semoga!


...★★★...


Perjalanan panjang telah usai, pesawat kami baru saja landing. Samuel dan beberapa orangnya menjemput kami. Daniel berlari menghambur ke pelukan Sam. Dia pasti sangat rindu akan pamannya itu.


Devan menatap keduanya yang sangat akrab. Aku tebak mungkin dia merasa iri.


"Senangnya jadi Sam. Dia lebih dulu mendapatkan cinta Daniel daripada aku!" Tuh kan!


"Sudah lah, dia juga tidak sedekat itu sama aku! Bisa di bilang Sam juga teman dekatnya!" aku menenangkan. Devan mengangguk pasrah. "Kita akan mulai membuat momen yang tidak akan pernah kita lupakan seumur hidup kita. Ayo, kita buat keluarga kecil yang bahagia!" Aku menadahkan tanganku dan di sambutnya, jari kami saling bertautan, dia membawanya untuk di cium.


Axel menggeliat dalam gendongan Devan, anak itu lebih sering tidur selama dalam perjalanan. Dia tidak rewel sama sekali. Axel membuka matanya, dengan tangan mungilnya dia mengucek-kucek mata bulatnya, mulutnya menguap lebar. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Mungkin asing dengan tempat ini, dia hanya terdiam. Axel jarang sekali aku bawa keluar dari mansion, paling hanya pulang pergi ke rumah sakit saja.


"Keponakan kecilku!" Sam mendekat sambil mengulurkan kedua tangannya. Axel terdiam menatap Sam, dia memiringkan kepalanya seperti meneliti siapa orang yang mendekati dia.


"Ayo, uncle gendong!" Sam sudah berdiri di hadapan Devan, Axel menepis tangan Sam.


"Pas!" Axel menolak Sam sambil terus berkata 'tidak'. Sam tidak menyerah, dia terus berusaha untuk membujuk Axel sampai akhirnya Axel kesal dan menangis dengan keras sambil bersembunyi di dada Devan. Sam memasang muka sedihnya.


"Sudah jangan ganggu Axel. Nanti kalau sudah kenal juga dia akan mau di gendong!" Sam mendecih sebal, dia berbalik ke arahku.


"Dia tidak seperti kakaknya. Mentang-mentang ada ayahnya!" ucapnya dengan nada penuh penekanan, dia melirik ke arah Devan dengan kesal lalu pergi mengajak Daniel.


Ampun deh! Ada apa sih dengan dia? Sepertinya masih tidak suka dengan Devan. Kapan mereka bisa berteman dengan baik?


"Maaf ya, Dev. Sam memang seperti itu!" cicitku.


"Tidak apa-apa. Jangan terlalu di fikirkan." ucapnya dia menepuk punggung Axel sampai anak itu tenang.


Kami pulang ke rumah, Samuel yang menjadi sopirnya. Satu mobil di depan untuk mengawal kami, dan dua lainnya di belakang. Jalanan macet, belum lagi jalan yang tergenang karena hujan turun beberapa saat yang lalu. Daniel terdiam menatap ke arah luar. Raut wajahnya terlihat enggan.


"Ada apa, Niel? Kamu mau beli sesuatu?" tunjukku ke deretan pedagang di pinggir jalan. Dia hanya menggelengkan kepalanya. Lalu bersandar dan memejamkan matanya.


Sampai di rumah. Hampir dua tahun kami meninggalkan tempat ini. Tidak ada yang berubah, hanya beberapa bunga baru yang tumbuh di tepi kolam air mancur. Rumput dan pohon hias sudah rapi di tata sedemikian rupa.


Kami semua masuk ke dalam. Daniel menatap ke sekitarnya, kanan, kiri, lantai atas, semua tak luput dari penglihatannya.


"Apa kamu suka?" tanyaku padanya.


"Mansionnya kecil sekali!" ucap Daniel.


"Ya, karena ini rumah. Bukan mansion!" ucap Devan, dia menghela nafasnya berat. Sepertinya aku tahu apa yang ada di dalam fikiran Devan.


"Daniel, jangan tidak sopan!" aku memperingatkan Daniel. Ku lirik Devan yang berubah raut mukanya.


"Dimana kamarku?" tanya Daniel tidak peduli. Dua tangannya dia masukkan ke dalam saku celana.


"Lantai atas, sayap kiri, pintu kedua!" jawab Devan. Daniel berlalu, mulai menaiki tangga satu persatu. Aku dan Devan menatap kepergian Daniel menuju lantai atas.


Ya ampun anak itu punya sifat dari siapa sih? Bahkan dia tidak menoleh saat Axel berteriak memanggilnya.


"Anak siapa sih dia? Kenapa rasanya tidak mirip seperti aku?" seakan bertanya pada diriku sendiri, lebih kesal rasanya. Aku mendelik pada Devan. Tidak mirip aku yaaa mirip siapa lagi kan?


"Jangan lihat aku! Aku gak punya sifat seperti itu!" ucap Devan dia juga berlalu naik ke lantai atas. Kalau Devan bilang tidak punya sifat seperti itu berarti... Ah tidak! Aku menolak! Aku juga menolak sifat dingin itu, meski aku... pokoknya tidak!


"Mau di simpan sekalian?" tanya Sam.


