
Tiara menangis di hadapan Gio tanpa malu. Dia menyesal dan merasa sangat bersalah pada pria itu.
"Pak Gio.... Huhuuuu.... Kenapa bapak melupakan aku..... Hiks.... Kenapa bapak harus lupa ingatan sih... Bagaimana aku akan pulang kalau bapak sakit seperti ini..." tangisnya pecah seketika. Perawat mengangkat satu alisnya bingung. Pasalnya dokter juga tidak mengatakan apa-apa tentang pria ini. Dia tidak amnesia.
"Bu tenang saja Pak Gio tidak apa-apa. Beliau ...."
"Tidak apa-apa bagaimana? Suster tidak lihat keadaan dia? Dia itu amnesia, tidak ingat apa-apa juga tidak ingat denganku!" Tangis Tiara semakin kencang.
"Tidak, Pak Gio tidak..."
"Suster coba suster ihat keadaannya sekarang bagaimana dan suster masih bilang dia tidak apa-apa? Pak Gio yang malang, huuuuu. Maafkan aku Pak, seandainya saja aku selalu ada di dekat Bapak pasti tidak akan ada kejadian seperti ini. Huuu...." Tiara menangis sambil memegangi tangan Gio.
"Bu..."
"Sudah suster. Kalau apa yang dia bilang benar dia asistenku, berikan kapas itu padanya dan biarkan dia yang membersihkan lukaku." Ucap Gio.
Suster mengangguk. Dia merasa geli dengan adegan di depan matanya ini. Bagaimana seorang seperti Gio mempunyai asisten yang payah seperti ini.
"Baik Pak. Silahkan Bu." Tiara menerima kapas dan juga alkohol dari tangan perawat, dia mendekat ke arah Gio dan mulai membersihkan leher Gio dari bercak darah yang tersisa. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati, takut jika tangannya menyenggol luka di kepala Gio yang di perban. Sesekali dia terisak dan mengucapkan kata maaf.
Perawat itu pamit dari hadapan keduanya setelah memastikan kalau Tiara bisa melakukannya dengan baik. Dia mengulum senyum, ingin tertawa tapi ia tahan. Gadis itu .... entah dia polos atau dia b*doh. Apa dia pikir kalau kepala tertimpa benda dari atas selalu berujung dengan amnesia? Dia hanya terkena gegar otak ringan karena benturan.
"Kenapa kamu tertawa?" tegur dokter yang tadi merawat luka Gio saat dia baru saja keluar dari ruangan.
"Serius dia asisten Pak Gio?" tanya perawat itu.
"He-em." Dokter mengangguk tanpa menolehkan pandangannya dari kertas di tangannya.
"Pak Gio kesambet apaan punya asisten yang begitu?" tertawa dengan menutup mulutnya.
"Coba tanyakan saja sendiri." Dokter berkata dengan nada cuek.
"Aku masih betah disini. Masih mending bertanya pada Pak Axel atau Pak Devan, Pak Gio memang bawahannya tapi dia lebih killer dari kedua bos besar kita!" ucap suster itu lalu pergi meninggalkan dokter yang masih sibuk dengan data pasien di tangannya.
Dokter itu tersenyum. Biarlah, itu urusan mereka!
"Hiks... hiks... Tiara masih sesenggukan sambil tangannya tak henti membersihkan darah.
"Kamu itu kenapa? Bisa tidak kalau sedang membersihkan jangan sambil menangis. Berisik!" ucap Gio ketus.
Tiara menoleh pada bosnya ini. Dia amnesia tapi sifat menyebalkannya masih tetap sama.
"Iya.. Hiks..." mencoba untuk menenangkan diri, meski susah payah.
Selesai dengan pekerjannya Tiara menyimpan semua peralatannya ke dalam wadah dan menyimpannya di atas nakas, dia masih terisak namun pelan. Rasa lapar sudah ia lupakan karena melihat kondisi Gio.
Gio melirik ke arah Tiara. Kasihan juga, tapi dia tidak berniat untuk memberitahukan Tiara. Biarkan saja. Sesekali menjahilinya tidak apa-apa kan? hihi...
(Ampun deh Bang Gio. Perasaan lu mah sering deh jahilin dia. Anak orang Bang, jangan dibikin shock!!!)
Perawat kembali masuk dengan membawakan nampan berisi makanan karena ini sudah jam makan siang.
"Bagaimana keadaan Bapak?" tanya perawat itu.
"Sudah mendingan, tapi kepala saya masih sakit."
Tiara semakin merasa bersalah mendengar penuturan Gio.
"Suster. Biar saya yang menyuapi Pak Gio." suster mengangguk dan menyerahkan nampan makanan pada Tiara. Kalau saja pria ini sehat ogah deh!
