DEVANYE. STILL LOVING YOU

DEVANYE. STILL LOVING YOU
part 169



"Ana!" serunya senang. Aku melirik ke arah Devan yang sedari tadi memperhatikan tingkah Axel. Devan tersenyum.


"Haruskah kita memberikan Axel adik perempuan?" bisiknya tepat di dekat telingaku. Ku sikut perutnya, dia meringis kesakitan.


"Sakit!" lirihnya.


"Axel masih kecil!" ucapku melotot padanya.


"Memangnya kenapa kalau masih kecil? Lihat Axel senang dengan Tiana!" ucapnya. Menyebalkan! Dia kira hamil itu mudah apa?! Dia kira melahirkan itu tidak sakit apa?! Dia kira mengurus anak itu tidak sulit apa?! Apalagi dengan anak-anak yang masih kecil. Dia sih enak, membuatnya tinggal naik turun di atas tubuhku!


"Enggak! Setidaknya tunggu Axel agak lebih besar lagi!" ucapku.


"Oke. Kapanpun kamu mau, tapi jangan terlalu lama. Lihat Axel gak pernah lepasin tangan Tiana!" ucap Devan. Aku melirik ke arah Axel. Benar! Anak itu sedari tadi memegang tangan mungil Tiana erat. Bahkan Axel sangat menurut saat Kak Mel menyuruhnya untuk tidak berisik. Anak itu hanya bergumam pelan.


"Ma." suara Daniel terdengar sambil menarik bajuku. "Aku juga mau!" ucapnya.


"Mau apa?" tanyaku.


"Adik perempuan!" Daniel sedikit merengek.


Ya ampun! Ternyata dia mendukung ayahnya! Aku melirik ke arah Devan dan melihat senyumnya yang licik. Dia merangkulku.


"Daniel juga mendukung! Bagaimana?!" ucapnya senang.


...★★★...


Setelah bujukan mautnya dari dua minggu yang lalu. Akhirnya aku setuju ikut dengan Devan untuk berbulan madu. Bulan madu. Aaahhhh.... Bulan madu!!!


Akhirnya!


Bulan madu yang saaaangat lama tertunda!


Tapi...


"Sayang, ada apa?" Devan mendekat padaku. Dia memelukku dari belakang.


"Aku kangen anak-anak!" ucapku sambil menatap ke luar jendela hotel. Kami sedang berada di Bali. Di salah satu hotel milik keluarga Aditama.


"Bagaimana kalau Axel rewel? Bagaimana kalau Daniel mimpi buruk lagi? Bagaimana kalau..."


"Sstttt... Ada mama dan juga papa disana. Jangan khawatir!" ucapnya, memelukku lebih erat.


"Tapi Dev, aku gak pernah tinggalin Axel dalam waktu yang lama!" ucapku khawatir. Ah bodohnya aku, harusnya aku tolak saja permintaan Devan, kenapa aku malah setuju untuk pergi hanya berdua?! Harusnya aku setuju pergi dengan membawa mereka berdua! Tidak buruk kan kalau honeymoon membawa anak-anak. Uummm... oke, itu bukan Honeymoon, tapi liburan keluarga!


"Axel pasti baik-baik saja. Buktinya mama tidak menelfon, kan?!" ucapnya. Memang benar, tapi tetap saja aku khawatir!


"Dev, lebih baik kita pulang sore ini!" pintaku. Aku benar-benar tidak bisa merasa tenang.


"Pulang?" aku mengangguk. "Hei kita baru saja sampai satu jam yang lalu!" protesnya terdengar dengan nada tidak suka.


"Tapi Dev, aku sepertinya gak bisa tinggalkan Axel. Aku kira, aku akan bisa tinggalkan Daniel dan Axel, tapi nyatanya aku tidak bisa! Aku kepikiran mereka terus!" ucapku. Jika di fikir-fikir dulu aku bisa meninggalkan Daniel dalam waktu yang lama, tapi sekarang entah kenapa aku tidak bisa meninggalkan anak-anakku!


Devan menghela nafas berat. Sepertinya dia tidak suka akan usulanku untuk pulang.


"Kita tidak pernah bulan madu! Anak-anak juga sudah besar, dan aku rasa Axel juga dalam keadaan baik. Bukankah kita sudah periksakan Axel kemarin?" Devan meyakinkan aku!


Memang benar! Tepat kemarin aku membawa Axel untuk periksa, dan semua baik-baik saja!


Devan beringsut dari belakangku, dia berlutut di lantai. Memegang kedua tanganku, mengelusnya dengan ibu jari.


"Please, tiga hari! Aku minta tiga hari saja kita menikmati waktu untuk kita berdua, tanpa anak-anak!" ucap Devan. Matanya sendu menatapku dalam-dalam.


"Please!" ucapnya saat aku tak kunjung memberikan jawaban.


Aku masih terdiam. Jangan pasang muka seperti itu, Dev. Aku tidak tahan!


"Oke!" akhirnya, aku pasrah. Tiga hari aku rasa cukup singkat dari rencana awal satu minggu, meski rasanya berat tidak bertemu dengan kedua putraku. Daniel yang tampan, Axel yang ceria. Aaahhh putraku... Aku mau mereka...


