
Gio berjalan menjauh dari kedua orang yang mungkin akan mencercanya dengan pertanyaan. dia bingung, mau jawab apa dia kalau mama dan papa memberondongnya dengan pertanyaan? Seperti tadi, Kapan kau akan bawa pasangan? Kapan kau akan menikah? Lalu setelah menikah nanti, kapan kau akan punya anak? Dan setelah punya anak, kapan kau akan punya cucu? Lalu pada akhirnya karena bosan dengan pertanyaan yang itu-itu saja, mungkin saja akan ada yang bertanya, kapan kau akan mati? Maybe...
"Eh, aduh!" Gio terkejut saat dirinya tak sengaja menabak seseorang di depannya, dia terlalu sibuk dengan pikirannya hingga tak sadar dengan langkah kakinya.
"Maaf-maaf. Tiara?!" seru Gio saat melihat siapa yang di tabraknya.
"Pak Gio?" Tiara tak menyangka jika bos rese nya ini ada di sana.
"Bapak sedang apa disini?"
Gio menjatuhkan rahangnya, Gadis ini apa-apaan sih. Tentu saja dia ada disini karena Gio adalah anggota keluarga dari Aditama. Astaga... padahal tadi yang tertabrak itu tubuhnya, bukan kepalanya!
"Tentu saja dia disini, dia kan jadi anak lelaki pembawa bunga pengantin!" Suara berat seseorang terdengar dari belakang Tiara, hingga mereka berdua sama-sama menolehkan kepala.
Kenzo mendekat ke arah Tiara dan berdiri sangat dekat dengan Tiara, bahkan tangan Ken sekarang melingkar di pinggang ramping Tiara. Gio terdiam menatap Kenzo dengan sebal. Rasanya dia ingin menarik tangan Tiara dan membawanya pergi, menjauhkan Kenzo dari samping gadis itu.
Kenzo tersenyum tipis melihat raut kesal di wajah sahabat rasa musuhnya ini. Dia sangat suka sekali melihat pria kaku ini marah dalam diam.
"Oh ya, kenapa aku bisa lupa, Pak Gio kan anggota keluarga dari pak Axel." Tiara menepuk dahinya, dia merasa bodoh dengan pertanyaannya tadi
Karena mengagumi keindahan yang di tawarkan tempat ini dia jadi sampai lupa semuanya. Semua begitu indah sehingga membuat dia berkahayal jika suatu saat nanti dia akan menggelar pernikahan megah dan indah seperti ini. Bak di negeri dongeng. Akh... Semua itu hanya khayalannya semata. Mana mungkin dia akan menggelar pernikahan mewah seperti ini? Mimpi!
"Kalian datang berdua?" Gio bertanya menatap pakaian yang mereka kenakan, terlihat serasi. Apalagi Tiara yang mengenakan gaun cantik sepanjang lutut berwarna maroon sama seperti dasi yang tengah di gunakan oleh Kenzo. Seakan mereka janjian untuk menggunakan pakaian dengan warna yang sama.
"Iya. Kami datang berdua kesini. Karena gak mungkin juga kan aku datang di pernikahan sahabatku sendirian. Aku gak mau mereka mengejekku jomblo. Dan kebetulan ada gadis cantik yang juga tak punya pasangan, makanya aku ajak dia untuk datang kemari bersama. Iya kan, Sayang?" Ucap Kenzo sambil mencolek dagu Tiara dengan genitnya. Tiara menepis tangan Kenzo dari sana sambil tersipu malu. Kenzo lalu tersenyum tipis melihat ekspresi Gio yang terlihat kesal dan juga sebal, meski raut wajahnya masih datar seperti biasanya, tapi dia tahu dari sorot mata pria kaku itu. Ada seperti kilatan dalam tatapannya.
"Apa kalian mau ada yang di bicarakan lagi? Kalau tidak kami akan pergi menemui kedua mempelai."
Kenzo menyadarkan Gio dari rasa kesalnya. Dia menatap lamat Tiara yang kini menunduk dan kemudian beralih menatap Ken yang terseyum dengan sinisnya. Tanpa mengeluarkan satu kata lagi Gio memutuskan untuk pergi dari sana, daripada dia membuat keributan dengan mengusir sahabat rasa musuhnya ini dari tempat perhelatan ini.
Tiara menatap kepergian Gio, ada rasa tak nyaman di dalam hatinya saat pria itu tiba-tiba saja pergi tanpa kata meninggalkan mereka berdua. Seperti ranting yang terinjak lalu di tinggalkan begitu saja oleh seseorang.
Gio terlihat terus berjalan tanpa menoleh lagi padanya. Padahal kali ini dia berharap dirinya seperti ada di dalam film-film sinetron atau box office atau apapun itu, si pemeran pria berhenti melangkah dan kemudian berbalik arah, dan Tiara akan melakukan adegan selanjutnya pergi dengan berlari kecil kepadanya. Tapi harapannya itu tak kunjung jua terjadi, dia merasa kecewa karena apa yang diharapkannya tak terjadi sama sekali.
Kenzo menarik tangannya dari pinggang Tiara dan menautkan jari-jari tangannya pada jari lentik Tiara.
Hal itu terlihat jelas oleh Gio. Dia benar-benar merasa kecewa melihat pemandangan yang ada di depan matanya kini. Sempat terpikirkan olehnya tadi untuk menjemput Tiara, tapi urung ia lakukan karena Tiana yang merengek untuk minta dia jemput.
Hatinya terasa aneh. Jika saja tak ingat ini pernikahan siapa, dia pasti akan membawa Tiara pergi dari sini, bahkan jika dia harus membuat keributan untuk melakukan hal itu dia tak peduli.
Hais... Apa yang aku pikirkan?!
...***...
Gio memilih duduk di taman. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Mengapitnya dengan menggunakan dua jarinya lalu menyalakan api pada benda itu. Menyesapnya perlahan dan memainkan asapnya di mulut dan di hidung.
Gio butuh ketenangan sekarang. Melihat Tiara yang begitu mesra dan juga dekat dengan pria itu membuat hati dan pikirannya kacau seketika.
Kalau saja dia tak menjemput Tiana, pastilah dia yang akan menjemput Tiara.
Tiara. Tiana.
Dua nama dengan hanya satu huruf yang berbeda. Dengan wanita lain Gio bisa menjauhkan diri, tapi dengan dua wanita itu, di tambah mama dan juga Ibu Melati, dirinya tak bisa abai. Eh... Tiana, mama dan Ibu Melati itu keluarga, lalu Tiara? Ah entahlah!
"Kak Gio sedang apa disini?" seorang gadis manis duduk di dekat Gio. Wangi aroma parfum yang lembut menusuk hidung Gio. Gio mengalihkan pandangan dari rumput di depannya.
Alea tersenyum dengan manis saat Gio menatapnya. Lalu berubah cemberut saat pria itu tanpa hati kembali melengos dan hanya terfokus pada rokok di tangan.
"Ih, Kak Gio. Berhenti merokok, deh. Gak baik buat kesehatan tahu!" Alea merebut rokok di tangan Gio dan melemparkannya ke tanah, menekannya dengan sol sepatu heelsnya hingga rokok itu padam.
"Temani aku ketemu kak Axel. Aku gak ada teman. Kak Kenzo tinggalkan aku dan malah menjemput Tiara. Ayo!" dengan terpaksa Gio menurut saat Alea menarik tangannya dengan keras ke dalam aula hotel temat pernikahan itu di laksanakan.
Gio lupa, ini satu lagi wanita yang ada dalam daftar Gio tak bisa jauhi, tepatnya gadis ini yang tak bisa menjauh darinya.