Menu di rumah sakit ini ternyata lumayan mewah. Nasi, sepotong daging sapi, dan sayur sop, ada potongan buah juga untuk pencuci mulut. Wangi. Menggoda selera. Seketika perut Tiara meronta, tapi masih bisa ia tahan sehingga tidak sampai terdengar suaranya. Malu lah, kalau sampai terdengar.
Dengan telaten Tiara menyuapi Gio meski rasanya dia juga tergoda ingin meyuapkan makanan itu barang sesuap saja ke dalam mulutnya.
Setelah ini dia akan izin saja untuk pergi keluar dan membeli makanan.
Gio tersenyum tipis, dia membuka mulutnya menerima suapan demi suapan yang Tiara berikan. Rasanya lezat juga, bukan hanya karena makanannya dia rasa.
Dokter masuk ke dalam ruangan untuk menemui Gio. Dia akan di pindahkan dari ruang UGD ke ruang inap setelah selesai makan siang nanti.
"Pak Gio. Setelah selesai makan nanti kita pindah ke ruang rawat ya."
Gio hanya mengangguk sambil mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
"Dok, tolong sembuhkan atasan saya. Dia lupa ingatan bagaimana cara mengembalikan ingatannya?" tanya Tiara.
Dia ingat salah satu cara yang pernah ia lihat di sinetron ikan terbang, tapi sepertinya tidak mugkin dia akan melakukannya pada bosnya ini. Iya, kalau dia sembuh. Lah kalau dia tambah amnesia, bagaimana? Bukan hanya Tiara yang akan masuk penjara karena tindak kekerasan tapi dia juga bisa saja menghilangkan nyawa orang.
Ada yang tahu isi fikiran Tiara? Yupsss... begitulah kira-kira.
Dokter menahan senyumnya saat mendengar ucapan Tiara. Ternyata anak ini memang menyangka kalau Gio lupa ingatan. Dan lagi bosnya ini kenapa jahil sekali? Kasihan Tiara.
"Maaf Bu, tapi anda salah mengira. Pak Gio tidak hilang ingatan. Beliau hanya gegar otak ringan saja." ucap dokter membuat Tiara menghentikan laju tangannya yang akan menghantarkan sesendok makanan ke depan mulut Gio.
"Sialan!!!" Decak Gio merutuki dokter kampret di hadapannya. Dia meninju bahu dokter. Rencananya untuk menjahili Tiara gagal karena dokter ini.
"Apa?!!!" Tiara berseru setengah marah. "Jadi, dia tidak hilang ingatan?" tanya Tiara tak percaya.
Gio tersenyum meringis sementara dokter menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali.
Alamat bakalan perang dua orang ini.
Dengan penuh amarah Tiara menyerahkan dengan kasar mangkuk yang ada di tangannya pada Gio hingga kuah sopnya tumpah di atas selimut.
Dadanya kembang kempis. Matanya memerah. Sia-sia dia menangis selama beberapa jam tadi.
Dasar bos kampret!!! Tahu begini aku lemparkan saja dia tadi dari dalam mobil!
Decak Tiara kesal dalam hati tentunya.
Tak bisa berkata apa-apa lagi. Amarah membuatnya tak ingin berbicara sama sekali ataupun marah pada pria ini. Suaranya tak bisa ia keluarkan, karena rasa kesal yang mendadak menggunung kini menguasai hatinya.
Tiara bangkit dengan muka merah padamnya. Dia dengan cepat berbalik dan melangkah dengan kasar meninggalkan kedua pria itu. Tak ingin menoleh sama sekali. Kali ini dia masa bodoh, mau bosnya mati, hilang ingatan, atau gegar otak parah sekalipun, MASA BODOH!!
Gio menatap kepergian Tiara. Ada rasa bersalah hinggap di hatinya. Apalagi sebelum meninggalkan pintu bisa ia lihat Tiara yang menyusut sesuatu dari wajahnya.
"Dia marah!" ucap dokter lirih. Gio hanya terdiam.
"Kenapa juga jahil? Dia marah, kamu bohongi. Kasihan kan!" tutur dokter dengan nama lengkap I Made Gusti Wiryawan itu.
"Kamu juga pake acara bilang segala." Gio meninju sekali lagi lengan Gusti.
"Kasihan dia. Apa kamu tidak tahu sedari tadi dia menangis?" Tanya Gusti.
"Aku tahu." jawab Gio datar. Dia mengambil sendok dan mneyuapkn makanan yang belum habis.
"Dan kenapa kamu tidak jujur saja kalau kamu juga sudah sadar sedari tadi bahkan sebelum sampai di rumah sakit ini." tanya Gusti menilik wajah Gio.
"Aku cuma mau jahilin dia." jawab Gio sekenanya. Dia menelan makanannya dengan susah pyah payah.
Gusti memutar bola matanya malas. Dasar...
"Bukan jahil, tapi modus kan?" ejek Gusti. Gio mendengus kesal.
"Mana ada!" elak Gio. "Sorry ya aku gak pernah modusin cewek!"