"Kamar Axel saja. Suasana hati Daniel sepertinya sedang tidak baik!" jawabku. Sam memerintahkan maid untuk membawakan keperluan Axel ke kamarnya tepat di samping kamarku dan Devan.


"Kenapa lagi Daniel?" tanya Sam. Aku hanya mengangkat kedua bahuku.


"Ini tempat baru, dia butuh penyesuaian. Aku akan bicara sama Daniel!" ucap Sam. Ya memang lebih baik ada yang bicara dengan anak itu. Jujur kalau aku masih suka sedikit tidak sabaran, Sam memiliki pemikiran yang dewasa, dan dia juga sudah sangat akrab dengan Daniel. Samuel pergi ke lantai atas, aku pun sama mengikuti di belakangnya.


"Sam." panggilku. Samuel berhenti lalu menoleh padaku.


"Daniel bisa lebih baik tidak ya disini?" tanyaku.


"Dia pasti bisa. Kita coba saja beberapa waktu." ucap Sam santai, di meneruskan langkahnya ke arah kamar Daniel, sedangkan aku ke kamar Axel. Ku lihat Samuel mengetuk pintu kamar Daniel, lalu tak lama pintu itu terbuka dan dia masuk ke dalam. Syukurlah, paling tidak Daniel mau bicara dengan Samuel.


Devan sedang menidurkan Axel. Bahkan mereka tidur bersama di atas kasur lantai. Aku mendekat ke arah mereka. Meski dari segi wajah tidak mirip, tapi cara tidur mereka ternyata sama.


Ku tarik gorden untuk menutupi cahaya terik dari luar. Tak lupa aku juga memastikan kalau jendela dan pintu balkon terkunci rapat. Takut jika Axel terbangun dan merangkak ke segala arah.


Grep!


Sebuah tangan menarikku hingga aku terjatuh ke atas pelukannya. Aku menahan suaraku, takut jika Axel kaget dalam tidurnya.


"Hai!" sapanya. Dasar, kebiasaan! Aku kira dia tidur tadi.


"Bisa gak sih jangan tarik-tarik, nanti kalau kena Axel gimana?" tanyaku, lalu mencubit pipinya.


"Tapi gak kena kan?" Dia tersenyum jahil.


"Aku kira kamu tidur tadi!"


"Aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu!" ucapnya. Lebay!


"Masa? Yang benar? Trus selama lima tahun aku pergi kamu gak tidur sama sekali? Impossible!" decihku.


"Tentu aku tidur. Tapi sekarang setelah kita ketemu lagi, aku gak bisa tidur kalau gak ada kamu!" dia memeluk erat tubuhku.


"Dasar lebay. Modus!" ucapku sebal, tapi tak urung juga aku membenamkan diriku di pelukannya.


"Bagaimana keadaan Daniel?" Tanya Devan.


"Sam sedang bicara sama Daniel, semoga saja dia bisa menerima keadaan kita sekarang! Dia harus bisa hidup dengan lingkungan yang baru!" lirihku. Devan mengelus rambutku dan menciumnya.


"Aku bersyukur ada Sam disini. Meski aku cemburu dengan kedekatan dia sama Daniel, tapi aku juga belum bisa menjadi ayah yang baik buat dia."


Aku mengangkat kepalaku, menatap matanya yang sayu. "Kita harus bisa jadi orangtua yang baik untuk Daniel ." ucapku.


"Ya, tentu! Harus bisa!" ucapnya mantap. Aku kembali merebahkan diriku di atas dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang tidak karuan.


"Honey." panggilnya.


"Hemm?"


"Aku sedang gelisah!" ucapnya. Aku kembali mengangkat kepalaku, kembali menatap wajahnya.


"Gelisah kenap...."


Cup.


Hanya sekilas dia mencium bibirku. Aku terkejut, terdiam membatu. Devan tersenyum.


"Aku ingat dari kemarin belum olahraga!" ucapnya. Hehh... hanya itu? Membuatku kaget saja! Dasar! Aku kira gelisah karena apa!


"Masih panas di luar. Nanti saja sore sekalian ajak anak-anak ke taman kompleks!" ucapku.


"Kalau ada sarana di depanku kenapa harus ke taman kompleks?" satu tangannya masuk ke dalam bajuku. Menggoda tonjolan keras disana. Maksudnya apa ini? Tidak. Tidak. Tidak. Ne pas!


"Tidak mau! Ini masih siang!" ucapku sambil berusaha melepaskan tangannya dari sana.


"Memang kenapa kalau masih siang? Kan lebih bagus kalau banyak keluar keringat!" cicitnya memohon.


"Tidak!" aku menolak keras!


"Ayolah. Please!" dia memasang puppy eyes. Sungguh tidak lucu sama sekali. Tidak. Tidak. Tidak.


"No!"


"Aakhhh!" Devan membalikan tubuhku hingga aku ada di bawahnya, dia menatapku tajam namun penuh kesan.


Tanpa banyak bicara lagi, tangannya menelusup ke dalam bajuku, menyentuh titik-titik sensitifku. Tidak! Jangan!


Dari atas hingga ke bawah, tak luput dari jamahannya. Tak lupa juga dengan bibirnya yang sudah bermain di permukaan kulit leherku.


Jaa...ngannn....