"Trimakasih!" Devan memelukku erat. Rasanya hangat sekali. Dia merenggangkan pelukannya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di pipiku, menarikku mendekat hingga wajah ini basah oleh ciuman bibirnya.


"Dev, sudah!" Aku menepis tangannya.


"Sudah? Tidak!" Dia mendorongku ke belakang.


"Dev... Hemppttt..." aku tidak bisa berkata-kata lagi. Lidahnya bermain-main didalam rongga mulutku, membelit lidahku dan mengabsen semua yang ada disana.


"Hummmbbb...." suara decapan dari mulut kami terdengar sangat jelas. Tangannya menelusup ke dalam bajuku, bermain-main di dadaku.


"Ahh..." aku melenguh, tak bisa menghentikan suara ini. Ku remas rambutnya saat dia merasakan tulang selangkaku, memberikan kecupan-kecupan ringan disana, menggigitnya kecil, menghisapnya. Lalu turun ke bawah.


"Oh... ah..." dasar suara laknat!


Devan terus saja turun ke bawah, dan ke bawah. Hanya sebentar mencumbu dadaku, menghisapnya, memainkan lidahnya disana, memutar, menghisap.


"Ah, Dev..."


Turun lagi, dan turun lagi. Bermain di pusar ku. Satu tangannya menurunkan celanaku.


"Akhh!!!" aku memekik saat ku rasakan sesuatu melesak disana. Dia menggigit area pribadiku dengan lembut, menjilatinya, membuat aku menggelinjang nikmat. Dua jari tangannya tidak mau diam. Masuk. Keluar. Terus seperti itu membuat aku melayang.


Oh, tidak! Aku ingin pip....


Devan mencabut tangannya membuat aku patah hati. Dia bangkit seraya tersenyum menggodaku. Membuka satu persatu bajunya dan juga bajuku, lalu melemparkannya ke lantai.


Otot perutnya selalu aku suka, apalagi setelah pulih, Devan mulai lagi dengan olahraga untuk pembentukan otot tubuhnya. Dia seksi!


"Ready?" Dia mendekat, dan memegangi satu pahaku, membukanya hingga lebar.


"I'm always ready!" ucapku.


Jleb..!!!


"Akh... Slowly beib!" pekikku.


Dia tidak mendengarkan!


Ahh.... Oughhh... Fast... ssshhh....


Aku tidak tahan! Dia terus saja bermain naik turun, lagi dan lagi. Menggoda dadaku dengan ciumannya, menggoda milikku dengan menurunkan tempo, lalu mempercepatnya!


Ah...


"Teriak saja. Jangan di tahan. Tidak ada yang mendengarnya disini!" ucapnya. Lalu menggenjot semakin cepat.


"Ahh... Dev..." suaraku dan suara Devan saling bersahutan. Menggema di ruangan. Peluh keluar dari tubuh kami meski AC sudah di nyalakan, tapi kami merasa kepanasan!


Devan membalikanku, dia menyibak rambutku dan mencium bahuku, masih tidak berhenti bergerak. Mencumbu milikku dengan miliknya yang semakin lama semakin terasa.


"Dev..." aku tidak tahan, rasa panas berpusat di bawah perutku, rasanya ingin meledak seketika.


"Anye!" Devan memelukku erat, bersamaan dengan sesuatu yang hangat terasa membuncah di dalam tubuhku. Devan ambruk di atasku, dia menciumi bahuku beberapa kali.


"Trimakasih!"


...*...


Aku lelah! Tubuhku sakit semua! Area pribadiku linu. Devan keterlaluan! Tidak biasanya dia meminta di tambah jatahnya. Kami bermain di atas kasur, lalu saat mandi bersama, dan terakhir... keterlaluan! Bahkan saat aku akan memakai baju dia kembali menggodaku! Jangan-jangan dia meninum jamu untuk stamina!


Devan masih tidur terlelap, wajahnya begitu tenang. Nafasnya terdengar halus. Benar! Ini suamiku! Si mesum yang semakin tua bertambah kadar kemesumannya! Sekarang saja sudah seperti ini, bagaimana sepuluh tahun ke depan?


"Apa suamimu ini sangat tampan, sampai kamu lihat aku sebegitunya?!" Tiba-tiba Devan membuka matanya. Aku segera membalikan badan, rasanya malu karena ketahuan memperhatikannya.


"Siapa yang lihat kamu? Aku... aku cuma lihat ada... nyamuk tadi di pipi kamu!" upss... kenapa aku bicara seperti itu? Bukannya sama saja dengan aku melihat dia?!


Devan tertawa, dia menarikku mendekat padanya hingga tubuh polos kami saling menempel. Hangat! Darahku kembali berdesir. Aaa.....!!


Siapa yang tidak akan berdesir kalau tubuh polos kami saling menempel, dan ku rasakan sesuatu yang keras menempel di bokongku? Aku wanita dewasa yang normal sekarang!


"Kenapa?" tanya Devan dia menjilat cuping telingaku dengan agresif. Tubuhku meremang. Aku menggeliat di dalam pelukannya, tapi apa yang kurasa di bawah sana semakin nyata. Dan semakin nyata!


Oh tidak!


Jangan lagi!


Aku lelaaahhh!